Di ruang kerjanya, Gama sedang berjibaku dengan pekerjaannya.
Baru saja ia memeriksa beberapa lembar laporan yang diantar oleh sekretarisnya, saat Jessi tiba-tiba menelponnya.
‘Halo! Gama. Hari ini adalah jadwal check up kandungan istrimu. Jangan lupa untuk temani Hera ke dokter kandungan’
“Aku sibuk di kantor. Biar pelayan saja yang antarkan dia.” Gama menyahut dengan malas.
Sambil tangannya sibuk berkutat dengan laporan.
‘Jangan banyak alasan! Hera sedang mengandung anakmu. Sebagai ayah yang bertanggung jawab, kau juga harus menemaninya check up. Biar kau tahu bagaimana perkembangan calon anakmu.’
“Sudah kubilang, aku sibuk, Ma.”
‘Kalau kau tidak mau mengantar Hera ke dokter kandungan, jangan anggap aku ibumu lagi!’
TUTT!
Sambungan telpon langsung ditutup oleh Jessk. Membuat Gama mendengkus kesal lalu menutup laporannya dengan gerakan kasar.
“Wanita itu bisanya hanya menyusahkan saja,” gerutu Gama, yang tentu saja ditujukan kepada Hera.
***
Benar saja.
Saat Gama pulang ke rumah, Hera telah rapi dengan gaun terusan warna peach dan rambut yang digerai sepinggang.
“Ayo cepat! Aku tidak punya banyak waktu. Masih ada banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan di kantor.” Gama enggan turun dari mobilnya, ia memberi instruksi pada Hera agar segera masuk ke dalam mobil.
Hera mengangguk, akan membuka pintu mobil bagian depan, namun segera dibalas pelototan oleh Gama.
“Siapa yang menyuruhmu duduk di sebelahku? Kursi di belakang masih kosong,” cetus Gama, membuat Hera mencebikkan bibir dan kembali menutup pintu mobil depan.
Kemudian Hera pun duduk di kursi belakang.
“Perlu kau tahu, aku terpaksa menemanimu ke rumah sakit. Kalau bukan karena Mama, aku tidak akan mau repot-repot meninggalkan kantor hanya untuk menemanimu check up kandungan.”
Perkataan pedas itu menohok hati Hera.
“Aku juga tidak merasa tersanjung diantar periksa kandungan olehmu. Karena sebenarnya aku bisa pergi sendiri.”
Gama ingin membuka mulut untuk membalas lagi, namun, melihat ke arah perut Hera, Gama memilih meredam seluruh argumentnya.
Setibanya di ruang dokter kandungan, Gama yang tadinya enggan melihat proses pemeriksaan itu, kini terpaksa ikut masuk karena sang dokter yang bernama Anwar itu memintanya tetap di sana.
“Bagaimana, Dok? Apa semuanya baik?” Hera bertanya pada seorang lelaki tua yang tengah memeriksa kandungannya. Wanita itu berbaring menatap Dokter spesialis kandungan itu dengan harap-harap cemas.
Lelaki tua yang bernama Dokter Anwar itu menoleh ke arah Hera. Lantas mengulas senyum. Sebelum kemudian ia mengangguk. “Sangat bagus. Janinnya berkembang dengan sangat baik. Tetapi, asupan nutrisinya tetap harus dijaga, ya. Jangan sampai ibunya terlalu stress dan kelelahan. Itu yang terpenting untuk kesehatan kehamilannya.” Dokter Anwar menjelaskan.
“Dan hal lainnya yang tak kalah penting, di usia kandungan yang masih muda ini memang sangat berat karena membuat ibunya merasakan mual, muntah, pusing, sulit tidur dan sebagainya. Untuk itu, diperlukan dukungan dari suami. Jangan lupa untuk selalu mengingatkan istrinya minum vitamin dan makan yang cukup. Oke?”
Gama melirik Hera. Lalu menganggukan kepalanya pada Dokter Anwar. “Tentu, Dok.”
“Oh, ya! Apa kalian ingin mendengar detak jantung anak kalian?” tanya Dokter Anwar.
Mata Hera langsung berbinar. “Apa bisa, Dok? Bukannya baru dua bulan,” tanya Hera.
Dokter Anwar mengangguk. “Bisa. Dari usia delapan minggu, detak jantung janin sudah bisa terdengar sebenarnya. Tapi, ada juga yang lima belas minggu lebih.”
“Aku ingin mendengarnya, Dokter. Aku ingin mendengar detak jantung anakku!” kata Hera antusias.
Ia menatap Dokter Anwar dengan wajah berbinar. Dokter yang masih tampan di usianya yang sudah menginjak kepala lima itu tersenyum manis. Ia mengangguk.
“Tentu. Kita dengarkan dengan sonogram, ya.” Dokter Anwar mulai mengolesi perut Hera. Gama memerhatikan setiap apa yang dilakukan oleh Dokter Anwar. Sedangkan Hera, tak lepas dari senyumnya.
Sebentar lagi, ia akan mendengar denyut jantung calon anaknya.
Akhirnya, bunyi denyut jantung yang berdetak menggema di penjuru ruangan. Hera menutup mulutnya, ia mengusap sudut matanya yang berair. Mungkin merasa haru sebab mendengar denyut jantung anaknya untuk yang pertama kali.
Sedangkan Gama? Ketika bunyi itu menggema di detik pertama. Tubuh Gama langsung mematung saat itu juga. Matanya fokus menatap pada layar USG. Gama tidak tahu, mengapa tiba-tiba ia merasa ada gelenyar aneh yang menjalar di tubuhnya. Ada perasaan asing yang tak pernah ia rasa sebelumnya.
Hati Gama terasa terhimpit. Mungkinkah ini pertanda kalau ia sudah tersentuh oleh denyut jantung anaknya sendiri?
***
Sekeluarnya dari ruangan Dokter Anwar, Gama langsung menahan tangan Hera. Hingga membuat gadis itu yang sebelumnya tengah berjalan di depan Gama, kini menoleh pada suaminya.
“Pulanglah ke rumah! Aku masih banyak pekerajaan di sini! Kau tahu caranya naik taksi, bukan? Pesan saja taksi online,” Gama menyuruh Hera.
Wanita itu mengangguk saat Gama mulai melepaskan tangannya.
“Iya. Terimakasih..”
Gama menautkan alisnya. “Untuk?”
Hera melirik ke arah bola mata Gama yang sebiru laut. “Untuk mau mendengarkan denyut jantung anakmu.” jawab Hera dengan pandangan yang menusuk pada hati Gama.
Gama hanya berdeham, lalu memesankan menyuruh Hera segera memesan taksi. Sedangkan Gama masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan rumah sakit.
Begitu Gama pergi, bibir Hera menyunggingkan senyum tipis sambil tangannya menyentuh perutnya sendiri.
“Aku tahu kau pasti merasa tersentuh saat mendengar suara detak jantung calon anakmu untuk pertama kalinya. Hanya saja, kau tetap menyembunyikan perasaan itu demi rasa gengsimu,” gumam Hera.