"Ma--maaf."
Atma menjauhkan dirinya dari wanita itu. Ia mengeluarkan sapu tangannya dan memberikannya pada wanita itu, yang sialnya hari ini harus kebasahan karena jus yang tak sengaja jatuh ke bajunya.
"Oke." wanita itu mengangkat kepalanya, mengambil sapu tangan Atma dan menatap Atma sebentar.
Ia mengenali Atma dengan sangat. Tapi, laki-laki itu sepertinya tidak mengingatnya.
"Ah. Pra. Saya benar-benar minta maaf."
Dugaan Pra salah, rupanya Atma mengenalinya juga.
"Tidak apa-apa, Atma." katanya tersenyum sambil membersihkan noda-noda yang masih tersisa di bajunya.
"Oh iya, kamu sedang apa di sini?" tanya Atma pada Pra.
"Ngajar."
"Dosen?" Atma bertanya lagi. Pra hanya tersenyum sebagai jawabannya.
"Kamu?"
"Saya mau jemput istri saya."
Gerakan tangan Pra langsung terhenti, "dosen apa?"
"Mas~"
Reflek Atma langsung berbalik saat mendengar suara Kala yang sudah amat ia kenali. Atma tersenyum padanya dan kemudian memutar kepalanya.
"Dia mahasiswi, semester empat." katanya dengan senyuman yang membuat Pra terperangah sekejap.
"Hai~" Kala langsung memberi salam saat ia sudah tiba di hadapan Atma. Tak lupa juga ia memberikan salam pada Pra yang masih terperangah.
"Bu Sasty?"
Suara Kala membuyarkan Pra. Ia menatap muridnya yang kini sudah mengenggam tangan suaminya.
"Kami duluan ya, bu." pamitnya dengan sopan.
"Kami duluan ya, Pra." tambah Atma.
Pra yakin ia bukan satu-satunya orang yang terkejut melihat ini. Pria dewasa seperti Atma menikahi mahasiswi semester empat.
|•|
Mata kuliahnya sudah berakhir sejam yang lalu tapi Kala masih berada di bangkunya dengan laptop di depannya. Karena keguguran kemarin, ada beberapa mata kuliah yang terlewat dan membuat Kala mengejarnya. Rasa bosan serta kantuk membuat Kala sekali-kali melihat jam tangannya, pandangannya terhenti saat ia menatap sosok laki-laki yang sudah berada di depan pintu kelasnya.
Tidak.
Itu bukan Atma. Karena laki-laki itu tadi memberi kabar bahwa ia akan pulang telat hari ini.
Yang berdiri di sana adalah, Lingga.
Lingga yang sedang tersenyum.
"Hai," kata Lingga yang membuat senyumnya semakin lebar. Tapi berbeda dengan Kala. Meski wanita itu masih menatapnya namun, ekspresi yang ditunjukkan Kala sangat berbeda dengan Lingga. Bahkan saat Lingga sudah berjalan ke arahnya, Kala malah memberesi barang-barangnya.
"Lho, Kal. Mau ke mana?" tanya Lingga yang bingung karena saat ini Kala tak hanya memberesi barang-barangnya tapi juga melangkah beberapa langkah menjauhi Lingga.
Kala berhenti, berbalik untuk menatap Lingga.
"Kamu benar, Ga. Ternyata hubungan kita memang tidak seperti dulu--"
Dengan perlahan Lingga mendekatkan diri pada Kala. Karena sejujurnya Lingga pun bingung apa yang sedang terjadi.
"Tetap di sana." tahan Kala sambil memajukan tangannya agar Lingga berhenti di tempat. "Tetap di sana, pada batasanmu menjadi adik iparku." kata Kala yang langsung membuat Lingga terpaku.
"Kal? Kamu salah paham."
Tanpa memedulikan ucapan Lingga. Kala melajukan kakinya, meninggalkan Lingga di sana dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya.
|•|
Kala tak tahu mengapa sore ini tiba-tiba hujan kembali mengguyur Jakarta. Dan sialnya, Kala tak mempersiapkan apapun untuk melewati hujan dan pulang ke rumahnya. Maka, ia memutuskan untuk berteduh di kedai kafe menanti hujan berhenti.
Teng
Sebuah pesan muncul di ponselnya. Sebuah pesan dari Atma.
Mas dapat promosi jabatan.
Sederet kata yang membuat bibir Kala mengembang sempurna. Senang, hanya itu rasanya.
"Mbak~"
Perasaan itu lenyap begitu saja saat Kala melihat sosok Lingga yang sudah berdiri di hadapannya. Kala sudah bersiap meninggalkan tempatnya, tapi genggaman tangan Lingga di pergelangan tangan Kala membuatnya harus bertahan di situ lebih lama lagi.
"Mbak, aku adik ipar kamu 'kan?" ucap Lingga yang berhasil membuat Kala terduduk di tempatnya semula.
Kala memalingkan wajahnya saat Lingga juga sudah duduk di hadapannya. Beberapa kali Kala mengetukan jemarinya di meja kedai kafe ini. Perasaannya tak tahu apa, kecewa, marah, senang atau apa. Sedangkan Lingga di hadapannya masih terus menatap Kala sambil memerhatikan gerak-gerik wanita itu.
Kesal dengan menit-menit yang berlalu hanya dilewati dengan kebisuan. Kala menatap Lingga, memulai pembicaraan.
"Kenapa?"
Wajah Lingga tampak bingung.
"Kenapa? Kenapa kamu lakuin itu, Ga?"
"Itu yang mau aku jelaskan padamu, Kal." Lingga membenarkan posisinya, lurus menatap Kala.
"Aku memberikan foto itu karena aku rasa aku memang harus memberikan itu padamu, Kal. Itu saja." lanjutnya.
Kala menatap mata Lingga dalam, mencoba membaca apa yang ada di dalam pikirannya sebenarnya, "atas dasar apa? Untuk apa?"
Bola mata Lingga berputar, mencari jawaban yang paling tepat. Sebab 'aku mau kamu berpisah' sangatlah tidak etis baginya atau 'aku tak ingin kamu terluka' rasanya terlalu berlebihan untuk Lingga, yang hanya sebagai adik ipar Kala, tak lebih dari itu.
"Kamu pikir aku akan diam saja saat melihat itu? Aku tidak ingin berspekulasi apapun. Tapi, malam itu. Malam di mana aku lihat Bang Atma pergi dini hari meninggalkan kamu membuat aku yakin kalau Bang Atma selingkuh." sudah, Lingga sudah mengatakan semua yang ingin ia katakan. Soal bagaimana reaksi Kala, Atma bahkan keluarganya sudah tak ia pedulikan.
"Ga~"
Lingga yang menunduk perlahan-lahan mengangkat kepalanya kembali, menatap Kala.
"Dia Abang kamu." ucap Kala lirih, kini ia semakin intens menatap Lingga. "Dan kamu hampir membuat pernikahannya hancur."
Apa? Apa tadi kata Kala?
Kamu hampir membuat pernikahannya hancur.
Persetan dengan kata-kata itu, apa Kala tidak tahu sama sekali jika Atma lah yang berusaha menghancurkan pernikahannya sendiri?
"Apa? Aku? Membuat pernikahannya hancur? Kal? Bang Atma sendirilah yang membuat itu hancur perlahan-lahan." kata Lingga tak terima dengan ucapan Kala. Tapi, wanita itu masih menatapnya dengan tenang.
"Hampir. Itu hampir, bukan benar-benar."
"Kal?"
"Aku percaya suamiku, Ga. Aku percaya dia." ucap Kala yang di akhiri dengan helaan napas panjangnya.
Lingga menatapnya dengan wajah yang tak bisa ditebak. Tapi, tangan laki-laki itu perlahan mendekat dan menggenggam tangan Kala.
"Ga?" Kala menarik tangannya menjauh dari meja. Tatapannya masih terpaku pada Lingga.
"Ga. Aku ini istri Atma, abang kamu. Tiga tahun yang lalu akan tetap jadi masa lalu dan waktu bukan mesin yang bisa diputar balikan." ucapnya lirih, sangat lirih. Seperti suara hujan yang mulai mengecil. Kala menarik napasnya dalam, mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi.
Lingga menatap Kala tanpa ekspresi yang bisa ditebak. Seperti hujan yang tiba-tiba dan kemarau yang berkepanjangan harusnya Lingga mengenal kata 'sudah' setelah Kala memutuskan untuk menikah, dengan Abangnya.
"Ga~" sebelum benar-benar pergi, Kala kembali memanggil Lingga. Menatapnya lagi-lagi.
"Bahagia, aku mau kamu bahagia." katanya, dan kini Kala benar-benar pergi, meninggalkan Lingga sendirian dengan kopi dingin yang mereka sesap serta kepahitan yang masih tersisa di tenggorokan Lingga.