14 : Our Might Life

1991 Kata
From: Evelyn Apakah kamu sangat sibuk akhir-akhir ini? Sudah lama saya tak melihat kamu datang untuk berkunjung. Athala menatap layar ponselnya dengan gelisah. Sebelumnya lelaki itu sudah dapat memperkirakan bahwa hal ini akan terjadi. Tinggal perkara waktu sampai Evelyn menyadari bahwa dirinya perlahan mulai menarik diri dari janji yang selama ini Athala pertahankan. “Kalau Elaine bangun gimana, Mas?” Pertanyaan dari Damar membuyarkan niat Athala untuk mengirim pesan balasan. Sore itu Athala berada di kediaman kedua orangtuanya. Sejak keluar dari RS memang Seruni sengaja memaksa Athala untuk memulihkan diri di rumah sampai jatah cutinya habis. Bersama dengan sang adik, Athala duduk di teras. Athala memandang halaman rumah yang terlihat lengang. Hari ini Damar melakukan sistem kerja work from home sehingga dia seharian bisa menemani Athala. “Jujur, gue enggak tau.” Embusan napas berat terdengar dari hidung Damar. “Layla punya tunangan. Lo juga pernah atau bahkan mungkin masih punya tunangan. Meskipun, gue enggak tau apakah hubungan lo dan Elaine masih bisa layak disebut sebagai tunangan. Pada satu sisi gue seneng karena lo bisa move on dari Elaine. Mau bagaimana pun, dia sudah melukai lo. Tapi, di lain sisi gue tau hubungan lo sama Elaine belum sepenuhnya selesai. Masalalu di antara kalian bisa jadi duri dalam daging yang membuat lo enggak bisa kemana-mana.” Sejujurnya Athala juga memikirkan hal yang sama. Hubungannya dengan Layla sama sekali tidak memiliki masa depan. Lambat laun Layla akan menjadi istri dari lelaki lain. Athala juga tak mungkin akan menjadi selingkuhan selamanya. Bayangan perpisahan berada di ambang pintu. “Gue sayang sama Layla. Sudah bertahun-tahun gue enggak merasa dicintai. Bisa dibilang sekarang gue mulai tergantung sama dia. Tapi, gue juga paham bahwa enggak ada masa depan bagi kami.” “Mas, gue mungkin bisa sedikit memahami perasaan lo. Tapi, gue enggak bisa menormalisasi perselingkuhan. Mama Papa juga sama. Kami mungkin memang menyambut Layla dengan baik, tapi kami enggak mendukung supaya lo jadi lelaki kedua di hidupnya. Layla itu tunangan Noah Elio Rahardjo. Dia calon menantu keluarga Rahardjo. Kita enggak bisa main api terlalu lama sama keluarga mereka. Mama dan Papa mungkin punya uang. Tapi, keluarga Rahardjo punya uang dan koneksi.” Baru saja Athala hendak membalas ucapan Damar ketika deru mesin mobil terdengar mendekat. Suaranya terdengar asing. Bersamaan dengan itu pula sebuah BMW alpine white parkir di halaman rumahnya. Tak lama dari itu Athala melihat Layla keluar dari kursi sopir. Seketika itu juga percakapan berat yang semula terjalin antara Athala dengan Damar menguap. Yang tersisa kini adalah senyum Athala sewaktu menyambut kehadiran Layla. “Hai,” sapa Layla sambil berjalan mendekati Athala dan Damar. “Hai.” Athala membalas. Tangan kanannya sudah terulur demi menggenggam tangan Layla. Rasa hangat menyeruak ketika kulit keduanya saling bersentuhan. “Kamu bawa mobil sendiri?” Layla menampilkan senyum bangga. “Ini mobil lamaku yang disimpan di rumah Om Yudhistira.” “Kamu langsung kemari begitu selesai bekerja?” Layla memberikan anggukan. “Aku kangen kamu. Seharian enggak melihat kamu di kantor rasanya agak aneh.” “Padahal lukanya enggak parah-parah amat, tapi perusahaannya baik banget ngasih cuti sakit 3 hari. Kalau di kantor gue, Kak ….” Damar ikut nimbrung sembari geleng-geleng kepala. Lidahnya ikut berdecak pedih. “Selama karyawannya masih bisa napas dan jalan maka, wajib hukumnya masuk kerja.” Sejak mengetahui bahwa Layla sedikit lebih tua daripadanya Damar merasa lebih sopan untuk memanggil dengan embel-embel kakak. “Pindahlah ke perusahaan kami. Aku bisa kenalkan kamu lewat Om Yudistira.” “Ah, enggak, deh. Entar aja kalau udah cukup pengalaman gue bakal pindah. Omong-omong itu apa, Kak?” Damar melirik sebuah tas karton yang dijinjing oleh Layla. Sebelum ke sini Layla memang sempat melewati Levant Boulangerie & Patisserie—sebuah toko yang menjual aneka roti dan pastry khas Prancis. “Aku bawa tartelette strawberry, praline orange, vanilla flan parisien, mille feuille, dan canelle. Kamu suka?” Layla bertanya sambil menyodorkan tas karton tersebut. Dengan semangat Damar menyambutnya. “Suka banget. Papa Mama juga suka. Kalau gitu, masuk, yuk. Mama lagi nyiapin buat dinner.” Layla menyambut ajakan itu dengan hati senang. Di hari biasa seperti ini kediaman keluarga Athala terasa cukup sepi. Hanya ada ART dan Seruni yang sedang menata makanan di atas meja makan. Layla dan Athala ikut membantu, sedangkan Damar memindahkan kue yang dibawa oleh Layla. Malam itu Layla ikut makan bersama dengan keluarga Athala. Seruni dan Richard memang masih menyambut kehadirannya dengan baik sampai ketika Layla membantu merapikan meja makan dan Athala naik ke kamarnya. “Layla.” Seruni memanggil Layla yang sedang menumpuk piring kotor untuk dipindahkan oleh ART ke kitchen sink. Dengan lirikan matanya Seruni membuat kode kepada sang ART supaya memberikan ruang bagi mereka untuk bicara empat mata. Begitu karyawannya meninggalkan dapur Seruni kembali membuka mulut. “Beberapa waktu lalu saya baru mengetahui kalau ternyata kamu sudah bertunangan.” Ditanya begitu langsung membuat Layla gugup. Bagian bawah perutnya seakan diremas oleh tangan tak kasatmata. Layla berusaha menghindari tatapan Seruni. Perempuan itu memalingkan wajah sambil menjawab, “Iya, Tante.” “Layla, apa yang kamu inginkan dari Athala?” Nada suara Seruni masih terdengar tenang. Perempuan itu bertanya tanpa nada menuduh atau menyudutkan. “Saya ….” Layla menggigit bibir bagian bawahnya. Dia berusaha untuk tegar. “Mencintai Athala.” Di luar dugaan Seruni justru mengusap lembut punggung Layla. Sewaktu melihat wajah Seruni, Layla dapat menjumpai seulas senyum tulus di wajah perempuan itu. Senyum yang mengingatkannya kepada Athala. “Saya sudah lama tidak melihat Athala bahagia. Athala bukanlah seseorang yang mudah terbuka bahkan kepada keluarganya sendiri. Tapi, saya tahu bahwa kehadiran kamu bermakna sesuatu bagi dirinya. Hanya saja, perlu kamu ketahui bahwa cinta yang kalian miliki tak akan menghantarkan kalian kemana pun. Kamu telah dimiliki dan saya tidak mau Athala merebut kamu dari lelaki lain. Pahamilah bahwa cinta memang tidak selamanya bisa dimiliki.” Usai mengatakan itu Seruni meninggalkan Layla. Perkataan Seruni memang tak ada yang menyakiti, akan tetapi Layla cukup sadar diri bahwa dirinya baru saja diminta untuk berjalan mundur meninggalkan Athala. *** Athala mengantarkan Layla sampai ke gerbang perumahan. Kala itu langit sudah gelap. “Athala,” panggil Layla ketika Athala hendak membuka pintu mobil. “Ya?” Meskipun agak ragu, namun Layla tetap melanjutkan ucapannya. “Mau pergi bersamaku? Ke suatu tempat. Masih di kawasan Jakarta.” “Dengan berpakaian seperti ini?” Athala malam itu hanya menggunakan t-shirt polos warna hitam dan celana selutut. “Enggak masalah. Kamu mau?” Walaupun heran, akan tetapi Athala tidak menolak. Dibiarkannya Layla kembali melajukan mobil meninggalkan kawasan perumahan orangtua Athala. Ketika sedang mengemudi begini Layla terlihat fokus. Alisnya yang tebal namun terbentuk agak apik terlihat sedikit berkerut ketika ada sebuah motor yang menyalip secara sembrono. Sesaat Athala merasa cemburu. Pemandangan Layla yang begini pasti sudah sering Noah lihat. Seumur hidup ini kali pertama bagi Athala menjadi bayangan. Sejak memasuki usia pubertas Athala selalu dikelilingi oleh orang yang mengangguminya. Para perempuan yang sempat mendekati Athala bahkan rela meninggalkan dunia mereka, kekasih mereka hanya supaya bisa mencintai Athala dengan cara yang layak. Hanya saja, di sini … Athala menjadi pilihan kedua. “Kita sudah sampai,” kata Layla sambil memarkirkan mobilnya. Melalui kaca mobil Athala dapat melihat sebuah butik yang masih buka. Terdapat 3 kebaya pengantin yang dipajang menggunakan manekin di dinding kaca. “Untuk apa kita kemari?” Pertanyaan Athala terdengar bodoh sama halnya seperti ekspresi yang dia tampilkan. “Athala, kamu pasti tau kalau kita enggak memiliki kesempatan untuk bersama. Entah bulan depan atau tahun depan hubungan kita bisa saja berakhir.” Layla sempat melirik cincin pertunangannya dengan Noah. Sambil meneguhkan hatinya Layla menambahkan, “Aku menyayangi kamu. Kamu membawa cahaya, napas, dan kehidupan ke dalam hidupku. Tapi, aku tau bahwa aku enggak bisa memiliki kamu untuk selamanya. Jadi, mungkin … di sini kita bisa menjadi diri kita yang apa adanya. Diriku yang menginginkan kamu untuk menjadi suamiku dan dirimu yang menginginkanku untuk menjadi pengantimu.” Athala kehilangan kata-kata. Keputusan Layla untuk membawanya ke sini benar-benar berada di luar dugaan Athala. Walaupun begitu, Athala tak bisa mendustai hatinya. Perasaannya untuk Layla adalah nyata. Keinginan untuk memiliki Layla selamanya juga begitu nyata. Athala ingin menggenggam tangan Layla secara lebih berani … di hadapan banyak orang. Akan tetapi, sekuat apapun keinginan itu muncul semesta tak akan mungkin mampu memberikan kesempatan tersebut kepada mereka. Pada akhirnya Athala mengikuti langkah Layla untuk memasuki butik. “Di sini seharusnya Liliana memesan kebaya pengantin.” Layla membuka cerita. “Sayang sekali kebaya pengantin dan pesta pernikahannya gagal.” Athala ingin bertanya sebetulnya apa yang terjadi pada sosok Liliana. Akan tetapi, melihat ekspresi sedih di wajah Layla membuat Athala urung. “Mana yang ingin kamu pilih?” Athala berusaha mengalihkan topik percakapan. Layla melihat sekeliling. Dia menyukai sesuatu yang sederhana, namun tetap menonjolkan kesan anggun yang kuat. Pilihan Layla jatuh pada sebuah kebaya pengantin berwarna putih. Sebuah kain jarik menjadi pelengkap untuk kebaya tersebut. Sementara Layla berganti pakaian, Athala juga melakukan hal serupa. Dia memilih setelan jas warna hitam. Sebuah jas yang biasa digunakan untuk melakukan ucapara akad nikah. Jantung Athala berdegup ketika dia menunggu sampai Layla selesai. Sekitar 20 menit kemudian Layla keluar. Tubuhnya yang langsing tampak memesona di dalam balutan kebaya yang menampilkan lekuk pinggang. Kerah kebaya yang rendah ikut menonjolkan tulang selangka Layla. Malam itu lampu menyorot Layla menampilkan keindahan yang dimiliki oleh perempuan itu. Seandainya saja ini nyata mungkin Athala akan menjadi laki-laki paling beruntung. Athala mengulurkan tangannya. “My Bride.” Layla tersenyum malu. Apple cheeks-nya tampak bersemu kemerah-merahan. Di ruang ganti tadi Layla melepaskan cincin pemberian Noah. Kini tak ada lambang yang mengikatnya dengan Noah. Yang ada hanyalah Layla yang jatuh cinta kepada Athala. Athala menggandeng tangan Layla dan membantunya berjalan sampai mereka berdiri di hadapan sebuah cermin bersar. Melalui pantulan cermin itu Athala bisa melihat dirinya yang bersanding dengan Layla. Riasana wajah Layla sederhana. Gaun yang dipakainya juga sederhana, akan tetapi apa yang Athala rasakan malam ini terasa begitu cukup. “In our might life,” kata Layla membuka suara. “Kita menjadi calon pengantin yang bahagia.” “In our might life, aku akan jadi calon mempelai pengantin yang enggak bisa tidur menunggu hari di mana ijab kabul dibacakan.” “In our might life, aku akan memilih cincin pernikahan dengan batu permata sebesar ta-hi lalat dan memamerkannya kepada dunia.” Sesaat ucapan Layla menghibur Athala sampai realita kembali menampar keduanya bagai debur ombak yang tajam. “Mungkin, Layla … kita masih memiliki kesempatan untuk mewujudkan itu semua. Aku bisa sejajar dengan Noah. Aku bisa memberikan yang dia mampu dan tak mampu berikan pada kamu.” Layla tersenyum pahit. Dia menoleh dan membetulkan kerah kemeja Athala. Malam ini Layla tidak mau terlihat sedih. Dia ingin menampilkan Layla versi pengantin yang cantik dan bahagia. “Athala, bagaimana kalau kita menjalani hubungan ini sampai akhir tahun saja? Setelah itu mari kita lupakan semuanya.” Athala protes. “Kenapa harus sampai akhir tahun?” “Kita harus secepat mungkin kembali pada realita. Semakin kita lama bersama maka, akan semakin sulit juga untuk saling merelakan. Tapi, kalau kita menyepakati batas waktunya maka, secara perlahan kita akan sama-sama menyiapkan hati.” Athala ingin menolak ide tersebut. Namun, Layla sepertinya sudah teguh pada pendirian tersebut. Jadi, dengan berat hati Athala menyetujuinya. Butik itu kebetulan memiliki studio foto berukuran kecil. Di tempat itu pula Layla dan Athala duduk berdampingan menghadap kamera. “Momentum ini harus diabadikan,” kata Layla sambil tersenyum. “Meskipun kita nanti akan melupakannya, tapi seenggaknya tempat ini pernah menjadi saksi dari our might life—kehidupan kita yang mungkin—yang seandainya.” Athala tidak menimpali. Hatinya masih berat mengetahui fakta bahwa tahun depan Layla tak akan lagi berada di dalam rengkuhannya. Padahal seharusnya Athala tidak menganggap hubungan ini sebagai sesuatu yang berarti. Dia hanya dijadikan selingkuhan. Hanya saja, di sini Athala lagi-lagi menelan harga dirinya hanya demi bisa duduk bersanding dengan Layla yang sudah menampilkan senyum menawan di hadapan kamera. “1 … 2 … 3.” Click. Kenangan itu abadi di dalam sebuah file film. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN