13. Pernikahan Kedua

1218 Kata
Tatapan Kala masih lurus, menatap sosok Atma yang sedang berkumpul dengan saudara-saudara Kala sambil membicarakan sesuatu yang entah apa. Kadang, Atma tersenyum kadang ia tertawa sampai menyipit matanya atau sampai membuat Kala yang berada di ruangan yang sama, berbeda jarak juga ikut tersenyum melihat suaminya yang sangat memncarkan kebahagiaan itu. Ia rindu Atma yang seperti ini, rindu juga pada dirinya yang saat ini yang tak memikirkan apapun, apapun yang membuatnya menjadi tak senang. Ia rindu keadaan mereka yang seperti ini. "Eehh Kala, apa kabar kamu? Sudah berapa bulan?" Lamunan Kala pudar. Tatapannya tak lagi menatap Atma, tapi menatap Tante Risa yang dengan mengejutkannya sudah berada di samping Kala. Dan, pertanyaan itu membuat Kala terdiam sejenak. Mengulang pertanyaannya dalam hati. Apa kabar? Sudah berapa bulan? Bulan? Bu-lan? Mengapa kebahagiaan cepat sekali berganti? Mengapa pertanyaan itu yang harus ia dapatkan di saat-saat seperti ini? Saat ia sudah bisa melupakan sejenak peperangan yang ada pada dirinya? "Kala keguguran, tan." Kala menunduk. Kembali sesak, dadanya. "Ya ampun, kok bisa?" Tante Risa masih terus bertanya. "Kala kecelakaan waktu naik ojek online." "Kamu harusnya hati-hati, Kal." kali ini, bukan hanya Tante Risa. Tante Kala yang lainnya pun ikut masuk ke dalam obrolan yang sangat Kala ingin hindari. "Ya sudah, yang lalu sudah lalu. Sekarang bagaimana? Kamu sudah program lagi 'kan?" Tante Risa kembali bersuara. Cukupkah jika hanya senyuman yang menjawab pertanyaan itu semua? Cukupkah untuk mereka berhenti bertanya? Cukupkah untuk memberitahu kepada mereka bahwa Kala merasa tak nyaman dengan obrolan ini. "Kal?" Kala tersadar dari lamunannya saat ia mendengar suara yang ia kenal, Atma. Atma yang entah bagaimana caranya sudah berada di hadapannya yang membuat Tante Risa dan tante-tante Kala yang lain bertutup mulut. "Aku lapar," lanjutnya yang membuat Kala bernapas lega, merasa terselamatkan. Kala segera bangkit, "yasudah ayo kita makan. Duluan ya tante." pamitnya sopan dan tak lupa dengan senyum mengembang di bibirnya. "Terima kasih." bisik Kala pelan pada Atma. Membuat Atma tersenyum menatapnya, teduh. Ia tahu. Sejak Kala di hampiri Tante Risa, sangat kentara dari wajah Kala jika ia tak nyaman terlebih Atma mendengar sedikit tentang pembicaraan mereka, pembicaraan yang sangat sensitif untuk Kala. Maka, tanpa menunggu lagi Atma langsung menghampiri Kala dan mencari cara untuk menarik Kala dari sana. "Tapi, aku lapar beneran kok." ucapnya menggoda Kala. "Assalamualaikum." Pandangan Kala dan Atma yang tadinya saling menatap, pecah begitu saja saat mendengar sapaan dari arah pintu. Atau karena mereka seperti tak asing dengan suara itu, seperti pernah mendengarnya. "Pra? Binar?" "Bu Sasty?" Kejutan macam apalagi sekarang? |•| Briana mengeluarkan baju-baju dan beberapa bingkisan dari koper Januar. Hari ini, suaminya itu sudah tiba di Jakarta dengan selamat setelah selama beberapa bulan menyelesaikan pekerjaannya di luar negeri sana. "Siapa atasan kamu, Bi?" Januar langsung bertanya saat dirinya baru saja keluar dari kamar mandi. "Atma." "Ah, iya. Atma.. Apa kabarnya sekarang?" "Baik. Kamu tumben banget nanyainnya, ada apa?" Briana langsung menatap Januar dengan tatapan tak wajar. Sebab ini pertama kalinya Januar menanyakan itu dan mengapa rasanya aneh sekali? "Ngga apa-apa. Hanya saja, kamu jangan terlalu dekat dengannya." kata Januar tanpa basi-basi yang membuat mata Briana nyalang. Apakah ini sebuah peringatan atau apa? Tapi, Briana tak mengindahkannya. |•| Acara arisan keluarga besar sudah selesai. Hanya menyisakan Kala dan Atma saja dan kedua orang tua Kala. Maklum, Kala adalah anak satu-satunya. Jadi, selepas Kala menikah rumah orang tuanya memang selalu sepi. "Bu, aku mau tanya boleh?" tanya Kala, "siapa Pra itu? Kala rasa, Kala baru melihatnya tadi." lanjut Kala tanpa menunggu izin ibunya. "Kamu tidak tahu?" ibu Kala berbalik bertanya yang membuat Kala tentu saja kebingungan. "Tidak, memang siapa?" "Kamu ingat Mas Randu? Pakde Joni?" "Iya, ingat. Adiknya Tante Risa 'kan?" "Nah, Pra itu istrinya Mas Randu. Mereka menikah hanya dalam waktu enam bulan kalau tidak salah. Mas Randu pergi dan meninggalkan Pra dalam kondisi hamil saat itu. Ibu juga tidak tahu terlalu banyak, karena ibu juga baru tahu. Tapi rasanya melihat Pra se-bangkit itu setelah kehilangan Randu dan melihat anaknya sekarang yang benar-benar duplikat Randu, ibu senang sekali." jelas Ibu Kala runtut yang membuat Kala mengangguk-anggukan kepalanya, tanda mengerti dan mengesampingkan rasa terkejutnya. Dan Atma yang sedari tadi diam, menikmati kopi dan menonton acara televisi pun diam-diam mengingat-ingat semua ucapan Ibu Kala. |•| Canggung. Ya. Memang itulah yang dirasakan Kala setiap kali dirinya tak sengaja bertemu dengan Pra. Di kampus yang luas ini, ada saja hal-hal yang tak sengaja yang akhirnya mempertemukan mereka berdua. Pra tidak ada masalah dengan hal itu bahkan sesekali ia tersenyum pada Kala. Lain halnya dengan Kala. Masih bisakah dia tersenyum pada Pra? Pada seseorang yang akhir-akhir ini sering kali berada di pikirannya dan mengganggunya? Seseorang yang sialnya menjadi saudara sekaligus teman suaminya? "Kal, lo kenapa?" Renata menyudahkan kegaduhan di benak Kala. Kala berbalik, menatap Renata yang berada di sampingnya kemudian ia menggeleng, memberi tanda bahwa ia baik-baik saja. "Jadi benar Bu Sasty itu saudara lo? Ya ampun, dunia ngga selebar daun kelor ternyata ya." ucap Renata lagi. Ya, tadi Kala menceritakan kejadian kemarin, menceritakan fakta yang baru ia ketahui juga. "Jadi kemarin suami lo jalan sama dia itu pure karena saudaraan 'kan? Ngga ada yang lainnya?" Kala diam sejenak. Pikirannya kembali penuh seketika. Kejadian beberapa hari yang lalu memang di luar kuasa Kala, Atma menemui Pra tentu saja bukan karena alasan 'persaudaraan' yang Renata bilang tapi ada alasan lain yang tak mungkin Kala jelaskan pada Renata, yaitu alasan bertemu dan mengajak main Binar, anak Pra. "Iya, jadi gitu." mulut Kala terbuka, ia tersenyum pada Renata. Iya, gue juga berharap begitu. Hati Kala bersuara. "Habis ini gue mau ke kedainya Bisma, lo mau ikut?" ajak Kala pada Renata. Wanita yang sedang menyantap mie rebusnya itu kembali menatap Kala. "Ngga deh, gue masih ada tugas yang belun selesai." kata Renata sambil kembali menyantap mie rebusnya. Kala hanya menganggukkan kepalanya, meski ia sedikit kecewa. |•| "Bi, ini surat izin buat pembangunan apartemen di daerah Semanggi di mana ya?" Atma membuka map cokelat yang berada di tangannya dan mengeceknya satu-satu. Seperti biasa, hari ini ia akan meeting dengan salah satu perusahaan property dengan ditemani Briana, ya siapa lagi memang kalau bukan Briana? "Eh iya, ini ketemu." lanjutnya lagi. Tapi Briana masih diam, pandangannya berlarian ke mana-mana sampai ia menemukan sesuatu yang mengganggu pandangannya. Itu Kala, Ia tidak salah lihat. Itu memang benar-benar Kala. Kala dengan seorang pria lain yang sedang bercengkrama akrab. Briana tersenyum tipis. Pandangannya mengarah pada Atma dan bergantian dengan Kala yang keberadaannya tak jauh dari tempat di mana Briana dan Atma berada. "Mas.." Briana memanggil Atma, membuat laki-laki itu mengalihkan pandangannya sebentar, ke arah Briana. "Kamu lagi ada masalah ya sama Kala?" Atma terkejut dengan ucapan Briana. Lantas ia mengingat-ingat kembali, tak ia temukan masalah apapun. Ia dan Kala baik-baik saja, bahkan sampai saat tadi sebelum Atma meeting Kala masih mengiriminya pesan, mengingatkan makan serta memberinya semangat. "Apa?" "Itu, ada Kala di sana sama laki-laki lain." Pandangan Atma berpindah mengikuti pergerakkan telunjuk Briana dan...... Hap! Benar, itu Kala. Kala dengan laki-laki yang tak Atma kenal sedang berbagi cerita dan tawa di sana. Tapi Atma berusaha tak mau mengambil pusing, toh dari dulu pun ia tak pernah membatasi pertemanan Kala dan hal-hal yang Kala lakukan selama ia tahu mana yang baik dan buruk, tahu mana yang boleh dan tidak. Jadi, Atma mengembalikan pandangannya pada berkas-berkas yang berada di hadapannya. Dan membuat Briana tersenyum simpul.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN