"Oh iya, Lingga sudah menghubungi kamu?"
Kala langsung menatap Atma yang sedang sarapan di depannya. Tatapannya bingung.
"Lingga?"
Atma menyuap nasinya lagi, "iya, Lingga. Lingga pindah ke Yogyakarta kemarin."
Kala langsung menjatuhkan sendoknya yang sudah berada di udara. Ia kaget, tentu saja. Memang ini bukan berita baru jika Lingga akan meneruskan kuliahnya di sana, hanya saja waktunya terasa jauh lebih cepat dari yang Kala bayangkan.
Ada sangkut pautnya kah dirinya dengan keputusan Lingga?
Entahlah.
Tidak, tidak. Kala tak perlu berpikiran seperti itu. Ia dan Lingga hanyalah sebuah cerita yang sudah lama usai. Hanya itu, tidak lebih.
"Sepertinya dia lupa menghubungi kamu. Yasudah, aku pergi ke kantor dulu ya." kata Atma hendak berdiri tapi Kala menahannya di sana dengan tatapan mata yang tak dimengerti Atma.
"Briana ke sini kemarin." Kala tersentak. Bukan, bukan itu yang ingin ia ucapkan pada Atma. Sungguh. Tapi entah mengapa tiba-tiba saja Kala mengatakan itu. Mengatakan hal yang membuat Atma kembali duduk di hadapannya, menyimpan banyak sekali tanya.
"Oh ya? Briana ngga bilang apapun sama aku." ucap Atma dengan sedikit senyumnya.
"Dia wanita yang cantik ya." dan ini lagi, bukan kalimat yang ingin Kala ucapkan.
"Ee--emp. Kamu cantik."
"Aku cemburu."
Kini, Atma menatap Kala meski wanita itu masih menundukkan tatapannya. Ada rasa kaget saat ia mendengar kata itu. Ini pertama kalinya ia mendengar Kala cemburu. Dan Atma tak paham, bagian dari mana yang membuat Kala cemburu pada seorang Briana?
"Lho? Kal?"
Kala mengangkat kepalanya, menatap Atma. "Salah kalau aku cemburu pada Briana? Wanita yang dulu pernah ada di hati kamu?"
Ya. Meledak sudah bom waktu yang Kala tahan-tahan dari kemarin. Sebenarnya ia tak ingin menceritakan hal ini pada Atma. Ia tahu itu hanya masa lalu tapi entah mengapa ia jadi memikirkan hal-hal yang tak perlu. Kala jadi takut sekali, takut jika foto ciuman Atma yang ia lihat bukanlah sekedar kecelakaan tapi ada sesuatu dibalik itu semua.
"Itu masa lalu, Kal." kata Atma dengan tenang. Setenang air yang berada di dalam gelas. Tapi semua itu pun tak dapat menyembunyikan keterkejutan Atma.
"Ya, itu masa lalu. Tapi yang aku kecewakan adalah mengapa aku harus mendengar itu dari orang lain? Mengapa aku seperti tidak mengenal kamu? Mengapa aku....." Kala mengambil napas sejenak. Menatap Atma dengan mantab, "seperti bukan apa-apa di hidup kamu?"
"Sepertinya kamu berlebihan Kal." Atma berdiri. Pandangan mereka masih menyatu, "aku pergi dulu." lanjutnya sambil membalikan badan dan meninggalkan Kala begitu saja.
Kala menangis. Kala menangis melihat sikap Atma yang seolah-olah semakin menunjukkan jika Kala memang bukan apa-apa di hidupnya?
Berlebihankah Kala?
Jika sikap Atma yang seperti ini tentu saja wajar Kala berpikiran seperti itu.
"Kami memang memiliki hubungan, dulu. Hubungan kami pun baik sekali. Tapi saya memutuskan untuk menikah dengan orang lain yang bukan Atma. Ah, mungkin masa lalu Atma dan saya tidak terlalu baik makanya dia tak pernah menceritakannya pada kamu."
"Tapi sekarang, kami sudah memiliki pasangan masing-masing. Atma sudah mengambil keputusan yang hebat untuk menikahi kamu. Karena saya percaya, dengan kamu, Atma bisa melupakan masa lalunya perlahan-lahan."
Ah! Mengapa semua ucapan Briana kemarin itu kembali terulang-ulang di benak Kala? Mengapa semuanya seperti menghancurkannya perlahan-lahan?
|•|
Jakarta cerah hari ini. Membuat pemandangan dari atas rooftop kantor ini jadi lebih indah terlebih hari sudah sore. Matahari akan tenggelam di ujung barat sana dan meninggalkan langit yang menguning, senja. Dan dua manusia berbeda jenis kelamin itu, sedang menanti-nanti kedatangan senja dengan keheningan yang sudah berbuntut panjang sejak tadi.
"Sudah lama sekali rasanya...." akhirnya, wanita itu bersuara sambil menarik napasnnya yang membuat laki-laki di sampingnya jadi menatapnya.
"Apa?"
"Sudah lama sekali rasanya kita tidak mengunjungi tempat ini. Biasanya, dulu kamu selalu mengajak aku ke sini mas, bahkan sampai pernah kita kekunci di sini semalaman." ungkapnya yang membuat laki-laki itu tertawa lepas sambil membayangkan kejadian waktu itu.
"Mas Atma...." wanita itu kembali bersuara yang membuat suasana kembali hening. Laki-laki yang dipanggilnya Atma itu menatapnya, menatap Briana.
"Ya?"
Briana menurunkan kepalanya perlahan-lahan dan menyandarkannya ke bahu Atma. Seolah refleks, tangan Atma sudah melingkari lengan Briana begitu saja.
"Sudah lama juga rasanya tidak begini. Nyaman sekali rasanya."
Atma berusaha melepaskan tangannya tapi Briana menahannya dengan tubuhnya, "sepuluh menit saja, mas." lanjutnya.
Dan Atma tak dapat berbuat apa-apa selain menuruti ucapan Briana.
|•|
"Kala!! Keluar kamu dari kelas saya sekarang!" suara itu begitu menggema ke sudut-sudut ruangan ini tapi yang dipanggilnya masih saja menatap dengan tatapan kosong. Seolah-olah dunianya tak berada di sana.
"Kala!! Keluar!" kali ini suaranya lebih keras sampai membuat yang lainnya menundukkan kepala kecuali Kala.
"Eee--eh maaf, maaf pak." kata Kala tergagap-gagap. Ia berusaha memfokuskan dirinya pada saat ini. Karena tadi, entah sejak kapan. Kala seolah tertarik dengan pikiran-pikiran yang dapat menenggalamkannya, ya, apalagi selain Atma dan sikapnya yang penuh dengan tanya.
"Keluar kamu dari kelas saya!"
"Aa--pa?"
Pak Bandi sudah menggeram. Sadar akan situasi saat ini, Kala memilih untuk bangkit dari duduknya dan pergi dari sana saat itu juga.
Langkah kaki Kala gontai. Ia ke sana ke mari tanpa tujuan, bahkan sepertinya ia sudah melewati kelasnya sebanyak dua kali dan masih tidak tahu ke mana ia akan pergi. Pikirannya sangat menyiksanya saat ini. Sampai Kala pun tidak menyadari kalau sejak tadi ia tidak sendirian, ada Renata yang berada di sampingnya yang sedari tadi juga menemaninya ke sana ke mari seperti orang bingung.
"Kal... Pulang aja ya? Kayaknya lo ngga sehat hari ini." ini sudah ke lima kalinya Renata berucap hal yang sama tapi Kala sama sekali tidak menggubrisnya.
"Na?" Langkah Kala berhenti, ia diam sejenak dan langsung duduk di bangku yang berada di depan kelasnya. Renata hanya mengikutinya saja.
"Apa keputusan gue salah ya?" lanjutnya yang membuat Renata bingung.
"Apa yang salah?"
"Menikah."
"Kal.. Ngga ada yang salah dengan itu." Renata berusaha meyakinkan Kala dan berharap wanita itu merasa lebih baik.
"Kenapa berat banget ya, Na?" Kala bertanya lagi-lagi.
"Ngga ada yang mudah di dunia ini Kal. Masak mie instant kalau ngga bisa nyalain kompornya juga kerasa susah. Kal--"
Drreeet dreet
Ponsel Kala berbunyi membuat Renata menggantungkan kalimatnya begitu saja.
Panggilan itu dari Lingga, Kala tak salah lihat dengan pandangannya saat ini.
"Na, gue pulang dulu." pamitnya pada Renata. Setelah beberapa langkah, Kala mengangkat panggilan itu.
"Haloo, Ga?"