Suara tawa Riolo terdengar menggelegar dan mengisi ruangan yang berisi berbagai senjata, berikut peralatan yang digunakan untuk merancang sebuah senjata yang sangat berbahaya. Benar, itu adalah ruangan miliknya yang digunakan untuk merancang senjata rahasianya. Tentu saja ruangan tersebut tidak bisa sembarangan dikunjungi hanya karena ingin. Sebab Riolo memiliki pengamanan berlapis, dan hanya orang-orang yang mendapatkan izinnya yang bisa memasukinya. Saat ini, Gaal mendapatkan izin untuk mengunjungi ruangan tersebut dan ternyata membawakan sebuah kabar yang sangat menarik bagi Riolo.
“Wah, aku tidak salah dengar bukan?” tanya Riolo saat dirinya sudah bisa mengendalikan tawanya yag meledak begitu saja mengingat apa yang sudah ia dengar. Saat ini, Riolo tengah berusaha untuk memastikan apakah yang ia dengar benar adanya.
Gaal yang tengah melihat meja kerja Riolo pun mengangguk tanpa melihat Riolo yang saat ini kembali tertawa dengan sangat keras. Terlihat sangat terhibur dengan apa yang sudah terjadi. Gaal sendiri terlihat tertarik dengan rancangan senjata yang tengah dibuat oleh Riolo. Gaal berpikir untuk memadukan hasil penelitiannya dengan rancangan senjata buatan Riolo. Gaal yakin, jika senjata yang tercipta akan sangat luar biasa. Mungkin itu akan menjadi senjata pembasmi yang mengerikan bagi musuh mereka.
Namun, jika akan melakukan hal tersebut. Mereka harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Ostra. Mengingat hal ini sangat sensitif. Sebelumnya Riolo sudah berulang kali melakukan kesalahan yang berujung dengan peringatan dan hukuman yang diberikan oleh Ostra. Karena itulah, jika mereka semua memiliki sebuah rancangan atau ingin memadukan rancangan senjata mereka, semua itu harus mereka laporkan terlebih dahulu pada Ostra. Saat mereka mendapatkan izin dari Ostra, saat itulah mereka bisa melanjutkan proyek mereka.
Di saat Gaal memikirkan proyeknya, maka saat ini Riolo masih sibuk dengan tawanya. Tak berapa lama, ia pun bisa menghentikan tawanya tersebut dan bertanya, “Lalu, sekarang ada di mana Ostra?”
Gaal pun pada akhirnya menarik pandangannya dari rancangan senjata Riolo dan menjawab, “Entahlah. Aku tidak tahu pastinya. Sebab aku tidak diizinkan untuk memasuki area kekuasaannya. Hal yang pasti adalah, saat ini ia tengah disibukkan untuk memenuhi permintaan istrinya yang tengah hamil itu.”
Jawaban tersebut tentu saja membuat Riolo yang mendengarnya semakin penasaran saja. Benar, kabar yang dibawa oleh Gaal adalah kabar bahwa saat ini Riolo tengah sangat sibuk memenuhi permintaan Clara yang jelas adalah istrinya dan tengah hamil. Karena itulah, Gaal dan Riolo untuk sementara akan mengambil alih seluruh kepemimpinan, hingga Ostra selesai dengan urusannya tersebut. Jujur saja, ini adalah hal yang sangat lucu bagi Riolo. Sebab Ostra seolah-olah telah ditaklukan dengan mudahnya oleh Clara. Namun, di sisi lain dirinya juga agak tidak senang. Sebab ini membuat Ostra seolah-olah lemah di hadapan Clara yang jelas lebih lemah daripada dirinya.
“Memangnya hal apa yang diminta oleh Clara sampai membuat Ostra sesibuk ini?” tanya Riolo seakan-akan yakin jika Gaal juga mengetahui informasi mengenai hal tersebut.
Jujur saja, Gaal memang tahu mengenai hal tersebut, tetapi ia tidak merasa jika ia perlu mengatakannya pada Riolo. Sebab pria yang menjabat sebagai Letnan ini pasti akan sangat heboh dengan apa yang ia ketahui tersebut. Setidaknya biar Riolo mengetahui hal ini langsung dari Ostra nantinya. Saat ini Gaal hanya perlu menjawab seadanya saja agar Riolo tidak terlalu merasa penasaran. “Entahlah, sudah kukatakan aku tidak terlalu tahu dengan pasti apa yang diinginkan olehnya. Namun, kurasa jika itu bukan hal yang terlalu merepotkan atau menyulitkan bagi Ostra. Ia bisa memenuhinya dengan mudah.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Gaal, Riolo tentu saja merasa semakin penasaran saja dibuatnya. Ia juga tahu, bahwa Gaal saat ini tengah berusaha untuk tidak mengungkapkan semuanya. Membuat dirinya merasa sangat jengkel karena dirinya semakin merasa penasaran daripada sebelumnya. Karena itulah dirinya pun bertanya, “Jika kau tidak tahu dengan detail, mengapa kau bisa sangat percaya diri menyebut bahwa hal yang diminta oleh wanita itu bukanlah yang merepotkan?”
Gaal pun terdiam, tampak memikirkan jawaban yang masuk akal atas pertanyaan yang sudah diberikan oleh Riolo tersebut. “Ini karena hormone ibu hamil. Biasanya seorang ibu hamil yang mengalami perubahan hormone sangat sensitif. Sangat mustahil mereka memiliki permintaan yang aneh, karena kebanyakan dari mereka akan memiliki permintaan yang berkaitan dengan perhatian pasangannya. Jelas, itu bukan hal yang sulit bagi Ostra untuk memenuhinya,” ucap Gaal membuat Riolo terdiam. Sebab penjelasan yang terdengar sangat ilmiah itu tidak bisa dipertanyakan lagi oleh Riolo.
“Wah, aku benar-benar penasaran,” ucap Riolo terlihat tidak bisa menahan rasa penasaran yang meluap-luap di dalam dadanya. Tentu saja Gaal menyadari hal itu, dan memikirkan cara untuk mengalihkan rasa penasaran tersebut pada hal lain. Karena tentu saja, Gaal tidak boleh sampai mengganggu apa yang dilakukan oleh Ostra dan Clara saat ini.
Tak lama, Gaal pun mengingat satu hal yang rasanya bisa ia gunakan untuk mengalihkan perhatian Riolo. Gaal melangkah menuju meja kerja Riolo dan bertanya, “Apakah ini rancangan senjata baru yang ingin kau rakit?”
Riolo seketika mengangguk, dan fokusnya pun teralihkan dengan mudahnya. Ia menjawab, “Benar. Aku sudah meningkatkan beberapa hal dari senjata terakhir yang kurakit, dan menambahkan kemampuan baru yang kurasa akan menjadi senjata yang luar biasa dan tidak pernah kita lihat sebelumnya.”
“Aku juga melihat bahwa ada beberapa bagian yang menarik dalam rancangan senjata barumu ini. Bagaimana jika aku menambahkan beberapa hasil penelitianku ke dalam rancanganmu ini. Kurasa, hal itu akan menjadi senjata yang luar biasa,” ucap Gaal membuat Riolo terlihat sangat bahagia. Sebab jelas, Riolo tahu jika Gaal memiliki banyak racun dan hasil penelitian yang menarik. Hasil penelitian tersebut pasti akan sangat memuaskan dan menarik jika digabungkan dengan rancangan senjata miliknya. Karena itulah Riolo terlihat semakin bersemangat dari waktu ke waktu.
“Wah, itu ide yang sangat menarik. Jadi, ayo kita bicarakan lebih jauh. Hal yang paling aku inginkan adalah racun yang sudah kau ciptakan,” ucap Riolo lalu terlihat bersemangat untuk membicarakan banyak hal mengenai penelitian yang akan ia lakukan bersama dengan Gaal nantinya.
Sementara di sisi lain, kini Ostra memang tengah disibukkan dengan hal yang tengah ia lakukan. Hal tersebut tak lain adalah memenuhi permintaan Clara yang jelas tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Ostra menghela napas dan menatap bahan-bahan makanan di hadapannya, lalu mengalihkan pandangannya pada Clara yang tengah menunggunya dengan tenang. “Sial,” gumam Ostra pada akhirnya dirinya pun mengambil alat masak untuk memulai acara memasaknya.
Benar, saat ini Clara dan Ostra memang tengah berada di dapur. Tentu saja untuk memenuhi apa yang telah diminta oleh Clara. Ostra harus memasak, demi memenuhi permintaan Clara yaitu makan masakan yang dibuat oleh Ostra. Sayangnya, Ostra sendiri tidak memiliki pengalaman memasak yang sesungguhnya. Selama ini saat memasak pun, Ostra hanya perlu menghangatkan makanan kemasan khas militer yang memang hanya perlu dihangatkan dan sudah siap untuk disantap. Sementara kini, Clara jelas-jelas ingin makan makanan yang dibuat olehnya secara langsung. Bahkan saat ini Clara tengah mengawasinya dengan lekat seakan-akan mengharapkan makanan yang dibuat oleh Ostra segera siap.
Sementara Ostra mulai bergerak untuk memasak sesuatu yang terpikirkan olehnya, maka Clara kini mulai merasa sangat bosan dan mengantuk. Clara memang tengah duduk di dekat dapur, atau lebih tepatnya di meja makan yang menghadap dapur. Tentu saja, ini adalah kali pertama Clara ia datang ke tempat tersebut. Semula, Clara merasa sangat tertarik dan melihat ke sana ke mari. Namun, kini Clara merasa sangat bosan dan bahkan mulai mengantuk. Ia bahkan tidak berhenti menguap karena tidak bisa berhenti menguap.
“Ini membosankan, aku bahkan sudah tidak lapar lagi,” ucap Clara dan pada akhirnya meletakkan kepalanya di atas kedua tangannya yang ia lipat di atas meja. Tak membutuhkan waktu lama bagi Clara untuk benar-benar terlelap di tempat tersebut, meninggalkan Ostra yang masih sangat sibuk untuk memasak. Ostra merasa jika otaknya yang biasanya digunakan untuk menyusun rencana dan strategi tajam untuk melakukan peperangan atau invasi, seakan-akan tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Ia tidak bisa memikirkan apa pun dengan benar.
Pada akhirnya, ia pun memilih untuk memasak sesuatu yang sederhana yang bisa ia masak tanpa keahlian khusus dan mirip dengan makanan kemasan militer yang sering dikonsumsi oleh prajurit. Ostra memecahkan dua buah telur dengan kuning telur yang terlihat sangat cantik, tanda jika kuning telur tersebut kaya akan nutrisi. Setelah memberikan beberapa bumbu herba, ia pun mengocoknya agar tercampur dengan baik. Lalu Ostra memanggang dua buah roti tawar tanpa kulit yang terlihat lembut. Setelah beberapa saat, ia pun menuangkan telur yang sudah sudah ia persiapkan pada roti di atas pemanggangan.
“Sepertinya ini tidak terlalu buruk,” ucap Ostra sembari melihat masakannya yang terlihat cukup baik. Setidaknya dengan tampilan seperti ini, Ostra berpikir jika hasil masakannya masih bisa dimakan. Setelah memastikan semuanya matang dengan sempurna, ia pun mengangkatnya dan memindahnya ke atas piring. Ia juga memanggang sayuran dengan mentega yang lezat, demi menambah rasa pada sayuran panggang tersebut. Demi menjaga nutrisinya, Ostra tidak memanggangnya terlalu lama dan segera mengangkatnya ketika mentega sudah meresap ke dalam sayuran yang sudah cukup layu karena dipanggang tersebut.
Setelah itu, Ostra memilih untuk menyiapkan jus sayur yang ditambah dengan beberapa buah segar. Ostra sadar jika roti, telur, dan sedikit sayuran panggang tidak akan cukup untuk memenuhi nutrisi Clara, jadi setidaknya ia tetap harus memenuhinya dengan cara lain. Ini adalah bentuk perhatian yang dimiliki oleh Ostra terhadap Clara dan janin yang berada dalam kandungannya. Ostra benar-benar bersikap selayaknya seorang suami dan calon ayah yang sangat perhatian. Tentu saja Ostra menganggap hal tersebut adalah bentuk tanggung jawabnya.
“Apa aku juga perlu memotong buah manis untuk pecuci mulutnya?” tanya Ostra pada dirinya sendiri. Ostra mengernyitkan keningnya, saat dirinya masih bungung dengan apa yang harus ia lakukan. Namun, pada akhirnya Ostra juga mengupas dan memotong buah dengan sangat teliti. Lalu ia pun menyajikan semuanya dengan baik dan rapi.
Tidak berhenti di sana, Ostra juga membereskan dapur yang sudah ia gunakan agar kembali rapi. Sebab Ostra yang sudah memiliki sifat mendarah daging, sama sekali tidak mengizinkan semuanya terlihat kotor atau berantakan. Setelah semuanya beres, barulah Ostra beranjak untuk menuju Clara yang masih menunggunya. Namun, Ostra terkejut bukan main, saat dirinya sadar bahwa ternyata Clara sekarang sudah tertidur dengan lelapnya.
“Benar-benar menyebalkan,” ucap Ostra saat dirinya sudah memastikan bahwa Clara benar-benar tertidur dengan sangat lelap. Padahal, tadi Clara sendiri yang memaksa dirinya untuk masak dengan tangannya sendirinya. Berulang kali mengatakan bahwa ia lapar, tetapi kini Clara malah mengabaikan hasil kerja kerasnya dan malah tidur dengan begitu lelapnya.
Lalu Ostra pun menatap makanan yang sudah ia buat dan tentu saja kini sudah tidak akan ada yang menghabiskannya. Selain makanan yang sudah ia buat kini menjadi sangat sia-sia, waktu yang ia habiskan juga menjadi terbuang begitu saja. Jelas Ostra merasa sangat jengkel, tetapi ia tidak bisa membangunkan Clara begitu saja. Sebab jelas, saat ini Clara terlihat tertidur dengan begitu lelap. Rasanya jika ia membangunkannya, ia memiliki firasat bahwa akan muncul masalah baru yang membuatnya pening bukan kepalang.
“Sialan, awas saja jika kau merengek meminta makanan ini lagi. Aku tidak akan pernah memenuhi permintaanmu itu,” ucap Ostra lalu meletakkan nampan makanan dan menggendong Clara yang masih tidur dengan pulasnya dengan penuh kehati-hatian menuju kamar mereka berdua.