Chapter 9

1185 Kata
"Kalau aku sudah punya alatnya, aku pasti akan mengajakmu menggali tumpukan salju bersama," ujar Layla. "Aku akan menunggunya," jawab Eisha. Sesekali kuda meringkik mengisi kekosongan suara yang tercipta. Salju turun perlahan dari langit. Angin dingin berembus. "Huh, anginnya membawa suhu dingin. Banyak sekali barusan pohon-pohon, coba lihat ke sana! " Tunjuk Eisha ke arah barisan pohon-pohon terlihat beberapa orang sedang memegang dan gergaji untuk menebang pohon. Akhirnya, dia melihat elf yang lain juga. "Selain penghasil wol, kota ini juga menghasilkan kayu yang kualitas bagus. Biasanya pihak kerajaan meminta banyak kiriman kayu untuk membuat kapal dan perahu," ujar Layla sambil melihat sebentar ke arah yang ditunjuk Eisha. "Membuat kapal untuk apa?" tanya Eisha. "Mungkin saja untuk suatu saat nanti akan berperang, tapi aku tak berharap perang akan terjadi lagi seperti ratusan tahun yang lalu." Layla berkata sambil menerawang ke langit, di dalamnya masih tersimpan luka walaupun sudah berusaha untuk melepasnya. Dari nada Layla bicara seperti Eisha mengetahui ada duka yang tersimpan di dalam hatinya. "Perang antara ras elf dengan ras manusia?" tebak Eisha yang tepat sasaran. Dia pernah mengingat perkataan Layla yang sangat membenci ras manusia. Layla mengangguk, tanpa disadarinya dia menangis saat menceritakan kisah menyakitkan di masa lalunya. Ratusan tahun yang lalu terjadi perang antara ras elf melawan ras manusia. Ribuan prajurit kerajaan harvy meregang nyawa demi mempertahankan kota. Dari ribuan tersebut termasuk Devi Iswari Jennifer dan Emran Juhara yang statusnya sebagai orang tuanya Layla. Ras manusia melakukan strategi perang licik, ras manusia menyerang markas ras elf ketika lengah. Akibatnya banyak anak-anak menjadi yatim dan para orang tua kehilangan putra mereka. Saat itu Layla baru berusia 102 tahun, dia masih anak-anak yang polos dan lugu. Kematian ayah dan ibunya sempat mengguncang hati dan perasaan Layla. Dengan sabar Nenek Jasmine memberikan kekuatan pada cucu satu-satunya itu dan memberikan kekuatan agar Layla tetap semangat mempertahankan hidupnya. Sekarang Eisha mengetahui alasan kenapa Layla tak menyukai dan membenci ras manusia. Eisha tak bisa mengelak ataupun membela, karena memang ras manusia terkenal kejam dan jahat terhadap makhluk ras yang lain. Manusia saat itu berusaha keras untuk menaklukkan ras lain demi kepentingan serakah mereka. Eisha menjadi merasa bersalah pada Layla, walaupun ini bukan kesalahannya. Saat ras manusia menyerang ras elf, Eisha belum lahir ke dunia. "Aku tak tahu kalau selama ini kau menyimpan duka kesedihan yang dalam." Eisha merasa simpati pada Layla. Dia mengusap punggung Layla berusaha membuatnya menjadi lebih baik. "Maafkan aku!" ujar Eisha tulus. Layla menatap Eisha dengan sepasang mata hitam yang terlihat basah berair. "Tak apa-apa," ujarnya. Tangannya bergerak menghapus air matanya. "Vaiva 'kan bukan ras manusia, jadi tak perlu merasa bersalah," sambung Layla. Eisha mengangguk saja. Jantungnya merasa berdetak saat Layla mengatakan kalimat itu. Apakah kau masih sama terhadapku jika tahu yang sebenarnya? pikir Eisha khawatir. Eisha terbangun dari lamunannya saat kereta kuda tak bergerak. "Layla, apa kita sudah sampai?" tanyanya sambil melihat sebuah bangunan kayu yang salah satu dindingnya ada papan bertuliskan pabrik jintan. "Turunlah Vaiva, kita akan menemui Pak Burhan." Layla dan Eisha berjalan masuk ke dalam. Di dalam ruangan beberapa pegawai sedang sibuk merajut benang wol untuk membuat pakaian. Adapula yang sedang sibuk menjahit pakaian. Suara mesin penjahit mengisi kekosongan suara. Terlihat bekas potongan benang wol berserakan di atas lantai. Kebanyakan pegawai yang bekerja di bagian penjahitan dan rajut perempuan. Salah seorang pegawai perempuan menghampiri mereka berdua. "Dari peternakan Layla, ya?" tanyanya memastikan. Layla mengangguk. "Iya, benar, dari peternakan Layla." "Saya akan meminta pegawai laki-laki untuk mengangkat karungnya," ujar pegawai pabrik jintan. Layla mengangguk mengiakan. Setelah pegawai memberikan sekantong uang pembayaran pada Layla. "Kata Pak Burhan minta diantarkan lagi dua karung wol tiga hari ke depan," ujarnya. "Apa tidak sekalian lima karung Pak biar tidak bolak-balik? Sekarang mumpung lagi ada diskon sepuluh persen kalau beli lima karung," tawar Eisha. Pegawai yang lebih tua dari Eisha tampak sedang berpikir. "Baiklah, kami beli lima karung, tolong tiga hari ke depan diantar," jawabnya setuju. Eisha mengangkat tangan ke atas keningnya sambil berkata. "Kami siap mengantar!" "Ya udah Pak kami permisi," pamit Eisha. Eisha dan Layla sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Perjalanan pulang tak terasa lama. "Vaiva, rupanya kau punya bakat dalam bisnis. Itu sangat bagus untuk lebih dikembangkan," ujar Layla dengan tiba-tiba tanpa menoleh. Dia fokus melihat ke jalanan yang dipenuhi salju. "Hahaha, biasa saja Layla." Tawa Eisha terdengar nyaring di telinga. Lesung pipit terbentuk ketika gadis bermata hijau Tawanya membawa keceriaan di hati. "Apa kau sering jualan?" tanya Layla penasaran. Biasanya orang yang punya bakat dalam penjualan, karena sudah sering menjajakan dagangan pada pembeli. Otak Eisha sedang loading, mengingat apa dia sering jualan. Kali ini dia mengingat, dia segera mengangguk. "Tak terlalu sering jualan tapi." "Pasti saat kau buka usaha, dagangan yang kau jualan pasti laris manis. Apalagi dengan kemampuan dalam merayumu itu," puji Layla. "Layla jarang terlalu memujiku nanti aku bisa terbang ke langit," canda Eisha tersenyum. "Oh, ya, Layla, maaf aku tadi bilang sama pegawai tadi kalau beli lima karung dapat diskon sepuluh persen." "Tidak masalah Vaiva. Aku justru berterima kasih karena berkat kau, pabrik jintan jadi beli barang kita lebih banyak. Selama bertahun-tahun ini mereka paling banyak beli dua karung wol." "Bagus deh kalau begitu. Aku tadi takut kalian malah rugi," ucap Eisha. *** Bangunan Qoura Academy berdiri dengan gagah di hadapan Eisha. Di depan gerbang kayu setinggi empat meter dua orang laki-laki berdiri tegak, seragam biru berompi putih wol membalut tubuh gagah mereka. Topi berbahan wol yang senada melindungi kepala mereka. Sarung tangan putih melindungi tangan. Di tangan mereka memegang senjata pedang yang masih terbungkus sarungnya. Apa mereka tak merasa kedinginan sepanjang hari berjaga di gerbang? batin Eisha sambil melihat secara bergantian dua laki-laki yang bertugas menjaga gerbang Qoura Academy. "Ayo kita masuk!" ajak Layla sampai menggenggam tangan Eisha. "Kau bukan murid Quora Academy. Jadi, tak boleh masuk!" tegas pria berkumis tipis melarang sambil menghalangi memakai pedang yang masih tersarung di depan leher Eisha sehingga langkah kaki Eisha terhenti. "Pak, dia adalah temanku. Biarkanlah dia masuk. Bapak jangan khawatir, Vaiva tak akan melakukan hal buruk." "Tak bisa! Banyak wajah yang terlihat baik di luar ternyata punya rencana yang buruk," ucap pria yang lebih muda. Masih tak mengizinkan Eisha untuk melangkah. Kedua pria itu masih saja keras kepala. "Pak, jangan sembarangan bicara, ya! Aku ini anak yang baik! Jangan sembarangan menuduh!" balas Eisha dengan wajah yang kesal dan marah. Dia masih bisa memaklumi tugas dari kedua penjaga gerbang masuk Qoura Academy pada awalnya, tapi malah dituduh punya niat jahat, tak mungkin Eisha tidak mengamuk. "Apakah ini cara Qoura Academy dalam menyambut tamu? Sangat buruk sekali!" sindir Eisha langsung dengan ekspresi wajah yang sama. "Entahlah, apa yang ada di dalam pikiran perekrut Qoura Academy saat menerima orang yang tak bisa menghargai orang lain ketika melakukan tugas," singgung Eisha tak tanggung-tanggung. Mereka belum tahu saja, sifat seorang Eisha Vaiva Nafeda. Dua pria tersebut menunjuk gadis muda di hadapan mereka dengan telunjuk. Mereka berdua wajahnya mengeras karena emosi. Berani sekali seorang gadis kecil dengan terang-terangan menghina mereka. "Kau...!" ujarnya. "Apa? Mau marah? Kalian yang salah!" teriak Eisha. Bahkan Layla di tempatnya berdiri tak menyangka temperamen temannya saat mengamuk ternyata seram juga. Awalnya Layla ingin membantu Vaiva untuk bicara membela diri, tapi sepertinya itu tak dibutuhkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN