6. Pernikahan Kedua

1108 Kata
Atma pulang pukul empat pagi dan Kala masih berada di ruang tamu, berdiri sambil memegang ponselnya erat-erat. Tak ada sambutan seperti saat Atma menginjakkan kakinya tadi setelah pulang bertugas dari Yogyakarta. Tak ada senyum di wajah Kala. Tak ada pelukan. Tak ada pertanyaan. Dan tak ada ucapan apapun dari Kala kecuali tatapan yang tak bisa Atma jelaskan maksudnya. "Kita bisa bicara?" Hanya itu, hanya itu yang dikatakan Kala saat dirinya berusah mendekati Kala. "Kamu harus istirahat." ucap Atma yang entah mengapa ia malah mengambil langkah untuk menjauh dari Kala dan berharap Kala akan menuruti perkataannya. Tapi tidak, Kala tetap berada di sana. "Kalau aku istirahat, apa semua ini akan berhenti?" Atma menghentikan langkahnya karena ucapan Kala yang tak ia mengerti. "Apa?" "Kalau aku istirahat, apa semua ini akan berhenti?" Kala mengulangi pertanyaannya lagi-lagi yang membuat Atma semakin tak paham. Bola mata mereka bertemu, genangan itu sudah sempurna di mata Kala dan siap kapan saja akan turun. "Apa semua yang menganggu pikiranku akan berhenti? Apa semua hal yang aku cemaskan tak akan pernah terjadi?" tepat. Air mata itu sudah mengalir membasahi pipi Kala. "Apa yang kamu katakan?" Atma sudah berada pada posisi semula, di hadapan Kala. Kala tersenyum menanggapi ucapan Atma, "Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?" ia balik bertanya. "Kala~" "Briana. Kamu menemuinya 'kan tadi?" Atma sedikit terkejut dengan ucapan Kala. Tapi ia tak akan menyangkal itu semua. Biarlah Kala tahu, memang seharusnya begitu sedari awal. "Sejauh apa yang kamu ketahui?" Dan sungguh. Jawaban yang diberikan Atma membuat tangisan Kala semakin deras. Kala melangkah mundur dengan kaki yang melemas tak berdaya. Ia takut, sangat takut. "Kalau kamu tahu, kamu juga tahu apa alasan aku menemuinya." Atma kembali berucap sementara Kala masih diam pada posisinya. "Apapun alasannya apakah itu terlihat wajar?" Kala kembali menegapkan kakinya, berdiri kokoh di hadapan Atma sambil menghapus air matanya. Kala tahu, ia tahu apa alasan Atma menemui Briana. Tapi apakah wajar jika Atma tak memberi tahunya? Wajar jika Atma menutupinya dan apakah wajar jika ia terlihat seperti--seperti---entah. Kala tak bisa membayangkannya. "Apa yang tidak terlihat wajar?" Lagi, Kala tersenyum tipis menatap Atma. "Kamu banyak menyangkal." kata Kala yang terdengar begitu meyakinkan. Atma menatap Kala, "karena aku tidak melakukan seperti apa yang ada di kepala kamu. Kamu tidak percaya itu?" Atma menundukkan kepalanya, menatap lebih dekat wajah Kala yang sedang menangis. Air matanya tak sekalipun membuat pandangan Kala turun, ia masih menatap Atma dengan tatapan menyakitkan. Ya, ini sungguh menyakitkan. "Apa lagi yang kamu tutupi dari aku?" Atma menggeleng memberi tanda bahwa benar, ia tak menutupi apapun dari Kala. Kala mengangkat tangannya, tangannya menari-nari di d**a Atma. "Yakin?" ucapnya dengan suara pelannya. Atma tak mengucapkan kata-kata. Ia hanya menatap Kala dan meyakinkannya bahwa memang tidak ada yang ditutupi olehnya. Kala tersenyum sebentar kemudian kembali menangis lagi. Tangannya yang sejak tadi memberi sentuhan di d**a Atma berubah menjadi cengkraman yang begitu kuat. "KAMU YAKIN TIDAK MAU MENJELASKAN ARTI PELUKAN SERTA CIUMAN UNTUK BRIANA PADA MALAM ITU?" teriak Kala. Tangisannya tak lagi tanpa suara. Kala melolong tak peduli dengan ekspresi yang sedang di tunjukkan Atma karena Kala pun tak berani melihatnya. Ia menundukan kepala dengan tangan yang masih mencengkram kemeja Atma. Atma tak bisa diam, berkali-kali ia berusaha menarik Kala ke dalam pelukannya tapi wanita itu berkukuh. Tapi wanita tetaplah wanita, tenaganya tak akan sebanding dengan milik laki-laki maka saat Atma sudah memeluk Kala, Atma