Enjoy The Show

1180 Kata
Niko memasuki kamar Thalia yang sedang bersiap dan sudah nampak rapi untuk jamuan makan malam keluarga yang selama beberapa minggu terakhir jarang ia hadiri karena selalu bergantian dengan Gina untuk menjaga dan menemani Bastian di rumah sakit. Ia tersenyum karena sang putra langsung memeluknya dengan erat. " Nyonya Thalia cantik sekali. Apa ada yang penting untuk kita rayakan malam ini? Pakaian mama agak beda malam ini." ucap Niko yang langsung duduk bersandar di tempat tidur sang ibu setelah melepaskan pelukannya. " Mama hanya mau merayakan berkumpulnya kita semua dan juga menyambut bergabungnya satu anggota baru dalam keluarga. Kamu sudah ketemu Gina tadi kan?" " Hmmm..." gumam Niko. " Lalu bagaimana keadaan Tian, ma? Apa dia baik- baik aja? Bukannya kemarin waktu terakhir mama ngabarin, mama bilang kalau Tian sedang koma? Lalu..." tanya Niko mencoba mencari tahu. Thalia lalu duduk di kursi meja riasnya dan membayangkan apa yang ia rasakan pertama kali ketika melihat keadaan Bastian hari itu. " Mama takut banget hari itu. Mama takut sesuatu terjadi sama Bastian dan mama akan kehilangan anak mama." ucap Thalia. " Yeah, anak kesayangan dan kebanggaan mama. Sekaligus ATM berjalan semua orang." "Niko!. Berhenti menyebut Tian seperti itu. Dia saudara kamu." tegur Thalia. " Saudara? Yeah, saudara yang selalu sempurna di mata semua orang. Dia selalu terlihat seperti malaikat bagi kalian semua bagi kalian semua sedangkan aku selalu menjadi iblisnya."ucap Niko. " Lalu, bagaimana dia sekarang?" sambung Niko lagi sebelum sang ibu memulai ceramahnya lebih panjang. Membahas Tian bersama Thalia, sama saja dengan memperdebatkan tentang teori bumi datar bagi mereka. Sama- sama tidak akan ada habisnya. " Dia sudah sadar dan mama sangat bahagia. Andai kamu melihat keadaannya saat itu... Tian bagaikan sudah berada di ambang kematiannya. Dan mama sangat bersyukur dia sekarang baik- baik saja meskipun..." " Meskipun apa, ma?" tanya Niko karena Thalia tidak menyelesaikan ucapannya malah terkesan sedang menyembunyikan sesuatu. " Meskipun dia masih belum berada dalam kondisi yang baik. Tapi paling tidak dia sudah sadar dan baik- baik saja." jawab Thalia berkelit. Ia bukan ingin menyembunyikan kondisi Tian dari saudara- saudaranya, hanya saja ia melakukan permintaan Bastian tadi yang memintanya untuk tidak memberitahukan soal ingatannya kepada siapapun selain Galina yang sudah terlanjur mengetahuinya sejak awal. " Ayo, kita ke ruang makan. Mama mau melihat menu yang mereka siapkan malam ini." ucap Thalia dengan bersemangat. " Mama duluan aja... Aku mau ke kamar aku untuk ganti pakaian dulu." " Ya sudah... Jangan lama, Nikolas..." " Baik, nyonya Thalia." *** NIKO POV " Sialan, Tian!!! Bagaimana bisa dia masih hidup dan sekarang malah baik- baik saja?" Aku merasa sangat kesal dan marah mengetahui kondisi Bastian saat ini. Bagaimana bisa ia baik-baik saja sedangkan kecelakaan itu sudah aku buat sedemikian rupa buruknya. Aku bahkan melakukannya sendiri hanya agar lebih yakin bisa menyingkirkan pria brengsekk itu. Pria yang selalu saja mengguruiku sedangkan dirinya sendiri tidak jauh lebih baik. Ya, Bastian hanya lebih beruntung karena memiliki ayah yang kaya yang mewariskan segalanya kepadanya. Pria tua yang bahkan tidak memberiku apapun selain tunjangan setiap bulannya dan itupun dengan nominal sesuai persetujuan Bastian sang Maha Kuasa. Pria itu begitu keras dan pelit padaku meskipun aku sangat tahu betul jika hartanya tidak akan habis meskipun kami semua termasuk dirinya, hanya tinggal bersantai di rumah. Uang itu akan terus berputar dan mengalir bahkan jika Bastian sendiri sudah tidak ada sekalipun. namun karena hanya ingin selalu membuatku terlihat buruk di mata semua orang, maka ia malah dengan sengaja bekerja dengan keras hanya untuk membuatnya selalu lebih baik. Kerja keras katanya... Ia bahkan menyebutku pemalas dan ingin aku bekerja disalah satu anak perusahaannya. Namun alih- alih memberiku posisi atas di kantor pusat, ia malah menawarkanku menjadi karyawan biasa di cabang kecil dan itu bahkan di bawah dari posisi Aslan, suami Nikita. Entah mengapa Aslan mau saja menerimanya. Sekarang aku harus mencari cara bagaimana caranya supaya Gina bisa menjadi pewaris Bastian, atau paling tidak mendapatkan separuh dari harta kekayaan suaminya itu. Tentu saja Gina tidak akan mau, tapi selama hanya aku yang mengetahui keberadaan ayahnya, aku rasa ia masih akan tetap patuh padaku. Dan aku harus mencari cara lain untuk bisa menekan gadis itu agar ia tidak akan macam- macam lagi. Aku tahu ia bisa saja kabur dari sini, namun beruntung aku memiliki semua surat berharga miliknya karena ayahnya sendiri yang mempercayakan hal itu sewaktu aku membutuhkan ijin dan tanda tangannya sebelum pernikahan. Ia bahkan tidak menyadari jika foto yang aku sematkan dalam akte pernikahan kami adalah foto Bastian dan bukan aku. Jadi secara hukum, dia memang adalah istri sah dari saudaraku tercinta Our Perfect Bastian. Dan setelah Gina berhasil, maka aku akan kembali mendapatkan hatinya dan membawanya pergi. Karena, tidak bisa aku pungkiri, aku memang penyuka wanita cantik. Dan Galina... Galina adalah seorang gadis yang cantik meski kadang sangat keras kepala. Tapi aku yakin, aku bisa merebut hatinya lagi karena sejak awal ia memang sudah jatuh cinta padaku. " Bersabarlah sedikit lagi, sayang... Kita akan segera pergi dari sini dan kita bisa tinggal dimanapun kamu mau. Dan kita bisa melanjutkan malam pengantin kita yang tertunda. Maaf karena malam itu aku harus segera pergi dan meninggalkan kamu karena tiba- tiba Bastian mengubah rencana perjalanannya dan aku harus bergerak cepat. Tapi aku janji kita akan melanjutkan pernikahan kita setelah ini semua." ucapku sambil menatap foto Galina yang kuambil dengan ponselku di hari pernikahan kami. Aku lalu merapikan diri dan merapikan rambutku untuk ikut bergabung di ruang makan. Aku merasa akan ada pertunjukan malam ini mengingat sikap Alira tadi pada Gina. Dan seperti biasa, aku menyukai saat perempuan bertengkar. Aku menyukai bagaimana seekor kucing manis bisa tiba- tiba mengeluarkan taring dan cakarnya untuk membela diri dan berubah menjadi seekor cheetah yang beringas. Dan karena itulah aku punya ide yang lebih baik dengan mengundang Leika untuk makan malam. Untuk apa? Tidak ada... Aku hanya tahu jika Leika begitu terobsesi pada Tian dan mengajaknya kesini pastilah akan menyenangkan saat ia tahu ada wanita lain yang bersama pria pujaannya. Dan mungkin, karena Leika lah awal hubunganku dan Tian mulai bermasalah. Dulu, Tian dan Leika sangat dekat dan bahkan mungkin Tian pun juga menyukainya. Sampai... Ia mendapati aku dan Leika tidur bersama dalam keadaan mabuk. Yeah, aku masih mengingat bagaimana bersemangatnya Leika malam itu. Mungkin ia mengira jika aku adalah Bastian. Dan sejak saat itu, ia tidak mempercayai apapun ucapanku dan selalu menyuruhku untuk bekerja daripada hanya menghabiskan waktu dan uang dengan tidak jelas. Dan sekarang, aku dan Leika sudah tidak lagi mempermasalahkan hal itu dan menganggap itu hanyalah kesalahan kami sewaktu mabuk. Lagipula aku yakin, Leika sudah sering melakukannya dengan orang lain selain Bastian waktu itu. dan semestinya Bastian berterima kasih kepadaku karena ia bisa memiliki alasan untuk menjauhi wanita gila tersebut. Wanita yang selalu terlihat sangat haus akan belaian Bastian yang kini bahkan enggan menciumnya. Ponselku berdering dan nama wanita tersebut muncul di layar ponselku. " Leika..." sapaku. " Aku sudah sampai. Kejutan apa yang mau kamu kasih ke aku?" " You'll see..." " Oke... Apa Tian sudah kembali?" tanya Leika lagi. " Secepatnya" " Oke. Aku sudah masuk." Niko lalu memutuskan pangilannya dan tersenyum membayangkan kejadian selanjutnya. " Oke Bastian, let's start the show..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN