Dua hari ke depan semuanya berjalan seperti biasa melayani kebutuhan Selir Linda, makan, berpakaian, istirahat, dan mandi. Eisha berada di dalam ruangan Selir Linda. Wanita itu sedang fokus melukis sebuah pemandangan.
Aku sudah lebih dari satu minggu bekerja di paviliun bunga anggrek, tapi aku tak pernah melihat Kaisar Carney datang mengunjungi Selir Linda, batin Eisha yang berdiri di dekat Selir Linda.
Banyak istri membuat Selir Linda tak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Kaisar, pikir Eisha lagi di dalam hati.
Oy, kenapa aku malah mikirin soal hubungan Kaisar Carney dengan Selir Linda sih? Seperti kurang kerjaan saja, tugasku sendiri saja belum selesai malah mikirin yang lain, batin Eisha sembari tangannya menepuk pelan kepalanya.
Selir Linda sedang mengoleskan cat warna biru di atas gambar lukisannya mempertebal warna laut agar lebih terlihat nyata. Harus Eisha akui Selir Linda sangat berbakat dalam hal melukis. Eisha jadi ingin suatu saat nanti belajar melukis.
Selir Linda ingin membuat sebuah pohon kelapa, dan gambar yang lain untuk menambah lukisannya agar lebih ramai dan hidup. Rupanya cat warna yang dibutuhkan sudah habis. Dia menatap Eisha yang berdiri di dekatnya melihat hasil gambarannya.
"Vaiva, tolong ambilkan seperangkat cat warna di dalam gudang istana. Bilang saja perintah dari Selir Linda. Dan bawa saja token ini sebagai bukti," ujar Selir Linda sembari menyodorkan sebuah token berwarna putih. Eisha segera menyimpan token ke dalam saku pakaian yang dipakainya.
Eisha pun mengangguk patuh. "Baik, Selir Linda, akan segera dilaksanakan!" ujarnya memberikan hormat, lalu berjalan keluar dari ruangan tanpa lupa menutup pintu.
Saat berada di luar, Ayu pun menghampirinya. "Ada apa Vaiva? Selir Linda ingin sesuatukah katakan saja padaku," ujarnya.
Eisha menorehkan senyum di wajahnya. "Tak perlu, Ayu. Biar aku saja, lagipula luka di kakiku sudah hampir sembuh," tolaknya. Eisha tak ingin merepotkan Ayu lagi, karena selama dia sakit Ayu yang merawatnya dengan baik.
"Benarkah? Jangan sungkan padaku," sahut Ayu yang sedikit ragu apa benar Eisha sudah sembuh atau masih sakit.
"Aku benar-benar serius. Sudah ya, aku ambil dulu nanti kita bisa ngobrol lagi." Eisha menyudahi percakapannya dengan Ayu, takutnya membuat Selir Linda menunggu lebih lama.
"Baiklah," jawab Ayu pada akhirnya.
Eisha berjalan melewati lorong istana terlihat beberapa pelayan yang sedang menyiram tanaman bunga dan dua orang pelayan wanita yang sedang mengelap.
"Kalian tahu tidak jika di suatu ruangan yang terletak paling ujung dan tampak berbeda dari ruangan yang lainnya tersimpan sebotol pil yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Kalian tahu aku beberapa hari yang lalu ke sana dan mengambil satu pil dan kalian tahu penyakit jantung paman angkatku seketika sembuh," ujar seorang pelayan dengan heboh.
"Kakak Deti tampaknya hebat sekali obat itu. Aku juga mau Kak," jawab gadis pelayan yang lainnya.
"Kalau begitu Irma juga mau Kak. Irma juga ingin mengobati penyakit asma ibunya Irma," jawab seorang gadis bernama Irma.
Apa obat itu benar-benar ampuh? batin Eisha bertanya-tanya yang bersembunyi di balik pilar istana ikut mendengar apa yang sedang dibicarakan, jaraknya dengan tiga orang pelayan wanita itu hanya lima meter.
"Tenang saja! Aku pasti akan mengambilnya untuk kalian berdua, tapi kalian harus berjanji padaku jangan beritahu orang lain." Gadis itu mengambil napas sebelum melanjutkan kalimat yang selanjutnya. "Karena satu butir pil itu sangatlah berharga dan gaji kalian berdua selama enam bulan pun tidak akan cukup. Mengerti tidak?" tanyanya secara bergantian.
"Kami janji tak akan mengatakan hal ini pada orang lain!" jawab kedua gadis yang lebih muda kompak.
Sampai dia berpesan agar tak memberitahu orang lain? Apakah pil obatnya jumlahnya sangat sedikit? batin Eisha menebak.
Aku harus mengambil cat air yang dipinta Selir Linda, batin Eisha teringat dengan tujuannya.
Eisha pun berjalan melewati ketiga pelayan seolah tak mendengar apapun, dia berjalan dengan santai. Bersamaan dengan itu tiga orang pelayan yang awalnya sedang berbicara tiba-tiba terdiam tak bicara.
Setelah Eisha berjalan berbelok ke arah gudang istana alias tak terlihat lagi, ketiga gadis itu bernapas dengan lega. Senang karena rencana yang disusun berjalan dengan lancar.
"Drama yang kalian mainkan bagus sekali. Si Tukang Mencari Perhatian itu pasti tak akan bisa melepaskan diri masalah," ucap pelayan senior dengan tersenyum smirk yang tampak menakutkan sangat tak cocok dengan wajah cantiknya. Dia baru saja keluar dari tempat persembunyiannya di balik tanaman yang tumbuh dengan subur.
Gadis bernama Ami mengambil kantong uang yang terselip di pinggangnya, dia mengambil beberapa keping uang perak lalu memberikan masing-masing tiga keping perak setiap satu orang. Mata uangnya bernama Omy.
"Terima kasih, Kak Ami," ujarnya ketiga bersamaan. Wajah mereka senang sekali mendapatkan uang, dengan cepat menyimpan tiga keping uang yang didapatkan ke dalam saku pakaian. Tak ada orang yang tidak senang mendapatkan uang bukan? Apalagi hanya perlu memainkan sandiwara kecil, sudah bisa mendapatkan uang yang banyak, bahkan lebih dari cukup untuk membeli makanan selama satu bulan.
"Sekarang kalian bisa melanjutkan tugas kalian! Dan satu lagi ingat jangan katakan apapun tentang kerja sama kita hari ini, jika tidak aku tak akan segan-segan menghancurkan kalian menjadi debu!" ancam Ami tangannya sengaja mengeluarkan sulur-sulur tanaman.
Ketiga gadis yang lebih muda darinya mengangguk ketakutan. "Iya, kami janji, tak akan bicara apapun," sahut Deti, dan kedua gadis lainnya mengangguk. Kekuatan sulur tanaman Kak Ami menakutkan bagi mereka bertiga yang tak kekuatan apapun. Dalam hitungan detik sulur tanaman bisa meremukkan tubuh mereka dan menyakiti mereka.
"Bagus!" Ami menghilangkan sulur tanaman berduri di tangannya, kemudian tanpa kata pergi dari sana meninggalkan ketiga pelayan muda yang bernapas dengan lega.
Aku yakin kau pasti akan mencari di mana letak ruangan sebotol yang mereka katakan ketika kau tak sengaja mendengarnya, pikir Ami. Si gadis yang tak rela majikannya dekat dengan pelayan yang tak tahu batasan antara majikan dengan pelayan. Dia akan menggunakan berbagai cara agar gadis tak tahu diuntung itu pergi menjauh dari sisi Selir Linda selamanya.
***
Sepanjang perjalanan menuju ke gudang istana, Eisha terus saja kepikiran tentang sebotol obat yang katanya bisa menyembuhkan segala penyakit. Sangat sayang jika dia tak mengambil satu butir untuk menyembuhkan penyakit tidur berjalannya, dan kemungkinan besar juga memory yang hilang bisa kembali.
"Nona? Kau butuh sesuatu?" tanya penjaga yang menjaga gudang istana menegur Eisha yang melamun.
Eisha pun tersadar dari lamunannya. "Eh, iya, aku disuruh oleh Selir Linda untuk mengambil sepaket cat warna. Ini tokennya," ujarnya sambil menunjukkan token milik Selir Linda.
Laki-laki bagian penjaga gudang pun mengangguk. "Oh, dari Paviliun Bunga Anggrek, ya?" Eisha mengangguk mengiakan.
"Baiklah, tunggu sebentar, aku akan mengambilkan sepaket cat airnya. Nona, kau tunggu di sini sebentar," jawabnya sebelum berjalan masuk ke dalam gudang istana.
Setelah menunggu beberapa saat laki-laki tersebut menyerahkan sepaket cat air pada Eisha. "Nona, kau pelayan baru Selir Linda?" tanyanya menatap wajah Eisha. Karena biasanya yang mengambil peralatan melukis pasti Ami, gadis yang sudah lama bekerja pada Seli Linda.
"Iya, aku pelayan baru. Namaku Vaiva." Eisha mengenalkan dirinya, sangat wajar jika orang tak tahu dengan dia, apalagi belum satu bulan bekerja. Yang satu bulan bekerja sama, mungkin tak semua orang tahu, batinnya.
"Kenalkan namaku Heru Irawan, kau bisa panggil aku dengan nama Heru," sahut Heru menyambut uluran tangan gadis bernama Vaiva dengan wajah yang ramah.
Beberapa saat kemudian Eisha melepaskan tangan Heru. "Iya, salam kenal, Kak Heru," jawabnya.
Heru terpana dengan kecantikan Vaiva, apalagi saat tersenyum, ah, senyumannya sangatlah manis, bisa membolak-balikan hatinya. "Ah, iya, salam kenal juga." Heru tersenyum seperti orang bodoh membuat Eisha menggeleng geli.
"Kak Heru, permisi aku harus mengantarkan catnya," pamit Eisha.
"Hati-hati, Vaiva!" sahut Heru. Dia masih tersenyum sendiri seperti orang yang telah kehilangan akal, bahkan temannya sama-sama bekerja dj bidang gudang istana pun sampai memeriksa dahi Heru.
"Dahinya tidak panas, kenapa Heru tersenyum sendiri? Apa dia kemasukan roh jahat?" ujar Irvan Hadi yang tak mengerti.
"Aku tidak kemasukan roh jahat, Irvan!" balas Heru yang tak terima, kemudian berjalan masuk ke dalam gudang istana.
"Dia hari ini aneh sekali, dibilang kerasukan roh jahat malah marah. Entahlah, aku tahu." Irvan mengendikkan bahunya.