"Aku mau saja mendaftar sebagai pelayan, hanya saja kasihan dengan nenek Jasmine. Dia pasti kesepian tinggal di rumah, apalagi anak dan menantunya sudah meninggal, hanya tersisa aku sendiri," jelas Layla panjang lebar.
Eisha merenung memikirkan perkataan Layla yang memang masuk akal. "Baiklah, tidak apa-apa Layla. Aku memahami kesulitanmu itu. Dan lagipula peternakan domba juga harus diurus."
Eisha pun mengalihkan pandangan ke arah jam dinding kayu yang ada di salah satu dinding kamar. Sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Yang artinya satu jam lagi waktunya akan dimulai.
Eisha meneguk air putih sampai habis. "Layla, sepertinya kita harus segera berangkat. Jika tak berangkat sekarang, maka aku akan terlambat."
Eisha membantu Layla membawa peralatan makan yang kotor ke ruang pencucian yang ada di dalam kamar penginapan, kemudian mengambil tas rajut yang berisi peralatan dan barang yang sekiranya akan dibutuhkan. Setelah itu mereka berdua berjalan menuruni tangga menuju ke tempat parkir kuda. Eisha menaiki punggung kuda setelah Layla naik.
Layla memegang tali pengendali kuda, dia menoleh sekilas pada Eisha yang memegang erat pinggangnya. "Sudah siap belum?" tanyanya.
"Sudah siap!" jawab Eisha.
Layla menghentakkan tali pengendali kuda sehingga kuda bergerak cepat. Kuda membelah jalanan kota Yulan yang lumayan ramai oleh masyarakat dengan berbagai kegiatan ada yang berjualan, menjemur pakaian, dan kegiatan yang lainnya. Di langit cuaca sedang bersahabat.
Setelah hari ini semoga saja kita bisa bertemu lagi, Vaiva, batin Layla berharap.
Layla terima kasih untuk selama ini yang telah baik padaku. Aku akan berusaha untuk membalas kebaikanmu dan juga nenek Jasmine, batin Eisha.
Tanpa dirasa mereka telah sampai di depan gerbang istana. Di sana seperti biasa dua orang prajurit dengan seragam khasnya berdiri tegak sambil membawa pedang tersarung. Wajah mereka tampak tak ramah dan cenderung serius, memang sengaja dipilih oleh pihak istana.
Layla membantu Eisha untuk turun dari punggung kuda. Eisha sedang merapikan pakaian yang dia kenakan dan juga rambut hitam panjang lurusnya.
"Layla, aku sekali lagi pamit padamu. Tolong sampaikan kertas ini pada nenek Jasmine," ujar Eisha sambil menyerahkan secarik kertas yang dilipat dua.
Layla menerima kertas dan menyimpannya di dalam saku celana. Dia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, walaupun sebenarnya hatinya sangatlah sedih. "Pasti, Vaiva. Kau harus menjaga dirimu dengan baik selama di sini, jangan bangun kesiangan lagi, ya, karena pasti tak ada yang membangunkanmu," ujar Layla yang tanpa sadar air matanya menetes di sudut matanya.
"Jangan menangis, Layla, aku jadi ikutan sedih." Tangan Eisha terangkat untuk menghapus air mata Layla.
Layla memaksakan untuk tersenyum, walaupun senyumannya terasa hambar. "Iya, aku tak menangis lagi."
"Layla aku pergi ke sana dulu. Nanti kalau aku ada waktu senggang aku pasti akan berusaha untuk mengunjungimu dan juga nenek Jasmine," ucap Eisha tersenyum. Dia juga merasa sedih, tapi dia menutupinya.
"Aku pasti akan sangat senang jika kau datang ke rumahku. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu, Vaiva." Layla memeluk Eisha dengan erat begitu juga dengan Eisha.
Beberapa saat kemudian mereka mengurai pelukan hangat. Setelah itu Eisha berjalan menaiki anak tangga. Eisha berbalik dan melambaikan tangan yang dibalas Layla.
"Cepatlah masuk, Nona, apakah kau masih ingin melambaikan tangan sampai siang nanti?" tegur salah seorang prajurit yang lebih tua, kumis tebal menghiasi di bawah hidungnya.
"Iya, Pak, maaf." Layla mengambil token yang diberikan oleh bagian pendaftaran kemaren dan menunjukkannya pada prajurit yang berjaga.
"Masuklah! Sebentar lagi acara seleksi akan dimulai!" Kali ini prajurit yang satunya yang berbicara, dari wajahnya lebih muda dari prajurit yang pertama.
"Baiklah, Pak! Aku permisi! Eisha pamit sebelum berjalan masuk ke dalam halaman istana. Ternyata benar para gadis telah berbaris dengan rapi di halaman istana yang luas.
"Nona, aku belum telat 'kan?" Setelah ikut berbaris, Eisha menepuk pelan bahu seorang gadis berambut cokelat tua
Gadis yang baris di depan Eisha menoleh sekilas. "Iya, jangan khawatir, ketua pelayan istana belum memulai acaranya. Dia bilang acara akan dimulai sepuluh menit lagi."
Eisha bernapas dengan lega. "Terima kasih, Nona."
"Sama-sama. Eh, namamu siapa?" tanyanya sambil membalik tubuhnya menghadap ke arah Eisha. Dia memiliki rambut coklat lurus sebatas bahu. Dan tatapan mata yang lembut.
"Namaku Eisha Vaiva Nafeda, panggilanku Vaiva," sahut Eisha sambil menyambut uluran tangan gadis di hadapannya.
"Salam kenal Vaiva, namaku Ayu Diana, kau bisa panggil aku apa saja," jawab Ayu dengan ramah.
"Salam kenal juga, Ayu," balas Eisha tersenyum.
"Perhatian semuanya harap diam jangan bersuara!" Terdengar instruksi yang berasal dari depan. Semua orang yang awalnya sedang berbicara langsung terdiam.
"Hari ini pengumuman siapa saja yang telah lulus sebagai pelayan. Kalian bisa baca pengumuman yang telah aku tempel di dinding sana," ujar seorang perempuan yang tampak dewasa dari wajahnya. Setelan pakaian biru tua membalut tubuhnya.
Tak ada seleksikah? batin Eisha yang sedikit bingung.
Oh, aku sebaiknya tak usah memikirkan hal tersebut, pikir Eisha lagi.
Aku ikuti saja apa mau mereka, batin Eisha.
Barisan pelayan segera berhamburan menuju tempat yang dimaksud oleh kepala pelayan.
"Ayo, kita lihat juga," ajak Ayu Diana pada Eisha.
"Nanti, kita tunggu sepi dulu baru ke sana. Itu juga tak akan terlambat, daripada berebutan seperti mereka," sahut Eisha sambil jari tangannya menunjuk ke arah dimana para gadis yang berebutan dan sempit-sempitan.
Ayu Diana melihat ke arah yang ditunjuk oleh Eisha. "Betul juga, kita tunggu saja sebentar kalau begitu."
Setelah semua gadis yang lain selesai melihat pengumuman, barulah Eisha dan Ayu berjalan menuju papan pengumuman untuk mengetahui bagaimana hasilnya.
"Bagaimana, apa nama kita ada?" tanya Ayu Diana, dia belum bisa membaca dengan baik.
Jari telunjuk Eisha mencari satu per satu nama yang ada di kertas dengan teliti. Dan jari tangannya terhenti di dua nama yaitu namanya sendiri dan nama Ayu Diana. "Nama kita berdua ada, itu artinya kita lolos." Ekspresi bahagia tampil di wajah Eisha.
"Bagus sekali, ayo kita kembali ke barisan lagi," ajak Ayu dengan raut wajah yang senang.
Mereka kembali ke barisan yang semula. Kepala pelayan sedang duduk di hadapan mereka bersama pelayan yang senior.
"Kalian sudah membaca pengumuman bukan? Yang namanya tak lolos sebagai kandidat silakan untuk pulang. Dan daftarlah saat istana membuka pendaftaran," instruksi kepala pelayan menatap satu per satu gadis. Di tengah terdapat teko dan beberapa cangkir di atas nampan.
Beberapa gadis yang tak lolos pun berpamitan pada kepala pelayan, dan perlahan meninggalkan halaman istana dengan perasaan yang kecewa dan sedih.
Apa yang menjadi patokan nilai lolos atau tidaknya ini? Kenapa tak diumumkan pelayan seperti apa yang sedang dicari? batin Eisha berpikir sambil melihat gadis-gadis yang tak lolos.
Kalau dilihat wajah mereka cantik juga? Bukankah pihak istana mencari gadis yang cantik? Kenapa mereka malah ditolak? Eisha sampai tak habis pikir.