10. Pernikahan Kedua

1146 Kata
Atma berjalan perlahan sambil matanya berkeliling mencari sesosok yang ia kenal. Bandara di sore hari memang tak pernah sepi. "Bang~" Atma langsung berjalan cepat saat ia menemukan sosok yang ia cari. Lingga. Adiknya yang saat ini sedang melambaikan tangan ke arahnya. "Hai, Ga. Kenapa mendadak?" tanya Atma setibanya ia di hadapan Lingga. "Ngga, ini ngga mendadak. Dari awal kan abang tahu aku memang ingin kuliah di Yogyakarta. Tapi ayah dan ibu terus-terusan menahan aku di Jakarta. Ya, jadinya begini deh. Mereka ngga ikut nganterin." Atma menepuk bahu Lingga. Benar. Adiknya tetaplah adiknya, seseorang dengan prinsip apa yang dikata harus ia buktikan. Dan sekarang, Lingga menunjukkan itu. "Ah. Abang sampai lupa memberitahu mbakmu." ucap Atma panik sambil mencari ponselnya. Saking Atma terkejut dengan kabar yang dikatakan Lingga, ia sampai melupakan Kala. "Ngga usah bang. Biar nanti aku yang kasih tahu sendiri ke Mbak Kala." "Oh... Ya sudah itu lebih baik kayaknya." "Bang~" "Ya?" "Pesawatku sebentar lagi boarding. Aku pamit ya." ucap Lingga sambil mencium tangan Atma. Atma menepuk bahu Lingga sekali lagi, "ya, hati-hati. Belajar yang benar. Jaga diri." katanya sambil melepas kepergian Lingga. Atma kembali berjalan meninggalkan bandara tapi langkahnya terhenti saat ia melihat Pra berada di sini. Karena tatapan mereka sudah bertemu sebelumnya maka dengan perlahan Atma berjalan mendekati Pra. Namun, langkahnya kembali terhenti saat jalannya dihalangi oleh anak kecil berumur satu atau dua tahun itu, Atma pun tak tahu dengan pasti. "Pap-ppa~" |•| Atma meminum kopi yang berada di genggamannya. Pandangannya kembali menatap Pra yang sedang mendekap anaknya. Ya, Atma tak paham mengapa dunia sesempit ini. Tadi, anak yang memanggilnya papa adalah anak Pra yang kebetulan berada di bandara seperti Atma. "Ah, iya. Siapa tadi namanya? Saya lupa." tidak, Atma tidak lupa. Ia hanya bingung bagaimana caranya membuka obrolan dengan Pra karena sejak beberapa belas menit yang lalu hanya dihabisi oleh keheningan dan beberapa teguk kopi. "Binar, Atma." Atma menatap Binar gemas. Wajah polos, lucu yang sedang tersenyum itu rasa-rasanya memanggil-manggil Atma untuk menggendongnya. Andai saja...... Andai saja, Atma tak kehilangan calon bayinya mungkin rasa di hatinya tidak semenyesakkan ini. Tapi sudahlah. Atma tahu Tuhan punya rencana yang lain, yang lebih indah untuk dirinya dan Kala. "Oh iya. Maaf ya tadi Binar memanggil kamu papa. Maklum saja, sejak papanya meninggal setiap kali Binar melihat laki-laki dewasa selalu dipanggilnya papa." ucap Pra pada Atma yang saat ini masih menatapi Binar. Apa? Apa tadi kata Pra? Atma menatap Pra dan bergantian dengan Binar, anak sekecil ini sudah kehilangan ayahnya. Dan juga, pasti sangat sulit untuk Pra di masa-masa ini. "Boleh saya gendong Binar?" pinta Atma pada Pra. Pra mengangguk, tanda setuju. Dan Atma langsung menggendong Binar dengan kedua tangannya dengan pandangan yang siapapun orang yang melihat ini akan beranggapan jika mereka adalah ayah dan anak. Ya Tuhan, Atma ingin sekali. Benar-benar ingin memiliki anak..... Andai saja..... |•| Atma pulang pukul sepuluh malam dan Kala sudah terlelap sempurna di kasurnya yang menimbulkan pertanyaan dalam benak Atma karena biasanya, selarut apapun ia pulang Kala akan selalu ada dan menyambutnya dengan senyumnya. Tapi mungkin, wanita itu sedang lelah. Sebab katanya ia harus mengejar beberapa mata pelajaran yang terlewat. Dengan perlahan Atma menghampiri Kala. Beringsut ke arah Kala. Menyamai posisi Kala yang sedang telentang, tapi Atma memiringkan tubuhnya dan menyangganya dengan tangan untuk melihat wajah Kala yang sedang terlelap. Kala. Kala. Kala. Wanita yang berada di sampingnya beberapa bulan lalu bukanlah siapa-siapa. Dan Atma tak pernah membayangkan Kala akan menjadi sepenting ini dalam kehidupannya. Dulu, saat pertemuannya pertama kali. Di kampus Kala. Di mana saat itu Atma menjemput Lingga dan tak sengaja bertemu dengan Kala. Tapi siapa yang sangka, pertemuan yang tak sengaja justru berbuah akad yang Atma ucapkan dengan lantang di depan Ayah Kala. Ya, begitulah takdir, tak bisa diduga. Menikah dengan Kala. Bukanlah pilihan yang mudah. Batin Atma sempat bergejolak. Meyakinkan dalam hati, jika perasaan di dalam hatinya benar cinta atau hanya nafsu terlebih dengan keadaan Kala yang masih berstatus mahasiswi. Atma sempat menyerah, tapi ternyata ia tak mampu. Dan saat itu, Atma jadi menyadari jika ia benar-benar mencintai Kala. Mencintai wanita yang sedang terlelap di sisinya. Mencintai wanita yang ia lihat di setiap tidur dan bangunnya. Mencintai wanita yang diam-diam telah menjadi hidupnya, napasnya, detaknya. Sungguh, Atma tidak berlebihan. Karena semua memang benar adanya. "Tidak......tidakkkkk." "Mas? Ada apa? Mas?" Atma terbangun dan langsung membulatkan matanya. Kaget. Ia lupa sejak kapan ia terlelap karena seingatnya ia masih menatapi Kala dan mengenang masa-masanya dengan Kala dahulu. Tapi sekarang, ia terbangun karena mimpi itu mimpi yang entah sejak kapan menghantui pikirannya. Dan saat ini, Kala juga sudah terbangun. Entah karena apa, mungkin karena Atma. Kala memberikan segelas air yang berada di nakas sebelahnya kepada Atma, "minum mas." katanya mempersilakan Atma. "Kal?" tanpa memedulikan tangan Kala yang sedang terulur itu, Atma seperti mengalihkan pembicaraannya. "Ya, mas?" "Sampai kapan?" Kala menarik napasnya panjang dan mengembuskannya berat. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini akan berlanjut. Maka, Kala menggeser tubuhnya, sedikit menjauh dari Atma. "Mas, aku ke kamar mandi dulu." "Kal?" Atma kembali bertanya namun ia tak hanya bertanya melainkan menahan tangan Kala untuk tetap berada pada posisinya saat ini. "Sampai kapan aku harus menunggu?" Kala memalingkan wajahnya. Ia benar-benar tak ingin membahas apapun tentang permasalahan itu. Tapi Atma tak bisa menahannya lagi, ia meremas tangan Kala pelan. "Tangan ini yang akan menguatkan, Kal. Apapun yang terjadi, tangan ini akan selalu pulang pada genggamannya. Apa yang kamu takutkan lagi?" lagi, lagi dan lagi Atma berbicara tapi Kala tetap sama seperti sebelumnya, tak menanggapinya. "Maaf, maaf." setelah sekian lama, Kala akhirnya menanggapi juga. "Aku tidak mau kamu sedih berlarut-larut, Kal. Setelah keguguran---" "Aku takut gagal lagi. Aku takut mengecewakan kamu lagi, aku takut, aku takut." kini suara Kala bergetar, air matanya pun sudah terjatuh bebas ke pipi mulusnya itu. Seperti pecah sudah bendungan yang selama ini ia tahan. Sejujurnya, Sejujurnya, pasca keguguran kemarin Kala memiliki trauma. Bayang-bayang saat janin itu dikeluarkan secara paksa--keguguran membuat Kala merasa bersalah. Membuat ribuan kata andai ramai di kepalanya. Membuatnya menyalahkan dirinya. Membuatnya benar-benar seperti kehilangan akal, kehilangan arah, ditambah beberapa pikiran-pikiran lainnya yang membuat Kala semakin trauma. Semuanya, membuat Kala takut memiliki anak, tidak, tidak, lebih tepatnya ia takut hamil dan keguguran lagi. "Aku tahu aku egois. Tapi, mas....." Atma langsung mendekap Kala dalam pelukannya. Rupanya, keguguran itu masih jadi guncangan yang begitu keras sampai mampu membuat Kala yang ia kenal kuat menjadi lemah seketika. "Sudah, sudah. Menikah bukan tentang menjadi satu, satu. Tapi menjadi lebur untuk bersepakat menjadi satu. Maafkan aku yang masih tidak paham dengan perasaan kamu, Kal. Maafkan aku, yang tidak mampu membuat kamu tenang. Tapi Kal, aku mencintaimu lebih dari aku mencintai aku. Aku akan selalu menguatkanmu di belakang, menyambutmu di depan dan menjagamu di sisiku. Kamu harus tahu itu." kata Atma sambil mengecup kening Kala pelan membuat Kala diam-diam memejamkan matanya, merasakan cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh Atma. Aku mencintaimu, aku mencintaimu juga. Katanya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN