Atma menarik kursinya. Meletakan kopi yang ia pesan di meja. Kemudian tatapannya mengarah pada jalanan kota yang masih saja ramai meski waktu sudah larut. Tadi, selepas pertemuan dengan koleganya Atma memutuskan untuk menetap di sini beberapa saat untuk menenangkan pikirannya. Ia takut Kala masih salah paham dengan hubungannya dan Briana di masa lalu. Sesuatu hal yang seharusnya tak perlu Kala khawatirkan. Harusnya Kala tahu itu, sebab ia adalah satu-satunya untuk Atma saat ini.
Atma mengambil ponselnya, ia berniat menghubungi Kala. Tapi, saat matanya melihat pembaruan dari Pra di w******p ia langsung membukanya dan melihat foto Binar sedang makan dengan mulut penuhnya itu membuat Atma akhirnya membuka obrolan dengan Pra.
Binar lucu sekali. Apa kabarnya?
Dan melupakan tujuan pertamanya, menghubungi Kala.
|•|
Kala terjaga dan tak mendapati Atma berada di sampingnya. Hari masih pagi dan seingat Kala ini hari sabtu. Atma tidak ke kantor atau kalaupun memang ada pasti ia akan bilang pada Kala. Kala bangkit dari posisinya, mencari Atma sambil ia mempersiapkan sarapan mereka.
"Iya, Binar, iya. Jangan menangis lagi ya?"
"Iya, nanti kita main ya?"
Senyap-senyap Kala mendengar suara itu, suara dari balik ruang kerja Atma. Tapi apa itu? Mengapa Atma berucap seperti itu? Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan? Dengan penasaran, Kala membuka sedikit pintu itu menimbulkan decitan yang tak dihiraukan Atma. Karena laki-laki itu masih memandangi ponselnya. Sejauh pandangan Kala sepertinya Atma sedang melakukan video call entah dengan siapa.
"Binar mau apa? Boneka? Mainan? Ahh... Binar suka boneka? Iya?"
Binar?
Siapa dia?
Boneka? Mainan?
Apa ini?
"Mas...."
Atma langsung berbalik, menatap Kala kaget.
"Siapa mas?" Kala kembali berucap.
Atma tersenyum, menunjukkan ponselnya pada Kala, "sini, Kal. Ini Binar, anaknya Pra."
Sebentar, Kala merasa tidak asing dengan nama itu. Pra? Yang dimaksudkan Atma itu Bu Sasty? Prasastya? Dosennya? Anaknya? Binar? Apalagi yang tidak Kala ketahui tentang suaminya?
Ya Tuhan.
"Sini, Kal." kata Atma yang membuyarkan lamunan Kala. Dengan perlahan Kala menghampiri Atma dan melihat Binar di layar ponsel itu tersenyum gemas.
Dan Binar langsung menangis saat melihat Kala. Dan saat itu pula, wajah Pra memenuhi layar ponsel Atma yang hampir membuat Kala menjerit. Karena benar dugaannya, itu Pra tidak maksudnya Bu Sasty, dosennya.
"Aduhh, maaf yaa Atma, Kala. Binar sudah menganggu kalian. Tapi katanya dia ingin sekali video call sama Atma seperti kemarin malam. Maaf yaa, terima kasih juga Atma sudah mengabulkan permintaan Binar. Sekali lagi maaf yaa, saya tutup ya..."
Ponsel Atma kembali seperti tampilan semula. Tak ada lagi wajah Binar apalagi Pra yang memenuhi layarnya. Meski penuh dengan tanya, tapi Kala tak menghiraukannya. Ia malah menjauhi Atma dan melakukan rencana awalnya, membuatkan sarapan untuk Atma dan dirinya. Dan Atma, masih pada posisinya. Duduk dengan ponsel di genggamannya. Tak bersuara apapun, tak menjelaskan apapun. Apapun yang membuat Kala tenang.
Mengapa rasanya sesakit ini ya Tuhan? Dikepung pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu Kala suarakan karena ia takut hubungannya dengan Atma menjadi tak baik lagi. Membuat Atma tak nyaman dengan sikap Kala yang kanak-kanakan. Kala takut sekali, maka ia hanya mampu berdiam diri sambil menanti jawaban itu datang dengan sendirinya.
|•|
"Mas, jalan-jalan yuk? Nonton? Makan siang di luar? Atau apa gitu, yuk?" ucap Kala setibanya ia di hadapan Atma. Tubuhnya sudah ia balut sempurna dengan setelan kulot yang sangat pas di tubuhnya. Sudah sempurna untuk jalan-jalan berdua dengan Atma terlebih ia juga sudah melihat Atma yang sepertinya juga sudah siap untuk jalan.
Atma yang tadi sedang menatap ponselnya menjadi menatap Kala, "tapi hari ini ngga bisa, Kal."
"Lho?"
"Aku sudah keburu janji sama Binar buat main sama dia."
Deg!
Kala tahu di luar tidak hujan, tapi rasanya petir itu menghantam Kala. Kala terkejut, kakinya melemas.
