Bab 9. Kedatangan Mantan Istrinya Suami

1096 Kata
Sudah terkantuk-kantuk, samar-samar telinga Hera mendengar suara pintu mobil yang ditutup. Hingga membuat matanya terbuka dengan sempurna. Itu pasti Gama! “Gama sudah pulang?” Hera kembali melirik jam dinding. Sudah pukul 11:20. Bangkit dari duduknya, Hera beranjak menuju pintu. Bermaksud membukakan pintu untuk Gama. Lelaki itu pasti kelelahan. Setidaknya, Hera bisa membantu untuk membawakan tas dan jasnya ke lantas atas. Tetapi, belum juga Hera tiba di depan pintu, ia mendengar suara Gama yang seperti tengah berbicara dengan seseorang. Hera mengerutkan dahinya. Penasaran, ia membuka sedikit tirai untuk mengintip keluar. Sejenak. Matanya tertegun. melihat siapa yang sedang berdiri di hadapan suaminya. Percakapan kedua orang itu pun masih bisa Hera dengar. “Sudah, Karin. nanti Hera melihat.” Gama sedikit menjauhkan wajahnya dari Karin, membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya. Mata Hera melebar. Karin? Jadi, wanita cantik yang bersama Gama adalah Karin, mantan istrinya? “Biarkan saja. Biar dia tahu kalau kau masih sangat mencintaiku.” Karin mengalungkan sebelah lengannya di bahu Gama yang lebar. Gama mengangguk. “Sebaiknya kutuntun kau masuk ke dalam.” Gama memeluk sebelah pinggang Karin untuk bisa menuntun langkah wanita itu agar tak terjatuh. Karin sedang tidak dalam kondisi yang benar-benar sadar saat ini. Wanita itu terlalu banyak minum. Ia menelpon Gama dan melontarkan perkataan-perkataan yang melantur. Gama yang tidak tega, akhirnya membawa Karin ke rumahnya. Melihat Gama dan Karin yang berjalan menuju pintu. Hera segera tersadar. ia mengerjapkan matanya, lantas bergegas membuka pintu. “Kau belum tidur?” Gama bertanya. belum sempat Hera membuka mulut untuk menjawab, Gama sudah menyambung perkataannya lagi. “Tolong siapkan air hangat untuk Karin! Dan antarkan ke kamarku!” Gama menyuruh, llantas kembali menuntun langkah Karin untuk naik ke lantai atas. Hera hanya bisa memperhatikan punggung mereka yang perlahan menghilang di pandangan matanya. ia menghela napas pelan. Menyiapkan air hangat? untuk diantarkan ke kamar Gama, bukan? Apa itu artinya … Karin juga akan tidur di kamar yang sama dengan Gama? *** Hera mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Detik itu pula, suara Gama yang kini terdengar sedikit lemah, menyahut dari dalam. Menyuruhnya untuk masuk. Tak menunggu disuruh dua kali, Hera segera memutar kenop, membuka pintu kamar Gama tak terlalu lebar. Nampak di dalam kamarnya, Gama tengan melepaskan heels Karin yang bermodel tali-temali, di atas tempat tidurnya yang besar. Tentu model yang seperti itu membuat lelaki seperti Gama akan sedikit sulit melakukannya. Dengan nampan berisi segelas air hangat, Hera berjalan menuju ke arah meja yang terletak di samping tempat tidur lelaki itu, lantas menaruhnya di sana. kepalanya sedikit menoleh ke belakang. Memerhatikan Gama yang masih kesulitan membuka heels milik Karin yang berwarna merah. Lelaki itu masih menunduk dan berkutat dengan aktivitasnya. Sedangkan Karin? Wanita itu nampak sudah terpejam di atas tempat tidur yang nyaman. Menghembuskan napas dengan sedikit berat. Hera membuka suara. “Mau aku bantu? Sebenarnya, usahamu membuat tali itu semakin sulit untuk dibuka. Aku bisa membantumu untuk membukanya kalau kau tidak keberatan.” Saat itu, pandangan mata Gama langsung terhunus ke matanya dengan dalam. lelaki itu terdiam beberapa detik. Sebelum akhirnya melepaskan tangannya dari kaki Karin, lantas menyingkir dari sana, agar acara melepaskan heels itu dilanjutkan oleh Hera. Kini, Hera sudah sedikit membungkukan badannya, meraih pergelangan kaki Karin dengan pelan, lalu mulai membuka tali heelsnya dengan mudah. Gama memperhatikan itu dalam diam. Satu heels sudah terlepas! Tangan Hera hendak mencapai kaki Karin yang satunya, saat suara Gama membuatnya mematung. “Kau punya pakaian tidur, bukan? Bisa tolong pinjamkan satu untuk Karin?” Gerakan tangan Hera terhenti. Ia sedikit tercenung beberapa detik, tapi Hera mengangguk juga akhirnya. “Ada. Nanti ku ambilkan sebentar lagi.” jawabnya tanpa melihat ke arah Gama sedikitpun. Entah mengapa, hati kecil Hera serasa remuk mendengar perhatian Gama terhadap mantan istrinya. Kedua sepatu Karin sudah terlepas dari kakinya. Hera bangkit perlahan, membawa sepatu itu menuju rak sepatu milik Gama, lantas meletakkannya di sana. Hera menoleh pada Gama. Dilihatnya kini lelaki itu tengah membenarkan posisi bantal yang berada di bawah kepala Karin. Mungkin ingin memastikan agar sang mantan istri dapat tidur dengan nyaman. Hera tersenyum getir. Ia membuang napas sedikit kasar. Entah mengapa? Ada rasa sakit yang diam-diam menyusup dan menyelinap di hatinya. Ada rasa perih yang tiba-tiba mendera batinnya begitu saja. *** Cahaya lampu yang temaram. Menyelimuti sebuah kamar yang berukuran cukup besar. Namun, tak lantas membuat wanita yang tengah berbaring di atas tempat tidur terlelap dalam mimpinya. Ia masih gelisah. Berkali-kali ganti posisi, tidurnya tetap saja tak nyaman. Entah apa sebabnya? Mungkin saja, hatinya gelisah karena pikirannya yang tak bisa diam? Menyerah karena rasa kantuk tak kunjung melelapkan tidurnya, Hera bangkit setengah berbaring. Punggungnya bersandar pada bantal-bantal yang bertumpuk. Hera mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia nampak gusar. “Mengapa pikiranku masih saja terbayang pada apa yang akan mereka lakukan, saat berada dalam satu kamar yang sama?” Hera bergumam lirih, lantas mendongkak. Menatap pada langit-langit kamar yang tak terlalu jelas dalam pandangannya. “Sekarang aku adalah istrinya yang sah. Bukankah hal yang wajar kalau aku sedang merasa cemburu padanya?” Hera mengingat, betapa perhatiannya Gama pada Karin. Tadi, setelah Hera mengantarkan baju tidur untuk Karin ke kamar Gama, suaminya itu baru saja keluar dari kamar mandi, dengan menggunakan bathrobe berwarna putih. Sembari tangan kekarnya menggosok-gosok rambut di kepalanya yang basah. Tak nampak sedikitpun raut canggung di wajah Gama. Ia masih santai melangkah lebar menuju tempat dimana Karin berbaring. “Aku membawa baju ganti untuk Karin,” Hera memberitahu. Sambil melangkahkan kakinya pelan, Hera tak ingin melihat ke arah Gama. Meski ia tak menampik. Tentu sebagai gadis yang sudah dewasa, sedikit banyak Hera memuji paras dan tubuh Gama meski hanya bisa diutarakannya dalam diam. Gama melihat sebentar, lantas mengangguk. “Simpan saja di atas tempat tidur. Setelahnya kau boleh kembali ke kamarmu!” Gama berkata sembari menyisir rambutnya di depan cermin. Hera terdiam. Kalau ia keluar? Lalu siapa yang akan menggantikan baju Karin? Jangan bilang kalau Gama yang akan menggantikan baju mantan istrinya itu? Tidak! Hera menggeleng pelan. Ia tak bisa membayangkan saat jemari tangan suaminya yang panjang, akan membuka setiap helai pakaian wanita lain. Meski wanita itu adalah mantan istrinya sendiri. Meski wanita itu adalah orang yang sangat dicintai oleh suaminya sekalipun. Hera tetap tak bisa menerimanya. Gerakan tangan Gama terhenti. Ia melihat wajah bingung Hera yang terpantul di cermin. Gama menautkan alisnya, lantas menoleh ke belakang, hingga membuat Hera tersentak pada kesadarannya. “Apa telingamu itu tidak mendengar perkataanku barusan? Mengapa kau masih di sini?” Gama menatap Hera gemas. “Kalau aku keluar, lalu yang menggantikan pakaian Karin..” “Aku! Aku yang akan menggantikannya!” Gama berkata tegas langsung memotong ucapan Hera. Hera sontak menatap tak percaya pada suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN