Eisha sedang melihat seragam pelayan berwarna biru muda dan tusuk rambut lonceng perak beserta mainannya. Baru saja pelayan senior membagikan pakaian dan tusuk pada semua lima belas pelayan baru.
Tangannya bergerak menyentuh gaun biru. "Bahannya lumayan bagus juga," ujarnya dengan pelan tanpa ada orang yang mendengarnya.
"Baiklah, semua orang sudah mendapatkan seragam dan tusuk rambut. Kalian harus memakai seragam yang telah diberikan selama bekerja dan jangan lupa memakai tusuk rambut juga." Itu bukan permintaan, tapi sebuah kalimat perintah dari kepala pelayan.
"Baik, Kepala Pelayan!" sahut semua kandidat pelayan baru sambil memberikan hormat.
"Baiklah, aku serahkan mereka pada kalian berdua." Kepala pelayan bangkit dari posisi duduknya, kemudian menatap dua bawahannya.
"Kakak tenang saja, kami akan melakukannya dengan baik," sahut kedua orang pelayan senior.
Setelah itu kepala pelayan pergi meninggalkan lima belas pelayan baru dan dua orang pelayan senior, dilihat dari tusuk rambut yang dipakai di rambut mereka. Tusuk rambut lonceng emas dan pakaian hijau muda membalut tubuh mereka berdua.
Sepertinya pakaian yang mereka kenakan adalah pakaian pelayan tingkat atas, batin Eisha melihat seragam yang dipakai dua pelayan senior.
"Kami akan memberitahu nama kami terlebih dahulu. Namaku Citra Alfiah dan dia Asmarani." Pelayan berwajah bulat dan gemuk mengenalkan dirinya dan juga temannya.
"Aku akan memberitahu kalian apa saja tugas yang harus kalian kerjakan," sahut pelayan yang berwajah lebih kurus dan begitu juga dengan tubuhnya yang langsing.
***
Ini adalah hari pertama Eisha bekerja sebagai pelayan di istana. Gadis berhenti sejenak dan mengambil sebotol air dan meminumnya beberapa tegukan untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokannya.
Ternyata bekerja di istana melelahkan sekali, batin Eisha mengambil posisi duduk di atas halaman istana. Dia melihat ke arah halaman, masih banyak sampah dedaunan dan tanaman layu yang harus dia bersihkan. Rasanya Eisha ingin tidur di atas ranjang yang empuk sambil memeluk bantal guling.
Dia kemudian mengedarkan pandangan ke arah pelayan yang lain yang sedang menyapu lorong kediaman.
Mencari uang itu memang susah, pikir Eisha merenung.
Eisha melihat ke arah gelang tangan berbandul kelinci yang melekat di tangan kanannya. Gelang itu merupakan pemberian dari Layla. "Entahlah Layla sedang apa sekarang? Apa dia sudah sampai ke rumah? Atau mungkin masih dalam perjalanan? Semoga saja dia selalu dalam keadaan sehat."
"Ayo kita harus semangat agar pekerjaan ini cepat selesai dan aku bisa istirahat." Eisha menepuk bagian belakang rok sehingga rumput dan debu yang menempel berjatuhan. Gadis cantik bermata hijau mengambil sapu dan menyapu kembali.
Setelah semua daun kering dan tanaman layu dikumpulkan menjadi satu, Eisha memasukkannya ke dalam karung yang sudah disediakan. Eisha baru bisa bernapas dengan lega.
Seorang pelayan laki-laki datang menghampiri Eisha. "Apakah semuanya sudah selesai?" tanyanya.
Eisha mengangguk. "Iya, semuanya sudah aku masukkan, kau tinggal membawanya saja ke tempat pembuangan sampah."
"Baiklah," ujarnya singkat, tanpa banyak bicara laki-laki muda tersebut mengangkat karung dan membawanya pergi dari sana.
Eisha mengambil sapu tangan dan menghapus keringat yang membasahi dahinya. Capek sekali, batinnya.
Memang yang enak itu menjadi keluarga kerajaan yang tidak perlu repot-repot bekerja seperti ini.
"Vaiva, kau kenapa melamun?" tanya Ayu yang duduk menghampirinya. Gadis itu baru saja selesai menyelesaikan pekerjaannya mengelap meja, kursi, dan lain-lain.
"Aku hanya memikirkan alangkah bahagianya jika kita termasuk keluarga kerajaan. Tak perlu repot-repot melakukan pekerjaan kasar begini," ujar Eisha.
"Aku juga kadang berpikir yang sama. Tapi aku pikir, tak ada gunanya kita berkhayal yang nyatanya kita tak bisa mencapainya," sahut Ayu.
"Iya benar juga."
Untuk beberapa saat mereka berada di dalam keheningan. Hanya suara angin dan dedaunan yang bergerak yang mengisi. Hingga pertanyaan dari Eisha memecahkan keheningan.
"Oh, ya, Ayu, bagaimana kalau kita keliling saja? Sekalian mengenal bangunan apa saja yang ada di istana?" tawar Eisha. Dia sangatlah bosan dari pagi sampai siang hanya melihat pohon dan tanaman serta sapu.
Ayu sedang berpikir beberapa saat. "Baiklah, aku setuju."
Keduanya berjalan mengelilingi istana sambil melihat-lihat. Kediaman istana kerajaan harvy ternyata sangatlah besar. Istana kerajaan harvy sangatlah megah dan mewah. Mereka melihat para pelayan yang sudah lama bekerja di istana sedang melakukan tugas mereka, kebanyakan dari mereka memakai kekuatan sihir yang dimiliki.
Semoga saja aku ke depannya bisa memiliki rumah seindah istana kerajaan, batin Eisha berharap sambil menatap bangunan yang berdiri dengan gagah di hadapannya.
Eisha tak sengaja melihat sebuah rombongan seorang wanita saat ingin lewat. Dari pakaian yang tampak mewah dan berkelas serta beberapa pelayan yang berjalan mendampinginya. Eisha menebak jika rombongan itu pasti rombongan keluarga kerajaan atau mungkin selir kaisar.
Eisha memberi kode pada Ayu, untungnya Ayu mengerti. Keduanya langsung memberikan hormat sesuai yang diajarkan oleh pelayan yang senior. Setelah diperintahkan untuk berdiri, barulah mereka berdua berdiri.
"Aku tak pernah melihat kalian berdua," ujar wanita berparas cantik secara bergantian menatap Eisha dan Ayu Diana.
"Kalian berdua adalah pelayan baru?" tanyanya.
Eisha memberanikan diri untuk menjawab. "Iya, Nyonya," jawabnya. Dia tak tahu siapa nama wanita tersebut dan apa kedudukannya.
"Dasar tidak sopan! Kau harus panggil dengan sebutan Selir Linda, bukan dengan panggilan Nyonya," jawab pelayan pribadi selir Linda dengan nada bentakan.
Eisha dan Ayu Diana segera berlutut di atas jalan berbatu. Keduanya merasa kaget dengan nada keras yang diucapkan oleh pelayan yang berdiri di samping selir Linda.
"Ami, jangan begitu! Kau membuat dua anak muda ini merasa takut," nasihat Selir Linda pada pelayan pribadi yang sudah melayaninya selama bertahun-tahun.
"Tapi Selir Linda mereka harus tahu kedudukan Anda di istana ini. Hamba tak ingin mereka bersikap tidak sopan," jelas Ami membela dirinya.
"Aku tahu." Selir Linda kemudian beralih menatap kedua gadis muda yang masih berlutut ketakutan. "Kalian berdua tak perlu berlutut lagi, berdirilah!" Tangannya dikibaskan ke atas.
Eisha dan Ayu pun berdiri. "Maaf, Selir Linda, aku tak tahu," ujar Eisha dengan wajah yang polos dan lugu.
Selir Linda mengangguk. "Tidak masalah, aku mengerti." Ada jeda sebentar. "Kalian berasal dari kediaman istana mana?" tanyanya untuk yang kedua kalinya.
Untuk Ayu sendiri dia tak berani bicara dan membiarkan Vaiva yang mewakilinya, dia merasa takut, takut nanti salah bicara dan takut dihukum atas kesalahannya itu.
Eisha menoleh sekilas pada Ayu yang diam saja, sejak tadi hanya dia yang menjawab, kemudian menatap ke depan lagi. "Kami masih belum memiliki istana yang tetap untuk dilayani. Tadi pagi kami diminta untuk membersihkan kediaman Pangeran Adom dan kediaman Putri Dinda," ujarnya dalam satu tarikan napas.