Chapter 19

1012 Kata
Wanita bernama Melisa Anggraini mencoba memeriksa pergelangan tangan Eisha. "Dia sepertinya kelelahan," ujarnya setelah memeriksa. "Apa dia baru saja melakukan perjalanan yang sangat jauh?" tanya Nyonya Melisa melihat Layla yang duduk di sampingnya. Layla mengangguk. "Iya, kami baru saja melakukan perjalanan dari Kota Quattour ke Kota Nanlin," ujarnya. Nyonya Melisa mengangguk mengerti. "Wajar saja dia sampai sakit. Dan aku tebak dia malah berkeliaran saat malam hari?" tebaknya yang tepat sasaran. Layla lagi-lagi mengangguk. "Iya, dia semalam memang sempat berkeliaran di luar," ujarnya dengan jujur. "Nona, kau harus katakan padanya jangan keluar saat malam hari. Apalagi aku lihat kondisi tubuhnya yang sedikit lemah, tubuhnya tak kuat dengan udara yang dingin," pinta Nyonya Melisa. Benar sekali, dia adalah salah seorang tabib di Kota Nanlin. "Pasti aku akan nasehatin Vaiva sesuai dengan perkataan Nyonya," sahut Layla. Ada jeda sebentar sebelum dia melanjutkan kalimat selanjutnya. "Nyonya, lalu apakah tubuh Vaiva membutuhkan perawatan yang khusus untuk ke depannya? Apa dia perlu dirawat di balai pengobatan?" tanya Layla bertubi-tubi menatap wanita yang masih kelihatan cantik dan awet muda walaupun umurnya sudah lumayan tua. Layla hanya ingin temannya kembali sehat seperti biasanya. Nyonya Melisa tersenyum, dia menggeleng. "Nona, tak perlu membawanya ke balai pengobatan. Nona juga tak perlu khawatir. Temanmu akan baik-baik saja, dia hanya butuh istirahat saja yang cukup," ujarnya. Nona ini sangat khawatir dengan temannya seperti punya aliran darah yang sama, batin Nyonya Melisa. Layla mengembuskan napas lega, dia awalnya berpikir Vaiva sakitnya parah karena tiba-tiba pingsan Tak terasa kereta kuda sudah sampai di depan restoran jasuma raya. Nyonya Melisa dan Layla membantu membawa Eisha ke kamar penginapan. Setelah itu Nyonya Melisa pamit undur diri karena ada urusan yang tidak kalah penting. Layla menyelimuti tubuh Eisha yang terbaring di atas ranjang. Wajah Eisha sekarang terlihat lebih sehat setelah diberikan obat oleh Nyonya Melisa. "Semoga kau cepat sembuh, Vaiva," ujar Layla dengan nada berharap. Setelah itu Layla ke luar dari kamar penginapan Eisha, supaya Eisha bisa beristirahat dengan tenang. Layla kembali ke kamarnya untuk membuatkan makanan kesukaan Eisha. Beberapa hari kemudian tubuh Eisha sudah pulih sepenuhnya. Saat ini Eisha dan Layla sedang berjalan berdampingan di tengah pasar. Seperti biasa keadaan pasar ramai oleh pengunjung. Ada yang sedang tawar menawar dan adapula yang sedang melihat-lihat saja untuk cuci mata. "Sayur-sayuran sudah ada, ikan sudah ada, dan bahan makanan yang lain juga sudah ada," ujar Layla sambil menconteng bahan-bahan yang sudah dibeli di buku catatannya. Eisha menunjuk ke arah kerumunan warga yang tak seperti biasanya. Dahinya mengernyit heran. "Ada apa di sana? Kenapa ramai sekali? Seperti ada yang sedang membagikan uang," ucap Eisha sambil tangannya menunjuk ke arah kerumunan warga. Layla mengikuti dan memandang arah yang ditunjuk oleh temannya. "Eh, iya, ya. Kita ke sana yok," ajaknya. Eisha dan Layla masuk ke dalam kerumunan warga. Rela berdesak-desakan ke dalam kerumunan demi mengetahui apa yang sedang terjadi. Layla menepuk bahu salah seorang gadis yang seumuran dengannya. "Nona, ini ada pengumuman apa?" tanyanya. "Oh, ini, para prajurit menempelkan pengumuman dari kerajaan yang isinya tentang kerajaan sedang membuka seleksi untuk menjadi pelayan di istana," ujar gadis itu, dari pakaian sederhana yang dipakainya seperti dia berasal dari kelas bawah. "Terima kasih," ujar Layla yang dijawab anggukan gadis tersebut. Eisha dan Layla untuk sementara waktu menyingkir dari kerumunan. Mereka memilih posisi yang paling dekat dengan papan pengumuman. Setelah tak ada lagi kerumunan warga, Eisha berjalan menghampiri papan pengumuman. Di sana ada kertas yang isinya tentang pemberitahuan. Di sana juga ada cap stempel merah dari istana. Pihak Kerajaan Harvy selama satu minggu ini akan membuka pendaftaran menjadi pelayan di istana. Semua orang bisa mendaftar asalkan memenuhi syarat. Baik laki-laki dan perempuan boleh mendaftar. Jika tertarik segera mendaftar ke istana. Ini kesempatan yang bagus untukku, aku tak perlu repot-repot memikirkan cara untuk bisa masuk ke istana, batin Eisha dengan raut wajah yang senang. Sebelumnya dia sudah mencari buku cara mengembalikan ingatan di perpustakaan dan di toko buku ternyata tak menemukannya. "Vaiva, kenapa kau kelihatannya senang sekali setelah baca pengumuman?" tanya Layla dengan raut wajah penasaran sekaligus ingin tahu. Eisha mengambil posisi duduk di sampingnya. Mereka duduk di depan sebuah toko yang menjual perhiasan dan aksesoris. "Aku punya ide yang bagus," sahut Eisha ambigu, yang membuat Layla tambah penasaran. "Katakan padaku ide apa?" desak Layla sambil menggoyangkan tangan Eisha. "Ingin tahu saja apa mau tahu sekali?" Eisha malah balik bertanya dengan nada bercanda. "Iya, mau tahu sekali," sahut Layla. Hubungan antara Layla dan Eisha sudah seperti dua bersaudara kandung, sangat akrab. Kemana pun selalu bersama. Makan dan minum bersama, bermain bersama, hanya saja mandi yang tidak bersama. Namun hal itu terkadang membuat Eisha merasa takut, dia takut bukan tanpa alasan. Alasannya hanya satu, takut Layla mengetahui kebenaran yang sesungguhnya jika Eisha termasuk suku yang dibenci setengah mati oleh Layla. "Aku akan melamar pekerjaan di istana sebagai pelayan," sahut Eisha dengan wajah yang senang. Raut wajah Layla berubah menjadi tak bersemangat. "Kau tak ingin tinggal bersamaku lagi?" tanyanya yang sendu. Dia tak ingin rumahnya kembali sepi tanpa kehadiran Vaiva. Eisha segera menggeleng. "Bukan begitu, Layla. Aku hanya..." ujarnya menggantung. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling yang ramai. "Bisa kita bicara ke tempat yang lebih sepi?" "Baiklah, aku tahu di mana tempat yang hampir tak ada orang sama sekali." Layla membawa Eisha ke tempat yang lumayan jauh dari pasar, tepatnya di sebuah rumah kosong yang telah terbengkalai. Bahkan tanaman liar tumbuh dengan subur di sana. Ada banyak sarang laba-laba di setiap sudut ruangan tersebut. Terlihat sedikit menakutkan. Barang-barang tua berdebu dan kotor. Udara terasa pengap. "Kita bisa bicara sekarang," ujar Layla. "Aku akan mendaftar sebagai pelayan, agar aku punya alasan untuk masuk ke istana." Eisha berjalan pelan ke sekitar. "Para prajurit pasti tak akan mencegat ku bukan? Setelah mendaftar, aku akan pura-pura izin untuk pergi ke kamar kecil. Di saat itulah aku akan bergerak mencari perpustakaan," jelas Eisha. Menurutnya ini adalah rencana yang sangat bagus. Eisha mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Setelah aku dapatkan buku yang aku mau, aku akan pergi dari istana dan dengan cepat kembali ke penginapan. Setelah itu kita kembali pulang ke rumah." Eisha berbalik menatap Layla yang mendengarkan dengan baik. "Bagaimana menurutmu? Bukankah ini kesempatan yang baik?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN