Atma sedang menumis bumbu yang entah apa namanya, kemudian ia memasukan nasi ke dalam dan mengaduknya perlahan-lahan. Sambil menunggu, laki-laki itu mengambil gelas, menuangkan air panas kemudian s**u dan mengaduknya perlahan juga. Semuanya, semuanya bisa Kala lihat dengan jelas dari tempat di mana sekarang ia berada-- di bawah tangga yang tepat mengarah ke arah dapur.
Prraang~
Tak sengaja Atma menyenggol gelas yang lain, membuat Kala reflek bergerak untuk mendekatinya.
"Sepertinya sulit. Perlu bantuan?" kata Kala setibanya ia di belakang Atma. Laki-laki itu menengok dan tersenyum entah untuk apa.
"Tidak. Sebenarnya mas ini jago banget kok. Sudah ya, kamu tunggu di meja makan saja." Atma bangkit kemudian menuntun Kala untuk duduk di kursi dan menyaksikan Atma beraksi tentu saja.
Atma yang Kala lihat sekarang tentu saja berbeda dengan Atma beberapa tahun, bulan, minggu bahkan hari yang lalu. Sikap dingin laki-laki itu mulai berkurang atau bahkan akan menghilang, tentu saja itu menjadi perubahan yang sangat besar. Yang tak pernah diduga bahkan oleh Kala sekalipun. Kala senang bukan kepalang.
"Nasi goreng sudah siap." ucap Atma sambil menyajikan dua piring dan dua gelas yang berisikan s**u di meja makan.
"Thank you, chef!" balas Kala dengan senyum semringahnya sedangkan Atma sudah duduk di samping Kala dan mengambil sendok, mulai memakan nasi goreng buatannya sendiri.
"Aku ke kamar mandi dulu ya." kata Kala yang diangguki Atma.
Sebagai percobaan pertamanya membuat nasi goreng tentu saja ini tak bisa dikatakan buruk. Tapi sepertinya ada sesuatu yang ia lupakan, Atma mengingat-ingat.
Ah, iya.
Dimana ia meletakan ponselnya?
Di kantung celananya? Tidak ada? Di dapur? Tidak ada juga.
"Mas, Briana telepon."
Ponselnya berada di tangan Kala. Briana telepon. Mendadak, semuanya membuat Atma bergeming.
|•|
Hari sudah malam tapi Kala masih berbaring di dalam dekapan Atma, merasakan kebersamaan yang sangat jarang terjadi, sebuah momen yang mahal. Delapan jam sudah mereka menghabiskan waktu di dalam kamar, menonton televisi, film sampai mendengar lagu semuanya dilakukan bersama-sama.
"Kala~" sambil mengelus rambut Kala, Atma memanggilnya dengan lembut membuat mata Kala yang ingin terpejam kembali terjaga.
"Ya?" Kala membetulkan posisinya menjadi berbaring sambil menatap Atma yang memposisikan tubuhnya menyamping dan menyangga kepalanya dengan tangan kirinya sambil menatap Kala.
"Aku di sini sama kamu, selalu Kal." kata Atma sambil mengecup dahi Kala. Entah karena apa, Kala rasa ada yang berbeda dengan sikap Atma semenjak ia keguguran. Sikap Atma jauh lebih manis yang tak pernah terbayangkan oleh Kala.
Atau, ada sesuatu yang sedang Atma alihkan?
|•|
"Mendesak?"
Atma langsung mematikan sambungan teleponnya dan menatap Kala yang sedang menatapnya penuh tanya. Ini pukul tiga pagi, tak ada orang yang menelepon sepagi ini jika memang tidak mendesak. Ya, mendesak, Atma bilang seperti itu di teleponnya tadi.
"Ada apa? Siapa?" Kala langsung mengajukan pertanyaannya pada Atma yang sedang berdiri dengan gelisah sambil memainkan ponselnya.
"Briana."
Oke.
Briana.
Seingat Kala, ini sudah kedua kali wanita itu menelepon Atma.
Atma duduk di pinggir ranjang--di samping Kala, "Kala, mas minta maaf ya. Mas harus melakukan perjalanan bisnis lagi ke Yogyakarta karena harus bertemu client membahas hotel yang akan mereka bangun."
Kala membuang tatapannya, menatap lurus ke depan. Kata cuti dan surat permohonan izin cuti yang katanya sudah ditanda tangani HRD itu kini hilang begitu saja, satu-satunya hal yang tak Kala suka saat Atma mengajukan cuti ialah pekerjaannya bisa kapan saja menuntut Atma untuk meninggalkan dirinya--sendirian.
"Mas tidak tahu akan seperti ini, semuanya mendadak dan mendesak." kata Atma mencoba memberi pengertian pada Kala.
Kala menatap Atma, membuang napasnya perlahan. "Ya. Kapan berangkatnya?"
"Pagi ini."
Kala berdiri kemudian menatap Atma, "yasudah mas tidur lagi aja, nanti subuh aku bangunin. Aku siapin keperluan mas dulu." katanya sambil melangkahkan kaki menjauhi Atma tapi laki-laki itu justru menarik tangan Kala membuat wanita itu kembali duduk lagi.
"Tidak perlu, kamu tidur lagi ya. Mas mau mengecek beberapa e-mail terlebih dahulu. Biar keperluan mas, mas saja yang siapkan. Mengerti?"
"Mas?"
"Ini perintah. Tidak ada penolakan." katanya yang membuat Kala menciut dan menuruti perkataannya.
|•|
Perkiraan cuaca memang tak bisa diduga. Yang tadinya hujan deras kini menjadi terik panas matahari sejak Atma menginjakkan kakinya di Yogyakarta. Atma mengambil ponsel yang berada di kantung jasnya. Atma langsung mengangkatnya saat ia melihat nama Kala di layar ponselnya.
"Assalamualaikum, ada apa Kal? Kamu baik-baik saja 'kan?"
"Waalaikumsalam, ngga ada apa-apa mas aku cuma mau mastiin kamu sudah sampai atau belum."
"Eh, iya. Mas lupa mengabari kamu tadi. Mas sudah sampai dengan selamat, secepatnya mas bereskan pekerjaan dan melanjutkan cuti mas, ya?"
"Mas,"
"Ya?"
"Ngga usah buru-buru. Kamu selesaikan pekerjaan kamu dengan baik. Soal aku, ngga usah dipikirkan ya?"
"Kal?"
"Ya?"
"Teleponnya mas akhiri ya? Mas mau meeting dulu, nanti mas kabari lagi."
Atma sudah mengakhiri sambungan teleponnya bahkan sebelum Kala menanggapi ucapannya dan berjalan beriringan dengan Briana yang berada di sampingnya.
"Kala?" Briana langsung bertanya saat Atma memasukan ponselnya kembali ke kantung jasnya.
Atma hanya mengangguk.
|•|
Sebetulnya Kala sudah terbiasa dengan kondisi ini, kondisi di mana-mana bisa kapan saja Atma meninggalkannya untuk masalah pekerjaannya tapi entah semenjak kejadian buruk yang menimpanya terasa aneh saja jika berjauhan dengan Atma. Tadi setelah menelepon Atma, perasaan Kala malah tak tenang. Sekarang atau tepatnya sejak keguguran Kala jadi suka yang berpikir macam-macam terlebih dengan sikap Atma yang langsung menutup teleponnya bahkan saat sebelum Kala mengucapkan kata-kata yang memang ingin ia katakan.
"Mbak, aku numpang sarapan di sini ngga apa-apa 'kan?"
Lamunan Kala langsung buyar saat menatap Lingga yang berada di hadapannya dengan sepiring nasi goreng buatan Kala yang sudah ia makan habis.
"Kalau kenapa-kenapa aku ngga akan ngisi piring kosong kamu itu dengan nasi goreng, Ga." ucap Kala yang membuat Lingga tersenyum.
"Oh iya, Mas Atma di mana mbak? Aku kok ngga lihat."
Atma, ya?
"Mas Atma sedang mengurus pekerjaannya di Yogyakarta. Oh iya Ga--"
"Ada apa mbak?"
Kala menggaruk tengkuknya perlahan. "Aku masih ngga terbiasa sama panggilan 'mbak'mu itu, bisa kita panggil nama saja? Toh, kita juga seumuran 'kan?"
Lingga tampak berpikir sebentar, seperti menimbang-nimbang ucapan Kala tadi.
"Tapi, situasinya sudah berbeda mbak. Panggilan itu seperti tembok buat membatasi aku, biar aku ngga lupa kalau kamu adalah kakak-- kakak iparku bukan seseorang yang aku kenal beberapa tahun yang lalu."