Suasana cukup riuh. Dentuman musik mengundang peluh. Tapi itu tak membuat Atma ikut luluh. Laki-laki itu masih di tempatnya dengan kesadaran seratus persen. Hari ini, ia mendapat promosi jabatan dan hari ini pula, kantornya mengadakan acara makan malam yang lebih tepat dibilang acara hura-hura. Ya. Hampir tak ada sesi ucapan selamat atau bahkan sesi makan malam bersama-sama, yang terjadi di club ini jauh dari itu semua.
Dari jauh ia melihat Briana. Wanita itu tak benar-benar baik, Atma tak tahu sudah berapa banyak ia minum tapi saat melihat Briana semakin jelas, semakin mendekat padanya. Atma tahu bahwa saat ini Briana sudah benar-benar mabuk.
"Bi~ bisa dengar saya?" Atma menghampiri Briana. Wanita itu kembali meminum minumannya di gelas yang di genggam di tangan kirinya. Setelah itu, ia mengulurkan tangannya. Memberi mandat, untuk Atma meminumnya. Atma mengambil gelas itu, namun ia tak meminumnya melainkan menaruhnya di meja. Dan itu membuat Briana sedikit kesal. Ia kembali mengambil gelasnya dan meminumnya lagi.
Lagi
Dan
Lagi.
Tentu Atma tak diam saja, ia kembali menjauhkan gelas itu dari Briana tapi respons yang diberikan wanita itu jauh dari bayangannya. Briana menarik dan mendorong Atma ke dinding dengan tubuhnya. Membuat Atma tak bisa bergerak selama beberapa saat.
"BRIANA~" geram Atma yang tak didengar Briana. Briana semakin gencar mendorong tubuh Atma, merapatkan tubuhnya dengan tubuh Atma.
"Sudahlah. Tutup mulutmu. Air itu sudah dipercikkan, biarlah kita basah sekalian." Katanya sambil mencium Atma secara tiba-tiba.
|•|
Acara di televisi terasa begitu membosankan. Berkali-kali Kala menatap layar ponselnya, meski Atma mengatakan padanya untuk tidak menunggu kepulangannya tapi Kala bukanlah anak kecil yang akan menurut begitu saja karena ia akan tetap menunggu Atma pulang selama apapun itu. Kala bangkit dari duduknya, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Kala berjalan ke dapur, secangkir teh hangat sepertinya akan menjadi teman baik untuknya malam ini. Tapi langkah kaki Kala berhenti saat ia mendengar suara yang memanggilnya cukup keras.
"KALAA~"
Tidak hanya itu, bahkan saat ini teriakan itu dibarengi oleh ketukan keras di pintu rumah Kala. Sedangkan Kala masih terpaku di tempatnya, tak tahu harus berbuat apa. Antara rasa takut dan ingin tahu menyelimutinya saat ini.
"Kala~ buka pintunya!!"
Dengan perlahan Kala mendekat ke arah pintu. Saking takutnya, ia tak bisa menebak-nebak siapa yang saat ini datang karena suara yang ia dengar sekarang bukanlah milik Atma.
"LINGGA~" teriak Kala tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Seorang Lingga, Lingga yang ia kenal itu saat ini berdiri lunglai di depan pintu rumahnya. Kala tak bisa menggambarkan keadaan Lingga saat ini, pria itu benar-benar tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Ia mabuk.
Benarkah? Seorang Lingga mabuk?
Kala rasa tidak.
Tapi,
Kala rasa memang tidak.
Lingga sadar seratus persen saat ia mulai menatap Kala. Hanya saja, di wajahnya seperti tergambar ke putus asaan yang terlihat jelas, kesedihan yang hebat.
"Aku tersiksa, Kal. Aku tersiksa." katanya yang bisa didengar sangat jelas oleh Kala.
"Selama ini aku menahannya, Kal. Aku masih tidak paham dengan yang terjadi saat ini, entah mimpi atau apa tapi rasa sakitnya benar-benar membuatku tak waras. Aku masih tidak bisa terima dengan keputusan kamu, aku lebih tidak terima kamu menikah dengan Abangku. Aku tidak terima, Kal." ucap Lingga lagi yang mampu membuat Kala menahan napasnya beberapa saat. "Sekarang bilang ke aku, Kal. Kamu bukan milik orang lain, bukan kakak iparku. Ini mimpi, hanya itu. Dan aku tak perlu mengkhawatirkan apapun." lanjut Lingga.
Kala melangkah mundur. Ia tak tahu apa yang harus ia perbuat atau ia katakan saat ini.
DLEP~
Tapi, dengan cepat tangan Lingga sudah melingkari pingga Kala. Memeluknya dengan tiba-tiba.
Tak sampai lima detik,
PLAKKK~
Tamparan cukup keras dilayangkan Kala ke pipi Lingga, membuat tautan Lingga terlepas.
"Itu cukup membuat kamu sadar? Haa?" suara Kala mengeras. Tapi tak banyak bisa mengubah sikap Lingga. Laki-laki itu masih saja keras kepala.
"Tidak. Ini memang mimpi. Ini hanya mimpi. Iya, semua ini hanya mimpi." kata Lingga dengan senyum di bibirnya.
"Lingga~" Kala menghempaskan tangannya ke udara, ingin menampar Lingga lagi tapi tak seperti yang tadi, laki-laki itu menahan tangan Kala lebih dulu.
"APA KAL? APA YANG MEMBUAT SEORANG KALA BERUBAH PIKIRAN? MENIKAH DENGAN LAKI-LAKI YANG BARU DIKENALNYA DAN MASIH BERSTATUS MAHASISWA? KATAKAN KAL, KATAKAN!!" suara Lingga meninggi, kata-kata yang ia ucapkan di akhiri dengan menghempas tangan Kala yang berada di genggamannya.
Sungguh, Kala tak takut sama sekali. Justru saat ini ia menatap menantang Lingga. Hanya saja, tak ada satu pun kata yang Kala ucapkan.
Lingga menyunggingkan senyumnya, "mengapa diam? Apa kamu mengambil keputusan yang salah? Kamu menyesalinya setelah tahu Atma berselingkuh dengan teman kantornya sendiri?"
Dan bahkan setelah mendengar itu, pandangan Kala tak turun sedikit pun. Siapapun orang yang mencibir keputusannya untuk menikah muda, tak pernah Kala pikirkan. Namun, rasanya ada yang berbeda ketika Lingga mengatakan itu. Seperti ada sesuatu yang dibangun di dalam kepala Kala, ingatannya tentang janji yang ia buat dengan Lingga, ingatannya tentang foto Atma dan Briana, ingatannya tentang perilaku Atma. Ingatan-ingatan yang tak pernah ingin ia ingat dua kali.
Kala menarik napasnya dalam-dalam sambil menutup matanya merasakan angin malam yang entah mengapa terasa sangat dingin.
"Kamu tahu alasannya." kata Kala dengan cepat.
Lingga tersenyum miring, "apa?"
"Cinta. Dan mencintai Atma adalah sebuah kebenaran." ucap Kala dengan mantap yang membuat Lingga seperti menciut. "Janji yang terucap dulu itu, hanya karena kita masih remaja, yang tak tahu apa dan tak berbuat ada. Kita, masa lalu, Ga. Masa lalu." peluru itu ditancapkan Kala tepat pada Lingga. Lingga tak lagi berdiri tegak, kakinya melemas. Perasaannya terluka, harapnya hilang. Tapi entah mengapa seperti ada perasaan lega di hatinya. Bertahun-tahun perasaan mengendap itu dibalas dengan pengakuan Kala yang membuat Lingga menyadari satu hal;
Jika cinta adalah perihal timbal balik. Dan apa yang ia lakukan saat ini, hanyalah keegoisan yang mengatasnamakan cinta. Seperti, ia tak benar-benar cinta dengan Kala. Seperti, ia hanya ingin memiliki Kala dan membuat Kala menjadi miliknya sepenuhnya. Seperti, ia tak memedulikan apa yang membuat Kala bahagia karena yang hanya Lingga pikirkan adalah Kala akan bahagia bersamanya jika Kala menjadi miliknya.
Dan itu egois.
Lingga tahu itu namun entah mengapa rasanya masih terlalu berat melepaskan Kala dan menerima kenyataan itu. Bahkan saat Lingga sudah mencobanya.