Aku Kembali

1318 Kata
Bastian menuntun sang istri untuk masuk ke kamarnya dan duduk di sebuah sofa panjang yang terdapat di bagian ujung tempat tidur berukuran besar miliknya dan ia pun juga ikut duduk di samping sang istri. " Kamu mau minum atau apa mungkin?" tanya Bastian ketika melihat ketegangan di wajah wanita tersebut. Gina menjawab pertanyaan Tian dengan menggeleng dan tatapan polosnya. " Bagaimana hari pertama kamu di sini? Apa semuanya bersikap baik sama kamu?" tanya Tian lagi dan di jawab Galina dengan anggukan dan gelengan yang malah membuat Tian tersenyum. " Apa kamu butuh sesuatu?" " Iya.." jawab Galina akhirnya. " Apa itu?" " Aku mau kita bercerai." jawab Gina yang membuat Tian mengerutkan keningnya. " Bercerai? Tapi kenapa?" tanya Bastian dengan heran. " Lagi pula untuk apa kita melanjutkan semua ini? Toh kamu juga nggak ingat sama aku. Kamu juga ternyata punya kekasih. Dan aku...Aku menjadi orang asing buat kamu. Bukannya akan lebih mudah kalau kita berpisah saja? Aku... Nggak mau semakin menyulitkan kamu dan itu akan menyakiti aku nantinya. Aku nggak mau kamu menyesali semuanya." jawab Gina dengan menatap wajah Bastian yang dengan ragu menyentuh punggung tangannya dengan lembut. " Gina, pertama aku mau kamu tahu kalau aku minta maaf dan merasa bersalah dengan aku melupakan kamu. Aku juga membenci keadaan ini. Tapi percayalah, kalau ada hal yang sangat aku inginkan untuk ingat saat ini, adalah saat kebersamaan kita. Dan aku yakin, aku menikahi kamu dengan cara seperti itu, aku pasti punya alasan yang logis dan aku nggak akan gegabah untuk memilih pasangan hidup. Jadi kalau aku menikahi kamu, itu berarti ada sesuatu yang istimewa yang aku lihat dalam diri kamu." ucap Bastian. " Tian, kita tidak harus memaksakan diri. Kalau kamu melupakan aku, mungkin karena hubungan kita tidak sepenting dan sedalam itu. Dengar, aku nggak akan menyalahkan kamu atau menuntut apapun sama kamu. Aku rasa... Kita hanya harus berpisah saja. Itu akan lebih mudah untuk kita berdua." " Gina, apa... Apa kamu hamil? Maksud aku, apa kita menikah karena kamu hamil?" tanya Bastian yang membuat Gina membelalak. " Apa?! Tidak... Tentu saja tidak. Aku nggak hamil sama sekali." jawab Gina dengan sangat yakin. Bastian menghela nafas dengan lega dan tersenyum pada Gina yang malah terlihat kesal. " Aku senang karena itu berarti aku nggak terpaksa menikahi kamu. Pasti ada hal lain yang istimewa yang membuat aku bisa menikahi kamu. Tapi... Kenapa kamu ingin kita berpisah? Apa kamu menginginkan sesuatu setelah perceraian kita? Maksud aku, keuntungan apa yang akan kamu dapatkan dari perpisahan kita? Bukannya akan lebih baik kalau kita tetap bersama?." " Maksud kamu harta kamu? Percayalah, Bastian... Aku sama sekali tidak menginginkan dan tertarik dengan uang dan harta kamu. Pakaian ini saja andai tadi aku tahu semua ini mama kamu beli untuk aku, aku pasti sudah menolaknya. Dan andai aku tidak memakai ini, aku yakin orang- orang tadi akan semakin bahagia menghina aku." ucap Gina dengan tersenyum getir. " Dan seperti yang kamu sendiri lihat tadi, hanya mama kamu yang menyukai aku. Disini bukanlah tempat aku dan kita sangat berbeda. Aku nggak mau keadaan semakin memburuk nantinya." sambung Gina dengan sendu. " Aku minta maaf soal yang tadi. Dan aku pastikan hal seperti tadi tidak akan terulang. Dan juga, aku mau kamu tahu kalau Leika dan aku hanyalah berteman dan bukalah sepasang kekasih. Kami dulu memang pernah sangat dekat tapi itu semua sudah lama berlalu. Kalau soal Lira... Aku akan menegur dia untuk lebih menghormati kamu. Karena biar bagaimanapun, kamu adalah istri aku dan tempat kamu adalah disini." ujar Tian. " Tian, aku..." " Kita punya banyak waktu untuk memulai semuanya dari awal. Kita akan kembali saling mengenal dan aku sangat penasaran kenapa aku bisa memutuskan menikahi kamu dengan cara seperti itu. Dan aku minta maaf kalau kamu merasa aku nggak menghargai kamu dengan menikahi kamu dengan cara yang aku sendiri tidak bisa mengingatnya. Kita lupakan saja ide soal perpisahan oke? Kita akan berusaha memperbaiki semuanya. Aku---" " Tian.... Apa susahnya sih kamu menceraikan aku saja? Nggak ada yang perlu kita bicarakan, nggak ada yang perlu kita pertahankan." " Gina... Kita tidak akan bercerai. Dan kamu nggak bisa memaksa aku. Aku tahu aku salah dan kamu mungkin terluka, tapi aku akan mencari jalan bagaimana semuanya akan baik- baik saja. Percaya sama aku." ucap Bastian dengan serius. " Oh ya... Apa kita bahagia saat kita menikah hari itu?." tanya Tian hendak mengalihkan pembicaraan. Entah mengapa ia tidak menyukai topik soal ide perceraian tersebut. Tentu ia tidak akan menceraikan Gina saat ini dan yang pasti, ia harus mencari tahu dulu apa yang sebenarnya telah terjadi. Ia yakin ada sesuatu yang janggal saat ini. Dan pengacaranya pun mengatakan hal yang sama. Karena itulah Tian bergerak cepat dan menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari tahu soal kecelakaan dan pernikahannya. Ia yakin semua ini tidak terjadi secara kebetulan dalam waktu yang sangat berdekatan. " Iya... Tapi aku nggak tahu kalau kamu bahagia, yang jelas hari itu aku bahagia." jawab Gina dengan tertunduk. Ia memang bahagia saat itu meskipun hanya untuk beberapa jam sebelum Niko meninggalkannya. " Maafkan aku... Aku nggak ingat tapi aku pasti bahagia saat itu. Siapa juga yang tidak akan bahagia saat menikahi wanita cantik yang dicintainya, bukan?" ( " Dia bilang apa tadi?... Aku cantik?") batin Gina yang menelan salivanya saat mendapati Bastian menatapnya dengan lekat. " Aku..." " Gina, kenapa kamu nggak bahagia saat melihat aku? Apa kamu sangat marah sama aku?" tanya Tian lagi yang kini semakin mendekatkan tubuhnya pada sang istri. " Bukan.. Bukan begitu... Aku hanya... Gugup" jawab Gina sekenanya. " Gugup? Kita suami istri dan kamu malah gugup ketemu aku?" goda Bastian yang entah mengapa membuat jantung Galina berdebar dengan tiba- tiba. " Bastian... Aku---" ucap Gina yang malah terdengar manja di telinga Tian saat ini. Tak bisa Bastian pungkiri jika sang istri memang cantik dan menarik. Ia juga terlihat menggemaskan saat merasa gugup seperti saat ini dan tadi. Dan alangkah terkejutnya Gina ketika wajah Tian sudah berada di depan wajahnya dan seolah ingin menciumnya. Harus ia akui jika Bastian memang tampan, namun untuk menerima ciumannya akan membuat segalanya akan rumit. Bagaimana jika setelah mereka berciuman, Bastian akan mengingat semuanya?. Pikir Gina dengan asal. Gina akhirnya memalingkan wajahnya dan membuat Bastian akhirnya hanya mencium pipinya sesaat. " Maaf... Aku... Aku hanya merasa kalau---" " It's okay... Kita punya banyak waktu." ucap Bastian lagi lalu mengecup kening sang istri dan itu membuat Gina semakin berdebar tak karuan. " Tian... Tolong pikirkan lagi soal ucapan aku tadi. Aku nggak mau kamu memaksakan diri kamu. Aku nggak apa- apa dan aku mengerti keadaan kamu." " Gina... Aku sudah kembali dan aku akan menjadi suami yang baik untuk kamu. Bantu aku untuk mengingat semuanya kembali. Aku mau ini semua berjalan dengan baik. Hubungan kita akan baik- baik saja. Aku ingin mengenal kamu lebih jauh." ucap Tian lagi dengan lembut. " Hufftt... Terserah kamu saja... Aku nggak tahu harus bilang apa lagi." ucap Gina dengan lesu dan berdiri dari posisi duduknya. " Kamu mau kemana?" tanya Tian sambil menarik pergelangan tangan Gina dengan lembut ketika melihat sang istri yang hendak beranjak darinya. " Aku mau istirahat di kamar." jawab Gina dengan santai. " Di kamar mana? Bukannya ini kamar kita?" tanya Bastian dengan heran. " Nggak. Aku tidur di kamar sebelah." " Kenapa?" " Aku nggak mau kamu nantinya nggak nyaman. Aku hanya mau kamu punya ruang untuk diri kamu sendiri." jawab Gina semakin berjalan menjauhi Bastian yang ikut berjalan mengikutinya. " Aku... Aku nggak masalah kamu tidur disini. Bukannya lebih baik kalau kita lebih banyak mengobrol?" ucap Bastian yang berusaha meyakinkan istrinya untuk tetap tinggal di kamar tidurnya. " Kamu harus banyak istirahat, Tian. Aku di kamar sebelah dan kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa panggil aku." " Gina... Aku---" " Selamat malam, Tian. Aku senang kamu kembali dan baik- baik saja. Sungguh..." ucap Gina ketika sudah berada di ambang pintu kamar Bastian. " Selamat malam, Gina... Terima kasih sudah ada disini sama aku." jawab Tian dengan tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN