Kurang Ajar

1884 Kata
Riolo tampak terkejut saat dirinya melihat Clara yang berkeliaran dengan bebas di luar kamarnya. Tidak sepenuhnya bebas, karena memang ada prajurit tanpa pakaian perang dan para pelayan yang terus mengikutinya untuk memberikan pengawasan terhadap dirinya. Namun, tetap saja, rasanya ini tidak masuk akal bagi Riolo. Sebelumnya, Riolo pikir jika saudaranya hanya bercanda dan tidak serius untuk memberikan izin bagi Clara untuk ke luar dari kamar dan menghabiskan waktu luangnya di luar sana. Riolo terlihat mengernyitkan keningnya dalam-dalam, merasa jika apa yang terjadi sangat tidak masuk akal baginya. Memang benar, Clara saat ini sudah menjadi istri Ostra, bahkan tengah mengandung calon penerusnya. Namun, masuk akal kah jika Clara yang berasal dari bangsa manusia dan sangat ingin melarikan diri dibebaskan seperti ini? Memang benar, mustahil bagi Clara untuk menemukan celah dan bisa melarikan diri dari markas pusat yang dijaga dari berbagai sisi. Namun, tetap saja ada kemungkinan sekecil apa pun itu, dan jelas itu harus diperhatikan dan mereka semua tetap harus waspada. Bisa saja saat ini Clara tengah mengumpulkan informasi mengenai seluk-beluk markas pusat mereka, dan mengirim pesan secara tersembunyi pada rekan-rekan mereka untuk menyelamatkannya. Dengan pikiran yang berkecamuk, Riolo pun beranjak menuju ruangan pertemuan di mana ternyata Ostra dan Gaal sudah berada di sana. Keduanya tampaknya tengah membicarakan sesuatu yang penting, hingga membuat Riolo duduk terlebih dahulu untuk menunggu pembicaraan keduanya selesai. Setidaknya, ini adalah bentuk sopan santun Riolo agar tidak terlihat terlalu menyebalkan di mata Ostra. Sudah cukup semua hukuman yang diberikan oleh Ostra padanya. Rasanya Riolo tidak ingin menambah tugasnya dengan hukuman yang jelas akan membuat pekerjaannya semakin menumpuk. “Ada apa? Kenapa ekspresimu terlihat seperti itu?” tanya Gaal saat pembicaraannya dengan Ostra sudah selesai. Riolo pun menatap tepat pada mata Ostra yang juga tengah menatap dirinya dan ingin mendengarkan jawaban atas pertanyaan yang baru saja diajukan oleh Gaal padanya. “Aku tadi melihat Clara saat perjalanan menuju ke sini. Dia sepertinya sangat bersenang-senang dengan kebebasannya,” ucap Riolo yang membuat Ostra tersenyum tipis. Gaal sendiri sudah tahu jika Clara mendapatkan izin untuk berkeliaran dengan mendapatkan pengasawan dari orang-orang di sekitarnya. Gaal yakin betul, jika ada kesepakatan yang dibuat oleh Ostra dan Clara. Namun, Gaal merasa tidak perlu untuk bertanya padanya atas hal tersebut. Mengingat bagi Gaal itu adalah hal yang sangat menarik untuk didengar oleh Gaal lebih lanjut. “Ya, dia memang sangat senang karena bisa berkeliaran dengan bebas seperti apa yang ia inginkan. Dia bahkan bertingkah manis karena saking senangnya ia dengan apa yang terjadi,” ucap Ostra terlihat berada dalam suasana hati yang sangat baik. Mengingat jika saat ini Clara memang benar-benar bertingkah sangat manis terhadap dirinya. Clara berubah menjadi sangat penurut, dan hal itu benar-benar sesuai dengan harapan Ostra. Bahkan, Clara dengan patuh memberikan kecupan setiap pagi dan malam hari tanpa ditagih, sesuai dengan kesepakatan yang sudah mereka buat sebelumnya. Riolo yang mendengar hal itu pun mengernyitkan keningnya. “Apa ini tidak berlebihan? Meskipun situasinya saat ini sangat spesial, tetapi ia tetaplah seseorang yang berasal dari bangsa manusia yang harus kita waspadai. Bisa saja, ia tengahy merencanakan sesuatu yang pada akhirnya akan membuat kita menanggung kerugian yang begitu besar,” ucap Riolo membuat Ostra yang mendengarnya mengernyitkan keningnya dalam-dalam. “Tidak perlu mencemasakan hal seperti itu. Sebab saat ini aku sendiri yang memastikan sendiri apa yang dilakukan oleh Clara. Sekarang saja, ada para pelayan yang memang dikendalikan dan para prajurit yang mengawasinya. Aku atau pun kalian bisa memantaunya secara langsung melalui memori pada pelayan. Namun, kalian tidak perlu ikut campur, karena aku akan mengawasinya sendiri,” ucap Ostra menegaskan garis yang tidak boleh sampai dilewati oleh orang-orang yang ada di sana. Meskipun keduanya jelas-jelas adalah saudara yang bisa ia percayai, tetapi Ostra tidak ingin sampai keduanya ikut campur dalam hubungannya dengan Clara. Gaal sendiri paham, dan ia tidak ingin ikut campur seperti apa yang sudah diperingatkan oleh Ostra. Namun, sepertinya Riolo tidak puas dengan keputusan yang sudah diberikan oleh Ostra tersebut. Sebab jelas, menurutnya hal itu benar-benar tidak pantas untuk diberikan oleh Clara. Memang status Clara sebagai seorang istri dari jenderal sangat masuk akal untuk mendapatkan perlakuan yang baik. Bahkan jauh lebih baik daripada para manusia yang berada di luar sana. Namun, tetap saja mendapatkan kebebasan untuk berkeliaran di tengah markas pusat mereka terlalu berlebihan. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan nantinya, karena itulah mereka harus tetap berada dalam kondisi yang sangat waspada dalam kondisi apa pun. Ostra menyadari apa yang tengah dipikirkan oleh Riolo dan mendengkus. “Riolo, lebih baik kau fokus saja dengan tugasmu. Tidak perlu memikirkan apa pun termasuk masalahku dengan Clara, sebab aku bisa mengendalikan istriku sendiri. Jadi, berhenti bertingkah seperti ini, karena jelas kau sangat mengganggu bagiku,” ucap Ostra membuat Riolo pada akhirnya mendengkus kesal. Gaal juga menatap Riolo dan berkata, “Ya, tidak perlu terlalu memikirkan hal ini. Aku yakin, jika Ostra bisa menangani masalah ini dengan kemampuannya sendiri. Untuk saat ini, kau fokus saja mengenai pembersihan para gerombolan mhonyedt. Atau jika kau memang ingin memperhatian seseorang wanita, bagaimana jika kau mencari seorang manusia yang menarik bagimu dan bawa dia kepadaku? Aku bisa menanamkan benihmu padanya, dan membuat kalian menikah.” “Kau gila?” tanya Riolo lalu terlibat argument bersama dengan Gaal yang terlihat sangat santai menghadapi Riolo yang terlihat berapi-api. Keduanya terlihat asyik dengan dunia mereka sendiri, membuat Ostra memiliki waktu untuk pemikirannya sendiri. Ia pun teringat dengan sosok Clara. Entah mengapa, akhir-akhir ini, atau lebih tepatnya setelah mereka membuat kesepakatan dan Clara yang secara teratur memberikan kecupan padanya, Ostra selalu teringat dengan sosoknya yang kini memang sudah jauh lebih baik penampilannya. Tidak lagi kurus kering, karena sudah mendapatkan nutrisi yang cukup dan istirahat yang baik. Kehidupan yang sudah jauh lebih baik membuat kondisi tubuh Clara juga membaik. Selain itu, sepertinya kehamilan juga mengambil andil dalam perubahan tubuh Clara tersebut. “Dia sedang apa sekarang?” tanya Ostra lalu dirinya pun membuka komputer untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Clara melakukan kamera pengawas yang memang sudah dipasang di setiap sudut. Riolo dan Gaal yang menyadari hal itu pun melemparkan pandangan mereka pada Ostra. Keduanya terkejut dengan ekspresi yang saat ini menghiasi wajah Ostra. Ada sebuah senyuman dan ekspresi antusias yang saat ini membuat Ostra terlihat sangat asing dan mengerikan di mata mereka. Lalu Riolo pun berbisik pada Gaal, “Apakah aku tidak salah lihat? Apakah dia tengah tersenyum?” Gaal yang mendenganya pun mengangguk. “Kau tidak salah lihat. Dia memang tengah tersenyum. Sepertinya dia sangat senang hingga tidak sadar menampilkan ekspresi yang sangat berbeda sekaligus menggelikan tersebut,” ucap Gaal berusaha untuk menyembunyikan senyumannya. Karena sadar, bahwa senyumannya tersebut bisa saja membuat Ostra marah. Di sisi lain, Gaal sendiri sadar, bahwa senyumannya tersebut muncul karena sosok Clara. Kehadiran Clara dalam kehidupan Ostra benar-benar membawa sebuah perubahan yang sangat besar. Sungguh, Gaal tidak pernah menyangka jika Clara ternyata berdampak sebesar ini dalam kehidupan Ostra. ** Ostra melangkah menuju area taman yang berada di sudut tersembunyi dalam markas pusat yang memang menjadi tempat tinggal Ostra, dan kedua saudaranya yang memang berstatus sebagai petinggi di sana. Selama perjalanan, Ostra bertemu dengan banyak prajurit yang berlalu lalang untuk menjalankan tugas mereka. Tentu saja para pengawal bergegas memberikan hormat kepada Ostra, dan Ostra hanya mengangguk sekilas sebagai bentuk dirinya menerima hormat yang mereka berikan tersebut. Ostra bergegas karena tidak ingin membuang waktu. Saat ini sudah waktunya Clara makan siang, dan tentu saja Ostra tidak ingin membiarkan Clara melewatkan jam makannya tersebut. Sebab itulah, saat ini Ostra tengah menjemput Clara yang masih menghabiskan waktunya di taman bunga yang sepertinya sudah ia jadikan sebagai markas kecil di mana dirinya bisa bersenang-senang. Tentu saja Ostra tahu posisi Clara dengan tepat, karena dirinya bisa memeriksanya dari rekaman kamera pengawas, atau melihat memori yang terimpan pada cip yang ditanamkan pada otak para pelayan, atau juga bisa menghubungi para prajurit yang bertugas mengawal. Ada banyak cara bagi Ostra untuk mengetahui posisi Clara. Begitu sampai di area yang sebenarnya tidak pernah ia kunjungi sebelumnya, ia pun bisa melihat Clara yang tampak tengah membuat sesuatu dengan beberapa bunga kecil yang sudah ia petik. “Bangunlah, sekarang waktunya kembali ke kamar,” ucap Ostra membuat Clara terkejut dan mengangkat pandangannya untuk menatap Ostra. Clara tentu saja mengernyitkan keningnya. Selain tidak senang dengan kenyataan bahwa Ostra saat ini ada di hadapan matanya, ia juga kesal karena Ostra meminta dirinya untuk segera kembali ke kamar. Padahal, Clara tengah bersenang-senang dengan membuat sebuah mahkota bunga yang cantik. Ia akan menyimpannya dengan baik, hingga dirinya bertemu dengan kakak dan teman-temannya kembali. Agar nantinya, ia akan menunjukkannya dan mengatakan bahwa ternyata masih ada bunga yang indah di tengah situasi yang sangat kacau ini. Melihat jika Clara sama sekali tidak beranjak dari posisinya, Ostra pun berkata, “Kau mau izinmu untuk ke luar dari kamar kucabut? Jika tidak ingin, bersikaplah baik dan manis seperti apa yang kusukai.” Mendengar apa yang dikatakan oleh Ostra, Clara yakin betul jika Ostra tidak hanya melemparkan ancaman kosong padanya. Bisa dipastikan jika Ostra akan melakukan apa yang dikatakan olehnya, jika Clara tidak mematuhi apa yang sudah ia perintahkan. Pada akhirnya Clara pun akhirnya bangkit dari duduknya dan melangkah mengikuti Ostra yang sudah lebih dulu melangkah menjauh. Tentu saja Ostra dan Clara kini bergegas menuju kamar mereka. Sebelumnya Ostra sudah memerintahkan para pelayan untuk mempersiapkan makan siang bagi Clara di dalam sana. Ostra dan Clara duduk di kursi yang sudah dipersiapkan, tentunya Ostra akan tetap di sana untuk mengawasi Clara hingga dirinya menghabiskan makanannya tersebut. Namun, ternyata Clara yang melihat makananan di atas meja tidak terlihat memiliki selera makan. Padahal, Ostra sudah memastikan bahwa semua makanan tersebut terlihat lezat dan hangat, agar Clara bisa menghabiskannya. Sayangnya, semua itu tampaknya tidak membuat Clara bersemangat dan hanya memainkan alat makannya. Hal itu membuat Ostra mendengkus dan bertanya, “Sekarang apa lagi? Kenapa kau tidak makan?” “Aku tidak lapar,” jawab Clara lalu suara perutnya yang bergumur terdengar keras membuat Ostra mengernyitkan keningnya. “Tidak lapar? Omong kosong apa itu? Perutmu baru saja bernyanyi dengan sekeras itu. Mana mungkin kau tidak lapar,” ucap Ostra jelas mengejek pernyataan Clara sebelunya yang mengatakan jika dirinya sama sekali tidak lapar. “Katakan saja, kenapa kau bertingkah seperti ini lagi?” ucap Ostra mendesak Clara untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Pada akhirnya Clara pun terdesak untuk mengatakan hal yang jujur pada Ostra. “Aku tidak berselera. Semua makanan ini terlihat sangat membosankan untuk aku nikmati,” ucap Clara membuat Ostra merasa sangat geram. Padahal, staf yang bekerja di dapur benar-benar berusaha untuk menyajikan makanan yang lezat baginya. Jelas semua makanan ini tidak bisa dibandingkan dengan rumput atau serangga yang selama ini Clara konsumsi. Namun, Clara saat ini berkata bahwa dirinya bosan? Sungguh luar biasa membuatnya kesal. Namun, Ostra berusaha untuk menenangkan diri. Sebab dirinya berusaha untuk menjaga momentum hubungannya dengan Clara agar tidak menjadi buruk kembali. “Lalu katakan, apa yang ingin kau makan?” tanya Ostra pada akhirnya mengalah. Clara sendiri terkejut mendengar pertanyaan yang tidak pernah ia duga tersebut. Lalu Clara pun berkata, “Beri aku waktu. Aku perlu memikirkannya.” “Wah, lihat. Bukankah kau saat ini tengah bertingkah kurang ajar padaku?” tanya Ostra menatap Clara dengan sangat tajam. Terlihat tidak senang dengan tingkah Clara. Sementara Clara yang mendengar pertanyaan tersebut pun mengernyitkan keningnya dan membalasnya dengan berkata, “Kan kau sendiri yang menanyakannya padaku. Sudahlah, diam. Aku harus berkonsentrasi untuk memikirkan apa yang ingin kumakan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN