Batas

1882 Kata
Clara terlihat memasang ekspresi jengkel, sebab dirinya kembali dengan mudah ditaklukan oleh Ostra hingga mereka menghabiskan malam bersama untuk kesekian kalinya. Saat ini, Clara bahkan masih berada dalam pelukan Ostra yang tampak terlelap dengan begitu nyenyaknya. Ia terlihat begitu tenang dengan tampak begitu senang karena sudah bersenang-senang seperti apa yang ia inginkan. Tentu saja hal itu berbanding terbalik dengan suasana hati Clara yang sangat tidak baik sekarang ini. Meskipun, entah mengapa sudut hati Clara merasa sangat aneh, karena kali ini Ostra tidak meninggalkan sendirian seperti terakhir kali. Di mana Ostra meninggalkan Clara yang masih tidur, dan baru kembali setelah sekian lama karena dirinya melakukan latihan rutin paginya. Saat ini, Clara yakin jika Ostra melewatkan jam latihan paginya, dan memilih untuk tetap beristirahat di sini. Entah karena dirinya memang merasa sangat kelelahan, atau pada dasarnya memang tidak ingin berlatih seperti kebiasannya selama ini. Clara yang kini tengah berada dalam posisi yang dipeluk oleh Ostra dari belakang tentu saja merasa sangat tidak nyaman, dan dirinya ingin segera bergerak melepaskan diri. Setidaknya ia ingin segera mandi, dan kebetulan perutnya juga sangat sangat keroncongan. Clara kelaparan dan ingin segera makan. Ini memang terasa memalukan, tetapi nyatanya Clara yang sebelumnya sudah terbiasa menahan lapar, kini tidak bisa menahan lapar dalam waktu yang lama. Mungkin ini adalah ciri di mana Clara memang sudah terbiasa dengan kehidupan di mana dirinya hidup di tengah para draconian yang berlimpah dengan sumber makanan. Perut Clara berbunyi, dan membuat Clara semakin cemberut. Ia benar-benar lapar, tetapi dirinya tidak bisa melepaskan diri dari pelukan Ostra ini. Namun, secara mengejutkan, Ostra mengusap perutnya yang memang sudah sedikit membuncit. Lalu pria itu berbisik, “Sepertinya ada yang kelaparan di sini.” Tentu saja Clara merasa sangat malu. Meskipun dirinya tidak melihat wajah Ostra secara langsung, tetapi Clara yakin betul bahwa saat ini Ostra tengah mengejek dirinya. Memikirkannya saja sudah sungguh membuat dirinya jengkel bukan main. Ostra yang tidak mendengar jawaban atas perkataannya, tidak merasa terganggu. Ia terus mengusap perut Clara yang memang sudah terasa membuncit. Lalu Ostra pun menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher pria itu, sebelum menciumi dan menghirup aroma tubuh alami milik Clara yang terasa seperti candunya. Namun, hal itu malah membuat Clara merasa geli dan tidak bisa menahan diri untuk menggeliat dalam pelukan Ostra tersebut. “Berhenti. Kau membuatku merasa geli,” keluh Clara jelas saja meminta Ostra untuk berhenti untuk melakukan hal tersebut. “Kenapa aku harus berhenti, saat aku ingin melakukan hal ini terus?” tanya Ostra menolak apa yang diminta oleh Clara. Tentu saja Clara merasa sangat jengkel dibuatnya. Ia sara jika dirinya tidak akan menang jika melawan Ostra dengan tingkah keras kepalanya tersebut. Sebab hal tersebut benar-benar hanya akan membuat dirinya merasa lelah berdebat dengan Ostra yang jelas juga bersifat sangat keras kepala. Jadi, jelas Clara harus berpikir dan memutar otaknya untuk menemukan cara lain untuk melepaskan diri dari Ostra. Lalu Clara pun teringat dengan sesuatu yang sangat penting. Hal yang tidak mungkin bisa diabaikan oleh Ostra, meskipun dia ingin. “Jika kau tidak melepaskanku, maka aku akan mati karena kelaparan,” ucap Clara membuat Ostra segera mengubah posisi berbaring Clara agar berbaring menghadap dirinya. Lalu Ostra menyangga kepalanya dengan salah satu tangan dengan posisinya yang menyamping berhadapan dengan istrinya yang masih terlihat begitu polos karena tidak mengenakan pakaian apa pun di bawah lindungan selimutnya. “Apa kau lapar?” tanya Ostra membuat Clara semakin mengernyitkan keningnya. “Apa perkataanku sebelumnya sama sekali tidak cukup bagimu? Apa itu tidak jelas hingga tidak bisa dimengerti? Hei, aku kelaparan. Aku juga merasa tidak nyaman, karena itulah aku ingin segera mandi, membersihkan diri dan makan,” jawab Clara terlihat sangat jengkel. Membuat Ostra yang mendengar hal tersebut merasa benar-benar kesal, karena Clara malah memperlakukannya seperti orang bodoh. “Tidak perlu berbicara dengan nada menjengkelkan seperti itu. Bukankah aku sudah berulang kali mengatakannya padamu? Aku lebih senang dengan istriku yang bertingkah manis,” ucap Ostra membuat Clara yang mendengarnya mengerucutkan bibirnya. “Bagaimana bisa aku bertingkah manis, di saat kau bertingkah sangat menyebalkan seperti ini? Kau juga tidak perhatian. Istri yang kau inginkan bersikap manis itu, kini tengah kelaparan. Bukankah seharusnya kau melepaskan pelukanmu ini, dan membiarkanku untuk mandi dan mengisi perutku?” tanya Clara balik dengan sangat jengkel karena Ostra terkesan tengah mempermainkan dirinya. Padahal, Ostra sebenarnya tidak berniat seperti itu. Namun, pada dasarnya karena ia tidakk terlalu baik dalam mengekspresikan diri, jelas hal tersebut pun masuk akal. “Apa kau memang lebih senang mengawali hari dengan pertengkaran seperti ini?” tanya Ostra lalu dirinya pun pada akhirnya melepaskan pelukannya pada tubuh Clara. Clara yang mendengar pertanyaan tersebut pun merasa jika saat ini Ostra tengah menyalahkan dirinya. “Kenapa kau bertanya seperti itu padaku? Apa kau tengah menyalahkanku? Kenapa kau tidak introspeksi diriku? Kau yang membuat kita terus bertengkar! Seharusnya, jika kau pengertian dan tidak keras kepala, tidak akan pernah mungkin muncul pertengkaran seperti ini,” ucap Clara dengan ketus lalu dirinya pun turun dari ranjang dan pergi begitu saja menuju kamar mandi. Sama sekali tidak mempedulikan tubuhnya yang polos tanpa sehelai pun pakaian yang menutupi tubuhnya. Ostra menyeringai saat mendengar ocehan penuh kekesalan yang dikatakan oleh Clara padanya. Ia malah terlihat santai dengan melipat kedua tangannya untuk ia jadikan bantalan kepala lalu berkata, “Sungguh menarik. Kita saat ini sudah seperti pasangan suami istri sesungguhnya yang memperdebatkan hal kecil.” ______________________________ “Bukankah aku sudah mengatakanya berulang kali? Jangan makan dengan terburu-buru seperti itu. Tidak ada yang akan merebut makananmu. Jadi makan dengan perlahan dan pastikan makanan yang kau telan dikunyah dengan baik,” ucap Ostra terlihat sangat jengkel. Hal itu disebabkan oleh Clara yang makan dengan sangat lahap. Bukannya Ostra tidak senang bahwa Clara makan dengan baik. Hanya saja, Clara terlihat sangat lahap dan hampir tidak mengunyah makanannya dengan baik. Jelas itu akan menjadi masalah jika dibiarkan berlanjut. Kemungkinan besar, hal itu akan membuat Clara mengalami gangguan pencernaan. Jika sampai hal itu terjadi, jelas saja Ostra yang akan dibuat pening karena harus mengurus Clara. Jadi, lebih baik Ostra mencegah masalah terjadi pada kesehatan Clara. “Aku tau. Jangan memperlakukanku seperti anak kecil,” ucap Clara lalu menepis tangan Ostra dan melanjutkan makanannya dengan lebih tenang. Sebab ia sendiri tersadar jika sudah melakukan hal yang memalukan yang bisa saja mendapatkan ejekan dari pria itu. Clara memang terlalu lapar, hingga dirinya tidak menyadari bahwa sudah makan dengan cara yang sangat memalukan dan terlihat begitu rakus. Ostra sendiri hanya diam dan mengamati Clara yang masih sibuk mengunyah makanannya. Clara terlihat seperti tupai yang mengisi mulutnya penuh-penuh dan mengunyah makanannya dengan cara yang lucu. Ostra merasa jika dirinya sendiri begitu konyol karena memperhatikan Clara hingga sejauh itu. Namun, karena aksi memperhatikannya itulah Ostra sendiri menyadari ada begitu banyak perubahan dalam diri Clara. Selain kondisi jantungnya semakin stabil, seiring dengan kuatnya kandungannya, Clara sendiri terlihat lebih sehat. Kulitnya semakin terawat, dan berat badannya juga naik secara bertahap sesuai dengan program yang memang disusun oleh Gaal demi meningkatkan berat badan Clara. Jika terus seperti ini, Ostra lebih dari yakin jika kondisi Clara tidak akan terancam. Setidaknya ia akan bertahan selama masa kandungan, hingga proses melahirkannya nanti. Rasanya Ostra tidak sabar, melihat anak yang terlahir itu. Ostra penasaran, akan mirip dengan siapa anak yang terlahir tersebut. Setidaknya Ostra berharap jika anak itu tidak terlahir dengan sifat keras kepala yang sama seperti ibunya. “Jika sudah selesai makan, minum obatmu,” ucap Ostra memperingatkan Clara yang terlihat akan mengabaikan obat yang memang sudah terjadwal untuk ia minum tersebut. Clara dengan terpaksa pun meminum obat tersebut di bawah pengawasan yang dilakukan oleh Ostra secara langsung. Jika dirinya tidak minum obat. Tentu saja nantinya Ostra akan terus memaksanya, dan ia bahkan tidak bisa ke luar dari kamar untuk berusaha mencari celan untuk melarikan diri. Begitu melihat Clara yang selesai meminum obatnya, Ostra tidak membuang waktu untuk berkata, “Untuk beberapa hari ke depan, aku tidak bisa memasak makanan yang kau sukai. Sebagai gantinya, para pelayan yang akan menyiapkannya untukmu.” Clara sontak saja menatap Ostra dan bertanya, “Ke, Kenapa? Kau akan pergi ke mana?” “Kenapa? Apa kau takut aku tinggalkan?” tanya balik Ostra membuat Clara merasa kesal karena lagi-lagi dipermainkan oleh pria itu. “Omong kosong apa itu? Aku hanya ingin tahu, ke mana kau pergi hingga tidak bisa memasak makanan yang kusukai,” ucap Clara seperti anak kecil yang hampir merengek karena akan ditinggalkan oleh orang tuanya sendirian di dalam rumah selama beberapa jam. Ostra mendengkus. “Aku akan pergi untuk melakukan tugasku sebagai seorang Jenderal Besar. Aku akan memimpin pasukan,” jawab Ostra. Clara tentu saja segera memasang ekspresi yang penuh dengan antisipasi. Dirinya cemas dengan apa yang akan dilakukan oleh Ostra tersebut, hingga dirinya tidak sadar untuk bertanya, “Apa kau dan pasukanmu akan memburu manusia lagi?” Ostra menyeringai dan berkata, “Ternyata tidak hanya bertambah berat, kau juga semakin bertambah pintar. Tidak mengecewakan aku memberikan banyak makanan yang bernutrisi untukmu.” Meskipun jelas Ostra tengah bercanda pada Clara, saat ini Clara sama sekali tidak berada dalam suasana hati yang memungkinkan dirinya untuk bercanda seperti itu dengan suaminya. Seketika Clara memikirkan banyak hal yang membuatnya merasa sangat cemas. Lalu Clara pun berkata, “Tolong, jika kau memang pada akhirnya menemukan pria yang memiliki wajah yang mirip denganku, jangan lukai dia. Jangan lukai kakak kembarku.” Ostra yang mendengar hal itu pun terdiam. Ia mengamati ekspresi yang menghiasi wajah gadis itu dan bertanya, “Untuk apa aku melakukan hal itu? Itu hanya membuatku repot, dan sama sekali tidak memberikan keuntungan bagiku.” Clara tahu, jika saat ini Ostra sama sekali tidak bermain-main dengan perkataannya. Ia sangat serius, dan Clara melihat keseriusannya tersebut melalui sorot matanya yang tampak menusuk. Sorot mata yang hampir membuat Clara menggigil, sebab ia sadar bahwa saat ini Ostra tengah memberikannya peringatan untuk tidak melewati batas. Namun, Clara tidak bisa tinggal diam. Saat keselamatan saudara kembarnya sangat mungkin terancam. Karena itulah, Clara tidak berpikir bahwa dirinya akan mundur. Clara mengangkat dagunya dengan tinggi dan menjawab, “Jika kau tidak memenuhi apa yang kuminta, maka kau akan menanggung sebuah kerugian, Ostra.” Ostra mengernyitkan keningnya. Selain jelas tidak senang dengan sikap arogan yang ditunjukkan oleh Clara saat ini, Ostra juga kesal dengan keberanian yang ditunjukkan oleh Clara untuk mengancam dirinya. Padahal, menurut Ostra, Clara tidak memiliki apa pun yang bisa ia gunakan untuk mengancam dirinya. Clara sama sekali tidak berada dalam posisi tersebut. Namun, Ostra merasa penasaran apa yang akan dipergunakan oleh Clara untuk menekannya hingga bertanya, “Memangnya apa kerugian yang mengancamku?” Clara mencengkram ujung gaun yang ia kenakan, untuk meredakan getaran hebat pada kedua tangannya saat ia akan berkata, “Kau akan rugi, sebab kau akan kehilangan calon penerus yang sudah kau dan bangsamu tunggu-tunggu.” Seketika, Ostra yang mendengar hal itu pun tertawa dengan sangat keras. Tawa yang entah mengapa terasa sangat mengerikan, dan membuat bulu kuduk Clara serempak berdiri sebagai respons rasa ngeri yang mengancam. Clara sendiri terlihat takut, tetapi ia berusaha untuk tetap menunjukkan keberaniannya. Tak lama, Ostra pun menghentikan tawanya. Lalu ia menatap Clara dengan sangat tajam. “Aku tidak tahu, jika hal lancang bisa terasa sangat lucu seperti itu,” ucap Ostra lalu menjeda sejenak untuk mengamati reaksi Clara. Lalu tak lama ia melanjutkan dengan berkata, “Jangan melewati batasmu, Clara. Kau pikir, aku akan terus memanjakan dan mengabaikan sikap kurang ajarmu? Jangan bermimpi. Kau sama sekali tidak berada dalam posisi seperti itu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN