Chapter 38

1051 Kata
Eisha baru saja selesai memberikan seperangkat cat pada Selir Linda. Selir Linda melanjutkan kembali kegiatan melukisnya. Aku sepertinya harus mencari ruangan yang tiga orang pelayan itu maksud. Ya, mungkin saja memang benar, batin Eisha di dalam hati. Dia duduk di kursi yang ada di sisi ruangan kamar. Kalau siang hari mencari letak ruangannya tak mungkin karena aku masih harus bekerja. Ah, malam nanti saja aku mencarinya, pasti kebanyakan orang sudah tidur, batin Eisha. Aku pasti akan berusaha untuk mencarinya, pikir Eisha dengan pasti. "Vaiva, apa yang sedang kau pikirkan sejak tadi melamun?" tanya Selir Linda yang merasa hari ini pelayan kecilnya itu banyak diam setelah ditugaskannya mengambil cat air. Namun dilihat dari tubuhnya tak ada yang terluka, mungkin dia sedang lelah, Selir Linda berpikir positif. Eisha terbangun dari lamunannya, kemudian menatap Selir Linda yang tengah menatapnya. "Selir Linda, Anda membutuhkan sesuatu?" tanyanya dengan sopan. "Kenapa Vaiva hari ini seperti ada banyak pikiran?" Selir Linda balik bertanya. Tangannya menggantung hasil lukisannya di salah satu dinding. Eisha menggeleng pelan. "Hanya sedang memikirkan malam nanti ingin masak apa," jawabnya menorehkan senyuman. Selir Linda menggeleng. "Tadi barusan sudah makan siang, malah mikirin makanan lagi? Masih belum kenyang? Kalau belum kenyang nanti minta makanan lagi ke dapur kerajaan, " sarannya dengan perhatian. "Vaiva sudah kenyang, Selir Linda, terima kasih atas tawarannya, " sahut Eisha mengusap kepalanya yang tak gatal. Memang salah dia menyebutkan alasan tentang makanan. *** Matahari sudah beberapa jam yang lalu tenggelam dan mengistirahatkan tubuhnya. Dan sang bulan yang sedang bekerja sekarang menggantikannya. Selir Linda sedang beristirahat dengan nyaman di dalam kamarnya dan hanya ada Ami yang menemaninya. Eisha dan Amira secara bergantian melayani Selir Linda, sedangkan para pelayan yang lain sedang beristirahat di dalam kamarnya. Aku yakin kau malam ini pasti akan segera beraksi, batin Amira di dalam hati. Dia sedang memijat punggung sang majikan. Di tempat yang lain, Eisha membuka kelopak matanya, menyibakkan selimut yang menyelimuti tubuhnya, dan bangkit dari posisi tidur menjadi duduk. Dia menoleh menatap Ayu yang sedang tertidur lelap karena mengantuk, beberapa hari ini dia terus terjaga merawat Eisha, baru hari ini bisa tidur dengan nyenyak. Tanpa membuat suara Eisha memasang sepatu dan berjalan membuka pintu kamar sepelan mungkin. Setelah berhasil dia keluar dari bangunan kamar khusus untuk pelayan. Sesuai dengan rencana, Eisha akan mencari letak ruangan yang dimaksud. Dia melihat ke sekitar ada beberapa prajurit yang berjaga yang membawa lampu dan pedang. Eisha bersembunyi di balik pilar-pilar bangunan istana agar tak kelihatan para prajurit. Eisha pun sampai di sebuah ruangan setelah berputar-putar mencari. Sebuah ruangan yang terletak paling ujung dan tampak sepi serta damai dibanding tempat yang lain. Ada beberapa lampu digantung di pilar-pilar tiang yang menjadi sumber cahaya. Apa mungkin ini adalah ruangan yang dimaksud? Soalnya ruangan ini berbeda dari ruang yang lain, batin Eisha sambil melihat pintu ganda yang berdiri dengan kokoh. Sebuah ukiran berbentuk bunga teratai terdapat di pintu ganda. Kebetulan tak ada prajurit yang berjaga di sana. Eisha dengan perlahan mendorong pintu ganda dan berjalan masuk. Bukan sebuah ruangan yang dipenuhi oleh rak berisi banyak botol pil yang menyambutnya. "Di mana letak botol obat ajaib itu?" ujar Eisha bertanya-tanya. Dia sungguh tidak mengerti dan juga kaget. Eisha mengedarkan ke sekelilingnya sebuah ruangan yang dipenuhi barang-barang perabotan tak ada satupun sebotol obat yang dimaksud oleh tiga orang pelayan waktu itu. Eisha menatap ke depan, entah kenapa dia merasa pernah melihat ranjang berwarna emas. Eisha berjalan mendekati ranjang emas dan ingin tahu siapa orang yang sedang terbaring di sana. Apakah orang atau mungkin boneka ukuran besar? "Seorang pria sedang tertidur lelap di kamar ini?" ujar Eisha sembari menatap wajah tampan pria yang berada di dekatnya itu dengan terpana. Wajah pria itu sangatlah tampan dan menarik, hampir seperti patung yang dipahat oleh pengrajin profesional. "Tunggu sebentar, aku harus memastikan dia orang atau bukan," ujar Eisha pelan. Eisha bisa merasakan rasa dingin menjalar di kulitnya ketika salah satu tangannya menyentuh wajah tampan milik laki-laki tersebut. "Astaga tubuhnya sangat dingin!" seru Eisha yang kaget, dia spontan menjauhkan tangannya. "Wajahnya sangat pucat, apa dia sudah mati?" Tebak Eisha, dia mendekatkan telinganya ke arah jantung si pria yang masih tertidur nyaman walaupun harus menahan dingin. Gadis cantik itu mendengar suara detakan jantung yang sangat lemah seperti orang yang berada di masa kritis. "Syukurlah masih hidup sepertinya dia sedang sakit parah," ujar Eisha. "Harusnya dokter yang merawatnya menyalakan api unggun agar tubuhnya tak seperti mayat hidup. Ayu dan Layla pasti sangat kalau melihatnya laki-laki ini," celoteh Eisha. Tanpa disadari Eisha, beberapa jari pria tersebut bergerak pelan. Bersamaan dengan itu pintu terbuka lebar membuat Eisha terkejut. Seorang wanita cantik berpakaian rapi dan mewah berjalan masuk ke dalam ruangan. Wanita cantik itu awalnya terkejut ada orang asing yang berada di dalam kamar putranya, dia menatap Eisha dengan ekspresi marah dan seperti ingin menelan orang dalam hitungan detik. Sangat menyeramkan. "Siapa kau? Berani sekali kau pelayan hina, masuk ke dalam ruangan terlarang!" Bentak wanita cantik yang tak Eisha ketahui siapa namanya dan apa kedudukannya di istana kerajaan harvy. Namun Eisha yakin jika wanita tersebut pasti salah satu istri Kaisar Carney atau mungkin keluarga kaisar yang lain. Walah, habislah riwayatku! Aku benar-benar berada di dalam masalah! batin Eisha yang ketakutan. Tubuh Eisha terangkat di udara, tubuhnya diikat tali yang terbuat dari air. Eisha tak pernah ingin berada di dalam situasi yang menegangkan seperti ini. Harusnya Eisha tak mengikuti omongan ketiga pelayan tersebut, atau mungkin saja bukan ruangan ini yang dimaksud oleh mereka. "Maafkan aku! Aku tak tahu kalau ini adalah ruangan terlarang, tolong lepaskan aku," ujar Eisha dengan nada memohon. Wanita yang berstatus sebagai Permaisuri Kerajaan Harvy menatap wajah gadis yang masih dalam posisi terangkat di udara. Dia melihat ke sekitar terutama ke arah putranya yang terbaring dj atas ranjang apa ada yang berbeda, rupanya tak ada yang berbeda. Mungkin pelayan hina ini memang salah masuk ruangan? Baiklah, aku akan melepaskannya untuk sementara waktu jika memang dia punya niat buruk ingin mencelakai putraku, aku tak akan segan-segan padanya, pikirnya. "Aku janji tak akan masuk ke dalam ruangan ini lagi, aku tidak berbuat atau mencuri sesuatu," sambungnya dengan nada yang sama. Eisha dihempaskan dari udara ke lantai bawah dengan kasar. Tubuhnya rasanya sakit semua. Eisha segera bangkit dari posisinya memberikan hormat di hadapan wanita berstatus tinggi. "Terima kasih Nyonya atas belas kasihnya. Vaiva tak akan mengulanginya lagi," ujarnya, lalu berjalan mundur dan secepat kilat pergi dari sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN