DENGAN setelan baju seadanya yang dapat ia temukan di dalam susunan teratas pada koper milikinya, Nasya secepat kilat merapihkan dirinya didepan cermin yang tergantung diatas wastafel kamar mandi. Sudah tak lagi memperdulikan penampilannya pagi ini meskipun waktu masih menunjukan pukul enam lebih tiga puluh pagi, Nasya memilih untuk melanjutkan langkahnya. Terlihat menenteng wedges hitam itu di kedua tangannya, tak lupa dengan mata yang kini tengah waspada terhadap sekitar. Berjalan mengendap-ngendap layaknya maling, tak ingin ada satu orangpun yang terbangun dan melihat dirinya, terutama jika orang itu adalah Derren. Rasa malu akibat kejadian semalam, benar-benar menampar Nasya kuat. Membuat gadis itu enggan untuk berhadapan dengan sosok yang sudah membuatnya tak dapat memejamkan mat

