Eisha membuka kelopak matanya perlahan-lahan. Setelah beberapa saat baru dia bangkit dari posisi telentang menjadi duduk dengan dibantu oleh Ayu. Punggungnya terasa sakit ketika bangun, dia rupanya berada di balkon bangunan istana yang kosong.
"Syukurlah, akhirnya kau sadar juga," ujar Ayu bernapas lega. Wajah khawatir perlahan menghilang.
"Aku memangnya kenapa?" tanya Eisha menatap ingin tahu Ayu yang duduk di dekatnya.
"Aku mencarimu karena sudah lama dipinta oleh Selir Linda untuk membawakan camilan dan kau tak muncul juga. Aku mencarimu dan rupanya kau berada di tengah jalan di situ dalam posisi pingsan," jelas Ayu yang sebenarnya, tanpa ada yang ditutupi.
"Lalu bagaimana dengan camilan Selir Linda, sudah diantar?" tanya Eisha. Dia tak enak dengan majikannya itu yang sudah lama nunggu dan yang dipinta belum diantarkan.
"Soal itu jangan khawatir, aku sudah mengantarkan makanan yang dipesan Selir Linda. Aku juga mengatakan padanya kalau kau sedang sakit."
Ayu menarik napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Selir Linda bisa memakluminya." Jeda sebentar. "Ayo minum dulu airnya," ujarnya sambil menyodorkan secangkir air putih.
Eisha mengambil air minum dan meminumnya sambil habis. "Terima kasih," ujarnya sambil meletakkan cangkir kosong di atas nampan kayu."
"Vaiva ada apa sebenarnya kenapa kau bisa pingsan di tengah jalan?" tanya Ayu Diana yang ingin tahu. Dia tahu kalau Eisha bukan sengaja ingin tidur di jalan. Untung saja tak ada hewan buas yang melukainya, batin Ayu.
Eisha tampak sedang berpikir, memberitahu atau tidak pada Ayu. Hingga dia memilih untuk tak bicara soal perbuatan Ami yang jahat padanya. Lagipula itu masalahnya dengan Ami, tak ada kaitan dengan Ayu. "Aku tadi lupa makan oleh karena itulah aku pingsan di sana. Aku tadi itu lagi keliling istana, kau tahu 'kan kalau aku suka jalan-jalan?"
"Vaiva, jangan lagi seperti itu, kau hampir membuatku jantungku copot. Aku pikir tadi kau habis diserang sama orang jahat," sahut Ayu menepuk pelan tangan Eisha. Eisha malah tersenyum manis.
Ayu bahkan sempat berpikir kalau Vaiva sangat cocok statusnya sebagai seorang putri. Wajah cantiknya dan tubuhnya yang putih, semuanya memenuhi kualitas seorang putri. Vaiva sama sekali tak cocok menjadi pelayan, tambah Ayu di dalam hati. Dia menatap Eisha dalam waktu yang lama.
"Hey, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Eisha, tangannya mengibas di depan wajah Ayu yang melamun.
Ayu pun tersadar, dia menggeleng. "Tidak apa-apa," jawabnya.
"Oh, ya, aku juga membawakan semangkuk potongan buah-buahan supaya kau merasa lebih segar," sambung Ayu, tangannya meletakkan mangkuk yang berisi buah-buahan.
Buah di dalam mangkuk tampak segar ketika dipandang. Eisha mengambil potongan buah mangga, lalu memakannya. "Sudah lama aku tak makan buah ini, rasanya tetap sama."
"Makanlah juga Ayu," ujar Eisha. Ayu mengambil potongan buah anggur.
Eisha makan sambil mengedarkan ke sekeliling yang sepi dan damai. Tak ada pelayan yang lewat. "Di sini cocok sebagai tempat untuk belajar," ujarnya.
Ayu mengangguk setuju. "Iya, cocok. Saat malam hari pasti tampak menyeramkan," ujarnya.
"Iya nyalakan lilin atau lampu biar tidak gelap," sahut Eisha.
Setelah menghabiskan buah-buahan dan merasa tubuh lebih segar, mereka segera kembali ke paviliun bunga anggrek. Takut Selir Linda marah, karena terlalu lama berada di luar.
***
Hari ini adalah hari minggu, para pelayan diberikan waktu untuk berlibur sejenak dari tugas mereka. Ini khusus untuk pelayan paviliun bunga anggrek saja. Untuk pelayan kediaman lain tentu saja berbeda.
Eisha sedang duduk di belakang paviliun bunga anggrek, dia menatap menerawang ke langit yang tampak bersahabat hari ini. Dia mengingat kejadian beberapa hari yang lalu menyangkut soal Ami.
Jika dipikirkan sekarang Ami sepenuhnya tidak salah. Dia pasti merasakan tersingkir karena kehadiran aku dan keakrabanku dengan Selir Linda. Yang dari aku tahu dari pelayan, Ami sudah bekerja selama bertahun-tahun melayani Selir Linda, batin Eisha merenung.
Setelah kejadian yang menyenangkan hati itu, Eisha secara diam-diam bertanya pada pelayan yang bekerja di paviliun bunga anggrek.
Dan aku tak mungkin tiba-tiba menjauh dan menghindar dari Selir Linda. Oh, kenapa aku malah memikirkan hal tersebut? Ami juga belum tentu memikirkan bagaimana perasaanku? pikir Eisha lagi.
Aku lakukan saja sesuai dengan alurnya nanti bagaimana? Ngomong-ngomong ternyata benar apa yang dikatakan Layla, bekerja di istana memang tak mudah, batin Vaiva.
Sesulit apapun kau harus tetap semangat dan tak boleh mundur Eisha! Lagipula aku 'kan punya tujuan bukan hanya ikut-ikut jadi pelayan, ucapnya di dalam hati.
Sementara itu di dalam paviliun bunga anggrek. Ami sedang membantu menyisir rambut panjang merah muda milik Selir Linda. Dia mengambil tusuk rambut yang cocok dengan sang majikan dan membantu memasangkan tusuk rambut. Selir Linda melihat pantulan wajahnya di cermin berbentuk bulat.
"Anda selalu terlihat cantik Selir Linda," puji Ami pada Selir Linda.
Selir Linda mengangguk. "Iya, aku tahu karena kau sering mengatakannya," ujarnya.
Ami menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. "Ngomong-ngomong pelayan baru bernama Vaiva itu dekat banget dengan Selir Linda. Ami juga bisa melihat pelayan kecil itu sangat tidak sopan dengan Anda. Bisa-bisanya dia selalu nempel dengan Anda." Selir Linda belum menjawab dan membiarkan Ami melanjutkan kalimatnya.
"Selir Linda, Ami yakin pelayan kecil itu punya niat yang buruk dengan Anda. Apalagi dia baru saja masuk ke istana," lanjut Ami. Dia berusaha menasehati agar sang majikan tak tertipu dengan wajah polos pelayan bernama Vaiva itu. Karena banyak wajah polos di luar ternyata di dalam punya maksud yang busuk.
Selir Linda memasang anting berbandul bulan di daun telinganya. "Aku percaya dia adalah gadis yang baik. Tak perlu menasehati aku," ujarnya singkat, dengan nada yang tegas. Suasana di dalam ruangan menjadi tegang.
"Bukan begitu maksud Ami, Ami hanya memikirkan keselamatan Selir Linda saja," jelas Ami karena dia tahu dari nada suara Selir Linda yang tidak menerima nasihatnya. Lebih dikatakan Selir Linda tak percaya dengan ucapannya.
"Memikirkan keselamatanku? Aku rasa keselamatanku tak perlu dikhawatirkan. Ada banyak prajurit yang berjaga di sekeliling paviliun bunga anggrek." Selir Linda mengambil pemerah pipi dan memoleskan seperlunya saja. Dia tak terlalu suka dengan make up yang terlalu tebal. Setelah selesai Selir Linda meletakkannya kembali di atas meja rias.
"Selir Linda..."
Selir Linda mengangkat tangannya tak ingin mendengar perkataan Ami lagi. "Sudahlah, Ami. Aku tak ingin kau mengatakan hal yang buruk tentang Vaiva," ujarnya menatap tajam Ami.
"Baiklah, Selir Linda," jawab Ami dengan terpaksa. Dia tak bicara lagi, daripada Selir Linda bertambah marah.
Kau telah mencuci otak Selir Linda untuk percaya padamu Vaiva. Dasar gadis ingusan! batin Ami dengan kemarahan.