"Hooooeeekkk~" Briana kembali memuntahkan cairan dari dalam perutnya. Mungkin, ini salah satu alasan mengapa alkohol itu dilarang di dalam agama, sebab alkohol membuat susah. Bahkan tak hanya untuk Briana, tapi juga untuk Atma yang saat ini masih dengan setia menemani Briana di luar toilet.
"Bi?" Atma langsung menghampiri Briana saat wanita itu keluar dari toilet. Meski masih terasa pengar tapi Briana jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Mas? Kok belum pulang?" seperti lupa jika sebelumnya Briana pernah menanyakan itu, Briana kembali bertanya lagi.
"Belum." dan Atma hanya membalasnya singkat.
Briana mengambil tasnya, "yasudah aku pulang dulu." katanya pada Atma. Atma menganggukinya tapi ia tetap mengikuti Briana dari belakang. Dan betapa mengejutkannya jika Briana tak berjalan keluar club ini melainkan ia kembali terduduk di salah satu bangku di sana. Tanpa membuang waktu, Atma sudah duduk di hadapan Briana.
"Mas? Kok belum pulang?" Briana menanyakan hal yang sama untuk ke tiga kalinya.
"Boleh aku balikan? Kamu kenapa belum pulang?"
"Pengar, mas. Aku mau di sini dulu, sampai hilang pengarnya." katanya sambil menatap Atma dengan tatapan melas.
"Oke, aku temani." ucap Atma tanpa pikir panjang.
"Mas~" desah Briana tak enak hati.
"Aku hanya ingin memastikan kalau kamu benar-benar menghilangkan pengar. Karena aku ngga ingin salah satu teman kerjaku bolos karena alasan pengar."
"Mas~" desah Briana lagi. "Terima kasih." katanya. "Dan, maaf."
Ya. Seperti ada sesuatu yang membuat Briana mulai mengingat lagi apa yang telah terjadi beberapa jam yang lalu. Ingatan bahwa ia hampir saja mencium Atma dan fakta bahwa ia tidak hampir--mencium Atma tapi ia benar-benar mencium Atma.
|•|
"Aaaawwsshh.." rintih Kala saat tangannya tak sengaja memegang wajan yang panas karena saat ini, seperti biasanya. Ia menyiapkan Atma sarapan. Omong-omong tentang laki-laki itu, semalam ia pulang pukul tiga dini hari. Wajahnya saat lelah, tak ada raut senang di sana padahal seingat Kala, Atma baru saja mendapat promosi jabatan. Tapi, karena saking larutnya Kala sampai-sampai tak menanyakan hal itu pada Atma.
Kala menjauh dari kompor. Mengalirkan air pada tangannya. Tapi rasanya masih sama saja, perih dan panas. Baru saja Kala ingin mengambil salep yang berada di kamarnya tapi sosok Atma yang sudah berada di hadapannya dengan salep yang ia bawa di tangannya membuat niatan Kala menjadi diurungkan.
"Mas~"
Atma tersenyum. Tangannya menarik tangan Kala, tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk membalur luka Kala dengan salep, "hati-hati." katanya, sedangkan Kala hanya bisa menarik bibirnya ke dalam. Berusaha menahan perih saat Atma membalur lukanya.
"Selesai." ucap Atma lagi saat ia selesai membalur luka Kala. Tak lupa, Atma kembali tersenyum.
"Terima kasih, mas." ucap Kala sambil berbalik dan meneruskan masakannya yang belum matang.
Atma masih berada pada tempatnya, di belakang Kala sambil memerhatikannya yang hari ini sedikit aneh, "Kal?"
"Ya?" Kala menjawabnya tanpa memandang Atma.
Tanpa menunggu aba-aba Atma sudah melingkarkan tangannya memeluk pinggang Kala dari belakang. Membuat Kala bergerak refleks, menjauh dari Atma dan berusaha melepaskan pelukan laki-laki itu.
"Kenapa?" tanya Atma yang sangat terdengar jelas di telinga Kala. Memang ini bukan pertama kalinya Atma memeluknya seperti ini, hanya saja....... Hanya saja.....
"Apa ada yang menganggu? Apa yang ada di pikiranmu?" seperti tahu dengan gerak-gerak Kala. Atma langsung bertanya pada istrinya itu.
Hanya saja..... Entah mengapa setiap kali tangan Atma semakin gencar memeluknya, ucapan Lingga serta foto yang diberikannya masuk begitu saja ke dalam pikiran Kala. Sungguh, demi apapun Kala tak ingin mengingat itu semua tapi yang terjadi justru bertolak belakang, apa ini tanda-tanda jika sebenarnya ia juga meragukan Atma? Apa ini tanda-tanda jika Kala diam-diam setuju dengan segala tuduhan yang Lingga berikan?
Ah, tidak.
Tidak.
Ini salah, ini pasti salah.
Kala mematikan kompornya, "nasi gorengnya sudah siap." katanya bersikap biasa-biasa saja. Tapi itu tak membuat Atma merasa lega, ia menahan Kala saat wanita itu hampir saja meloloskan diri dari pelukan Atma.
"Sarapannya sudah si—"
"Satu menit, Kal. Satu menit saja." ucap Atma yang kembali memeluk Kala, wajahnya ia benamkan di tenguk Kala. Kala bisa merasakan embusan napas hangat Atma yang membuat hatinya bergetar.
Ia rindu.
Rindu Atma yang seperti ini.
Entahlah, meski tinggal se rumah. Tapi, beberapa hari belakangan ini apalagi setelah Kala keguguran, rasanya seperti Atma jauh sekali, sangat-sangat jauh.
Maka, saat ini yang bisa lakukan hanyalah menikmati pelukan yang diberikan Atma. Melupakan perperangan yang sedang terjadi pada dirinya saat ini.
|•|
"Lho, Mba Briana ya?" Kala sedikit membulatkan matanya, kaget.
Wanita yang ia panggil Briana itu tersenyum manis, "iya, betul." betul. Wanita itu adalah Briana, wanita yang tadi mengetuk pintu rumah Kala adalah Briana, wanita yang berada di depan pintu Kala saat ini benar-benar Briana.
Ah, mengapa rasanya aneh sekali saat bertemu Briana untuk yang ke dua kalinya? Padahal, sebelumnya Kala biasa saja. Dan sialnya lagi, mengapa bayangan foto itu masuk kembali ke dalam pikiran Kala.
Kala menarik napasnya. Tersenyum menatap Briana yang cantik. Ya, kala harus mengakui itu. Jika di bandingkan dengan dirinya, Briana jauh lebih berkelas dan cantik serta begitu memikat siapapun rasa-rasanya. Ah, sial. Mengapa Kala harus memikirkan itu?
"Tapi, Mas Atmanya baru saja berangkat ke kantor." ucap Kala sopan.
"Tidak, tidak. Saya ke sini bukan buat bertemu Mas Atma tapi untuk bertemu kamu Kala."
Untuk apa?
Kala bertanya sendiri dalam hati.
"E-eh iya, ini kue buat kamu." ucap Briana lagi sambil memberikan bingkisan yang sedari tadi berada di genggamannya.
Kala diam, tak merespons apapun. Wajahnya pun tanpa ekspresi. Kala benar-benar terkejut.
"Boleh saya masuk?" pinta Briana sopan yang membuat Kala merutuk dalam hati, mengapa ia sampai-sampai lupa beretika dalam menyambut tamu. Maka dengat cepat, Kala menerima bingkisan Briana serta mempersilakannya masuk.
"Bentar, saya buatkan minum dulu ya mbak." kata Kala setibanya mereka di ruang tamu.
"Ngga usah, saya ngga akan lama." cegah Briana sebelum Kala benar-benar pergi. Kala berbalik lagi, menatap Briana. Seakan tahu dengan maksud pembicaraan Briana, Kala sudah menempatkan dirinya duduk di hadapan Briana.
"Kamu tidak kuliah?" lagi, Briana memulai obrolan. Tapi Kala yang berada di hadapannya menatap Briana dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Benarkah? Itu tujuan Briana jauh-jauh ke sini?
"Baik. Saya tahu kamu tidak nyaman dengan kedatangan saya ke sini. Tapi ada hal yang ingin saya bicarakan sama kamu."
Ada jeda sebentar. Baik Briana maupun Kala tak bersuara apa-apa.
"Iya. Silakan Mba Briana." ucap Kala dengan senyum yang menguntai.
Bola mata Briana berpindah-pindah. Ia tak tahu harus mulai dari mana untuk mengatakan apa yang memang ingin ia katakan pada Kala.
"Saya tahu kamu memiliki foto saya dengan Atma malam itu. Saya yakin, sebagai seorang istri kamu pun pasti punya perasaan cemas dan khawatir. Saya tidak akan membela diri saya karena apa yang kami lakukan malam itu memang kesalahan. Atma terlalu kalut dan saya yang tak bisa mengontrolnya. Saya minta maaf--
"Saya minta maaf jika foto itu menganggu kamu. Saya tidak memiliki hubungan apapun selain rekan kerja juga saya tidak memiliki niatan apapun. Saya minta maaf." jelas Briana yang di dengar Kala dengan saksama. Tatapan mereka masih bertemu di satu titik tapi sayangnya baik Kala maupun Briana sama-sama tak mampu membaca arti tatapan mereka.
"Terima kasih untuk penjelasannya, mbak." ucap Kala dengan senyuman meski begitu entah kenapa rasanya sakit sekali mendengar penjelasan Briana.
Jika.....
Jika memang itu kesalahan apa perlu Briana menjelaskannya di saat sebetulnya hanya penjelasan Atma yang Kala butuhkan?
Jika memang tak ada niatan apapun apa perlu Briana ke rumah saat Atma tak ada di rumah?
Bagaimana jika......
Dua kata, hanya dua kata.
Dua kata yang jika ditambah dengan pertanyaan-pertanyaan yang berada di kepala Kala rasanya akan menjadi pertanyaan yang sulit.