Athala ingat. Pagi itu dia sedang mengemudi dalam kecepatan sedang ketika sebuah guncangan yang hebat dari arah belakang menabrak body mobilnya. Mobil Athala yang semula melaju di jalur yang semestinya terdorong keluar. Sebagai upaya menghindari tabrakan di arah berlawanan Athala membanting setir ke arah kiri. Bagian kiri jalan dibatasi oleh beton sehingga bumper depan mobilnya menabrak badan beton.
Jantung Athala bergetar hebat karena dia baru saja melewatkan maut. Sayangnya, kecelakaan tidak berhenti sampai di sana. Kendaraan yang ditabrak oleh truk bertambah. Sejumlah mobil ikut terseret sampai ke titik di mana mobil Athala berada. Guncangan kembali Athala terima ketika mobil-mobil itu menabrak mobilnya.
Sistem keamanan mobil yang membaca adanya guncangan keras langsung mengeluarkan airbag. Athala tak bisa berbuat apapun. Dia menutup matanya ketika mobil lain menabrak dan menyeret mobilnya sejauh 5 meter.
Ketika membuka mata Athala ingat dia melihat darah. Keningnya berdarah. Tangannya juga berdarah karena pecahan kaca merobek jaringan kulitnya. Meskipun begitu kesadaran Athala masih bagus. Lelaki itu mampu membuka pintu mobil dan keluar.
“Tolong!”
Athala mengedarkan pandangan. Kemacetan mulai terbentuk karena kecelakaan itu.
Lutut Athala lemas. Adegan di depannya terlihat begitu mengerikan. Ada 4 mobil yang tertabrak oleh truk jika mobil Athala ikut dihitung. Semua mobil saling menjepit. Di salah satu mobil seorang wanita berteriak ketakutan karena pintu mobilnya tak bisa terbuka sedangkan dia terjepit.
Athala mencari sekeliling. Dia menemukan sebongkah batu seukuran kepalan tangan.
“Mundur,” perintah Athala.
Perempuan itu patuh. Usai memastikan perempuan itu berada pada jarak aman Athala memecahkan kaca mobil menggunakan batu di tangannya. Athala juga menjadi orang yang mengulurkan tangann demi membuka pintu. Pecahan kaca yang tajam dan panjang menyobek lengan Athala. Lelaki itu mendesis, namun perempuan yang dia bantu berhasil keluar. Luka luarnya tampak jauh lebih mengerikan dari milik Athala. Mungkin karena tak mengenakan seat belt jadi luka di kepalanya jauh lebih parah. Darah masih mengucur padahal tanda-tanda ambulans akan tiba masih lama.
Secara inisiatif Athala melepaskan jasnya dan memberikan benda itu kepada sang perempuan. Niatnya jas itu bisa digunakan untuk menahan kucuran darah sebagai pengganti kain kasa sementara. Belum sempat menerima jasnya perempuan itu sudah terlanjur pingsan di pangkuan Athala.
***
Athala pusing. Padahal lukanya tidak parah, namun begitu merebahkan tubuh di brankar semua terasa berputar. Perawat memintanya untuk berbaring. Athala ingat lukanya diobati dan sedikit mendapat jahitan.
“Bapak tolong hubungi keluarganya ya.”
Athala patuh. Athala sudah meminta Seruni untuk datang. Tak lupa Athala juga mengabari bagian sumber daya manusia demi mengabari bahwa dirinya tak mungkin masuk kerja hari ini. Lantaran tidak dapat memastikan kapan ibunya akan tiba Athala memutuskan untuk tidur.
Di dalam mimpi itu Athala melihat Layla. Sayup-sayup Athala juga mendengar isak tangis. Suaranya terdengar begitu menyedihkan. Rasanya siapa saja yang mendengar tangisan itu dapat tahu bahwa sang pemilik suara sedang berduka. Suara itu pula yang mendrong Athala untuk terbangun.
Anehnya Athala masih bisa melihat Layla padahal dia yakin sudah meninggalkan alam mimpi. Kedua bahu Layla terguncang. Kepalanya tertunduk lesu dan airmata perempuan itu menitik. Athala meraih jari-jemari Layla yang terasa membeku di sisi brankar.
“Layla?”
Layla mengangkat wajahnya. Kedua mata Layla terlihat merah karena terlalu lama menangis. Bibirnya bergetar menyebut nama laki-laki itu. “Athala.”
“Kamu ….” Athala celingukan. “Sejak kapan ada di sini?”
“Mana yang sakit hm?” Layla tak mengacuhkan pertanyaan Athala. Masih dalam kondisi kalut Layla mengecek kondisi tubuh Athala dengan mata telan-jang. “Aku bisa minta Mas Gasendra untuk membawa kamu berobat ke RS terbaik di negeri ini. Atau … aku juga bisa minta Om Yudistira untuk mencarikan RS terbaik di Singapura. Aku harus menghubungi mereka—”
Lalya hendak merogoh tas untuk mencari ponselnya ketika Athala menahan gerakan tersebut.
“Aku baik-baik aja. Aku hanya pusing sedikit.”
Layla menggelengkan kepala. Menolak untuk percaya. “Tapi, kamu berdarah. Banyak.”
“Oh, ini darah korban lain. Kayaknya aku bisa pulang hari ini.”
“Sungguh?”
Athala memaksakan diri untuk duduk. Padahal sebelum tiba di RS Athala yakin hanya kepalanya saja yang sakit, namun sekarang mendadak punggung dan pinggangnya ikut sakit. “Liat? Mana ada orang sakit yang bisa duduk kayak aku.”
Layla baru bisa bernapas lega melihat itu. Mengetahui Athala bisa bergerak dan bernapas membuat hati Layla terasa penuh oleh rasa syukur. Saking senangnya Layla airmatanya kembali menetes di pipi yang masih basah. “Syukurlah … aku pikir tadi kamu meninggal. Aku pikir … kamu meninggalkan aku selamanya. Aku takut sekali. Takut sekali kamu pergi sebelum aku bisa meminta maaf.”
Hati Athala ikut remuk melihat Layla yang terlihat trauma. Secara lembut Athala meraih dagu Layla membuatnya menatap Athala tepat di mata.
Diselaminya iris Layla yang cantik. Warna mata Layla kalau diperhatikan dalam jarak dekat tampak seterang madu. Warna yang mengingatkan Athala pada sebuah malam yang cerah di mana bulan mekar di langit dan anak-anak bintang berkelip.
Seulas senyum tulus melukis wajah Athala yang pucat. “Aku baik-baik aja. Terima kasih udah khawatir. It means a lot to me. Aku enggak menyangka kamu akan datang. Waktu kecelakaan tadi … aku sempat memikirkan kamu juga. Enggak tau kenapa padahal jarak antara maut sangat tipis.”
Tanpa disangka Layla membenamkan diri ke dalam pelukan Athala. Perempuann itu melingkarkan kedua tangannya di tubuh Athala sedangkan pipinya disandarkan di dadda Athala. Aroma parfum khas Layla tercium di jarak yang dekat itu. Athala mampu merasakan jantungnya yang berdebar riuh.
Debar kali ini berbeda dengan yang Athala rasakan ketika mobilnya menabrak beton. Degup yang sekarang terasa lebih menyenangkan. Rasa-rasanya bukan hanya tubuh Athala yang didekap, melainkan juga seluruh jiwanya.
Bohong kalau Athala bilang dia tak merasa senang. Kini hatinya ditumbuhi oleh bunga yang merekah.
“Maafkan aku, Athala. Aku enggak sungguh-sungguh sewaktu bilang untuk melepaskan kita. Kehadiran kamu begitu berarti buatku. Hal-hal yang kita lalui bersama juga sama berartinya untukku.” Layla berkata dengan sejujur mungkin. “Aku suka keluarga kamu. Aku suka ketika kamu mengenalkan aku kepada Dion dan Diana. Aku juga senang sewaktu kamu menenangkanku di panti asuhan. Bagiku kamu bukan hanya sebuah kebetulan, tapi takdir baik yang dikirim oleh Tuhan.”
Akhirnya Layla dapat mengatakan hal-hal yang selama ini dipendam.
Tadi saat mengira Athala tak akan membuka mata lagi untuk selamanya Layla sangat menyesali kebodohannya. Layla menyesal pernah berbohong kepada Athala. Layla menyesal tak mengatakan bahwa baginya Athala adalah napas dan denyut nadi yang mengingatkan Layla pada hidup.
“Layla ….”
“Jangan tinggalkan aku, Athala.”
Semula Athala meragu, tetapi pada akhirnya Athala membalas pelukan Layla. Tangannya bergerak lembut mengusap punggung Layla. Kehangatan merebak di seluruh nadinya begitu mendengar pengakuan Layla.
“Aku enggak akan meninggalkan kamu, Layla,” balas Athala sungguh-sungguh. Aku enggak akan sanggup, lanjut Athala di dalam hatinya.
Layla mengurai pelukan mereka. Dipandanginya Athala. Layla berusaha mencari kebohongan yang bersembunyi di sepasang mata Athala. Hanya saja, tak Layla temukan sedikit pun dusta. Athala berkata yang sebenarnya.
Athala menangkup wajah Layla. Ibu jarinya bergerak mengusap jejak airmata di pipi perempuan itu. “Mana mungkin aku sanggup meninggalkan kamu, Layla? Tuhan saja tau betapa aku sangat berharap bisa memeluk kamu.”
Keduanya bisa merasakan itu. Cinta. Entah sejak kapan perasaan semacam itu tumbuh. Satu yang pasti perasaan itu memercik bagai bunga api sebelum akhirnya membakar tubuh keduanya. Sesuatu di balik denyut jantung Layla memanggil nama Athala dengan keras. Hal yang sama juga terjadi pada Athala.
Pada saat itu Athala menarik wajah Layla supaya mendekat. Jarak keduanya semakin tipis dan ketika Layla mampu merasakan sapuan napas Athala di atas kulit pipinya perempuan itu memejamkan mata. Athala mengecup Layla.
Kecupan itu terasa bagai rasa sakit, rindu, dan dosa.
Ketika Layla membuka matanya kembali Athala berkata, “Seandainya aku bertemu kamu lebih awal. Aku mungkin bisa menyayangi kamu dengan lebih bebas … tanpa rasa khawatir. Tanpa ketakutan.”
Layla meremas ujung baju Athala ikut merasakan kepedihan yang sama.
[]