Chapter 18

1002 Kata
Tangan Eisha bergerak mengetuk pintu. Tak lama kemudian pintu terbuka. Pemilik kamar pun mempersilakan Eisha untuk masuk. "Nona, ada perlu sesuatu?" tanya pelayan melihat wajah Eisha. "Aku ingin bertanya sesuatu," sahut Eisha mengawali, dia balas menatap gadis yang lebih tua dua tahun darinya. "Katakan saja, Nona," jawab pelayan mempersilakan. Dia sudah memakai pakaian tidur, seharusnya ini jam istirahatnya, tapi tak masalah. Sebagai pelayan dia punya kewajiban untuk membantu apa yang dibutuhkan pengunjung. "Aku ingin tanya dimana lokasi perpustakaan di Kota Nanlin ini?" tanya Eisha langsung tanpa basa basi. Apalagi ini sudah malam, waktu orang untuk beristirahat. Pelayan perempuan itu tak langsung menjawab, dia tampak sedang berpikir mengingat-ingat. "Perpustakaan, ya? Aku sudah lama tak ke sana. Jika perpustakaan tak pindah, letaknya ada di jalan pangkalan benteng di pinggir jalan." "Oh, baiklah, terima kasih. Aku pergi dulu, ya," pamit Eisha, kemudian berjalan ke luar meninggalkan pelayan bernama Ina di dalam kamarnya. Ina melanjutkan kembali aktivitas bersantainya. Eisha berjalan menuruni tangga menuju ke lantai satu. Di lantai satu hanya ada beberapa pengunjung yang masih tersisa. Tujuannya saat ini ke perpustakaan yang dimaksud oleh Ina, pelayan restoran. *** Setelah bertanya-tanya ke sana kemari, akhirnya Eisha sampai juga di perpustakaan tujuannya. Di bagian depan perpustakaan tampak terang diterangi lampu. Eisha mengeratkan jaket ke tubuhnya, walaupun tak sedingin di Kota Quattour tetap saja masih dingin. Eisha berjalan masuk ke dalam perpustakaan yang pintunya sedikit terbuka. Eisha disambut dengan ramah oleh petugas perpustakaan. "Selamat malam, Nona," sapa petugas perpustakaan, seorang laki-laki dewasa yang mungkin usianya sekitar empat puluh tahunan kalau di dunia manusia. Laki-laki tersebut duduk di meja yang ada di bagian depan perpustakaan. Terdapat buku-buku di atas meja dan peralatan alat tulis. "Malam, Pak," jawab Eisha dengan ramah pula. "Nona, kau bisa melihat dan membaca buku-buku yang kau suka. Aku ingin istirahat beberapa saat," ujar petugas perpustakaan sambil menutup mulutnya yang menguap karena mengantuk. Mungkin efek karena kelelahan bekerja seharian. Perpustakaan tempatnya bekerja mulai buka dari jam delapan pagi sampai jam sembilan malam. Eisha mengangguk mengerti. Dia segera berjalan menghampiri rak-rak yang ditata dengan rapi. Besar perpustakaan ini tak sebesar yang ada di perpustakaan di Qoura Academy. Namun Eisha berharap bisa menemukan buku yang dicarinya. Indra penciumannya mencium aroma bunga lily yang khas. Terlihat hanya satu, dua orang pengunjung yang terlihat sedang membaca buku. Setelah berputar-putar mencari, ternyata buku yang dicarinya tak ada juga. Eisha mendudukkan diri di salah satu kursi yang kosong. Eisha mengembuskan napas, dia merasa usahanya sia-sia saja. "Baiklah, jangan menyerah Eisha. Kita akan mencari ke tempat yang lain juga," ucap Eisha bermonolog sendiri menyemangati dirinya sendiri. *** "Ini mie tanpa ketumbar dan ini mie dengan banyak ketumbar," ucap seorang pelayan sembari meletakkan dua mangkuk mie di atas meja. Eisha dan Layla mengucapkan terima kasih. "Vaiva, kau malam tadi pergi ke mana?" tanya Layla sambil memotong sayuran menjadi lebih kecil. Dia memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya. "Aku hanya ke luar sebentar. Sebenarnya aku ingin minta temani sama Layla, tapi aku tak ingin menganggu waktu istirahatmu," jelas Eisha, menyeruput mienya yang tanpa ketumbar. "Kau tak takut ke luar sendirian?" tanya Layla menatap Eisha dengan pandangan bertanya. Eisha menggeleng. "Tidak, lagipula sepertinya aman saja," ujarnya. Semalam saat Eisha berjalan sendirian di jalanan tak ada yang aneh-aneh dan hal buruk. "Walaupun begitu, kau harus hati-hati!" nasihat Layla. Semalam dia pergi ke kamar Eisha dan saat melihat temannya tak ada di sana, Layla sangat khawatir dan untung saja ada pelayan yang mengatakan melihat Eisha ke luar restoran. Semalam Layla ingin menyusul, tapi tak tahu Eisha pergi ke mana, jadi Layla tetap di kamar penginapan. "Iya, aku mengerti. Maaf telah membuatmu cemas dan khawatir," sahut Eisha dengan tulus. Dia tahu kalau Layla khawatir dan cemas melihat dia yang tiba-tiba hilang, Eisha lupa memberi tahu semalam kalau dia mau pergi ke luar. "Jangan ulangi lagi, ya!" peringatan Layla dengan wajah yang serius. Eisha mengangguk mengiakan. Selepas makan Eisha membawa Layla ke toko yang menjual buku di pasar asri. Keduanya berjalan berdampingan. Banyak sekali para pedagang yang menawarkan berbagai macam benda, mulai dari gelang, sampai pakaian. "Kau ingin mencari buku cara mengembalikan ingatan yang hilang?" tanya Layla setelah Eisha mengatakan tujuannya ke toko buku. "Semoga saja ada, soalnya aku sudah ke dua tempat perpustakaan tak menemukan bukunya." Layla melihat toko buku di hadapannya dan mengajak Eisha untuk masuk ke dalam. Di dalam ada banyak pengunjung, ada yang sekedar melihat-lihat dan ada pula yang memang ingin membeli buku. Dindingnya terbuat dari kayu dan lantainya dari keramik. Di sini ada banyak tipe buku yang dijual. Pegawai toko menata dengan baik buku-buku yang dijual. Layla dan Eisha berpisah agar lebih cepat menemukan buku yang Eisha cari. Keduanya memeriksa satu per satu buku berdasarkan kategori. "Vaiva, kau sudah menemukan bukunya belum?" tanya Layla menyentuh bahu Eisha yang masih fokus mencari di rak buku. Eisha menoleh dan menggeleng. "Sudah ratusan buku berdasarkan kategori yang sesuai, tapi bukunya tetap tak aku temukan. Entahlah, apakah bukunya mengajak kita main petak umpet dulu?" Kaki, tangan, dan lehernya terasa pegal dan sakit. Pandangan matanya kini berkunang-kunang dengan diikuti rasa pening. Layla menyodorkan sebotol air minum yang langsung disambut Eisha. Eisha meminumnya beberapa tegukan, sakit di kepalanya belum berkurang juga. "Kita pulang dulu saja, Vaiva. Aku takut kau akan pingsan di sini," saran Layla yang dijawab anggukan lemah Eisha. Layla memapah tubuh Eisha dengan susah payah, ukuran tubuh mereka hampir sama. Layla membawanya ke luar toko buku dan mendudukkan Eisha di kursi panjang. Mana aku tak ada kekuatan teleportasi pula? keluh Layla. Dia sangat khawatir dengan keadaan temannya itu yang sekarang sudah dalam posisi pingsan. Tangan Layla bergerak menepuk pipi Eisha berusaha untuk menyadarkannya. "Vaiva, tolong sadarlah!" ujarnya dengan wajah dan nada yang khawatir. Untung saja ada sebuah kereta kuda yang kebetulan lewat di depan perpustakaan. Pemilik kereta kuda yang ternyata seorang wanita memperbolehkan Layla untuk membawa Eisha masuk ke dalam kereta kudanya. Wanita dewasa tersebut bertanya pada Layla yang memapah Eisha. "Nona, kenapa dia bisa pingsan?" Layla juga ragu dan bingung harus menjawab apa. "Aku sebenarnya bingung juga alasan kenapa Vaiva bisa pingsan. Karena pagi tadi dia baik-baik saja," jelasnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN