"Sudah mandi?" tanya Layla pada Eisha ketika gadis itu duduk di pinggir ranjang.
Eisha mengangguk mengiakan. "Ya, sudah," jawabnya singkat. Sebagian rambutnya masih sedikit basah.
"Vaiva, katakan apa yang sebenarnya terjadi beberapa saat yang lalu?" pinta Layla secara langsung. Dia sangat penasaran, bagaimana bisa es muncul dengan tiba-tiba?
"Aku juga sebenarnya tak mengerti apa yang sedang terjadi. Aku hanya ingat aku memukul air di bak dan tiba-tiba saja airnya berubah jadi beku," jelas Eisha mengingat kejadian yang sebelumnya.
"Lalu setelah itu ada hal apa lagi?" tanya Layla lebih dalam.
Eisha sedang berpikir sebelum menjawab pertanyaan dari Layla. "Seingatku aku tak melakukan apapun selain membersihkan diri," sahutnya.
Keheningan di dalam ruangan merajai, keduanya sedang berada di dalam pikiran masing-masing.
Aneh sekali, logikanya es itu tak akan muncul jika tak ada penyebabnya? Apa mungkin kekuatan sihir Vaiva sudah muncul? batin Layla sambil melihat Eisha yang duduk terdiam.
Layla sebelumnya tak pernah melihat Vaiva mengeluarkan kekuatan sihirnya, temannya itu selalu melakukan pekerjaan dengan cara manual alias tanpa bantuan sihir. Atau mungkin gadis itu sebenarnya punya kekuatan sihir, hanya saja tak dia gunakan? Layla teringat dengan kejadian yang beberapa saat yang lalu Vaiva meminta bantuan dengannya.
Argh, aku jadi bingung sendiri, batin Layla merasakan pusing karena terus menduga-duga. Lebih baik dia tanyakan langsung saja.
"Vaiva, kekuatanmu sudah muncul sejak kapan?" Pertanyaan dari Layla memecahkan keheningan di dalam ruangan yang sepi.
Eisha pun balik menatap Layla yang duduk di kursi di hadapannya. "Hah? Apa maksudmu?" tanyanya ulang. Seolah tak mengerti.
"Iya, begini maksudku Vaiva. Aku menebak jika air di dalam bak berubah jadi beku karena kekuatanmu sendiri," jelas Layla.
"Aku tak tahu juga, Layla. Hanya saja aku sempat berpikir yang sama, tapi waktu semalam aku juga untuk berusaha untuk membuktikannya dengan mengeluarkan kekuatan sihirku. Namun nyatanya setelah aku berusaha keras, kekuatan sihirku tak muncul," ungkap Eisha dengan jujur, tanpa ditutupi sedikit pun. Layla mendengarkan dengan baik penjelasan Eisha tanpa memotong.
"Aku mengerti apa yang kau katakan. Vaiva, aku berpikir ada kemungkinan kau salah saat ingin mengeluarkan kekuatan sihir. Dan itu bisa saja mempengaruhinya."
"Mungkin yang Layla katakan benar. Aku sebelumnya memang tak pernah berguru dengan siapapun," ucap Eisha setuju.
Layla mengajari teknik mengeluarkan kekuatan sihir. Eisha dengan senang hati dan semangat untuk mempelajarinya. Teknik ini merupakan teknik yang paling dasar yang harus dikuasai oleh setiap orang jika ingin mengeluarkan sihir.
"Nah sekarang coba Vaiva coba lagi. Kali ini harus lebih berkonsentrasi," instruksi Layla yang dijawab anggukan Eisha.
Pandangan Eisha tertuju pada satu pot bunga yang ada di pinggir ruangan kamar dekat dengan dinding. Eisha mempraktekkan apa yang telah dipelajarinya, dia telah memfokuskan pikiran dan berkonsentrasi.
"Apa yang salah? Perasaan tekniknya sudah benar?" ucap Eisha menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia telah lima kali mencoba, namun tetap saja tak mengeluarkan kekuatan sihirnya.
"Semua teknik sudah benar. Apa ada alasan lain yang membuat kekuatan Vaiva tak muncul?" Kalimat terakhir dilanjutkan di dalam hati.
