How Come?

1460 Kata
Gina dengan sekuat tenaga meneguhkan hatinya untuk tidak langsung memaki ataupun menyerang pria yang baru saja datang dengan menggandeng seorang wanita bersamanya. Wanita berpakaian minim dengan rambut ikalnya. " Kak Niko kemana aja? Lama banget pulangnya..." ucap Lira dengan manja. Ia memang dekat dengan semua saudaranya. " But i'm here..." jawabnya santai dengan tatapan mata yang menatap lurus ke arah Gina. (" Apa yang dia lakukan disini?") batin Niko. " Niko... Anak mama sayang..." ucap Thalia dengan mengulurkan kedua tangannya sambil berjalan ke arah sang putra yang juga langsung memeluknya. " Mama apa kabar?" " Baik, sayang. Dan siapa ini?" " Ini... Teman aku." jawab Niko masih dengan tatapan ke arah Galina yang terlihat geram. Bukan. Galina kesal dan geram bukan karena cemburu. Dia marah. Dia sangat marah atas perbuatan pria tersebut. Thalia yang menyadari arah pandang putranya sejak tadi langsung sadar jika ia belum mengenalkan menantunya tersebut. " Oh... Maaf... Nik, ini Galina. Dia istri Bastian. Dan Gina, ini anak nakal yang mama ceritakan tadi." ucap Thalia dengan tersenyum. Niko lalu tersenyum pada sang teman wanita dan berjalan dengan santai ke arah Gina yang benar- benar blank sesaat akan apa yang harus ia lakukan atau katakan pada pria yang menipunya tersebut. " Halo, Gina. Apa kabar?" sapa Niko dengan mengulurkan tangannya. Gina mencoba menenangkan dirinya dan tetap tidak menyambut uluran tangan Niko dan itu membuat Lira memutar kedua bola matanya dengan malas. " Nggak sopan banget." ucapnya. " Lira..." tegur Thalia. Gina akhirnya menyambut uluran tangan Niko setelah pria tersebut memanggil namanya untuk yang kedua kalinya. " Baik." jawabnya singkat. " Bagus. Kita bisa ngobrol lain kali. Aku harap, tidak akan ada masalah diantara kita." ucap Niko dengan mengangkat wajahnya dengan angkuh. " Tentu." " Baik. Kalau begitu, aku mengantarkan teman aku dulu ke hotel. Lalu aku akan kembali kesini sebelum makan malam." ujar Niko dengan kembali berjalan ke arah sang teman wanita. " But babe, you said that---" " I'm sorry but i got something to do." " Ma, kami pergi dulu." " Kenapa? Kak Niko nggak betah karena ada orang baru?" sindir Lira. " Nggak. Aku yakin kami akan akur. Kamu tahu kalau aku selalu bisa akur dengan wanita cantik." jawab Niko yang membuat Gina serasa ingin menghajarnya. " Yeah... Terserah kalian semua saja. Yang satu tiba- tiba datang dengan istrinya yang satu tiba- tiba datang dengan bilang semua wanita itu cantik." ucap Lira malas. " Aku mau ke kamar. Kabarin aku kalau makan malam aja. Atau ada hal yang lebih penting." sambung Lira. " Aku pergi dulu, ma. Nanti aku kembali lagi dan mama harus ceritakan soal Tian. Dan oh ya, selamat datang kakak ipar..." ucap Niko dengan santai dan langsung berjalan meninggalkan wanita yang bersamanya tadi yang juga langsung berjalan mengikutinya. *** " Ini kamar Tian. Pelayan sudah membersihkannya tadi. Dan mulai sekarang ini juga menjadi kamu." jelas Thalia pada Gina. " Gina... Apa kamu baik- baik aja?" tanya Thalia karena menantunya tersebut hanya diam saja dan nampak memikirkan sesuatu sejak tadi. Ia bahkan mengurungkan niatnya untuk membicarakan sesuatu tadi dengan mengatakan ingin beristirahat sebentar. " Gina... Apa kamu baik- baik saja, nak?" tanya Thalia lagi. " Ah?... Oh iya, ma. Aku baik- baik aja. Aku... Aku hanya nggak sedang nggak fit aja." jawab Gina dengan asal. Ia mengurungkan niatnya mengatakan semuanya kepada Thalia dan berniat untuk menanyakannya dulu pada Niko. Ia harus tahu apa maksud semua ini dan dimana keberadaan ayahnya. " Kamu mungkin kecapean. Kemarin kamu selalu temanin mama di rumah sakit. Kalau gitu, kamu istirahat saja dulu. Mama tinggal sebentar ya..." " Ma... Ng... Anu... Itu kalau boleh, apa aku bisa tidur di kamar lainnya?" tanya Galina dengan ragu. " Kamar lain? Maksudnya? Kamu nggak mau sekamar sama Tian?" ucap Thalia balik bertanya dengan heran. " Bukan, ma... Bukan aku nggak mau. Ng... Tapi itu... Tian kan baru sembuh dan dia juga lupa sama aku. Aku rasa aku harus ngasih dia sedikit ruang untuk dirinya dulu. Aku nggak mau maksa dia dan aku... Aku juga masih sedih dengan sikap Tian, ma. Apa... Apa boleh aku tidur di kamar lainnya? Soalnya aku nggak mau Tian merasa dipaksa atau merasa aku menekan dia." jawab Gina mencoba memberikan alasan yang masuk akal. Tentu ia tidak ingin sekamar dengan pria yang tidak ia kenali. " Tapi, sayang... Apa bukannya lebih baik kalau kalian sekamar? Kalian bisa saling bercerita yang mungkin bisa membantu Tian mengingat semuanya secara pelan- pelan." " Ma... Aku... Aku nggak mau maksa Tian. Untuk sementara biar aja dulu kami tidur di kamar terpisah. Aku... Aku nggak mau memaksa Bastian." ucap Gina lagi. " Baiklah... Terserah kamu aja. Ada kamar tamu tepat di depan kamar ini. Mama akan suruh seseorang untuk merapikannya dulu. Kamu tunggu disini saja. Atau kamu mau jalan- jalan?" " Ini tempat pribadi Bastian. Makanya letaknya agak terpisah dari rumah utama dan dibatasi oleh sekat dan taman kecil di luar. Kamar tamu di depan biasanya ditempati asisten,teman dekat, atau pengacaranya saat mereka membicarakan atau mengerjakan sesuatu yang penting. Jadi tempat ini cukup tenang untuk kalian." jelas Thalia lagi. Sebenarnya ia kurang setuju dengan ide sang menantu, namun ia juga mencoba memahami perasaan gadis tersebut. Dilupakan oleh suaminya sendiri tentu bukan hal yang mengenakkan untuk seorang pengantin baru. " Iya, ma. Makasih ya..." ujar Gina dengan mencoba tersenyum. " Ya udah. Kamu istirahat disini dulu sebentar. Mama mau keluar dan ngabarin Bastian kalau kita sudah ada di rumah. Dia juga sejak tadi sudah memaksa Adrian untuk pulang." " Mama... Makasih ya. Semoga mama selalu sehat dan aku minta maaf sudah sangat merepotkan mama selama aku ada disini." ucap Gina dengan merasa bersalah. " Gina... Gina... Mana ada sih kamu merepotkan mama? Kamu itu menantu disini. Disini memang tempat kamu. Apapun yang mama lakukan itu semua sudah seharusnya mama lakukan sebagai seorang mama dari Bastian. Mungkin mama bukanlah yang melahirkan Tian, tapi yakinlah kalau mama menyayangi dia seperti anak kandung mama sendiri. Mama tidak pernah membedakan dia dengan Niko, Nikita dan Alira. Nggak sama sekali. Semua anak mama sama berharganya." jelas Thalia dengan tulus dan Gina tidak meragukan hal itu sedikit pun. " Iya, ma. Aku tahu itu." " Ya udah... Kalau gitu kamu istirahat disini dulu untuk sementara. Nanti kalau kamar kamu sudah siap, kamu bisa langsung ke sebelah." " Makasih, ma. " " Berhenti berterima kasih, Gina... Ini rumah kamu dan mama adalah mama kamu. Jadi nggak ada yang perlu kamu sungkani di dalam rumah ini." ucap Thalia dengan mengusap punggung Galina dengan lembut. Hal yang membuat gadis tersebut semakin merasa bersalah. Sepeninggal Thalia, Gina lalu kemudian menatap foto Bastian sewaktu kecil yang ia letakkan di samping tempat tidurnya dan tanpa sadar tersenyum karena pria tersebut terlihat sangat menggemaskan. Hal itu kemudian membuatnya sadar akan satu hal. (" Foto pernikahan!... Benar, hari itu Niko menolak untuk di foto sama aku. Dia malah hanya mau aku yang di foto sendirian. Aku juga nggak pernah melihat bentuk dokumen pernikahan kami dan dia yang mengurus semuanya.") " Aku harus melihat buku pernikahan itu. Aku harus melihat isinya." ucap Gina sendirian lalu meraih ponselnya untuk menelepon Thalia karena hanya dialah yang mengetahui pernikahan mereka. " Halo, Gina... Ada apa, sayang?" " Ma... Maaf aku mengganggu. Aku... Aku mau nanya sesuatu ke mama." " Apa itu?" " Ng... Akte pernikahan atau buku nikah aku... Apa ada sama mama?" tanya Gina dengan ragu. " Nggak ada, Gin. Mama sudah serahkan semuanya ke pengacara karena semua surat dan dokumen penting dan berharga memang disimpan sama pengacara Tian. Ada apa?" " Oh, nggak apa- apa, ma... Aku... Tiba- tiba aku hanya pengen lihat aja." jawab Gina seadanya. " Oh... Mama kebetulan sempat fotoin tempo hari. Semalam pengacara juga udah ngasih lihat ke Tian dan memastikan itu semua asli. Maaf, kamu jangan tersinggung ya... Tapi Tian sedang dalam kondisi yang kurang baik." " Oh... Iya, ma. Aku nggak masalah kok. Ma, apa aku bisa minta tolong mama kirim fotonya ke aku? Aku... Aku---" " Kamu kangen Tian?" tebak Thalia dengan tersenyum. " Sabar ya, Gin. Semuanya pasti akan membaik nantinya." " Iya, ma. Semoga saja." " Ya udah... Mama kirimi ke kamu sekarang ya." " Iya, ma..." Thalia lalu memutuskan panggilannya dan mengirimkan foto akte pernikahan Bastian dan juga Galina yang pernah di ambilnya tempo hari. Dan alangkah terkejutnya gadis berambut panjang tersebut ketika ia membuka pesan dari Thalia dan menemukan pas foto dirinya dan juga Bastian yang tertera disana. " Bagaimana bisa begini? Bagaimana bisa aku menikah dengan Bastian sedangkan hari itu Niko lah yang berdiri di samping aku?"! ucap Galina sambil memegangi keningnya yang terasa pening seketika. " Nggak mungkin... Aku pasti sudah gila. Bukan... Bagaimana aku bisa menjadi istri dari Bastian? Aku... Aku bahkan nggak mengenal dia." " Niko... Bajingann kamu! Kamu menipu aku. Kamu membohongi aku. Dan lihat saja, aku pasti akan buat perhitungan dengan kamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN