Chapter 8

1065 Kata
Eisha dan Layla sedang berada di halaman kawasan peternakan domba milik keluarga Layla. Letaknya dua ratus kilometer dari rumah pondok. Pakaian hangat selalu membalut tubuh mereka. "Nek, ini peternakannya?" tanya Eisha menunjuk sebuah kandang yang besar, kemudian menoleh sekilas ke arah nenek Jasmine yang berada di sampingnya. "Iya, benar. Ayo masuk!" ajaknya. "Baiklah. Aku juga ingin lihat seperti apa di dalam." Layla menggenggam tangan Eisha mengajaknya masuk. Suhu di dalam ruangan hangat berbeda dengan suhu di luar ruangan yang dingin. "Layla, kau temani Vaiva melihat-lihat ya. Nenek harus melakukan sesuatu, nenek akan segera kembali," pamit Jasmine. "Baiklah, Nek," jawab Layla. Pandangan Eisha langsung tertuju pada kandang berukuran besar yang di dalamnya ada puluhan domba. Mayoritas dombanya berbulu putih, namun adapula yang berbulu coklat, dan abu-abu. Di samping kandang besar tersebut ada sebuah ruangan yang sama besarnya. Di sana tampak dua orang pegawai laki-laki terlihat sedang mencukur bulu domba dengan telaten di atas papan kayu. Domba yang sedang dicukur bulunya tampak diam saja dan menurut. Pakaian abu-abu tua membalut tubuh mereka. Eisha berjalan menuju ke kandang tempat pencukuran bulu domba untuk melihat lebih dekat proses pencukuran domba. Domba putih tampak diam saja saat bulu-bulunya yang tebal dicukur menggunakan alat. Rekan satunya lagi mengambil gumpalan bulu dan memasukkannya ke dalam keranjang yang sudah disiapkan sebelumnya. Eisha melihat melalui pembatas kaca yang ada di ruangan. "Bagaimana apa tertarik ingin mencobanya?" tanya Layla sambil tersenyum. "Apakah boleh?" tanya Eisha pada Layla yang berdiri di dekatnya. "Tentu saja boleh. Ayo kita masuk ke dalam," ujar Layla. Layla membuka pintu ruangan tempat pencukuran bulu domba. Mendengar pintu dibuka seseorang dua pegawai laki-laki langsung menoleh dan melihat kedatangan Layla bersama gadis lain. Sejenak mereka menghentikan pekerjaannya. "Nona Layla, selamat pagi!" sapa kedua orang pegawai secara bersamaan. "Pagi!" jawab Layla. Eisha memandangi ke sekeliling ruangan berukuran besar tersebut, ternyata ruangan jauh lebih besar dari yang terlihat dari luar. Ada puluhan keranjang yang penuh dengan bulu domba. Adapula keranjang yang masih kosong yang ditumpuk menjadi satu. Keranjang tersebut diletakkan di sisi ruangan. "Nona Layla, apakah ada perlu sesuatu?" tanya laki-laki berambut hitam. "Tidak ada, kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian," sahut Layla. "Baiklah, Nona," jawab laki-laki yang lebih muda dari laki-laki yang pertama tadi. "Ayo aku bawa kau keliling ke dalam." Ajak Layla. Eisha menurut saja. Tangan Eisha menyentuh bulu-bulu domba putih yang ada di dalam salah satu keranjang. Bulu dombanya terasa halus dan lembut di tangan. "Kau tahu Vaiva, bulu-bulu domba ini adalah bahan utama dalam membuat jaket, kaos kaki, kaos tangan, celana, dan baju," jelas Layla. Eisha mendengarkannya dengan baik. "Dalam setahun berapa kali domba dicukur?" tanyanya. "Pada umumnya para domba dicukur dua kali dalam setahun. Kadang-kadang satu kali dalam setahun. Domba harus dicukur bulunya, kalau tidak dombanya akan bisa kurang sehat. Domba juga akan merasa tersiksa karena tubuhnya terlalu berat menanggung berat bulunya sendiri," jelas Layla. "Oh, begitu, ya. Layla, kalau domba sudah dicukur bulunya dimasukkan kembali ke dalam kandangnya?" tanya Eisha. "Tentu saja, domba yang sudah dicukur diletakkan kembali ke dalam kandangnya," jawab Layla. Eisha mencoba mencukur salah satu domba dengan dibantu paman Herly. Dia tampak senang saat mencobanya. Dan Layla mengajak Eisha beralih ke kandang domba. Mereka tak masuk ke dalam hanya melihat dari depan saja. "Woah, banyak sekali dombanya." "Ini ada berapa domba, Layla?" tanya Eisha. "Nenek bilang ada seratus ekor domba. Dulu kata nenek dombanya tak sebanyak sekarang, dulu ada lima puluh ekor domba. Banyak domba yang melahirkan jadi tambah banyak." Di atas tanah tempat tinggal para domba, terdapat bekas-bekas rumput kering dan sisa makanan yang lainnya. Dan juga ada kotoran domba juga. Eisha mengambil satu genggam rumput hijau segar dari dalam bak berisi rumput-rumput hijau. Dia menyodorkan rumput pada domba, domba berjalan mendekat dan memakan rumput dari tangan Eisha. "Layla, lihat dia mau memakan rumputnya," ujarnya dengan riang. Layla tersenyum. Layla ikut memberi makan domba juga. Setelah puas memberi makan domba, Layla membawa Eisha ke ruangan yang lain. Di sana ada nenek Jasmine yang sedang duduk di kursi sambil membaca buku catatan pesanan. Ini adalah ruang kerja nenek Jasmine, ukuran tak terlalu besar hanya sebesar empat kali lima meter saja. Ada meja dan kursi. Di sisi kanan ruangan terdapat lemari yang berisi buku-buku. Di atas meja ada pena dan setumpuk kertas. Di sisi kiri ada kertas bertuliskan peternakan Layla. Nenek Jasmine menoleh menatap Layla dan Eisha secara bergantian sambil tersenyum. "Kebetulan sekali kalian ke sini. Nenek butuh bantuan kalian," ujarnya. "Bantuan apa, Nek?" tanya Layla sambil berjalan lebih dekat. "Dua orang pegawai kita bagian pengantaran pesanan kebetulan sedang sakit, dan bertepatan hari ini pesanan Pak Burhan harus diantar. Jadi, nenek minta tolong dengan kalian untuk mengantarkan pesanan Pak Burhan," jelas Nenek Jasmine. "Baiklah, Nek. Aku dan Layla akan mengantarkannya," ujar Layla. Padahal dia ingin mengajak Layla untuk jalan-jalan, tapi tak apalah pesanan orang juga penting. Karena menyangkut kerja sama ke depannya nanti. Nenek Jasmine meletakkan dua karung berisi bulu domba ke atas kereta. Tubuh nenek Jasmine masih kuat dan sehat, berkat dia rajin olahraga. Layla dan Eisha sudah naik ke atas kereta yang ditarik seekor kuda. "Hati-hati, Layla dan Vaiva!" pesan Jasmine. Layla mengendalikan kuda. Kuda bergerak dengan kecepatan sedang. Kudanya berwarna putih bersih. Pakaian wol membalut tubuh kuda agar tak kedinginan. Saat berjalan, terdengar suara sepatu kuda yang beradu dengan tanah yang dilapisi salju. "Sepanjang perjalanan aku tak melihat ada orang yang lewat," ujar Eisha yang duduk di samping Layla. Tatapan matanya melihat ke sekeliling yang sepi. "Ya, seperti itulah Vaiva. Penduduk Kota Quattour memang sedikit dari penduduk kota yang lain." "Vaiva di balik dinginnya Kota Quattour, tersimpan tanaman obat yang berharga," lanjut Layla. "Ada tanaman obat? Bagaimana bisa? Aku lihat tak ada tanaman yang tumbuh," ujar Eisha yang kurang yakin dengan pernyataan dari Layla. Rasanya aneh saja. Suhu udara sangat dingin, bagaimana tanaman obat bisa tumbuh? pikir Eisha. "Di bawah tumpukan salju, akar tanaman obat tumbuh. Obatnya sangatlah berharga bahkan bisa mencapai jutaan omy," ujar Layla tanpa menoleh, dia tetap fokus melihat ke arah jalan yang dilewati. Tumpukan salju membuat kereta tak bisa berjalan dengan cepat. "Layla, aku punya ide, kenapa kita tak mencari tanaman obat yang kau katakan itu? Kan lumayan untuk modal buka usaha yang baru." Eisha berkata dengan antusias dan semangat membahas soal uang. Layla pun tertawa. "Tak semudah itu Vaiva untuk mendapat tanaman obatnya." "Aku pikir mudah, ternyata susah ya?" "Kita perlu menggali tumpukan salju terlebih dahulu selama berjam-jam setelah memastikan ada tanaman obat herbal yang tumbuh di sana," jelas Layla.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN