Chapter 35

1009 Kata
Untuk waktu yang cukup lama Layla menatap boneka kaos kaki berbentuk kucing kuning yang berada di genggaman tangannya. Sudah satu minggu Layla berpisah dengan Eisha. Selama itu pula hari-harinya terasa sepi. Layla selalu merasa ada yang kurang di dalam hidupnya. "Vaiva, bagaimana kabarmu di istana? Apakah orang-orang istana memperlakukanmu dengan baik? Apakah kau makan dengan cukup?" "Baru seminggu kita tidak bertemu, dan aku sudah rindu denganmu." Layla mengingat saat Vaiva masih tinggal bersamanya dan nenek di rumah, di rumahnya terasa lebih ceria dan hidup. Dan pertemuan pertamanya dengan Vaiva. Saat itu Layla baru saja pulang dari Quora Academy. Dan Layla juga mengingat ketika mereka sedang mencari kayu bakar dan dikejar oleh seekor beruang es. Mengingat hal tersebut membuat Layla tanpa sadar tersenyum sendiri. "Apakah aku ke sana saja menemui Vaiva? Huh, tapi bagaimana jika orang di istana tak mengizinkan aku masuk?" Layla bermonolog sendiri. Tiba-tiba Layla teringat dengan seekor burung yang baru saja dibelinya dua hari yang lalu di pasar. Layla berjalan keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar tempat dia menggantung kandang burung. Layla mengambil selembar dan kuas, dia mengambil posisi duduk di kursi yang kosong. Cewek itu menuliskan beberapa kalimat di sana, tak perlu waktu yang lama tinta kertas kering. Layla menggulung kertas menjadi kecil. Layla menurunkan kandang burung dan mengambil burung kecil berbulu merah dengan sedikit bulu hijau. Tangannya terangkat mengelus kepala burung. "Kata penjualnya kau adalah burung yang ajaib yang bisa menyampaikan pesanku. Bagaimana kalau aku mencobanya sendiri?" ujar Layla bermonolog sendiri. Dia memasangkan gulungan kertas ke salah satu kaki burung merpati. "Sekarang bagaimana lagi? Apa mungkin aku harus menerbangkannya ke luar?" Belum sempat Layla berpikir lebih jauh, dia melihat gulungan kertas yang ada di kaki burungnya tiba-tiba menghilang. "Eh, kenapa menghilang? Apa mungkin seperti yang dikatakan oleh penjualnya kalau gulungan suratnya menghilang artinya surat kita sudah sampai di orang yang kita tuju?" Sementara itu di tempat yang lain di waktu sama, Eisha sedikit terkejut ketika tiba-tiba ada segulung surat yang jatuh di dekatnya. Dia melihat ke sekitar dan mencari seekor burung yang telah menjatuhkannya. Eisha mengernyitkan dahi bingung. "Aneh, tak ada burung yang lewat. Bagaimana bisa sepucuk surat ini bisa muncul?" "Mungkin surat ini ditujukan untukku oleh sebab itu suratnya jatuh di dekatku." Eisha membuka gulungan surat dan membacanya. Dia mengenal dengan jelas tulisan yang ada di dalamnya. Selamat pagi, Vaiva. Ini aku Layla, temanmu yang ada di Kota Quattour, masih ingat 'kan denganku? Beberapa hari ini tak bertemu denganmu aku merasa sepi dan rindu. Oh, ya, bagaimana kabarmu? Pastinya baik bukan? Bagaimana apa orang-orang di istana memperlakukanmu dengan baik 'kan? Oh, ya, keadaanku dan nenek Jasmine baik-baik saja, tak perlu khawatir. Nenek bilang dia juga kangen denganmu. Aku sebenarnya ingin berkata banyak, tapi tak cukup menulis di kertas surat ini. Satu hal yang harus kau tahu Vaiva, aku menunggu kedatanganmu ke rumahku lagi. Mohon dibalas di kertas yang sama, setelah itu gulung lagi agar burung ajaib bisa membawanya kepadaku. Eisha mengambil kuas dan beberapa lembar kertas yang ada di dalam kamarnya, lalu kembali ke tempat duduknya yang semula. Dia menuliskan surat balasan untuk Layla. "Layla, aku juga memikirkanmu. Kau adalah teman pertamaku di dunia ini," ujar Eisha sambil menggulung surat. Dan benar saja kata Layla, suratnya menghilang. Sudah hampir satu bulan tinggal di dunia suku elf yang sehari-harinya memakai sihir membuat Eisha menjadi terbiasa, sangat berbeda ketika baru pertama kali berada di dunia elf. "Burung ajaib? Ah, namanya juga dunia yang dipenuhi sihir tak heran lagi." Bukan hanya surat yang bisa menghilang dalam hitungan detik saja yang pernah dia lihat, bahkan memasak dengan sihir pun sudah dia lihat. "Vaiva, kau sedang apa di sini?" tanya Ayu yang tiba-tiba muncul di hadapan Eisha. "Eh, Ayu, ayo duduk di sampingku. Kebetulan aku bawa kertas dengan kuas, bagaimana jika aku mengajarimu cara menulis dan membaca?" tawar Eisha pada Ayu. Sungguh tak enak, jika tak bisa membaca dan menulis. Kalau ada orang yang berniat jahat atau mungkin ada hal yang penting menyangkut tulisan 'kan bisa jadi tertunda. "Vaiva, mau mengajariku?" tanya Ayu dengan mata yang berbinar. Terlihat sekali kalau Ayu sangat senang. "Tentu saja," jawab Eisha mengangguk pasti. "Tapi aku baru pertama kali belajar, aku harap Vaiva tak merasa bosan saat mengajariku," mohon Ayu Diana. Eisha mengangguk untuk yang kedua kalinya. "Iya, namanya belajar pasti butuh proses." Selama dua jam ke depan Eisha mengajari Ayu cara membaca dan menulis. Pada awalnya Ayu susah untuk menghafal huruf dan menuliskannya, dengan sabar Eisha terus mengajarinya sehingga Ayu sekarang sudah bisa beberapa huruf. "Perkembanganmu dalam belajar cukup bagus, Ayu. Nanti minggu depan kita lanjutkan lagi," ujar Eisha sambil menorehkan senyuman di wajahnya yang cantik, dua lesung pipit ikut menghiasinya. Ayu mengangguk. "Terima kasih, Vaiva. Aku pasti akan belajar dengan rajin, tak akan membuat usahamu sia-sia," jawabnya ikut tersenyum. "Mumpung kita hari ini libur, bagaimana jika ditemani aku ke perpustakaan?" tawar Eisha. Dia sampai lupa apa sebenarnya tujuannya ke istana. "Baiklah, aku akan temani kau ke perpustakaan," ujar Ayu. *** Kali ini Eisha dan Ayu diperbolehkan masuk oleh prajurit yang menjaga perpustakaan dengan menunjuk identitas sebagai pelayan dari paviliun bunga anggrek. Seperti biasa perpustakaan tak terlalu ramai cenderung hanya satu atau dua orang yang berkunjung. "Ayu, kau duduk saja di sana, soalnya aku pasti lama nyari bukunya." Eisha menunjuk kursi dan meja yang kosong. Ayu duduk di salah satu kursi yang kosong. Eisha mencari dengan teliti seperti biasa, namun kali ini dia juga harus kecewa karena buku yang dicari belum ada juga. Sampai Eisha berpikir ada orang yang sengaja menyimpan buku tersebut agar dia tak bisa mengingat semua kenangan yang hilang? Terlalu stres mikirin hal tersebut, membuatnya mencari buku yang lain saja. Buku yang juga penting untuknya. Eisha mengambil salah satu buku dari rak buku. Eisha mengambil posisi duduk tepat di samping Ayu. "Sudah ketemu buku yang dicari?" tanya Ayu menoleh pada Eisha. "Sebenarnya belum ketemu, tapi aku menemukan buku yang menarik juga untuk dibaca," jawab Eisha sembari membuka lembaran buku halaman pertama yang bertuliskan tentang dasar ilmu sihir. Di sana menjelaskan ada kekuatan sihir apa saja yang ada di dunia. Eisha membalik ke halaman berikutnya yang membahas teknik mengeluarkan sihir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN