Chapter 30

1109 Kata
Pelayan yang lolos dari seleksi dibawa oleh kepala pelayan ke dalam sebuah ruangan, dan dipinta untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Ada total lima belas kandidat yang lolos seleksi. Untuk cara penilaian seleksinya ada beberapa kategori yang dinilai. Kepala pelayan dan pelayan senior baru saja pergi dari ruangan. Eisha dan Ayu Diana duduk berdekatan, dalam satu barisan yang sama. Setiap satu kursi ada satu meja kayu, di atas meja tak ada apa-apa. Itulah membuat Eisha bingung sendiri. "Ini kita akan disuruh ngapain, ya?" tanya Eisha berbisik pada Ayu yang kini juga tengah menatapnya. Ayu pun menggeleng. "Aku tak tahu Vaiva. Lebih baik kita tunggu saja informasi dari kepala pelayan," jawabnya. "Iya juga. Ayu kau tinggal di mana?" tanya Vaiva membuka obrolan tema yang baru. "Aku tinggal di Kota Yulan, dekat dengan perpustakaan yang ada di jalan pangkalan benteng. Nah rumah aku itu maju lagi lurus, lalu nanti ada perumahan, di situlah rumahku." "Oh, di sana ternyata rumahmu, aku pernah ke perpustakaan di sana. Nanti kapan-kapan aku akan mampir ke rumahmu berkunjung," ujar Eisha. "Iya, boleh Vaiva. Dan rumahmu sendiri ada dimana?" tanya Ayu balik. "Kalau rumahku sangat jauh dari sini, rumahku ada di Kota Quattour," sahut Eisha. "Jauh banget dari Kota Quattour. Kota Quattour itu yang tiap bulan hanya ada di musim dingin 'kan?" tanya Ayu. Ya, setahunya begitu dari teman-temannya yang bersekolah. Untuk Ayu sendiri, dia tidak bersekolah karena tak ada biaya. Dia mendaftar ke istana menjadi pelayan karena ingin mengubah nasib dirinya sendiri, menyekolahkan dua adiknya, dan juga ibunya. Ayu berharap dua adik perempuannya memiliki nasib yang lebih baik dari dirinya. "Iya, benar, hanya ada musim dingin saja. Oleh karena itulah aku ke Kota Yulan karena di sini bisa menikmati empat musim yang berbeda. Daripada tinggal di Kota Quattour yang selalu melihat pemandangan bersalju sepanjang hari," jelas Eisha. Nyatanya bukan itu alasannya, tapi Eisha pikir alasannya yang sebenarnya ke istana orang lain tak boleh tahu. Ayu mengangguk setuju. "Benar sekali, Vaiva. Aku yakin pasti sangat bosan tiap hari hanya melihat saju," sahutnya. "Oh, ya, Vaiva, apa kau bersekolah?" tanya Ayu beberapa saat kemudian. Aku jawab apa? Ya, aku memang bersekolah, tapi sekolahku bukan di dunia elf, melainkan di dunia manusia, batin Eisha yang bimbang. Eisha menggeleng. "Tidak, Ayu." Ayu pun mengangguk. "Tidak apa-apa, Vaiva. Jangan sedih, aku pun belum bisa sekolah. Kita akan mencari uang yang banyak dan kita pasti bisa sekolah." "Iya, kau benar. Kita harus mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Karena tanpa uang tak bisa apa-apa." "Aku sering merasakan saat tak punya sedikit pun uang, kami sekeluarga harus menahan lapar sampai esok hari." Ayu berkata sambil menerawang ke atas, mengingat pengalaman yang buruk. Masih membekas di dalam hati bagaimana perutnya sangatlah lapar. "Sampai ada tetangga yang baik hati memberikan kami makanan. Sejak itulah aku bertekad akan mencari uang agar kehidupan kami menjadi lebih baik." Dia jujur sekali denganku bahkan tak malu membuka pengalaman hidupnya yang seharusnya disimpan rapat-rapat, batin Eisha. "Maaf apakah orang tuamu tidak bekerja sehingga kalian kelaparan?" tanya Eisha hati-hati, rasa penasarannya seketika muncul. "Santai saja tak perlu minta maaf, karena kita adalah teman. Ayahku sudah lama meninggal karena penyakit paru-paru dan ibuku saat itu sedang sakit, sedangkan kedua adikku masih kecil," ungkap Ayu Diana tanpa ditutupi. "Oh, begitu, ya. Sayangnya, aku saat itu belum mengenal Ayu, kalau aku kenal, aku pasti akan membantu kalian," jawab Eisha bersimpati. Dia tak bisa membayangkan keadaan yang sangat parah seperti yang dialami oleh Ayu dan keluarganya. Terutama di saat malam hari, cuaca yang sangat dingin, dan harus menahan lapar. Hal tersebut membuatnya merasa sedih. "Aku tahu kau adalah gadis yang baik Vaiva. Aku senang bisa berteman denganmu," ujar Ayu sembari tersenyum. Suara pintu terbuka tak lama kemudian pun terdengar. Semua kandidat pelayan melihat ke arah sumber suara, ternyata kepala pelayan membawa dua orang pelayan yang lain, yang Eisha tebak adalah pelayan senior. Kepala pelayan mau meminta kami ngapain, ya? Apa mungkin nanti disuruh menari? 'Kan biasanya kaisar suka sekali melihat gadis menari di hadapannya? batin Eisha menduga-duga. Apa mungkin disuruh menyanyi di hadapan semua orang? batin Eisha lagi. Aduh, apa ya? pikir Eisha melihat wajah kepala pelayan, dan dua orang senior secara bergantian dari tempatnya duduk. Dua orang laki-laki muncul dan meletakkan satu meja beserta kursi di hadapan semua kandidat. Dengan gerakan anggun dan gemulai, kepala pelayan duduk di sana. "Selamat untuk kalian semua yang telah berhasil melewati tahap seleksi. Untuk kalian semua, aku ucapkan selamat datang di istana." "Mulai hari ini kalian akan mulai bekerja sesuai dengan bagian dan tugas masing-masing. Aku harap kalian melakukan pekerjaan kalian dengan sebaik mungkin dan jangan mendatangkan masalah untuk kalian sendiri. Mengerti tidak?" tanya kepala pelayan dengan wajah yang serius. "Mengerti Kepala Pelayan!" sahut para gadis muda dengan kompak. "Bagus, aku harap kalian melakukan sesuai dengan yang aku harapkan. Dan jangan mengecewakan aku," ujar Kepala Pelayan dengan ekspresi yang sama. Wajahnya tampak selalu serius, bahkan Eisha sempat berpikir apakah kepala pelayan pernah tersenyum selama hidupnya? "Anita, kau jelaskan berapa saja tingkatan pelayan di istana ini!" perintah kepala pelayan menoleh sekilas pada seorang gadis yang berdiri di sebelah kanannya. "Baik, Kak Wulandari," jawabnya dengan mengangguk dan tangannya membentuk tanda hormat. Dua delapak tangan menyatu bagian ujungnya, dengan posisi tangan kanan mengarah ke atas dan telapak tangan kiri mengarah ke bawah. Tanda hormatnya baru aku sadari jika sangat berbeda dengan di tempat asalku, batin Eisha yang baru menyadarinya. "Aku akan mulai menjelaskan, kalian dengar baik-baik! Kalian pasti sudah tahu bahwa setiap tahun istana akan merekrut pelayan yang baru untuk diperkerjakan di istana." Pelayan yang sudah bekerja bertahun-tahun di istana mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Sedangkan untuk pelayan yang sudah tua dan tak kuat bekerja lagi diberikan dua kesempatan yang pertama melayani di istana dingin atau pensiun dari pekerjaannya." "Aku memberitahu kalian tentang ini agar kalian semua mengerti. Baiklah, lanjut ke pengetahuan dasar yang wajib kalian ketahui sebagai pelayan." "Di istana kerajaan harvy memiliki beberapa tingkatan status pelayan, yang pertama tingkat lonceng perunggu, yang kedua tingkat lonceng perak, dan yang ketiga tingkat lonceng emas. Setiap tingkat terbagi ke dalam tiga level lagi." "Sebagai contoh, kalian di awal akan diberikan status sebagai pelayan tingkat lonceng perunggu level satu. Untuk naik ke level selanjutnya kalian harus bekerja keras." "Setelah kalian berada di tingkat lonceng perunggu level tiga, dan ternyata kalian naik level lagi, kalian bisa naik ke level lonceng perak level satu. Begitu juga dengan seterusnya." Anita menuangkan air teh dan meminumnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering, baru lanjut bicara. "Pasti kalian bertanya, apa yang menjadi tanda atau mungkin perbedaan antara pelayan lonceng perunggu dengan pelayan lonceng perak?" "Setiap orang akan mendapatkan seragam dan tusuk rambut sesuai dengan tingkatannya." "Mengerti tidak?" tanya Anita menatap para pelayan yang baru. "Mengerti!" jawab mereka dengan kompak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN