Gina sudah ikut bergabung di ruang meja makan mereka dengan mulai menyantap hidangan yang ada di atas piringnya. Beruntung ia pernah bekerja di sebuah restoran di kotanya hingga ia tidak begitu asing dan kesulitan dengan table manner ataupun peralatan makan yang begitu banyak di hadapannya. Ia masih tidak percaya akan mengalami ini semua ini saat ia merasa semua hal berbau kemewahan dan sebagainya hanyalah ada di dalam film yang biasa ia tonton.
" Mau tambah, Gina?" tanya Thalia yang duduk di sampingnya.
" Tidak, ma. Aku sudah kenyang." jawab Gina dengan tersenyum.
" Selamat malam semuanya..." sapa Leika ketika memasuki ruang makan keluarga Bastian.
" Selamat malam.... Lei..."sapa Thalia yang terlihat sungkan dan menatap Niko yang berjalan di belakang Leika dengan tatapan penuh curiga. Ia yakin ini semua ulah putranya tersebut.
" Apa kabar, tante...?" tanya Leika sambil berjalan ke arah Thalia dan mengecup pipinya dengan ramah.
" Baik, sayang. Kamu?"
" Aku juga baik. Gimana Bastian? Lira bilang kalau dia sudah sadar dan akan segera pulang." ucap Leika yang lagi- lagi membuat Thalia memandang putrinya. Ia bukan tidak menyukai kedatangan Leika yang selama ini sudah sangat dekat dengan keluarga mereka, hanya saja kali ini keadaannya telah berbeda dan ia tidak ingin membuat Gina menjadi tidak nyaman. Itulah sebabnya ia tidak memberitahukan Leika dimana Bastian dirawat selama ini dan meminta agar Leika mengerti dan tidak memaksanya.
" Oh... Baik... Dia sudah membaik. Dan sebentar lagi dia sudah bisa ikut bergabung dengan kita untuk makan malam bersama." jawab Thalia yang memandang Gina dengan tersenyum.
" Lei... Apa kamu sudah kenalan dengan anggota keluarga baru keluarga kami?" tanya Niko dengan senyum seringainya yang malah mendapatkan tatapan sinis dari sang ibu.
" Oh ya... Siapa? Aku rasa kami belum berkenalan." ujar Leika yang seolah sedang memindai penampilan Galina malam ini. Beruntung saja Thalia sempat membelikan beberapa barang keperluan menantunya tersebut saat mereka selesai makan siang bersama tadi.
" Halo... Saya Leika..." sambung gadis tersebut.
" Saya---"
" Selamat malam semuanya..."sapa seseorang yang membuat mereka semua beranjak dari kursi makan mereka dan langsung mendekati pria yang baru saja menampakkan dirinya tersebut.
" Kak Tian...." seru Lira dengan bersemangat dan menghambur ke dalam pelukan sang kakak dengan menahan air matanya.
Adrian yang mengantarkan Tian pun langsung mundur untuk membiarkan adik kakak tersebut saling melepas kerinduan.
" Hei... Jangan nangis dong..." ucap Bastian dengan memeluk erat adik perempuannya.
Gina yang ikut berdiri dari kursinya dan hendak mendekati orang- orang dengan ragu, menatap Niko dengan marah saat pria tersebut mengirimkan pesan kepadanya.
-- Cepat berdiri dan sambut suami kamu. Akan aneh kalau kamu sendiri tidak bahagia melihat dia kembali. Berhenti terlihat ketakutan seperti itu dan bersikap yang wajar.--
Galina lalu berjalan mendekati orang- orang yang sedang berpelukan tersebut dan berdiri tepat di samping Thalia yang langsung mengusap punggungnya sambil tersenyum.
" Aku takut banget sesuatu terjadi sama kak Tian. Aku---"
" Ssshhh... Aku udah disini dan baik- baik aja. Jangan nangis lagi." ucap Bastian dengan mengecup puncak rambut adik remajanya tersebut.
" Tian... " panggil Leika dengan mengulurkan kedua tangannya hendak memeluk bastian.
" Aku khawatir banget, Tian. Aku nggak mau sesuatu yang buruk menimpa kamu. Aku takut banget pas aku tahu soal kecelakaan itu." ucap Thalia masih dengan memeluk tubuh Bastian dengan erat sementara pria tersebut sudah melepaskan pelukannya dengan menatap ke arah Galina yang nampak tidak nyaman.
" Mereka berteman sejak masih kecil dan mereka cukup dekat." bisik Thalia yang mencoba mencairkan suasana kikuk diantara mereka. Sementara Niko sendiri nampak sangat puas membuat Bastian terlihat kewalahan dengan mantan kekasih dan juga istrinya tersebut.
" Gina..." panggil Bastian dengan melerai pelukan Leika dengan sopan dan mengulurkan tangannya pada sang istri.
Gina lalu mencoba tersenyum meski terlihat sangat jelas kekesalan yang ada di hatinya karena harus berada dalam situasi seperti ini. Sementara yang lainnya malah mengartikan sikap Gina ini adalah karena ketidak sukaannya terhadap sikap Leika pada suaminya.
Gina menyambut uluran tangan Bastian dan memeluknya dengan singkat sambil tersenyum.
" Kamu baik- baik aja?" tanya Bastian dengan lembut. Ia memang melupakan Galina adalah istrinya, namun bukan berarti ia harus bersikap tidak sopan kepadanya seperti beberapa hari terakhir di rumah sakit. Apalagi Thalia sudah mengatakan padanya untuk memahami perasaan sang istri yang pastinya terluka karena diabaikan dan bahkan dilupakan olehnya.
" Baik... Aku baik. Kamu?"
Bastian tersenyum dan mengangguk perlahan karena mereka berdua malah seperti orang yang baru berkenalan.
" Aku juga baik." jawab Tian.
" Ng... Gina... Gina ini siapa, Tian. Aku rasa kami baru pertama kali bertemu. Apa dia keluarga jauh kalian yang baru datang berkunjung?" tanya Leika yang heran dan tidak suka dengan tatapan dan juga senyuman yang Tian berikan pada wanita tersebut.
" Bukan. Dia bukan keluarga jauh kami. Tapi dia istri aku, Lei..." jawab Bastian yang malah menggenggam tangan Galina dengan erat.
" Apa? Istri? Lucu sekali, Tian..." ucap Leika dengan tersenyum.
" Halo, kak. Apa kabar?" tanya Niko menyela ketegangan Leika yang mulai nampak panik saat tidak ada seorangpun yang ikut tertawa bersamanya.
" Baik. Terima kasih." jawab Bastian dengan memeluk singkat Niko dengan satu tangan yang masih menggandeng tangan Gina.
" Selamat datang kembali ke rumah dan kali ini terima kasih sudah membawa seorang istri yang cantik." ucap Niko lagi.
" Istri? Kalian serius? Dia... Dia istri Tian?" tanya Leika lagi dengan tidak percaya dan seolah ingin mematahkan tangan Galina saat ini juga.
" Iya, Lei. Wanita cantik ini adalah istri Bastian. Istri kekasih kamu. Oh maaf, maksud aku mantan kekasih kamu." jawab Niko yang sengaja ingin membuat Leika dan Bastian kesal. Ia tahu, kini Bastian pasti merasa tidak enak pada keduanya meskipun ia dan Leika sama sekali tidak pernah terikat sebagai sepasang kekasih walau mereka pernah menghabiskan malam bersama.
" Tian... Apa... Apa ini serius? Kalian pasti sedang bercanda." ujar Leika lagi masih mencoba menenangkan dirinya sendiri sementara Lira hanya bisa tertunduk tidak enak dan Thalia sangat prihatin dengan posisi mereka semua saat ini. Keadaan ini sangatlah canggung baginya.
" Lei, apa kamu pernah melihat aku dan Bastian bercanda?"
" Niko!" ujar Thalia mengingatkan.
" Iya, Lei. Galina... Dia istriku. Kami baru saja menikah beberapa bulan yang lalu."
Leika hampir shock mendengar ucapan Tian barusan dan kini mencoba mengendalikan dirinya dengan cepat sebelum ia menyerang wanita yang masih percaya diri berada dalam genggaman tangan Bastian saat ini.
" Wow... Selamat ya... Aku... Nggak tahu harus bilang apa dan mungkin aku datang disaat yang tidak tepat. Ng... Aku... Aku pamit dulu." ucap Leika dengan gugup dan mencoba terlihat tegar.
Leika kemudian menggaruk keningnya dan memkasakan senyumnya saat ini.
" Aku permisi. Aku butuh penjelasan soal ini, Tian." sambung Leika yang tanpa segan mencium pipi Bastian.
" Selamat malam, Lei. Biar aku antar ke depan." ujar Niko.
Leika tidak menjawab dan hanya melambaikan tangan pada Thalia yang paham jika situasi ini pasti tidak mengenakkan bagi Leika yang memang sangat menginginkan Bastian. Namun ia juga tahu, jika yang lebih berhak untuk berada disini memanglah istri Bastian sendiri.
" Pertunjukan yang menyenangkan, Nik..." ucap Tian saat Nikolas melewatinya. Sangatlah bisa ia tebak jika semua ini memang rencana adiknya tersebut.
Niko hanya membalas Tian dengan senyuman smirk menjengkelkan khas dirinya dan membuat Gina seolah ingin merobek wajahnya.
(" Aku pasti sedang gila dan tidak sadar sewaktu jatuh cinta sama dia.") batin Gina.
" Gina... Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Bastian.
" Bi--- Bisa. Tentu saja bisa." jawab Galina.
" Baik. kita bicara di kamar saja. Aku cukup pusing sejak tadi berdiri."
" Oh... Iya. Biar aku bantu." ucap Gina dan dengan cekatan langsung hendak memapah Bastian yang malah tersenyum.
" Aku bisa sendiri. Makasih..." ujar Tian dengan sopan dan tersenyum. Begitu pula dengan Thalia dan Adrian.
" Oh... Maaf..." ucap Gina dengan kikuk.
Bastian lalu mempersilahkan istrinya tersebut untuk berjalan lebih dulu dan ia kemudian melambaikan tangan pada Adrian dan Thalia yang sedang tersenyum seolah menggoda dan mengejeknya saat ini.
" Pelan- pelan aja, Tian. Kalian punya banyak waktu." goda Adrian sebelum akhirnya Bastian ikut berjalan mengikuti Galina menuju kamar tidur mereka.
(" Kira- kira apa yang mau Bastian bicarakan? Apa yang harus aku jawab nantinya? Bagaimana aku harus menghadapi Bastian? Aaarrgghhh... Tenang, Gina... Paling tidak Tian bukanlah orang jahat dan dia percaya kalau kamu adalah istrinya. Tentu dia nggak akan menyakiti istrinya bukan? Dia bukan psikopat bukan?. Tunggu, tapi bagaimana kalau dia mau.... Ya Tuhan!!! Niko Sialann!!!") batin Galina ketika mereka melewati taman buatan dan jembatan kecil dimana terdapat kolam buatan di bawahnya untuk menuju ke bagian pribadi milik Bastian di rumah tersebut.