Tanpa sadar Pangeran Kenzie tersenyum tipis melihat ekspresi lucu pelayan sekaligus muridnya itu. Sangat jarang melihat Eisha menampilkan raut wajah seperti itu, biasanya gadis itu akan berdebat dan berbeda pendapat dengannya. "Iya, lukaku sepertinya berdarah lagi!" Diikuti Pangeran Kenzie mengaduh seolah benar-benar sedang kesakitan. Eisha menjadi semakin merasa bersalah. "Bagaimana kalau aku lihat secara langsung lukanya apa bertambah parah atau tidak." Tangannya bergerak untuk membuka pakaian yang dikenakan pria itu. Pangeran Kenzie menolak. "Sudahlah, tidak apa-apa. Aku hanya bercanda," ujarnya. "Ih, malah sempat-sempatnya dijadikan bahan candaan!" Eisha berkata dengan kesal. Pandangan mata Pangeran Kenzie menangkap perban yang membalut telapak tangan kiri Eisha. "Tanganmu ke

