Edo dan Frans sama-sama menoleh ke arah Lusi. Mereka hanya ingin memastikan, jika pendengaran mereka tidak salah. Seperti terkena sihir, keduanya mendekati Lusi. Mac yang melihat pun heran, ajaib. Keduanya langsung menghentikan aksi baku hantam mereka. “Lo serius, Lus?” tanya Edo. “Jangan main-main, Lus. Imel sudah tidak ada.” Yang ini suara Frans. “Hooh! Bukankah kita ikut upacara pemakaman itu?” Edo kembali memastikan jika kata-kata Lusi tidak benar. “Serius! tadi gue juga kaget kek kalian berdua.” Lusi berusaha meyakinkan mereka. Edo menggeleng, dia terlihat shock dengan kabar yang ia dengar. “Dimana lo lihat Imel?” “Di kediaman Amran. Datuk Amran Smith,” ujar Lusi. “Apa!!” teriak Edo dan Mac bersamaan. Lusi bingung dengan reaksi Edo dan Mac. Terlebih lagi Mac yang terlihat s