"Bi-binar? Ma-main? Di--ma--di mana?" Kala tergagap, sebagian dirinya masih mencerna ucapan Atma.
Main? Janji? Binar?
Atma tersenyum, "iya, Binar. Anaknya Pra. Aku mau menemaninya mandi bola hari ini di mall." katanya penuh percaya diri, "ah, iya, kamu mau ikut?"
Tangan Kala menjamah sofa, mencengkramnya kuat. "Tidak, kamu saja. Semoga menyenangkan." ucapnya dengan senyum.
"Ya sudah. Aku pergi dulu ya?"
"Ya." sungguh, ada banyak sekali kalimat yang ingin Kala ucapkan tapi wanita itu malah memilih untuk mengatakan 'ya'. Wanita itu kembali memilih untuk menahan semuanya, sebab Kala masih saja takut jika hubungannya kembali memburuk dengan Atma.
Dilihatnya punggung Atma semakin menjauh. Laki-laki itu memang tersenyum dan sepertinya meninggalkan rumah dengan perasaan yang senang, tapi semua itu tak tertuju pada Kala. Ya Tuhan. Kala sama sekali tidak dapat membayangkannya pertemuan mereka. Dan apa-apa yang terjadi setelahnya.
|•|
Di sinilah sekarang Kala berada, di sebuah kedai kopi milik salah seorang sahabat yang cukup Kala kenal. Kopinya sudah dingin, setengahnya berhasil ia minum dan entah yang setengahnya lagi kapan ia teguk karena sudah sejam ia berada di sini dan tak ada sama sekali yang berubah, termasuk pikirannya.
"Aduuhh Kala...." desah Renata setibanya ia di sana dan melihat Kala dalam keadaan yang tak begitu baik.
Kala tersenyum menatap Renata kemudian menatap Bisma, pemilik kedai kopi yang sudah berada di samping Renata.
"Udah sejam, Na. Ini orang masih aja kayak gini. Padahal udah gue suruh pulang, kalau ngga lakinya gue suruh ke sini tapi malah nantangin." jelas Bisma pada Renata yang membuat wanita itu kembali mendegus dan menatap Kala dengan tatapan bingung. Tapi Kala kembali tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ini me time gue. Jadi laki gue juga ngga bakal ngapa-ngapain. Bis, udah gih sana."
Bisma mengangkat kedua tangannya sejajar d**a, "oke-oke, gue tinggal ya. Have fun." katanya sambil berjalan mundur menjauhi Kala dan Renata.
Renata sudah duduk di hadapan Kala, "iya, iya me time yang sangat aneh. Yang satu kayak orang gila di kedai kopi, yang satu senang-senang di mall."
Tatapan Kala berubah, seperti meminta penjelasan pada Renata.
"Laki lo..."
"Saudara itu, biasa lah."
"Saudara dari mana, alis Syahrini.... Itu Bu Sasty, geblek."
Oh, haruskah Kala terkejut?
|•|
Ibu dan Ayah Kala menyambut kedatangan anaknya dengan suka cita. Hari ini, keluarga mereka akan mengadakan arisan keluarga besar yang biasanya memang selalu Kala hadiri, dan juga Atma tentunya.
"Kala...." panggil Ibu Kala yang sangat histeris melihat anaknya saat ini. Ya, wajar saja sejak memutuskan menikah dengan Atma. Depok dan Jakarta menjadi jarak yang seperti sulit untuk dijangkau, padahal dulu saat Kala masih sendiri ia selalu menyempatkan pulang seminggu tiga kali atau kapanpun ia mau. Tapi sekarang, ibu dan ayah Kala mencoba mengerti keadaan ini. Kala pun pasti sibuk dengan kuliah belum lagi dengan urusan rumah yang mesti ia selesaikan.
"Ibu, apa kabar?" Kala menyambut pelukan ibunya, tenang dan damai serta nyaman sekali rasanya pulang ke sini, ke pelukan ibunya.
"Ibu baik, nak. Kamu bagaimana?" ibu Kala menjawab dengan posisi masih memeluk Kala. "Atma, apa kabar?" pandangannya beralih menatap Atma yang sedang berdiri dengan senyumnya.
"Alhamdulillah bu." jawab Atma yang masih tersenyum.
Kala melepaskan pelukannya, memberi salam pada ayahnya sebelum akhirnya ia kembali melengket pada ibunya.
"Kala baik bu, Alhamdulillah."
"Ya sudah, kita masuk ya? Sebentar lagi para saudara akan datang." ucap Ibu Kala sambil merangkul Kala dan berjalan memasuki rumahnya diikuti Atma dan suaminya di belakangnya.
"Asyikkk.. Ibu pasti bikin siomay banyak ya?" kata Kala kegirangan. Selain ibu, ayah dan pelukan mereka. Salah satu alasan mengapa Kala sangat merindukan rumahnya adalah masakan ibunya, terlebih-lebih siomay buatan ibunya.