"Aku lelah ingin istirahat. Sepertinya aku memang tak ada bakat dalam sihir," keluh Eisha kemudian naik ke atas ranjang, dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Baiklah, selamat istirahat Vaiva. Aku juga mau istirahat," jawab Layla, kemudian naik ke ranjangnya juga. Dia memposisikan diri telentang menatap kelambu merah.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Vaiva? Aku benar-benar tak paham. Harusnya kekuatan sihir Vaiva ada walaupun di tingkat rendah sekali pun, kenapa malah tidak ada kekuatan sihir sama sekali? Aneh sekali, lalu asal kekuatan es itu darimana kalau bukan dari Vaiva? Layla berpikir keras, sampai membuat kepalanya berdenyut sakit. Sementara itu Eisha sudah tertidur lelap.
Layla mengembuskan napas dalam-dalam. "Baiklah, lebih baik aku mandi dulu."
***
Sang dewa matahari telah kembali menyinari dunia. Membuat cuaca yang dingin berubah perlahan-lahan menjadi hangat. Di dalam salah satu kamar penginapan yang ada di lantai dua tampak seorang gadis sedang membangunkan gadis yang masih dengan nyaman bergelung di dalam selimut.
"Vaiva, ayo bangun! Ini sudah pagi! Bahkan matahari sudah lebih dulu bangun darimu!" Layla menggoyangkan tubuh Eisha.
Eisha membuka selimut yang menyelimuti tubuhnya. Dengan tatapan sayu, dia menatap Layla yang sudah berpakaian rapi dan sudah berdandan. "Pagi, Layla." Kemudian tidur telentang lagi, entah kenapa tubuhnya masih lelah walaupun sudah beristirahat semalam.
"Lah kenapa tidur lagi? Vaiva aku sudah memesan sup biji teratai yang sudah di buang bijinya," ujar Layla sambil menunjukkan semangkuk sup beserta sendoknya.
Eisha mendengar sup biji teratai, dia segera membuka matanya kemudian dan bangkit dari posisi tidurannya dengan semangat. "Mana sup biji teratainya?" tanyanya dengan mata yang berbinar cerah. Ah, dia memang gadis yang menawan walaupun belum mandi. Benar kata orang, kalau cantik pasti tetap cantik, walaupun belum mandi sekalipun.
Layla menjauhkan nampan sup biji teratai dari jangkuan tangan Eisha. "Tidak ada sup biji teratai, sebelum Vaiva mandi dulu," perintahnya.
"Baiklah, aku akan mandi." Eisha segera mengambil handuk dan pakaian ganti sebelum berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Layla tersenyum dan menggeleng melihat tingkah lucu dan gemas Vaiva. "Dia memang membuat hariku menjadi lebih baik. Entahlah, bagaimana ke depannya nanti, jika tanpa Vaiva." Layla memiliki beberapa teman di Quora Academy, tapi tak ada yang seperti Vaiva. Vaiva gadis yang periang.
***
"Hm, rasanya enak. Sup biji teratainya manis, tak seperti sup biji teratai yang kita makan saat di pasar kemaren," ucap Eisha sambil menikmati sup biji teratai dengan nikmat. Apalagi sup biji teratainya masih hangat, ini menambah selera makan. Seolah makanan itu adalah makanan yang paling terlezat di dunia.
"Tentu saja berbeda. Ini 'kan sup biji teratai buatanku. Aku sengaja membuang isi biji teratai, oleh karena itu rasanya manis," jelas Layla, sambil menyendokkan sup biji teratai ke dalam mulut.
Eisha mengangguk mengerti. "Aku paham, kenapa sup biji teratai yang kemaren pahit, karena isi biji teratainya tidak dibuang."
"Benar sekali."
Tak terasa perut kenyang sehabis makan, sekarang lanjut makan camilan kue osmanthus. Layla dan Eisha menikmati setiap kebersamaan mereka berdua, karena mereka tahu mungkin saja ke depannya suasana hangat dan tenang tak akan terjadi lagi. Namun satu hal yang pasti, kenangan manis akan menjadi obat rindu.
Aku sebenarnya merasa sedih harus meninggalkan Layla dan nenek Jasmine yang baik banget sama aku, batin Eisha sambil mengunyah kue osmanthus pelan.
"Layla, kenapa kau tak ikut aku saja ke istana mendaftar sebagai pelayan?" tanya Eisha menatap Layla yang sedang menuangkan secangkir teh.