Malam hari semakin larut, suara hewan-hewan malam bersahut-sahutan. Tiba-tiba Ayu terbangun dari tidurnya karena merasakan tenggorokannya terasa haus. Menyibakkan selimut yang menyelimuti tubuhnya. Dia pun menoleh ke samping berniat untuk membangunkan Vaiva agar menemaninya mengambil segelas air. Betapa terkejutnya saat melihat Vaiva tak ada di atas ranjangnya, hanya ada selimutnya saja.
"Vaiva, pergi ke mana dia? Apa dia mengambil segelas air juga karena merasa haus?" Ayu Diana masih menebak-nebak.
Ayu bangkit dari posisi duduk menjadi duduk, dia menyalakan api di beberapa lilin. Seketika ruangan kamar menjadi lebih terang. Kamar mereka cukup khusus karena hanya diisi oleh mereka berdua. Kalau kamar yang lain pasti diisi paling tidak empat atau enam pelayan.
"Kalau Vaiva pergi ke luar kenapa dia tidak pakai sepatu?" ujarnya sambil melihat sepasang sepatu milik Eisha yang tergeletak tak berdaya di depan ranjang.
"Apa mungkin ada orang jahat yang menculik Vaiva?" ujar Ayu menebak-nebak.
"Aku tak bisa membiarkan itu terjadi!" sambung gadis itu lagi. Eisha telah baik padanya, dia tak mungkin hanya duduk diam manis saja.
Ayu segera berjalan keluar, tanpa lupa menutup pintu. Dia berjalan sambil berteriak memanggil nama Vaiva. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar dengan teliti dengan bantuan cahaya lampu yang dibawanya.
Berada di luar malam hari begini cukup menakutkan. Membuat orang seketika merinding, ditambah angin yang berhembus dingin di kulit. Meskipun begitu dia tak menyerah untuk mencari keberadaan Vaiva.
Setelah berputar-putar kediaman Selir Linda yang besar tetap tak menemukan Vaiva. Ayu memutuskan untuk istirahat sejenak sembari berpikir kira-kira bagian mana lagi yang belum dicarinya. Bahkan Ayu sangking khawatirnya melupakan kalau dia merasa haus.
"Ke mana kau Vaiva? Tak mungkin 'kan jalan-jalan ke pasar semalam ini? Lagipula mana ada pasar yang buka saat ini?" ujar Ayu menepuk kepalanya pelan mendengar pemikirannya yang cukup konyol.
Tiba-tiba terdengar suara gemerisik rumput dan daun yang terinjak oleh seseorang membuat Ayu menoleh ke arah sumber suara tersebut. Dia mendapati seorang gadis berambut panjang sedang berjalan tanpa alas kaki.
"Itu bukankah Vaiva?" Ayu berteriak memanggil nama Vaiva, namun Vaiva tak menjawab bahkan tak menoleh sama sekali malah berjalan terus tanpa henti.
"Aneh, Vaiva tunggu aku!" ujar Ayu berlari mengejar Eisha berjalan lebih dulu.
Tadi siang hubungan kami baik-baik saja, kenapa Vaiva tak mau bicara denganku? batin Ayu Diana yang tak mengerti.
Ayu Diana mempercepat larinya untuk mengejar Vaiva. Setelah berlari Ayu akhirnya bisa menyusul Vaiva. Ayu mengambil napas napas sembari berjalan di samping Vaiva. Ayu menepuk pelan pundak temannya. "Vaiva, kau mau ke mana?" Lagi-lagi Vaiva tak menjawab.
"Vaiva, berhenti berjalan di depanmu ada danau kau bisa tercebur!" peringat Ayu, sambil menunjuk ke kolam yang hanya berjarak dua meter.
"Vaiva, berhenti!" Ayu menghadang jalan Eisha. Di saat itulah dia tersadar jika kedua mata Eisha tertutup seperti orang tidur, tapi tubuhnya tetap bergerak. Itu membuat Ayu merasa aneh sekaligus khawatir, karena setahunya tak ada orang yang tidur sambil berjalan dengan bebas.
"Vaiva, bangun!" Ayu berusaha untuk membangunkan Eisha yang masih tertidur lelap sekaligus menahan tubuh Eisha agar tak berjalan lagi.
"Syukurlah, kau akhirnya bangun Vaiva." Ayu bernapas dengan lega saat Eisha membuka matanya.
"Ayu, kau kenapa berada di hadapanku?" tanya Eisha yang bingung.
"Harusnya aku yang tanya kenapa kau tak tidur di kamar malah tidur sambil berjalan di luar?" Ayu malah balik bertanya.
"Aku tidur di luar, mana mungkin? Aku tidur di kamarku?" jawab Eisha dengan raut wajah yang yakin.
"Kalau tak percaya lihat saja kita ada dimana sekarang?" ujar Ayu menunjukkan. Eisha pun melihat ke sekitar, Ayu benar mereka tidak berada di dalam kamar melainkan di dekat danau, di sampingnya ada gazebo.
Eisha meringis kesakitan saat tersadar salah satu kakinya tanpa sengaja tertusuk sesuatu.
"Vaiva, kau kenapa?" tanya Ayu yang khawatir.
"Sepertinya ada sesuatu yang melukai kakiku," jawab Eisha melihat ke arah kakinya yang tak dilapisi apapun, sangat wajar jika terjadi apa-apa.
Ayu membawa Eisha kembali ke kamar tempat tinggal mereka. Dia dengan sigap mengambil sebotol obat dan seutas kain perban.
"Duduklah di pinggir ranjang, aku akan melihat ada apa di kakimu." Eisha menurut saja.
"Tahan sebentar, Vaiva, aku akan mencabutnya." Ayu mencabut secara perlahan duri tanaman yang menancap di telapak kaki sebelah kiri. Setelah dicabut, darah merah segar mengalir dari luka tersebut. Eisha meringis kesakitan.
Ayu membuka tutup obat dan menaburkannya ke luka Eisha. Eisha menahan rasa sakit. Dan terakhir membalut telapak kaki Eisha dengan kain kasa.
"Terima kasih, Ayu sudah mengobatiku."
Ayu mengangguk. "Iya, sama-sama. Aku boleh tanya sesuatu apakah boleh?" tanyanya.
"Iya, tanya saja Ayu. Tak perlu minta izin dulu," sahut Eisha tersenyum manis mempersilakan.
"Kenapa Vaiva, bisa jalan sendiri keluar kamar?" tanya Ayu Diana yang penasaran. Dia baru pertama kali melihat ada orang yang seperti ini.
"Aku dari dulu menderita penyakit tidur berjalan. Oleh karena itulah kau melihat aku yang masih tidur, namun berjalan tak tentu arah." Eisha menarik napas sebelum melanjutkan kalimat selanjutnya.
"Sekali lagi terima kasih Ayu sudah membangunkanku tadi, jika tak ada Ayu, aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku," sambungnya.
Ayu mengangguk. "Iya, sama-sama. Aku tak tahu kalau kau punya penyakit yang cukup langka ini." Ayu merasa simpati dengan apa yang dialami oleh temannya yang baik itu.
"Itulah aku tadi sempat heran kenapa saat aku panggil berulang kali tidak menjawab."
"Kalau aku dalam posisi sedang tidur berjalan, aku dalam posisi di alam mimpi, atau bisa disebut juga di bawah alam sadar. Jadi, aku tak bisa mendengar siapapun yang memanggil aku," jelas Eisha Vaiva Nafeda. Dia sebenarnya ingin sekali penyakitnya bisa sembuh, namun belum menemukan apa obatnya.
"Vaiva, jangan khawatir aku akan menjagamu. Aku tak akan membiarkanmu terluka atau tercebur karena tidur sambil berjalan," ujar Ayu dengan nada yang pasti.
"Tak perlu Ayu, aku malah merasa tak enak membuat tidurmu jadi tidak nyenyak," tolak Eisha. Tak mungkin dia membuat orang lain repot karena dirinya, apalagi mereka harus bekerja melayani Selir Linda.
"Baiklah," ujar Ayu. Dia melihat ke arah luar yang masih gelap gulita. Ini masih tengah malam. Dan orang lain masih berada di alam mimpi. Ayu mengembalikan sebotol obat dan kain kasa ke dalam lemari yang ada di dalam ruangan kamar mereka.
"Ya udah kita lanjut tidur lagi," ajak Ayu.
Setelah itu mereka melanjutkan tidur kembali. Eisha dan Ayu tanpa menyadari jika ada seseorang yang mendengar percakapan mereka dari luar pintu kamar.