Tanpa keduanya sadari, sosok tampan itu terus memperhatikan ke duanya dari jarak yang tidak begitu jauh. Ada seserpih luka di dalam hatinya, melihat wanita yang begitu ia cintai tengah tersenyum bahagia dengan sahabatnya. Sakit … itulah yang dia rasakan saat ini. Walaupun dia berusaha ikhlas, tetapi tetap saja dia belum bisa merelakan Andin sepenuhnya. Jujur, kadang dia ingin kembali merebut Andin dari sisi sahabatnya. Hingga tanpa dia sadari tepukan seseorang mengagetkannya dari angan-angan jahatnya. “Ayo kita pergi,” ucap Mac. Mengagetkan Edo yang masih diam terpaku memandang kearah Andin dan Frans. Edo menoleh, tersenyum kearah sang kakak. “Ayo Mac.” Mengikuti langkah sang kakak yang tidak menyadari keberadaan Andin dan Frans di tempat itu. Tampak dari kejauhan, tanpa sengaja Andin

