Kecupan

1787 Kata
Ostra pun mengingat mengingat perkataan Gaal bahwa dirinya juga harus menjaga kestabilan mentar Clara. Namun, Ostra tidak berpikir jika dirinya bisa membiaran Clara berkeliaran di luar kamar dengan bebas. Meskipun begitu, rasanya Ostra bisa memikirkan hal ini lebih jauh. Lalu dirinya pun menyeringai sebelum berkata, “Aku bisa memberikan apa yang kau minta ini, tetapi aku tidak akan memberikan hal ini dengan cuma-cuma, Clara. Kau harus membayarnya.” Tentu saja Clara yang mendengar hal itu pun mengernyitkan keningnya dalam-dalam. Ia tahu, jika Ostra tidak mungkin membiarkan apa yang ia minta begitu saja. Pastinya Ostra akan memanfaatkan hal itu demi mendapatkan hal yang lebih menarik untuknya. Memikirkannya saja sudah membuat Clara merasa sangat jengkel dibuatnya. Namun, jika Clara mengabaikan hal ini dan memilih untuk membuang kesempatan emas tersebut, rasanya ia akan menyesal nantinya. Hanya saja, Clara juga tidak mau terlalu terikat dengan Clara. Sungguh, ia merasa sangat dilemma saat ini. Namun, pada akhirnya Clara pun menyadari jika sepertinya ia lebih baik menerima kesempatan kali ini dengan mengetatkan rahangnya. Setidaknya, ia harus mendengar terlebih dahulu syarat atau keinginan Ostra. Jika masuk akal, mungkin Clara akan membuat kesepakatan dengan Ostra sebagai langkah awal dalam rencana melarikan dirinya. Lalu Clara pun bertanya, “Sebenarnya apa yang kau inginkan? Jangan berbelit-belit. Katakan saja apa yang kau katakan.” “Hm, tunggu sebentar. Aku perlu waktu untuk memikirkannya. Kira-kira, apa yang harus kudapatkan sebagai ganti memenuhi keinginanmu itu,” ucap Ostra lalu memasang ekspresi menyebalkan yang sungguh membuat Clara yang menyadari hal itu mengernyitkan keningnya. Merasa sangat jengkel, karena ekspresi tersebut benar-benar membuat dirinya merasakan firasat buruk yang mengelilingnya. Rasanya, saat ini Ostra tengah berusaha mencari hal yang akan menyulitkan Clara. Jika sampai hal itu terjadi, sungguh Clara akan semakin jauh dari harapannya untuk menemukan jalan untuk melarikan diri. Clara menatap Ostra dengan penuh kewaspadaannya. Membuat Ostra yang menyadari hal itu, merasa jika Clara benar-benar mirip dengan hewan kecil yang tengah merasa ketakutan dan tengah berusaha untuk bertingkah waspada dan mengancam di hadapan musuhnya. Hanya saja, lagi-lagi bagi Ostra, sikap tersebut sama sekali tidak mengancam. Malah hal itu terlihat sangat lucu, karena Clara tidak bisa mencapai ekspresi yang ia inginkan. “Kenapa kau terlihat sangat waspada dan berusaha sia-sia dengan menampilkan ekspresi penuh intimidasi?” tanya Ostra dengan nada yang jelas tengah mengejek Clara. Tentu saja Clara yang mendengarnya semakin mengernyitkan keningnya, merasa sangat jengkel dengan perlakuan yang ditunjukkan oleh Ostra kepadanya. “Tentu saja aku harus waspada, karena aku merasakan firasat buruk. Rasanya, kau tengah berusaha untuk mempersulit diriku dengan memikirkan syarat atau permintaan yang akan membuat aku kesulitan,” ucap Clara dengan memicingkan matanya. Tanda jika dirinya benar-benar terlihat sangat waspada dan curiga dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Ostra saat ini. Sebab firasat buruknya semakin meningkat ketika Ostra terlihat menyeringai. Seakan-akan mengatakan, jika firasat dan kecemasan yang dirasakan oleh Clara memang benar adanya. Ostra pun menyilangkan kakinya dan masih tidak mengalihkan pandangan dari istrinya. “Padahal, syarat yang aku sebutkan bukanlah hal yang terlalu sulit. Aku tidak mungkin menyulitkan istriku sendiri,” ucap Ostra membuat ekspresi Clara semakin buruk. Sebab dirinya merasa sangat geli dengan panggilan istriku yang digunakan oleh Ostra tersebut. Itu benar-benar menggelikan, hingga membuat seluruh bulu kuduk Clara berdiri dengan serempak. “Jangan mengatakan omong kosong. Kubilang katakan saja semuanya dengan jelas, tidak perlu berbelit dan mengatakan hal-hal yang membuat kepalaku pusing,” ucap Clara terlihat sagat tidak sabar karena Ostra saat ini terkesan mempermainkan emosinya dengan mengatakan hal yang berbelit-belit seperti ini padanya. “Baiklah, ternyata kau sangat tidak sabar untuk mendengar apa yang akan kujadikan syarat. Sekarang, dengarkan aku baik-baik. Dua syarat yang harus kau penuhi adalah, pertama kau harus menghabiskan setiap makanan yang dibawakan karena itu semua demi memenuhi nutrisimu,” ucap Ostra membuat Clara mengangguk. Sebab dirinya merasa tidak keberatan, dan rasanya itu bukanlah hal yang sulit baginya untuk menghabiskan makanan. Terlebih jika itu adalah makanan yang lezat. Rasanya sangat mustahil Ostra memberikannya makanan yang buruk atau tidak berkualitas, sebab ini juga demi kepentingan janin yang tumbuh dalam kandungannya. “Lalu apa yang kedua?” tanya Clara terlihat sangat tidak sabar untuk mendengar dengan lengkap syarat seperti apa yang diberikan oleh Ostra padanya, agar dirinya bisa ke luar dari kamar dan menghidup udara bebas. Ostra kembali menyeringai, saat dirinya melihat sikap Clara yang sungguh tidak sabaran tersebut. Untuk saat ini, rasanya Ostra tidak sabar untuk melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Clara saat mendengarn syarat kedua yang harus dipenuhi oleh Clara nantinya. Sebenarnya, Ostra sudah bisa membayangkan akan seperti apa ekspresi seperti apa yang menghiasi wajah Clara nantinya. Namun, Ostra tetap saja ingin melihat secara langsung, ekspresi itu menghiasi wajah mungil Clara yang kini sudah semakin berisi seiring berjalannya waktu. “Syarat yang kedua adalah, jadilah istri yang manis,” ucap Ostra membuat Clara mengernyitkan keningnya. Tentu saja Clara tidak mengerti sikap manis seperti apa yang dimaksud oleh Ostra. Mengingat, erkataan tersebut rasanya sangat luas untuk diartikan. Selain itu, Clara sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya bisa bersikap manis pada Ostra. Sepertinya, Ostra bisa membaca apa yang saat ini dipikirkan oleh Clara. Karena itulah, Ostra pun berkata, “Sepertinya kau tidak mengerti dengan apa yang kumaksud. Jadi, aku perlu sedikit menjelaskan padamu, sikap manis seperti apa yang kuharapkan. Kupersingkat saja, bagaimana jika kau memberikan kecupan setiap pagi dan malam hari? Bukankah itu adalah sikap yang manis? Aku bahkan bisa membayangkan istriku ini bersikap sangat manis padaku.” Mendengar hal itu, seketika saja Clara memasang ekspresi tidak percaya. Seakan-akan apa yang ia dengar adalah sebuah omong kosong yang membuat otaknya gemetar hebat. Itu memang terlalu berlebihan, tetapi sungguh Clara tidak bisa membayangkan dirinya melakukan hal itu padanya. Malam terakhir yang mereka habiskan bersama saja terasa sangat membekas, hingga membuat Clara terkadang merasa pening bukan kepalang dengan situasi yang ia alami tersebut. Terkadang, Clara selalu teringat dengan kejadian tersebut dan membuatnya frustasi. Kadang-kadang, saat dirinya makan di hadapan Ostra, ia teringat dengan kejadian pada malam itu dan membuat dirinya merinding dan kesulitan untuk mengatur isi kepalanya. Lalu, sekarang Ostra meminta hal yang sangat tidak masuk akal seperti itu padanya? Sungguh, Clara benar-benar ingin menghadiahkan sebuah pukulan pada wajah Ostra, dan membuat hidungnya patah. “Kau gila?” tanya Clara. Ostra pun hampir tertawa melihat wajah Clara saat ini. Namun, ia berusaha untuk menahan diri. Ekspresi Clara ini benar-benar sesuai dengan apa yang ia bayangkan sebelumnya. “Terserah kau ingin menyebutnya seperti apa, Clara. Tapi, jika kau tidak mau memenuhi syaratku ini, aku akan pastikan jika kau tidak akan mendapatkan apa pun yang kau inginkan,” ucap Ostra membuat Clara terdesak untuk memenuhi syarat yang jelas sangat tidak ingin Clara terima tersebut. Clara pun mengepalkan kedua tangannya sebagai ekspresi kemarahan yang ia rasakan tersebut. Lalu setelah itu Clara berkata, “Kau benar-benar bersikap kotor demi mendapatkan apa yang kau inginkan.” Ostra sama sekali tidak mengelak apa yang dikatakan oleh Clara tersebut. Ia pun menerima tuduhan tersebut dan berkata, “Ya, aku tidak akan mengelak. Jika kau merasa ini sangat tidak adil, bagaimana jika kau berusaha untuk menirunya?” “Tidak, aku tidak ingin melakukan hal itu karena aku akan terlihat sama denganmu,” ucap Clara tajam dan membuat Ostra terkekeh pelan. Merasa sangat terhibur dengan perkataan Clara tersebut. ** Pada akhirnya, Clara dan Ostra pun membuat kesepakatan. Clara akan memenuhi dua syarat yang ditetapkan oleh Ostra, sebagai ganti izin dirinya untuk ke luar dari kamarnya. Tentu saja Ostra merasa sangat antusias karena dirinya mendapatkan apa yang ia inginkan, dan berhasil membuat Clara patuh kepadanya. Clara sendiri agak kesulitan, karena ternyata makanan yang dipersiapkan setiap waktu makan menjadi semakin banyak dari waktu ke waktu. Hingga membuat dirinya kesulitan untuk menghabiskan makanannya. Meskipun begitu, Clara bersyukur karena hari di mana dirinya bisa menghirup udara bebas sudah tiba. Tentu saja Clara merasa sangat antusias, karena berpikir kemungkinan bahwa dirinya bisa mendapatkan petunjuk untuk melarikan diri saat dirinya berada di luar. Sayangnya, sepertinya Clara harus bersabar. Sebab dirinya tidak sepenuhnya bisa berkeliaran dengan bebas. Sebab saat ini dirinya diawasi oleh para pelayan dan prajurit yang berpakaian normal. Ostra memang sengaja memerintahkan para prajurit yang tidak mengenakan pakaian tempur mereka saat mengawal Clara, karena bisa saja hal itu membuat Clara terkejut. Itu memang menguntungkan bagi Clara, karena dirinya tidak terlalu takut walaupun tengah diawasi. Saat ini, dirinya pun melangkah menyusuri lorong, dan sadar bahwa kamera pengawas ada di setiap sudut tempat tersebut. Hingga penjagaan benar-benar tidak memiliki celah. Hingga Clara tidak berpikir, bahwa dirinya bisa menemukan cara untuk melarikan diri dari tempat tersebut. Meskipun begitu, Clara tidak ingin menyerah begitu saja. Mengingat, jika selalu ada kesempatan yang muncul, saat dirinya bersikap sabar dan mengawasi semuanya dengan teliti. “Apa tidak ada tempat yang bisa kudatangi untuk sedikit bersenang-senang?” tanya Clara pada dirinya sendiri. Sebab dirinya ingin memanfaatkan waktu luangnya ini dengan benar, sebab dirinya sudah berjuang untuk menukar kebebasan singkatnya ini dengan hal yang membuat dirinya geli. Sayangnya, sejak tadi dirinya sama sekali tidak melihat area yang bisa ia gunakan sebagai tempat bersenang-senang. Hal yang ada hanyalah para prajurit yang berjaga, atau berganti posisi dengan rekan-rekan mereka. Rasanya sangat percuma bagi dirinya untuk mendapatkan izin berkeliling, saat dirinya bahkan tidak mendapatkan apa pun, termasuk waktu menyenangkan menghirup udara bebas. Di tengah rasa putus asa Clara tersebut, secara tiba-tiba Clara melihat area yang tersembunyi. Tanpa banyak kata, dirinya pun beranjak untuk melangkah menuju area tersebut. Lalu Clara pun terkejut dengan apa yang ia lihat. “Wah, apa ini?” tanya Clara terlihat sangat takjub dengan taman bunga tersembunyi yang terlihat sangat indah. Clara yakin betul, jika taman ini mendapatkan perlakuan khusus. Sebab semuanya terlihat sangat tertata rapid an sangat indah. Clara pun tidak bisa menahan diri untuk berjongkok di dekat bunga-bunga yang bermekaran dengan sempurna dan menghirup wangi bunga tersebut dengan antusias. “Kukira, bangsa kasar seperti mereka tidak memiliki ketertarikan dalam mengagumi hal yang lembut dan indah seperti ini,” gumam Clara sembari mengagumi kelopak bunga indah tersebut. Pada akhirnya Clara pun memilih untuk menghabiskan waktunya dengan mengagumi bunga-bunga yang indah tersebut. Melupakan fakta bahwa dirinya bahkan tidak menemukan celah atau jalan baginya untuk melarikan diri dari tempat tersebut. Ia benar-benar menikmati waktunya sendiri, di bawah pengawasan para pelayan dan prajurit yang bertugas untuk mengawasi dirinya. Tentu saja, Ostra mengawasi Clara dengan mengintip melalui memori yang tersimpan di dalam otak para pelayan yang sudah dikendalikan oleh cip yang tertanam di dalam batang otak mereka. Ostra yang melihat tingkah Clara tersebut pun menggeleng dan merasa jika Clara terlalu tidak waspada. Meskipun sudah berstatus seorang istri Jenderal Besar sekali pun, Clara tetap saja adalah seorang manusia yang tengah berada di tengah bangsa Draconian yang terkenal berbahaya. Ostra pun menyilangkan kakinya dan berkata, “Yah, apa pun itu. Rasanya sangat menyenangkan saat aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku tidak sabar menunggu waktu berubah menjadi malam, dan mendapatkan kecupan dari istriku yang manis.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN