Bodoh dan Bermasalah

1180 Kata
" Iya, sebentar..." ucap Gina ketika mendengar ketukan di pintu kamar tamu yang telah ia tempati. Ia baru saja membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian yang ia kenakan sejak pagi tadi. Begitu terkejutnya Gina ketika ia menemukan sosok Niko yang langsung masuk ke dalam kamarnya tepat disaat ia baru saja membuka pintu tersebut. " Ngapain kamu kesini?" tanya Gina dengan kesal. " Justru aku yang mau tanya ke kamu. Kenapa kamu kesini?" ucap Niko balik bertanya. " Ya karena mama kamu nyuruh aku kesini. Dan sekarang aku mau kamu menjelaskan semuanya ke aku. Bagaimana bisa aku menikah dengan saudara kamu? Bagaimana bisa kamu mengaku kalau kamu adalah dia dan membohongi kami semua?!" tuntut Galina dengan marah. " Aku nggak harus menjelaskan apapun. Kamu memang menikah dengan Tian. Kamu istri Bastian dan sebentar lagi kamu akan jadi nyonya di rumah ini. Yang aku nggak mengerti adalah, kenapa kamu harus tinggal disini?! Aku sudah bilang kamu hanya harus menandatangani surat property milik kamu nantinya. Tunggu aku datang dan---" " Menunggu kamu datang?! Aku disini hampir gila memikirkan semua yang terjadi dan apa maksud semuanya, sedangkan kamu disana asik liburan dengan teman wanita kamu?! Dan kamu minta aku menunggu saat Bastian sendiri sudah sadar?! Iya?!" ujar Gina dengan marah. " Sadar? Apa maksud kamu dengan sadar? Tian sadar? Bukannya mama bilang dia koma?" tanya Niko dengan heran. " Iya, Nikolas Sebastian. Dia sudah sadar dan dia akan pulang sebentar lagi." jawab Gina dengan sinis. " Tapi... Bagaimana bisa? Bagaimana dengan---" " Benar! Bagaimana dengan aku! Bagaimana kalau dia ingat kalau dia tidak pernah menikahi aku. Bagaimana kalau dia melaporkan aku dan aku akan dituduh penipu. Kamu... Kamu yang sudah menipu aku. " Niko lalu nampak berpikir sesaat dan langsung berjalan mendekati Gina dan memegangi kedua lengannya dengan erat. " Dengar, apapun yang terjadi jangan lakukan apapun. Kasih aku waktu untuk memahami ini semua. Jangan pernah... Jangan pernah kamu sekalipun berani mengatakan apapun sama Tian, mama, atau siapapun. Pernikahan kita tidak pernah ada dan hanya ada pernikahan kamu dan Tian. Kamu mengerti?" ucap Niko dengan serius. " Kalau aku nggak mau kenapa?!" tantang Gina dengan lantang. Ia juga berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman tangan besar Niko. " Kalau kamu berani, maka kamu nggak akan pernah bisa melihat dimana ayah kamu berada. Sampai kapanpun aku nggak akan melepaskan ayah kamu dari penjara. Dan saat mereka tahu, kamu kira apa yang akan terjadi? Kamu kira akan ada yang mengasihani kamu? Apa mereka akan percaya dengan orang asing?! Tidak, Galina. Yang ada, mereka akan melaporkan kamu ke polisi dan menjebloskan kamu ke penjara. Kamu tidak tahu bagaimana berbahaya dan berkuasanya seorang Sebastian. Jadi jangan bertindak bodoh dan macam- macam! Cukup ikuti apa yang aku bilang, dan kita akan segera pergi dari sini." " Kamu bajingann! Kamu---" Tok Tok " Ibu Gina..." panggil seorang pelayan dari balik pintu kamar Gina yang membuat Niko langsung membekap mulutnya dan memintanya untuk diam sejenak. " Ibu Gina, saya Maya. Ibu Thalia minta ibu Gina ikut bergabung untuk makan malam." ucapnya lagi. Niko lalu perlahan melepaskan telapak tangannya dari Gina yang menatapnya dengan penuh amarah. Entah kenapa ia merasa mereka berdua bagaikan dua orang musuh yang saling berhadapan. " Iya, nanti saya menyusul." jawab Gina akhirnya karena Niko memaksanya untuk menjawab. " Baik, bu. Apa ibu baik- baik saja?" tanya Maya khawatir. " Iya, saya nggak apa- apa." " Baik, bu. Permisi." Setelah yakin tidak ada lagi orang di depan kamar tidur Galina, Niko kemudian kembali mendekati gadis tersebut dan mengingatkannya. " Ingat, Gina. Masa depan kamu ada di tangan aku. Semua surat berharga kamu, semuanya ada sama aku. Dan kamu tidak bisa berbuat apapun tanpa itu. Aku, Tian, dan kami semua bisa saja melaporkan kamu kalau kamu berbuat macam- macam. Jadi jangan bertindak yang aneh- aneh. Tunggu info dari aku." " Kenapa harus aku? Salah aku apa?" tanya Gina dengan kesal. " Entahlah... Mungkin karena kamu terlalu baik dan naif. Sudahlah... Sekarang kamu keluar, dan bersikap layaknya sebagai seorang istri dari Bastian. Jangan membuat siapapun curiga, terutama suami kamu itu!" ujar Niko lagi dengan tatapan mata yang tajam dan serius. " Niko... Apa kamu ada hubungannya dengan kecelakaan itu? Kenapa kamu terkejut waktu aku bilang Bastian sadar? Bukannya kamu harus senang? Kenapa kamu malah kaget dan marah? Apa kecelakaan Bastian akan menguntungkan kamu?" tanya Gina dengan serius. Hal yang membuat Niko mengeraskan rahangnya dan terlihat marah. " Bukan urusan kamu!" " Ini urusan aku karena aku harus berpura- pura---" " Pelankan suara kamu, Gina!" bentak Niko. " Berhenti bicara dan keluar menemui mereka. Buat mereka percaya kamu memang istri Tian, maka kamu bisa dengan cepat keluar dari rumah ini. Karena sekali kamu menginjakkan kaki ke rumah ini, maka akan sulit bagi kamu untuk keluar dengan tersenyum. Karena itulah kamu butuh bantuan aku. Jadi jangan banyak bicara!" ujar Niko lalu keluar dari kamar tersebut dengan langkah dan tingkah layaknya seorang pencuri. Tubuh Galina langsung meluruh ke tempat tidur yang terletak di sampingnya. Air matanya jatuh tanpa bisa ia kendalikan lagi. Bagiamana bisa hidupnya bisa seperti ini. Bagaimana bisa ia terjebak dalam keluarga ini. Bagaimana bisa pria yang dulu bisa membuatnya yakin untuk menikah meski mereka baru bertemu, kini bisa bersikap dan mengatakan hal sekasar tadi. (" Ini semua salah aku. Aku memang terlalu naif. Bagaimana bisa aku mengira seseorang dengan kualitas seperti gambaran seorang Bastian bisa jatuh cinta dan menikahi aku secepat itu? Aku yang bodoh. Aku yang naif. Aku yang terlalu cepat percaya jika cinta seperti itu memang ada. Dan bagaimana aku bisa mempercayai seseorang yang baru aku kenal? Akulah yang bodoh. Aku bodoh. Semua ini memang kesalahan aku.") batin Galina dengan tersedu. Gina lalu menyeka air matanya ketika sebuah pesan dari Niko masuk di ponselnya dan ia pun segera membuka foto yang telah pria tersebut kirimkan. Tangisnya semakin pecah ketika ia menatap gambar sang ayah yang sedang berada di dalam penjara sewaktu Niko menemuinya. " Ayah..." isaknya. Isak tangis yang sangat merindukan sang ayah yang sudah beberapa bulan tak ia jumpai dan tak ketahui keberadaannya. Dan kali ini Niko benar- benar membuatnya tak berdaya. Ia tahu dimana ayahnya di penjara namun ia malah menjadikannya tawanan agar Gina mau mengikuti kemauannya. " Tunggu Gina, ayah... Aku pasti datang menjemput dan membebaskan ayah. Tunggu aku." -- Aku nggak pernah percaya ada orang jahat di muka bumi ini, tapi hari ini aku baru yakin dan percaya kalau orang seperti kalian memang benar adanya. -- balas Gina pada Niko. -- Cepat keluar dari kamar kamu dan bersikap sewajarnya. Semakin lama kamu bergerak, semakin lama kamu bisa keluar dari rumah ini.-- balas Niko. -- Aku lupa, kamu semakin cantik, sayang...-- balas Niko lagi. -- Brengsekk kamu-- -- Aku yakin, Tian akan percaya kamu memang istrinya. Dia akan berterima kasih karena aku memilihkan istri yang cantik untuk dia, meskipun sedikit bodoh dan banyak masalah-- Galina melemparkan ponselnya ke tempat tidur dengan asal. Ingin sekali rasanya ia melampiaskan kemarahannya pada Niko dan segera pergi dari sangkar emas ini. Namun Niko benar, ia tidak bisa berbuat apa- apa saat ini. " Tunggu saja Niko... Suatu hari kamu akan membayar semua ini." ucap Gina lalu menyeka air matanya dengan kasar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN