Chapter 33

1019 Kata
Selir Linda mengambil cawan dan meminumnya dengan gerakan anggun. Sampai membuat Eisha terpana karena dia sendiri minum tak ada anggun-anggunnya. "Selir Linda, apakah itu cara minum teh kaum bangsawan?" Pertanyaan itu meluncur saja dari bibir Eisha. Sudah pernah dikatakan bukan? Kalau Eisha suka sekali bertanya. Selir Linda meletakkan kembali cawan teh yang sudah kosong di atas meja. "Ya, kau benar. Ini tata cara minum teh bangsawan." Eisha pun mengangguk mengerti. "Rupanya beda banget dengan cara minum rakyat biasa," ujarnya dengan polosnya. Selir Linda tak bisa menahan tawanya karena tingkah Vaiva yang lucu dan menggemaskan. Rasanya Linda ingin mencubit pipi gadis muda itu. Tak salah dia meminta agar Vaiva menjadi pelayan dalam, tingkahnya memang menghibur dirinya. Hari ini pertama saja sudah membuat harinya lebih berwarna. "Vaiva, kau juga ingin berlatih cara minum ala bangsawan?" tawar Selir Linda setelah mengendalikan tawanya. "Aku mau belajar Selir Linda," jawab Eisha dengan semangat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen. "Baiklah, aku akan mengajarimu," jawab Selir Linda. Ah, dia jadi ingat dengan tingkah adik perempuannya yang paling kecil, sangat mirip dengan Vaiva. Dia sudah lama tak melihat keadaan adik perempuannya itu. "Nah posisi tangannya harus begini. Setelah itu dengan gerakan anggun dan pelan baru minum air tehnya." Selir Linda mempraktikkan sambil menjelaskannya pada Eisha. Gadis berusia delapan belas tahun itu memperhatikan dengan baik penjelasan Selir Linda. "Bagaimana? Ayo dicoba," ujar Selir Linda menatap Eisha yang masih berada di posisi duduknya berhadapan. Eisha mengambil cangkir teh yang ada di atas meja dan mulai mempraktikkan apa yang sudah dijelaskan oleh Selir Linda. Awalnya masih salah dan malah membuat air teh membasahi wajahnya, namun Eisha tak menyerah dan terus mencoba. Hingga akhirnya Eisha bisa melakukannya dengan benar tanpa membuat air tumpah kemana-mana. "Yeay, aku bisa!" sorak Eisha dengan riang, tanpa memikirkan Selir Linda yang melihatnya tersenyum ikut senang. Setelah berhenti melompat-lompat seperti anak kecil. Eisha mengucapkan terima kasih pada Selir Linda. Yang dijawab anggukan Selir Linda. "Selir Linda, hamba sudah melapor pada kepala pelayan sesuai dengan yang Anda pinta," lapor Ami. Saat pandangannya mendapati Eisha duduk di hadapan Selir Linda, seperti kedudukan pelayan itu sama membuat Ami menatap tajam Eisha. Namun Eisha tak bereaksi apapun, dia merasa tak salah, karena Selir Linda sendiri yang memintanya untuk duduk dan Eisha hanya mematuhi perintah saja. Pelayan baru ini sama sekali tak tahu aturan. Dia malah tampak biasa dan wajahnya tak ada rasa bersalah sedikit pun, batin Ami yang mulai kesal. Gadis itu berusaha untuk menahan diri untuk tidak memaki-maki Eisha. Lihatlah aku akan membuatmu mengerti apa itu peraturan yang ada di istana, batin Ami bertekad. Jika semua pelayan sembarangan, maka akan membuat semua pelayan menjadi tak sopan dengan majikannya. "Baiklah, jika tak ada apa-apa lagi, kau bisa keluar," perintah Selir Linda yang hanya bisa dijawab anggukan Ami. Ami memberikan hormat, kemudian berjalan mundur, dan meninggalkan ruangan Selir Linda. Bahkan Selir Linda memintaku keluar dari ruangannya? Padahal nyatanya aku sudah melayaninya selama bertahun-tahun. Dan karena kehadiran gadis kecil itu membuat suasana jadi berubah, batin Ami yang tak terima. *** Sudah beberapa hari Eisha tinggal di paviliun bunga anggrek untuk melayani Selir Linda. Selama ini Eisha juga merasa nyaman tinggal di sana. Begitu juga dengan Selir Linda yang merasa hari-harinya menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Eisha sedang berada di luar ruangan Selir Linda, dia ingin mengambil kudapan untuk Selir Li. Di tengah perjalanan menuju ke dapur istana, tangannya dicegat oleh seseorang. Eisha menoleh melihat siapa orang yang telah menahannya. "Lepaskan aku!" Eisha berusaha untuk melepaskan dari cengkraman tangan Ami. Ami menyeret Eisha dengan paksa ke tempat yang sepi, di dekat bangunan istana yang kosong, yang tak ada penghuninya. Walaupun kosong tapi bersih dan rapi karena dirawat oleh para pelayan yang bertugas. "Sakit, lepaskan tanganku," pinta Eisha pada Ami berulang kali. Ami jauh lebih tua dari Eisha. Kalau di dunia manusia umurnya dua puluh enam tahun. Dengan kasar Ami melepaskan pergelengan tangan Eisha. Gadis itu hampir saja jatuh ke atas tanah jika dia tak menjaga keseimbangannya. Eisha meringis kesakitan, dia mengusap pergelengan tangannya yang memerah. Kenapa dia kasar sekali denganku? batin Eisha yang tak mengerti. "Jangan lupa dengan kedudukanmu sendiri sebagai pelayan. Bertingkah seolah punya kedudukan yang sama dengan Selir Linda, itu sangat tidak mungkin," ujar Ami dengan tatapan sinis saat melihat Eisha. "Oh, jadi, kau marah karena aku dengan Selir Linda dekat? Dan kau merasa tersingkir dengan kehadiranku?" Eisha dengan berani bertanya. Aneh banget, Selir Linda saja ngga merasa risih aku dekat dengannya, kenapa pelayan pribadinya yang malah tak suka denganku? batin Eisha yang tak mengerti. "Jangan sembarangan bicara aku tak akan tersingkir dengan kehadiranmu," jawab Ami dengan nada marah. Merasa tak terima dengan perkataan Eisha, walau nyatanya itu benar. Dan kenyataan itu menyakiti perasaannya. Ami sudah bertahun-tahun melayani Selir Linda. Selir Linda tak mungkin membuangnya begitu saja 'kan? Astaga Ami ini marah-marah terus, tak takut wajah cepat tua? pikir Eisha. "Kau pikir kau siapa? Hanya seorang gadis kecil... " Belum selesai Ami berbicara Eisha memotong kalimat Ami. "Baiklah, kalau begitu, aku permisi, tak enak membuat Selir Linda menunggu lama," ujar Eisha dengan santai. "Beraninya kau gadis ingusan pergi saat aku belum selesai bicara!" Kemarahan Ami semakin meningkat, dia mengarahkan kekuatannya ke arah Eisha yang berjalan menjauh. Selama ini tak ada yang berani melakukan hal tersebut, membuat harga dirinya semakin terluka. Sulur tanaman muncul dari tanah dan mengikat kedua kaki Eisha yang sedang berjalan. Eisha melihat ke arah bawah, dimana sulur tanaman hijau mengikat kakinya kuat dan membuatnya meringis kesakitan. Semakin Eisha berusaha untuk melepaskan diri, maka semakin naik ke atas sulur tanaman rambat dan semakin mengikat tubuhnya dengan kuat. "Ami lepaskan aku! Aku harus melakukan tugasku," teriak Eisha. Sulur tanaman rambat membuat Eisha sulit untuk bernapas sementara itu Ami di tempatnya tersenyum bahagia. Itu memang wajar kau dapatkan! batin Ami dengan kejam dan jahat. Dia tak berniat sedikit pun untuk melepaskan sulur yang mengikat tubuh Eisha. Ami pergi meninggalkan gadis itu seorang diri di dekat istana yang kosong. Bagaimana ini, aku tak bisa melepaskannya, batin Eisha yang panik dan khawatir. Dia tak mau mati muda. Napasnya sesak dan Eisha sedikit lagi tak sadarkan diri. Bersamaan dengan itu kekuatan es muncul dan membuat sulur tanaman membeku dan pecah berkeping-keping.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN