"Iya, tak ada cara yang lain, Layla. Jangan khawatir aku pasti akan datang mengunjungimu dan nenek Jasmine jika diberikan waktu libur," ucap Eisha tersenyum.
Dengan berat hati Layla mengangguk. "Baiklah, tapi Vaiva harus janji, ya?" balas Layla, mengangkat jari kelingkingnya sebagai tanda janji.
Eisha mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Layla. "Iya, aku janji," ucapnya dengan nada pasti.
"Karena besok Vaiva akan bekerja di istana, bagaimana jika sore hari ini habiskan waktu bersama?" tawar Layla.
Eisha pun langsung mengangguk setuju. "Aku setuju dengan usulmu. Ayo kita habiskan waktu berjalan-jalan sekalian mengenal Kota Yulan lebih dekat."
***
Eisha dan Layla berjalan berdampingan. Pasar Kota Yulan selalu ramai oleh pengunjung. Para pedagang menawarkan barang dagangan mereka dengan cara yang terbaik agar pembeli tertarik. Aroma makanan yang baru saja matang menggoda indra penciuman Eisha. Gadis berambut hitam menghampiri salah satu pedagang yang menjual berbagai macam kue.
"Nona, silakan cicipi kue buatanku. Aku jamin Nona pasti akan suka," ucap pedagang berjenis kelamin wanita dengan wajah dan nada suara yang bersahabat.
Eisha mengambil salah satu kue berwarna hijau muda, dan mencicipinya. "Enak, Bibi, ini kue apa?" tanyanya. Dia baru pertama kali melihat jenis kue yang seperti dia makan tadi.
"Nona, kue ini disebut dengan kue kemiri. Bahan di dalamnya terbuat dari tumbuhan alam. Dipastikan sangat aman untuk dimakan," jelas pedagang, Eisha mengangguk mengerti.
"Layla, kau harus coba kue yang ini," ucap Eisha sambil menyodorkan kue kemiri.
Layla menyambut dan memakan kue. "Rasanya enak. Sepertinya berbeda dengan kue yang pernah kita beli waktu itu."
"Bibi, kami pesan satu porsi," pinta Layla pada bibi pedagang yang kini tersenyum sebab dagangannya laku. Tak ada hal yang lebih membahagiakan selain mendapatkan uang.
"Baik, tunggu sebentar, Nona." Bibi pedagang dengan cepat menyiapkan satu porsi kue sesuai permintaan Layla.
Setelah itu mereka berdua berkeliling pasar, menghampiri satu per satu toko yang menarik perhatian mereka. Saat pulang dari pasar Layla dan Eisha membawa banyak sekali kantong belanja, raut wajah keduanya pun tampak senang.
"Menyenangkan sekali hari ini!" seru Layla sambil meletakkan kantong kertas belanjaannya di atas meja panjang.
Eisha menuangkan air di gelasnya sendiri dan gelas Layla. Eisha dalam sekali tegukan menghabiskan air di dalam gelasnya. "Aku banyak sekali melihat mainan yang bagus, dan makanan yang baru. Perutku rasanya kenyang sekali."
Layla mengambil segelas air dan meminumnya, kemudian meletakkannya. "Sama aku pun juga."
"Layla aku harus membersihkan badanku dulu." Eisha mengambil handuk dan pakaian ganti, kemudian berjalan menuju ruang pemandian. Ruang mandi tersekat dengan kamar tidur.
Eisha melepaskan pakaian yang dia kenakan, menyisakan pakaian dalam berwarna putih. Tak lupa meletakkan pakaian yang akan dia pakai nanti di tiang jemuran.
Eisha berjalan masuk ke dalam bak mandi yang terbuat dari kayu yang sudah terisi air hangat dengan taburan kelopak bunga mawar. Harum aromanya semerbak membuat pikiran menjadi lebih rileks. Dengan nyaman Eisha membersihkan diri, dia memutuskan untuk berendam beberapa saat. Matanya tanpa sadar terpejam dan punggungnya menyender pada bak mandi.
Eisha, ajarin aku pelajaran matematika yang dijelaskan oleh Ibu Mufida tadi, ya? ucap seseorang terdengar di pikiran Eisha. Suaranya terasa familiar.
Oh, yang pelajaran matematika tentang akar kuadrat? jawab seorang gadis.
Itu bukankah suaraku? batin Eisha. Tentu saja dia mengenal bagaimana suaranya sendiri.
"Eisha jangan ajarkan dia saja, aku juga belum mengerti," sahut suara seorang laki-laki.
"Baiklah, kita akan belajar sama-sama saja. Bagaimana, setuju?"
"Setuju!"
Siapa suara yang memintaku mengajarinya matematika itu? Itu sepertinya suara seorang perempuan juga? Dan ada juga seorang laki-laki, pikir Eisha.
Eisha membuka matanya yang semula terpejam. Dan memandang ke sekitarnya yang masih sama, tak ada yang berbeda.
"Kenapa aku masih belum bisa mengetahui siapa nama gadis yang mengajakku bicara? Dan yang satunya aku juga tak tahu. Padahal aku sudah beberapa kali mendengar suara mereka," ucap Eisha yang merasa kesal pada dirinya, dia memukul air di bak mandi sampai bergelombang dengan emosi. Tanpa disadarinya air di dalam bak mandi perlahan membeku.
"Kapan aku bisa ingat semua memoryku?" ucap Eisha, dia kemudian mengernyitkan dahinya karena merasakan hawa dingin yang terasa menyentuh kulitnya.
Dia menurunkan pandangan ke arah bawah dan pemandangan air bak bertabur kelopak bunga telah membeku membuat Eisha sangat kaget.
"Ini kenapa bisa membeku?" Tubuh Eisha terjebak di dalam bak mandi.
Dia berusaha untuk bergerak dan itu sangatlah susah.
"Oke, aku harus mencari sebab kenapa air di dalam bak mandiku tiba-tiba membeku." Eisha pun mengingat kejadian sebelumnya saat dia dalam kemarahan memukul air bak.
"Apa mungkin?" tebak Eisha sambil melihat ke arah telapak tangannya yang dingin.
"Jika memang kekuatan sihirku sudah muncul, harusnya aku bisa membuatnya muncul lagi," ucap Eisha.
Eisha memfokuskan pikiran dan menggerakkan kedua tangannya seolah sudah mahir menggunakan sihir dan terakhir mengarahkan jari tangan ke arah bak mandi yang masih membeku, tapi tetap tak berubah.
"Kenapa airnya tidak mencair? Aku tak mau terjebak di dalam es ini." Eisha mencobanya berulang lagi sampai membuat tangannya merasa lelah.
Eisha berteriak kencang memanggil nama Layla. Layla sedang makan camilan kue kemiri pun terkejut, dia segera meletakkan kue kemiri yang baru dimakannya setengah ke atas piring kembali.
"Vaiva, kau kenapa berteriak? Ada apa orang jahat yang ingin menyakitimu?" Layla mendorong pintu yang ada di hadapan dan berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi.
"Bukan orang jahat, tapi ada yang lebih parah!" ucap Eisha yang panik.
Layla terkaget saat melihat air di dalam bak kayu membeku. Gadis itu berjalan menghampiri Eisha yang terjebak di dalam bak kayu. Layla menyentuh es di dalam bak kayu. "Ini es, siapa yang telah membuatnya membeku?" tanya Layla melihat Eisha.
"Aku tak tahu bagaimana airnya bisa berubah menjadi es Layla. Layla tolong keluarkan aku dari bak kayu, tubuhku rasanya sakit semua."
"Oh, baiklah, tunggu sebentar." Layla berkonsentrasi dan memusatkan kekuatan apinya di satu titik. Dan tangannya bergerak, jati tangannya menunjuk ke arah bak air membeku. Kekuatan api muncul dari jari tangan Layla. Api merah tersebut menjalar di atas es dan perlahan-lahan es yang tadi membeku mencair.
"Aku keluar dulu, Vaiva kau pakailah pakaian baru." Layla berjalan keluar dan tidak lupa menutup pintu kamar mandi.
Eisha segera keluar dari dalam bak mandi, dia mengambil handuk mengeringkan tubuhnya yang basah dan memakai pakaian baru yang bersih. Dia bersyukur untunglah ada Layla, jika tidak, Eisha tak tahu apakah dia bisa keluar dari bak mandi atau tidak?