Tanpa banyak bertanya, Lusi hanya mengikuti ke mana asisten itu berjalan. Tepat di depan sebuah kamar, asisten itu berhenti. Lusi yakin, jika itu kamar gadis yang dimaksud. Pintu kamar pun di buka, kamar yang begitu luas, dengan segala perabot yang cukup mewah dengan tatanan khas gaya eropanya. Seorang gadis berdiri di depan jendela kaca yang sangat besar. Asisten yang datang bersama Lusi memanggil gadis itu. “Maaf, Cik Puan. Ini ada desainer dari Indonesia yang ingin bertemu dengan Cik Puan,” ujar sang asisten dengan logat Melayunya yang pekat. Lusi terus memperhatikan gadis itu dari belakang, dia begitu penasaran dengan sosok gadis itu. Perlahan gadis itu membalikkan badannya. Lusi melotot, tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya, keringat dingin membasahi wajah cantiknya, wa

