Selir Linda mengangguk. "Ya udah, kalau begitu, kalian berdua mulai saat ini bekerja melayaniku saja," putusnya.
Ayu dan Eisha seraya bersamaan memberikan hormat dan ucapan terima kasih.
"Siapa nama kalian berdua?" tanya Selir Linda. Ya, memang Ayu dan Diana belum menyebutkan nama mereka.
"Namaku Vaiva, Selir Linda," sahut Eisha dengan sopan.
"Aku... aku Ayu, Selir Linda," jawab Ayu yang gugup dan takut.
"Baiklah, kalian akan aku bawa ke kediaman ku terlebih dahulu. Setelah itu kalian bawa barang-barang kalian," perintah Selir Linda, Eisha dan Ayu hanya bisa mengangguk patuh saja. Tak mungkin kedua anak muda itu berani menolak.
Selir Linda beralih menatap Ami yang berdiri sedikit di belakangnya. "Ami, kau beri tahu dengan kepala pelayan, kalau aku mengambil dua pelayan bernama Vaiva dan Ayu."
"Baik, Selir Linda," jawab Ami dengan patuh sambil memberikan hormat sebelum melakukan tugas yang diperintahkan oleh majikannya itu.
Eisha dan Ayu berjalan mengekor mengikuti Selir Linda yang berjalan di depan. Keduanya masuk ke barisan pelayan Selir Linda. Keduanya tak banyak bicara dan berada di dalam pikiran masing-masing.
Dilihat dari wajah Selir Linda, dia sepertinya wanita yang baik hati dan ramah, batin Eisha tak berani mengatakan secara langsung.
Semoga saja ini adalah awal yang baik untukku sendiri. Kalau dipikirkan memang aku lebih baik tinggal bersama dengan Layla dan nenek Jasmine, aku tak perlu pusing lagi untuk bekerja keras untuk mencari uang, tapi aku juga merasa tidak enak jika terus memberatkan mereka berdua, pikir Eisha yang melamun.
Aku berharap terhindar dari masalah, batin Ayu. Karena telah bersusah payah supaya bisa lolos menjadi pelayan.
Eisha memutuskan untuk mengamati ke sekelilingnya sekalian untuk mengingat di mana letak kediaman selir Linda. Rombongan selir Linda melewati lorong istana yang panjang dan juga taman yang indah. Ketika tak sengaja bertemu dengan rombongan istri kaisar yang lain yang statusnya lebih tinggi, Selir Linda menyapa dan memberikan hormat yang diikuti oleh seluruh pelayan termasuk Eisha dan Ayu Diana.
Oh, aku baru tahu walaupun status sama-sama istri raja, kalau kedudukannya lebih tinggi dan lebih tua harus memberikan hormat, batin Eisha menyimpulkan.
Sampailah mereka di depan sebuah kediaman yang cukup besar dan luas. Luas kediaman berdasarkan kedudukan atau posisi di istana. Contohnya saja kediaman Permaisuri Kerajaan Harvy lebih besar dari kediaman selir yang lainnya dan hampir menyamai kediaman kaisar.
Selir Linda berhenti dan berbalik menatap para pelayan saat sudah di balkon kediamannya. Pelayan ada dua tingkatan yaitu pelayan pribadi (pelayan dalam) dan pelayan luar.
"Kalian semua tetaplah di sini, kecuali Vaiva dan Ayu ikut aku ke dalam," perintahnya yang dijawab anggukan kompak semua pelayan.
Selir Linda berjalan membuka pintu kediamannya. Di atas pintu ada papan kayu yang bertuliskan paviliun anggrek. Eisha dan Ayu Diana sesuai dengan perintah Selir Linda berjalan masuk mengikuti Selir Linda.
Wanita cantik itu mengambil posisi duduk di kursi santai dengan gerakan yang anggun. Eisha dan Ayu Diana berdiri di sisi tengah ruangan. Eisha mengedarkan pandangan ke sekitar kediaman yang dipenuhi barang-barang berkualitas tinggi dengan tatapan kagum. Pasti harganya sangatlah mahal, batin Eisha. Memang Eisha orangnya suka penasaran dan ingin tahu.
Selir Linda pun tertawa melihat tingkah pelayan barunya itu. Gadis kecil itu memang tampak berbeda dengan gadis yang lainnya. Dari cara menjawab yang tak canggung seolah bukan seorang pelayan. Tatapan matanya yang selalu penasaran dan berbinar, dan juga wajahnya yang cantik. Jika Vaiva didandani pasti tak ada yang tahu siapa dia yang sebenarnya, batin Selir Linda.
Mendengar tawa dari Selir Linda membuat Eisha berhenti mengamati sekitarnya dan beralih menatap Selir Linda dengan tatapan tanda tanya.
"Kalian sudah berapa lama bekerja di istana?" tanya Selir Linda menatap dua orang pelayan di hadapannya.
"Baru hari ini kami mulai bekerja Selir Linda," jawab Eisha langsung.
Selir Linda mengangguk mengerti. "Daritadi ku perhatikan temanmu itu diam saja. Apa sedang sakit sariawan?" tanyanya dengan nada bercanda di akhir kalimatnya.
"Maaf Selir Linda, aku... aku tidak sedang sakit. Aku hanya takut salah bicara saja," ujar Ayu Diana menjawab dengan kepala yang menunduk.
"Lihat temanmu ini, dia tampak biasa saja dan tidak merasa ragu untuk menjawab. Harusnya kau ikuti cara temanmu ini," tunjuk Selir Linda pada Esiha.
"I... iya Selir Linda," jawab Ayu Diana mengangguk. Nada bicaranya saja masih gugup.
"Sudahlah, kau sepertinya kurang cocok untuk dijadikan teman ngobrol. Kau berdiri di luar saja," sahut Selir Linda. Ayu Diana menurutnya terlalu kaku dan tidak menarik.
Ayu memberikan hormat dan berjalan keluar serta berdiri bersama pelayan luar yang lainnya.
Sedangkan Eisha sendiri ingin meminta agar Ayu Diana tetap bersamanya, namun mengingat dia hanya sebagai pelayan di sini, takutnya malah membuat Ayu dalam masalah. Akhirnya Eisha diam saja, hanya bisa melihat Ayu memberikan hormat, membuka pintu, dan berjalan keluar serta berdiri bersama pelayan luar yang lainnya.
Selir Linda sering merasa bosan berada di kediaman istana, dia hampir tak punya teman untuk berbicara. Hampir semua istri kaisar tak bersahabat akrab dengannya cenderung menjaga jarak. Sedangkan untuk Ami pelayan pribadinya yang sudah bertahun-tahun melayaninya, orangnya selalu serius dan tegas dan juga sedikit menyebalkan.
Selir Linda meminta agar Eisha duduk di hadapannya, yang hanya berkelang meja segi empat saja. Eisha melihat dengan mata berbinar kudapan yang ada di atas meja, entah kenapa akhir-akhir ini dia suka sekali dengan kue. Kue-kue itu tampak seperti uang yang berharga.
"Ayo temani aku makan." Selir Linda mengambil kue dan mengunyahnya.
"Tapi Selir Linda, apakah boleh? Soalnya aku hanya seorang pelayan?" tanya Eisha.
"Tak masalah makan saja," jawab Selir Linda.
Wanita itu merasakan rasa nyaman saat bersama dengan Vaiva.
"Baiklah, Selir Linda. Aku akan mencobanya," sahut Eisha, dia tak bisa menahan diri untuk mencoba kue yang bentuk dan warnanya bermacam-macam.
"Ternyata tiap kuenya punya rasa yang berbeda. Kue buatan koki istana memang sangatlah beda," komentar Eisha di sela-sela makannya. Eisha jadi ingat dia pernah sedikit ada kesalahpahaman dengan Koki Ghio.
"Tentu saja. Menurut informasi Koki Ghio adalah Koki yang masakannya paling enak di istana," ungkap Selir Linda.
"Vaiva setuju dengan pendapat itu."
Eisha bergerak dari posisi duduknya untuk menuangkan air teh ke dalam dua cawan. Walaupun sikap Selir Linda baik dan ramah, dan sepertinya menganggapnya sebagai teman, Eisha harus tetap menunjukkan rasa hormat dan sopan. Karena tak ada yang tahu kapan sikap orang bisa berubah.