In Trouble

1486 Kata
"Apa?!" seru Gina pada Niko yang meneleponnya. " Kamu dimana?" tanya Niko dengan serius. " Menurut kamu?!" " Aku serius Gina... Kamu dimana? Apa Tian bersama kamu?" " Aku di kamar Bastian. Kenapa?" " Kamu sekamar dengan Tian?" " Apa yang aneh? Bukannya dia suami aku? Kenapa kamu harus heran?" " Dengar, aku hanya memperingatkan kamu kalau Tian tidak sebaik kelihatannya. Dia itu bajingann!" " Tentu saja, kalian satu perguruan bukan? Apa ada yang lebih penting mau kamu bicarakan? Aku mengantuk dan Tian sudah menungguku." " Jangan macam- macam, Gina! Kalian bukan suami istri!" " Kata siapa?! Semua orang tahu kami suami istri. Kalaupun bukan, apa salahnya kami tidur bersama? Tidak ada yang tahu juga kan?" ucap Gina dengan sinis. " Ohh... Jadi kamu mulai berani? Baik, Galina... Bersenang- senanglah dengan Tian selama kamu bisa. Karena begitu dia tahu kalau kamu membohonginya, bisa aku pastikan itu akan jadi hari terakhir kamu melihat sinar matahari. Lagipula, Tian tidak sehebat itu di tempat tidur!" ujar Niko dengan marah. " Aku akan buktikan sendiri. Dan kamu tahu, Bastian sangat malang karena punya saudara seperti kamu." " Diam dan tetap bersikap yang wajar. Sekarang buka jendela kamar kamu sebelum aku bikin keributan disini." " Apa?!. Buka jendela kamar?" tanya Gina sambil bangkit dari tidurnya dan menyingkap tirai panjang yang menutupi kaca besar tersebut. Dan benar saja, Niko berada di taman yang berada di luar kamar tidurnya. " Mau apa kamu?" tanya Gina sambil membuka jendela kamarnya dengan kesal. " Aku mau mengingatkan kamu kalau Tian itu pintar dan licik. Jangan sampai dia berhasil memperdaya kamu dan kamu akan dengan polosnya mengikuti kemauan dan mengatakan semua kepada suami palsu kamu itu!" ucap Niko dengan serius. " Kalian bikin aku muak. Dan kamu ataupun Bastian tidak bisa lagi membodohi aku dan memanfaatkan aku untuk dendam pribadi kalian berdua. Aku masih ada di sini semua hanya karena ayah aku. Dan sampai kamu melakukan sesuatu sama ayah aku, aku bersumpah akan membuat kamu berakhir di penjara. Apapun akan aku lakukan untuk membalas semua perbuatan kamu!" " Kamu mengancam aku?!" ujar Niko dengan mencengkeran lengan Gina dengan kasar. " Iya. Aku mengancam kamu seperti kamu mengancam aku. Aku tidak takut kamu akan mengadu domba aku dengan siapapun di rumah ini atau mengambing hitamkan aku untuk kesalahn kamu, tapi yang jelas aku nggak akan membiarkan satu orang pun mengancam aku lagi." Niko tersenyum sinis lalu mencengkeram rahang Galina dengan kasar dan mendekatkan wajah mereka. " Kenapa kamu sepercaya diri ini?! Huh?! Apa Tian mengatakan sesuatu? Katakan dia bilang apa?!" " Kamu takut sama Bastian? Kamu takut dia akan membela aku?" tanya Gina yang semakin membuat Niko kesal. " Kamu terlalu banyak bicara..." ucap Niko yang langsung berusaha untuk mencium bibir Gina dengan paksa. Gina yang merasa terhina dengan sikap pria tersebut berusaha dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Niko hingga akhirnya ia bisa terbebas dari rengkuhan pria tersebut. " Kamu mabuk?!" tanya Gina karena bisa merasakan bau alkohol dari nafas Niko sewaktu bibir mereka sudah sangat dekat. " Kamu munafik sekali, Gina. Dulu kamu suka kalau aku memeluk dan mencium kamu. Kenapa sekarang kamu malah menolak? Bukankah aku suami kamu? Akulah yang menandatangani surat itu, sayang. Akulah yang berdiri di samping kamu. Ayolah, Gina... Sekali saja. Kamu kelihatan sangat cantik malam ini. Dan aku sangat butuh kehangatan." racau Niko sambil berbaring tak karuan di tempat tidur milik wanita tersebut. " Bajingann!!! Brengsekk kamu, Niko! Aku akan buat kamu membayar semua ini!" ucap Gina sambil menyeka air matanya yang mulai menggenang sejak menerima perlakuan Niko barusan. Gina lalu mengusap air matanya dan memakai jubah tidur miliknya untuk segera keluar dari sana sebelum Niko terbangun dan melakukan hal bodoh lainnya. Ia kemudian berjalan keluar dari kamar tidurnya ke arah taman yang terudu letak di sisi lain tempat tersebut dan tidak mengetahui jika jalan kecil yang ia lalui bersambungan dengan taman yang mengelilingi kamar tidur Bastian. " Gina..." panggil Tian ketika melihat sang istri yang duduk di ujung kolam renang kecil yang ada disana. " Tian..." " Kamu ngapain disini sendirian?" tanya Tian dengan lembut dan ikut duduk di samping Galina yang mencelupkan kakinya ke dalam kolam. " Maaf... Aku nggak tahu kalau ini menuju kamar kamu. Aku hanya jalan- jalan dan nggak bermaksud mengganggu kamu atau area pribadi kamu." ucap Gina dengan tidak enak dan hendak berdiri. " Kenapa sih kamu selalu menghindari aku? Duduk disini saja" ujar Tian dengan menahan pergelangan tangan sang istri. Gina lalu kembali duduk dan menundukkan kepalanya sambil menatap kakinya yang ia gerakkan perlahan di dalam air sana. " Mau cerita ke aku?" tanya Tian sambil menyentuhkan kakinya dan Gina dengan sengajauntuk menarik perhatian wanita tersebut. Gina lalu mencoba tersenyum dan menggelengkan kepalanya sambil menoleh pada Bastian. " Kamu kenapa belum tidur?" tanya Gina akhirnya. " Aku... Ngerasa gelisah aja." jawab Tian singkat. " Kenapa? Ada yang sakit? Ada yang nggak nyaman?" tanya Gina khawatir dan membuat Tian tersenyum. " Kamu khawatir sama aku?" tanya Bastian dengan tatapan yang dalam ke manik mata Gina yang langsung terlihat salah tingkah dan gugup terlebih lagi karena Bastian menggenggam tangannya dengan lembut. " Ten... Tentu aja aku khawatir. Kami... Kami semua sangat khawatir tentang kamu." " Gina... Kenapa aku malah merasa kalau kita baru saling mengenal... Kamu selalu menghindari aku. Apa sebelum kecelakaan, kita punya masalah atau aku berbuat kesalahan sama kamu?" tanya Bastian sendu dengan menyalipkan rambut panjang istrinya ke telinga. Dan kini itu malah membuat Gina semakin merona. " Nggak ada, Tian. Kita nggak punya masalah dan kamu nggak salah apapun. Aku hanya tidak mau memaksakan diri. Kamu belum pulih benar dan kesehatan kamu adalah yang paling penting." " Kamu benar... Aku rasa aku juga nggak mungkin menyakiti kamu." " Kenapa?" tanya Gina heran dengan maksud ucapan pria tampan tersebut. " Karena kamu terlalu cantik dan terlalu baik untuk aku sakiti." Gina tersenyum dan menengadahkan kepalanya ke atas hanya agar Bastian tidak melihat betapa merasa bersalahnya ia saat ini. Namun itu malah terlihat seksi di mata Bastian saat ini karena ia bisa melihat garis leher dan tulang selangka sang istri yang tersingkap. " Apa kamu selalu seperti ini sama semua perempuan? Bahkan sama orang asing atau orang yang nggak kamu kenali?" canda Galina. " Nggak. Aku hanya begini sama kamu dan kamu bukanlah orang asing. Kamu adalah istri aku dan aku senang akan hal itu. Aku hanya penasaran sama sesuatu di dalam diri kamu yang membuat aku bisa memutuskan untuk menikah secepat itu dan tanpa persiapan apapun." jawab Tian dengan jujur. " Apa aku boleh memeluk kamu?" tanya Tian dengan wajah penuh harap. Ia hanya ingin memeluk sang istri agar bisa kembali mengingatkan dirinya sendiri. Gina menelan salivanya dan akhirnya mengangguk dengan perlahan. " Maafkan aku ya... Tapi kalaupun ada hal yang sangat aku inginkan saat ini adalah hanya agar aku bisa mengingat tentang kita." bisik Tian dalam pelukan eratnya pada tubuh sang istri. Memeluknya erat dan menghirup aroma tubuh Galina dari lekuk leher dan rambutnya. Dan entah mengapa, keduanya merasa begitu nyaman meski jantung mereka sama- sama berdebar tak karuan. ( Ya Tuhan.... Apa ini? Kenapa dia selalu bersikap begitu manis ke aku? Gina... Jangan bilang kalau kamu suka sama Bastian... Sadar, Gina!) batin Gina yang kini sedang memejamkan matanya dan merasa sangat nyaman berada dalam pelukan tubuh kokoh Bastian yang merengkuhnya dengan erat meski tetap terasa lembut. Gina akhirnya membuka matanya dan langsung mendapati Niko yang berdiri dan memandangi mereka dari kejauhan dengan tatapan penuh amarah. Gina kemudian melepaskan pelukannya di tubuh Bastian dan begitupun pria tersebut meski ia enggan dan masih menginginkan sedekat ini dengan wanita yang entah sejak kapan mulai menarik di matanya tersebut. " Kita istirahat yuk... Kamu pasti capek..." ucap Bastian sambil mulai hendak berdiri dan menarik tangan Gina dengan lembut. Gina yang masih bisa melihat kehadiran Niko yang tak jauh dari jendela lebar tempat Bastian keluar tadi, langsung panik dan takut jika Tian melihat kehadirannya disana. " Tian!" seru Gina sambil menarik tangan Bastian yang baru akan menoleh dan melangkahkan kakinya. " Iya... Kenapa?" tanya Tian heran dengan reaksi sang istri yang tiba- tiba memanggilnya dengan suara yang lebih tinggi padahal jarak mereka sangatlah dekat. " Itu... Anu... Tian..." ucap Gina dengan gugup karena tidak tahu harus mengatakan apa dan kini Bastian malah hendak menoleh ingin mengikuti arah pandangnya yang menuju pada Niko. Dengan cepat Galina langsung menarik wajah Bastian dan membingkai wajahnya dengan kedua telapak tangannya. " Ada apa?" tanya Bastian dengan heran. " Aku... Aku kangen sama kamu." jawab Gina dengan asal dan langsung memeluk erat tubuh Bastian. Bastian yang terkejut dan tersenyum lalu dengan senang hati membalas pelukan sang istri bahkan dengan pelukan yang lebih erat hingga tubuh langsingnya sedikit terangkat dan itu sangat membuatnya bahagia. " Aku menunggu kamu untuk bilang hal ini sejak kemarin. Terima kasih, sayang..." bisik Bastian dengan mengecup singkat leher Galina yang sejak tadi menyita pemandangannya. (" Sayang? Sayang?! Tian panggil aku sayang???!!! Tapi kenapa aku jadi deg- degan dan kegirangan kayak gini? Oh Gina, kamu dalam masalah besar sekarang.")
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN