"Jadi, kau sering bertemu dengan beruang es?" tanya Eisha.
"Iya, begitulah. Karena itulah aku tahu cara menghadapinya. Tapi kau harus tahu walaupun begitu, kita masih harus waspada pada beruang es." Perkataan Layla membuat rasa takut Eisha muncul kembali.
"Tapi kau jangan khawatir jika ke depannya ada beruang es, aku pasti akan melindungimu," ucap Layla sambil menepuk bahu Eisha pelan. Eisha mengucapkan kata terima kasih.
"Layla, rumah penduduk Kota Quattour memang sangat jarang, ya?"
"Iya, seperti yang kau lihat. Rumah penduduk berjauh-jauhan. Ini disebabkan Kota Quattour hanya punya satu musim saja, kalau Kota Quattour punya empat musim pasti akan sangat ramai seperti di Kota Yulan," jelas Layla.
"Wajar saja warga kurang betah, setiap hari hanya hamparan padang salju yang bisa dilihat sepanjang tiap hari. Bahkan aku sangat jarang bertemu dengan kawanan burung yang terbang," sahut Eisha setuju. Dia menatap ke langit yang kosong.
"Kau benar, aku pun ingin melihat padang rumput yang ditumbuhi bunga-bunga yang indah dan ada banyak kupu-kupu yang terbang. Kata teman-temanku yang pernah ke Kota Yulan, katanya Kota Yulan sangat hidup dan menarik," cerita Layla. Dari nadanya bicara terlihat gadis tersebut ingin sekali ke Kota Yulan yang ada di ibukota.
"Layla kenapa tak ke Kota Yulan saja?" tanya Eisha. Menurutnya Kota Yulan jauh lebih layak untuk ditinggali daripada Kota Quattour.
"Aku sudah meminta pada nenek agar mau pindah ke ibukota, namun dia tetap menolak. Dia berkata tak sanggup meninggalkan kenangan yang ada di rumah pondok."
Eisha tampak sedang berpikir. "Kalau begitu kita saja yang ke Kota Yulan beberapa hari. Setelah kita puas berkeliling kita pulang ke rumah, bagaimana?" tanyanya. Layla langsung setuju dengan usulan Eisha.
Begitu sampai di depan rumah, Layla langsung mengetuk pintu rumah beberapa kali. "Nek, buka pintunya! Kami sudah pulang!"
"Nenek akan segera datang, tunggu sebentar!" jawab Nenek Jasmine.
Layla dan Eisha berjalan masuk. Nenek Jasmine segera menutup pintu.
"Kenapa kalian pulangnya terlambat?" tanya Nenek Jasmine Bamila sambil menatap Layla dan Eisha secara bergantian. Pakaian yang dikenakan kedua gadis muda itu tampak berantakan.
"Tadi kami sempat dikejar sama beruang es, Nek," sahut Eisha menjelaskan.
Raut wajah nenek Jasmine berubah menjadi khawatir, tangannya bergerak memeriksa tubuh Layla cucunya dan memastikan tak ada yang terluka. "Aku tidak apa-apa, Nek. Vaiva yang tangannya tak sengaja tergores," ujarnya sambil melihat ke gadis yang berdiri di sampingnya.
Wajar saja nenek Jasmine memperhatikan Layla. Layla 'kan cucu kandungnya, batin Eisha melihat nenek Jasmine yang khawatir pada Layla.
"Keranjangnya letakkan saja di sini, Vaiva. Setelah itu tunggulah di sana, nenek mau mengambil obat merah dulu," ucap Jasmine sambil berjalan ke ruang kamarnya. Letak ruang kamar Jasmine, ada di samping kamar Layla.
"Baik, Nek." Eisha segera melepaskan keranjang dengan dibantu oleh Layla.
Eisha mengambil posisi duduk di salah satu kursi yang kosong. Dia melepaskan jaket wol yang dipakainya. Eisha meringis kesakitan, melihat ke arah sumber rasa sakit yang warnanya merah dan tergores. "Aku baru sadar kalau tangan kiriku terluka."
"Apakah sakit, Vaiva?" tanya Layla mengambil posisi duduk di samping Eisha sambil melihat luka Eisha. Dua keranjang berisi kayu-kayu diletakkan di sisi kanan ruangan.
"Iya Layla. Lukanya walaupun hanya goresan rasanya terasa sakit juga."
Nenek Jasmine datang sambil membawa sebuah kotak kayu berwarna putih dengan tulisan P3K. "Obatnya sudah datang."
Layla bangkit dari posisi duduknya mempersilakan nenek Jasmine duduk di sana. Jasmine membuka kotak dan mengambil kapas dan betadine. "Tahan sebentar mungkin rasanya akan terasa sakit."
Jasmine dengan pelan mengobati luka Eisha, Eisha menahan rasa sakit. "Aduh!"
"Sakit? Nenek akan lebih pelan. Tunggu sebentar."
"Sudah selesai," ujarnya setelah menempelkan kain perban di tangan kiri Eisha. Lukanya tak terlalu panjang.
"Terima kasih, Nek."
"Iya, sama-sama. Ke depannya Vaiva harus lebih hati-hati, karena di Kota Quattour ada banyak hewan buas dan pepohonan," nasihat wanita tua berusia tujuh ratus dua puluh tahun tersebut. Eisha mengangguk mengiakan.
"Ya udah nenek lanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda," ujar Jasmine sambil membawa kotak P3K.
Eisha dan Layla mengangguk.
"Kayu bakarnya sudah disimpan di gudang?" tanya Eisha karena tak melihat lagi dua keranjang di sisi kanan ruangan.
"Sudah disimpan di gudang."
Beberapa saat keduanya terdiam, sedang berada di pikiran masing-masing.
"Layla, apa kau punya tongkat sihir?" tanya Eisha.
Layla menoleh pada Eisha. "Aku tak menggunakan tongkat sihir. Menurutku memakainya tambah repot, di Kerajaan Harvy semua orang tak memakai tongkat sihir. Namun di kerajaan negara tetangga yaitu Kerajaan Taura, warga di sana memakai tongkat sihir."
"Kerajaan Taura? Di sana juga tempat tinggal suku elf?" tanya Eisha yang penasaran. Di tempat asing ini ternyata ada kerajaan lain selain Kerajaan Harvy. Dan punya kebiasaan yang berbeda pula.
"Di sana tempat tinggal wizard dan witch pada umumnya," sahut Layla.
"Maksudmu suku penyihir?" tanya Eisha untuk yang kedua kalinya.
Layla mengangguk. "Iya, tepat sekali. Di sana juga ada suku elf, tapi populasinya sangat sedikit."
"Lalu bagaimana dengan Kota Quattour dan kota-kota yang lainnya?" tanya Eisha.
"Pihak Kerajaan Harvy melarang suku lain tinggal secara tetap di wilayah-wilayahnya. Jadi, jika ketahuan ada warga suku lain yang tinggal, misalnya suku mermaid atau merman, disuruh pindah dan kalau masih tak patuh diusir secara kasar dari tempatnya, " jelas Layla panjang lebar. Layla meneguk air sisa air di gelas untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
Eisha mendengarkan dengan baik penjelasan dari Layla. Dalam hati dia bersyukur karena tubuhnya bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, jika tidak, maka dia pasti sudah diusir. Dan parahnya tak memiliki tempat tinggal.
"Layla, bukankah pihak Kerajaan terlalu keras dalam membuat peraturan? Kenapa tak biarkan saja suku lain hidup berdampingan dengan suku elf? Bukankah itu keputusan yang bagus?" tanya Eisha bertubi-tubi. Dia tak mengerti dengan peraturan yang ada di Kerajaan Harvy yang menurutnya tak masuk akal.
Layla mengangkat tangan ke bibirnya. "Hush, jangan bicara begitu. Nanti kalau ada yang dengar, nanti kita bisa dapat masalah."
"Dengar Vaiva, aku tahu kau baru beberapa hari tinggal di kota ini. Dan masih banyak peraturan dan kebiasaan yang pastinya sangat berbeda dengan tempat tinggalmu sebelumnya." Wajah Layla berubah menjadi serius.
"Tapi aku minta agar kau tak menanyakan soal itu pada orang luar. Apa kau mengerti yang aku katakan?" tanyanya.
"Baiklah, aku mengerti, Layla. Aku hanya penasaran saja," ujar Eisha.
Layla beberapa tahun yang lalu juga sempat menanyakan hal yang sama pada nenek Jasmine. Dan jawaban nenek Jasmine meminta agar Layla tak menanyakan peraturan tersebut.
"Pihak kerajaan tentu sudah mempertimbangkan peraturan yang dibuat sebelum dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat." Layla menuangkan secangkir teh hangat ke cangkir Eisha dan ke cangkirnya sendiri.
"Dan setahuku peraturan tersebut sudah bertahun-tahun dilaksanakan," ujar Layla.
Eisha meminum sedikit teh dan meletakkan kembali cangkir teh di atas piring keramik di atas meja. Dia menatap Layla yang juga menatapnya. "Artinya kebiasaan tersebut sulit untuk diubah? Ah, sudahlah kenapa kita malah bahas hal yang menyangkut politik kerajaan?" ujarnya lalu tertawa.