Sudah hari ke dua Atma berada di Yogyakarta yang juga merupakan hari terakhirnya bekerja di sini karena secepatnya ia akan kembali ke Jakarta. Kembali ke Kala.
"Bi. Semuanya udah kamu siapkan buat bahan pertemuan kita nanti?" Atma menatap Briana yang berada di hadapannya kemudian ia meneguk kopi sambil menunggu client yang akan datang nanti.
"Sudah semuanya mas. By the way, akhirnya kamu mau panggil aku dengan sebutan itu." ucap Briana sambil tersenyum lebar sementara Atma hanya menatapnya sebentar kemudian kembali membaca-baca berkas meeting yang sudah disiapkan.
|•|
Satu hari ini terasa sangat lama bagi Kala. Sudah beberapa film ia habiskan tapi rasa-rasanya pergerakkan jam malah terasa semakin lama. Selama menanti Atma pulang. Tadi, laki-laki itu menghubunginya dan mengatakan akan pulang malam ini tapi jam di kamar Kala sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan Atma belum juga pulang. Kala cemas, tentu saja tapi memangnya apa yang bisa ia lakukan selain menunggu Atma sampai entah kapan.
Ddddrrrtt
Satu pesan tertera di ponsel Kala. Sambil tersenyum dengan cepat Kala membukanya berharap itu dari Atma tapi dalam sekejap senyumnya memudar saat mendapati nama Lingga di sana.
Mbak, ibu titip sesuatu. Sekarang aku lagi otw ke rumah mbak. Penting katanya.
Kala tak membalasnya, ia meletakkan ponselnya kembali. Dan berusaha kembali tenggelam pada film yang sedang ia putar. Tapi lagi-lagi dalam sekejap pikirannya pecah saat mendengar suara mobil dan pagar yang dibuka. Itu Atma, Kala melihatnya dengan jelas dari atas balkon kamarnya. Maka dengan kilat Kala langsung menghampiri Atma.
"Masssss~" Kala langsung berhamburan ke pelukan Atma saat Atma baru saja tiba di ruang tamu rumah mereka. Laki-laki itu tak berbicara apa-apa tapi tangan yang sedang mengelus-ngelus rambut Kala mungkin bisa dijadikan sebuah jawaban kalau laki-laki itu juga merindukan Kala.
"Belum tidur?" tanya Atma pada Kala yang masih berada dalam pelukannya.
Kala melepaskan pelukannya tapi kedua tangannya masih berada di pinggang Atma, "nungguin kamu." katanya sambil tersenyum.
"Maaf."
Kala tak menanggapi ucapan Atma, ia kembali memeluk laki-laki itu, suaminya.
"Sebentar, sebentar." Atma melepaskan tautan mereka untuk menjawab panggilan teleponnya.
Briana.
Nama itu tertulis di sana. Dan sialnya, mata Kala tak sengaja melihat itu.
Pekerjaan.
Ya, itu pasti alasan Briana telepon Atma selarut ini.
Kala menarik napasnya saat melihat Atma sudah kembali menatapnya.
"Ada apa?" Kala bertanya dengan wajah bingungnya saat melihat wajah Atma mendadak berubah, menjadi bingung juga.
Atma tak menjawabnya. Ia malah mengambil kembali kunci mobil yang tadi sudah ia letakan di meja. Mengusap puncak kepala Kala sebentar dan pergi begitu saja dari pandangan Kala.
Segitu mendesaknya kah sampai Atma tak menanggapi ucapannya?
"Mbak,"
Kala terpengarah. Tanpa sadar bola matanya sudah menatap seseorang yang tak lain adalah Lingga. Lingga yang sudah berdiri di hadapannya entah dari kapan Kala pun tak bisa memastikannya.
"E-eh kamu sudah datang." Kala tersenyum tentu saja ia harus tersenyum.
"Bang Atma mau kemana mbak malam-malam begini? Kayaknya buru-buru banget." kata Lingga sambil mengikuti langkah kaki Kala yang sudah mendekati sofa.
"Oh itu, ada sesuatu yang tertinggal di kantornya. Oh iya, ibu titip apa Ga?"
Lingga yang sudah duduk di sofa mengeluarkan plastik yang berada di balik kantung jaketnya.
"Ini, jamu buat kesehatan Mbak Kala." katanya sambil memberikan plastik itu kepada Kala, "eeuump, sebenarnya ibu udah titipin dari kemarin tapi aku baru ingat. Maaf ya mbak jadi harus ke sini malam-malam."
"Iya, ngga apa-apa. Makasih buat ibu, makasih juga buat kamu yang udah mau nganter malam-malam gini." ucap Kala sambil tersenyum kembali yang mau tak mau Lingga pun harus membalasnya dengan senyuman.
"Sudah malam. Aku mesti nunggu Bang Atma pulang atau----"
"Ya, aku sendiri saja." Kala langsung memotong ucapan Lingga, membuat laki-laki itu yang tadinya ingin berdiri kembali terduduk lagi.
Lingga berdiri, "oke." katanya sambil tersenyum.
"Aku antar sampai pagar." ucap Kala yang juga sudah berdiri berhadapan.
"Oke."
"Kal?"
Langkah kaki Kala terhenti, Lingga pun samanya. Panggilan yang diucapkan laki-laki itu memaksakan ia untuk menatap Lingga.
"Whoever you are. I'm still your friend." katanya sebelum ia meninggalkan Kala sendiri di sana dan mulai mengendarai mobilnya.
Sedangkan Kala.
Terperangah.
|•|
Atma berjalan cepat, ah tidak. Ia berlari tanpa mempedulikan tatapan orang-orang sekitarnya. Ini rumah sakit, dan setiap orang pasti pernah berlarian ke sana ke mari hanya untuk memastikan apa yang memang ia ingin pastikan. Atma sudah bisa melihat Briana, semakin cepat pula ia berlari.
"Bi."
Itu bukan suara Atma. Atma bahkan berhenti berlari saat ada seorang wanita yang sudah menghampiri Briana lebih dulu. Kalau Atma tidak salah dia adalah Pra. Prasastya. Teman Briana.
Briana menangis di dalam pelukan Pra.
"Bi." ya, itulah suara Atma. Ia sudah tiba di hadapan dua wanita yang sampai saat kehadirannya masih belum juga melepaskan pelukan mereka.
"Mas," kata Briana sambil memisahkan diri dari Pra.
"Gimana?"
"Maaf merepotkan, aku ngga tahu harus ngapain apalagi Mas Jan sedang berada di luar negeri. Jadi aku ngerepotin kamu dan Pra." Briana menghapus air matanya yang masih tersisa di matanya.
"Tidak apa-apa. Kita juga teman 'kan? Jadi bagaimana keadaan Meira?"
"Sedang di periksa di dalam mas." Briana menunjuk ruang UGD yang berada di hadapannya.
"Ya, tidak apa-apa. Anakmu pasti tidak apa-apa."
|•|
Lingga mengendarai mobilnya dengan perasaan campur aduk. Senang sekali rasanya sudah menyatakan apa yang memang ia ingin katakan pada Kala. Tapi perasaan senangnya tak berlangsung lama, ingatan itu kembali menempel kuat di ingatannya.
"Delapan tahun lagi, kalau lo sama gue masih sendiri kita nikah yuk?"
"Apa?"
"Tunggu dulu deh, kalau delapan tahun lagi berarti umur kita masih dua puluh empat. Lo juga baru lulus S2, sepuluh tahun lagi deh biar lo sukses dulu, mana mau gue sama lo yang masih bokek."
"Oke. Sepuluh tahun lagi, ya?"
Lingga tersenyum saat ia kembali mengingat-ingat waktu itu dengan Kala. Singkat ceritanya, bahkan sebelum mereka lulus S1 Kala sudah memutuskan untuk mau dipersunting oleh Atma, kakaknya sendiri.
"Ibu tahu sedekat apa kamu sama Kala dulu. Tapi sekarang dia sudah jadi kakak ipar kamu, kamu harus menghargainya dan sopan kayak kamu ke Bang Atma."
Persetan dengan segala kesopanan serta tata krama atau segala hal yang membuat Lingga harus kehilangan Kala, temannya. Lingga hanya tak suka, ya. Lingga tak suka dengan keadaan yang mengharuskan ia nenutup mata tentang siapa Kala di hidupnya. Lingga memukul stir mobilnya kencang tepat saat lampu merah menyala. Pikirannya ke mana-mana, ia tak bisa fokus saat ini bahkan ia tak memedulikan panggilan telepon dari ponselnya yang sejak tadi sudah meminta-minta untuk di angkat.
Tapi, Lingga segera tersadar. Ia segera mengangkat panggilan itu.
"Ya, terima kasih." katanya kemudian meletakan ponselnya lagi.