tak akan membiarkan Kala melepaskannya walaupun pukulan di punggunya ia terima dari Kala tapi itu tak berarti apa-apa dibanding penyesalan jika ia melepaskan Kala dan membiarkan wanita itu berpikiran buruk. "Itu kesalahan, kesalahan Kala." |•| Pandangan Atma masih terarah pada sebuah foto yang di genggamnya. Pikiran Atma menerawang terlalu jauh sampai ia melupakan Kala yang masih berada di sampingnya. Pantas saja Kala semarah ini, jika bukan karena foto yang ada di genggaman Atma. Sebuah foto yang menunjukkan bukti nyata kejadian malam itu bersama Briana. Atma menarik napas panjangnya, "aku tidak mengelak, aku memang melakukannya dan itu kesalahan." aku Atma yang membuat Kala semakin meradang. Kala tersenyum tipis, "senang mendengarnya." katanya lirih sambil menatap Atma dengan bendungan air di matanya. Hatinya hancur. "Maaf. Aku terlalu kalut pada saat itu, saat kamu keguguran." Hatinya lebih hancur saat ia menyadari jika kesalahan yang dibuat Atma adalah sebab dirinya yang tak bisa menjaga kandungannya. "Selebihnya aku hanya menganggap Briana teman. Demi Tuhan, Kal." Kala mengangguk ia tahu Atma sungguh-sungguh. Ia tahu perkataan laki-laki itu adalah sebenar-benarnya jawaban. Percayalah, meski Kala tak mengenal Atma terlalu dalam tapi laki-laki itu dan perkataannya tidak pernah melenceng. "Maaf." ya, harusnya itu yang Kala katakan. Bagaimana ia bisa semarah ini jika sebab kemarahan itu sendiri adalah karenanya. Andai saja, Andai saja Kala tak keguguran. Atma tidak akan memeluk serta mencium Briana. Kala baru sadar kalau apa yang terjadi pada dirinya menyakiti Atma, tidak, tidak hanya Atma tapi seluruh keluarganya. Sakit sekali rasanya mendapati fakta itu sampai tak terasa bendungan di matanya sudah pecah, ia kembali menangis untuk kesekian kalinya. "Maaf." kata Kala lagi, "itu salah aku." lanjutnya. "Kal?" Tangisan Kala semakin deras bahkan saat Atma menariknya ke dalam pelukan. Atma tak akan melepaskan Kala dan Kala tak akan menyerah hanya karena foto itu. Satu hal yang ia pelajari setelah menikah adalah, akan selalu ada jalan yang tak mulus. Akan selalu ada alasan untuk terjatuh dan terluka tapi akan selalu ada alasan untuk terus berjalan. Karena, akhir yang indah itu memang ada dan Kala mempercayai itu. "Maaf." katanya bersamaan. |•| Setumpuk kertas sudah menyambut Atma saat ia baru saja tiba di ruang kerjanya. Serta senyum Briana yang sudah seperti biasanya. "Pagi, pak." "Pagi, Bi. Oh iya, gimana keadaannya Meira?" tanya Atma pada Briana ramah. Briana tersenyum, "sudah membaik pak." "Syukurlah." kata Atma yang sudah terduduk di kursinya dan mulai bekerja. "Bi~" panggil Atma yang membuat Briana langsung menatapnya. "Ya?" "Kala punya foto kita." kata Atma. Briana mengerutkan dahinya, bingung dengan maksud pembicaraan Atma. "Foto? Kita?" Briana jadi bertanya-tanya. "Foto kita malam itu." Ah! Briana tahu sekarang ke mana arah pembicaraan ini. Ia menarik napasnya, menatap Atma dari kursinya. "Kala pasti salah paham." ucapnya yang membuat pandangan Atma yang tadinya berlarian langsung menatap Briana. "Ya. Tapi bukan itu lagi masalahnya." Atma mengaitkan jari-jari tangannya. Wajahnya tak bisa dijelaskan dan semakin membuat Briana bingung. "Ee--mmp maksudnya?" "Hubungan kamu dan Januar baik-baik saja 'kan?" "Mas~ sebenarnya ada apa?" Atma menarik napasnya, "seseorang mengirimkan foto itu pada Kala. Aku hanya khawatir kalau ia akan melakukan hal yang sama pada Januar." "Tidak. Tidak ada. Kekhawatiran kamu rasanya berlebihan, mas. Kala jauh lebih penting apalagi setelah keguguran itu. Aku--" "Tidak, tidak apa-apa. Semuanya sudah baik-baik saja kok. Aku hanya ingin tahu alasan orang itu mengirimkan foto itu pada Kala." kata Atma yang memotong ucapan Briana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN