Permaisuri Celia duduk di samping ranjang putra kesayangannya. Dengan perlahan-lahan kedua mata laki-laki muda itu membuka menampilkan iris mata perak yang indah. Permaisuri Celia tak bisa membendung rasa bahagianya ketika melihat putra kesayangannya sadar.
Dengan sabar Permaisuri Celia membantu Pangeran Kenzie untuk mengubah posisi terlentang menjadi posisi duduk. "Akhirnya, putraku terbangun juga dari tidur lelapnya." Ada rasa bahagia dan lega di dalam nada suara Permaisuri Celia. Bibirnya membentuk senyuman sempurna yang sudah lama tak dilihat oleh orang lain.
Pangeran Kenzie menatap wanita yang duduk di dekatnya. "Ibunda?" panggilnya.
Sudah sangat lama Permaisuri Celia menantikan suara yang memanggilnya dengan panggilan Ibunda. "Iya, Nak, Ibunda di sini bersamamu."
"Aku haus," ujar Pangeran Kenzie sambil memegang tenggorokannya yang kering.
Ibunda Celia menghapus air mata bahagia yang mengalir di sudut matanya. "Ibunda akan ambilkan tunggu sebentar, Nak," ujarnya dengan lembut sambil menuangkan segelas air.
Pangeran Kenzie dalam hitungan detik menghabiskan satu gelas air. "Sudah berapa lama aku tertidur?" tanyanya. Tubuhnya terasa kaku. Dengan perlahan-lahan tubuhnya yang dingin menjadi lebih hangat.
"Seratus tahun, tapi itu sudah tidak penting lagi! Sekarang putraku telah kembali!" Permaisuri Celia memeluk erat tubuh putranya melepas semua kerinduan di dalam hatinya. Beratus tahun yang lalu Permaisuri Celia selalu percaya dan yakin putranya pasti suatu hari nanti akan terbangun dan sekarang penantiannya yang panjang membuahkan hasil. Permaisuri Celia beberapa saat mengurai pelukannya.
"Maaf, sudah membuat Ibunda merasa khawatir selama bertahun-tahun," ujar Pangeran Kedua merasa bersalah.
Permaisuri Celia menggeleng. "Jangan meminta maaf, kau sama sekali tak bersalah!"
Di hari kelahiran Pangeran Kenzie Zayyan Xinlaire, ada sebuah ramalan yang mengatakan Pangeran Kedua akan tertidur dengan sendirinya di saat umur seratus tahun. Kaisar Carney dan Permaisuri Celia saat itu sangatlah sedih dan terpukul, mereka berusaha sekuat tenaga agar bisa menghalangi atau bahkan membuang takdir buruk tersebut dari garis takdir Pangeran Kenzie.
Meskipun telah berusaha semaksimal mungkin, semuanya tetap mengikuti garis takdir yang telah dilukiskan. Ketika Pangeran Kenzie berusia genap seratus tahun di hari ulang tahunnya, dia tertidur seperti orang yang mati. Kaisar Carney dan Permaisuri Celia berusaha mencari tabib bahkan orang pintar sekalipun di seluruh wilayah Kerajaan Harvy, tetap saja tak ada yang bisa membuatnya terbangun. Walaupun begitu Kaisar Carney dan Permaisuri Celia tetap percaya pada putra mereka yang kuat, pasti bisa melawan takdir.
Permaisuri Celia memanggil pelayan pribadinya yang bernama Liya. Seperti pada hari biasanya seorang pelayan wanita datang menghadap sambil memberikan hormat.
"Bawakan makanan kesukaan Pangeran Kenzie!" perintah Permaisuri Celia.
"Baiklah, Permaisuri!" jawab Liya tanpa bantahan. Dia bisa melihat raut wajah Permaisuri Celia yang sangat bahagia, dan di atas ranjang Pangeran Kedua sudah terbangun dari tidur panjangnya. Liya mengucapkan penuh rasa syukur atas bangunnya Pangeran Kenzie. Artinya Liya tak akan lagi melipat sang majikan menangis diam-diam saat di tengah malam, karena menanti kesadaran Pangeran Kedua.
Dalam hitungan menit Liya membawakan nampan ukuran besar yang berisi makanan dan minuman kesukaan Pangeran Kedua. Aroma masakan yang baru saja diangkat sangatlah menggoda untuk segera dihabiskan.
Liya meletakkan nampan kayu di atas meja kecil yang terletak di dekat ranjang emas Pangeran Kenzie. Dia berdiri di sisi ruangan.
Wanita paling nomor satu di Kerajaan Harvy menyuapi Pangeran Kenzie makan, walaupun Pangeran Kenzie sudah menolak dengan alasan sudah besar. Dayang Liya pun tersenyum melihatnya.
***
Eisha langsung membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa untungnya tak membuat Ayu terbangun dari tidurnya. Dia langsung naik ke atas ranjang dan menarik selimut setinggi d**a. Jantungnya berdetak dengan kencang.
Untung saja aku masih bisa pergi dari ruangan yang ternyata adalah ruangan terlarang, batin Eisha mengembuskan napas dalam-dalam.
"Mimpi apa aku semalam sehingga bisa bertemu dengan wanita cantik dan galak itu?" pikir Eisha menggeleng, bergidik ngeri saat membayangkan wajah wanita itu. Apalagi saat tubuhnya diikat dan diangkat ke atas, lalu dihempaskan dengan kasar, bahkan punggungnya masih terasa sakit.
''Sebotol obat ajaib tak aku dapatkan, malah nyawaku yang hampir melayang," keluh Eisha. Lain kali ke depannya dia akan lebih hati-hati.
"Udah ah, aku ngga mau mikirin itu lagi, lebih baik aku tidur saja."
Eisha perlahan menutup kelopak matanya dan berusaha untuk tidur kembali sambil mencari posisi tidur yang paling nyaman.
***
Pangeran Kenzie tertidur kembali karena merasa mengantuk setelah makan malam. Permaisuri Celia tak ingin meninggalkan putranya lagi, dia memutuskan untuk menginap di kamar Pangeran Kedua.
Saat berjalan Permaisuri Celia tak sengaja menemukan sebuah token yang tergeletak di atas lantai kamar. Diambilnya dan dilihatnya dengan teliti. "Sepertinya aku mengenal tanda token ini," ujarnya.
Setelah beberapa saat berpikir dia akhirnya mengingat. "Oh, ya, aku ingat ini tanda token dari pelayan kediaman bunga anggrek Selir Linda. Ini pasti tanpa sengaja dijatuhkan oleh pelayan itu. Apa yang ingin wanita itu lakukan dengan mengirim pelayannya masuk ke dalam ruangan putraku?"
"Namun selama ini Selir Linda tak pernah mencari masalah denganku, apa mungkin pelayannya yang salah masuk ruangan?" Permaisuri Celia dengan Selir Linda dikatakan memiliki hubungan yang akrab tidak, dikatakan bermusuhan satu sama lain juga tidak. Selir Linda bersikap netral dan tak pernah mencari cara untuk merebut perhatian dan kasih sayang Kaisar Carney seperti selir yang lain. Bahkan Kaisar Carney hanya terhitung dua kali atau mungkin tiga kali dalam setahun menemui Selir Linda. Dan Selir Linda sampai hari ini belum menunjukkan tanda kehamilan juga. Kaisar Carney lebih banyak menghabiskan waktu bersama Permaisuri Celia.
"Lebih baik aku simpan saja mungkin suatu saat nanti penting." Permaisuri Celia menyimpan token tersebut ke dalam tempat yang aman.
Setelah itu Permaisuri Celia merasakan mengantuk, dia berjalan menuju ke kamarnya untuk beristirahat.
***
Keesokan harinya sebelum sinar matahari sepenuhnya terbit, Eisha sedang mencari token sebagai identitas pelayan dari Paviliun Bunga Anggrek yang tidak ada di tempat Eisha bisa mengaitkannya. Eisha kemudian mengingat kejadian semalam yang menegangkan.
"Apa mungkin tokennya jatuh saat aku pergi dengan tergesa-gesa?" Eisha menebak, sembari berjalan mondar-mandir di dalam kamar seperti setrika.
"Argh, bagaimana aku bisa ceroboh menjatuhkannya? Dan sekarang bagaimana, aku tak mungkin minta dengan wanita galak itu." Eisha bicara sendiri membuatnya seperti orang gila.
"Apalagi sampai menginjakkan kaki ke ruangan itu lagi, bisa-bisa dia akan membunuhku! Dan itu sama sekali tidak lucu!" ujar Eisha bergidik ngeri, bahkan bulu kuduknya merinding seketika. Sementara Ayu sedang membersihkan diri di kamar mandi yang lumayan jauh dari kamar tempat tidur.
"Tapi kalau Selir Linda bertanya soal di mana tokenku, aku harus jawab apa?" Eisha tampak kebingungan.