Bab 10. Sentuh Aku!

1092 Kata
“Tunggu apa lagi? Sana! Kembali ke kamarmu!” Meremas jemarinya dengan kuat, Hera mengangguk samar, lantas membalikan tubuhnya berjalan pelan menuju pintu keluar dari kamar Gama. Meninggalkan suaminya itu berdua bersama dengan wanita yang amat dicintainya. Setelah pintu berderit tertutup, saat itulah Hera merasa tak tahan untuk membendung air yang sudah memaksa jatuh dari pelupuk matanya terus-menerus. Ia menangis dalam diam, terisak tanpa suara. Hera paham, kehadirannya di sisi Gama masih belum di inginkan untuk saat ini, meskipun dia sudah mengandung anaknya. *** Sudah rapi dengan stelan kantornya, pagi-pagi sekali Gama sudah menuruni anak tangga. Ia hendak menuju meja makan, berniat membuatkan roti isi cokelat untuk Karin. Wanita itu habis minum terlalu banyak semalam. Saat bangun tidur, kepalanya pasti akan pusing. Mungkin juga perutnya akan mual. Sebelum itu terjadi, Gama ingin menyiapkan sarapan yang manis terlebih dahulu untuk Karin. Baru saja kakinya menginjak anak tangga terakhir, telinga Gama menangkap sebuah suara yang sedikit mengganggu dan menggugah rasa penasarannya. Itu suara orang yang sedang mual! Gama mengerutkan dahi, lantas melangkah menuju asal suara tersebut. “Saya urut tengkuknya, Nyonya. Semalam tidurnya tidak pakai selimut, yah? Padahal semalam anginnya kencang sekali dari luar. Udaranya sangat dingin. Jangan-jangan Nyonya Hera masuk angin.” Diar dengan sabar mengurut tengkuk Hera. Wanita itu tiba-tiba saja merasa ada sesuatu yang mendorong untuk keluar melalui tenggorokannya. Perutnya seperti bergejolak. Membuat Hera tak tahan untuk segera berlari menuju wastafel. “Ada apa, Diar?” suara Gama membuat keduanya menoleh. Gama melebarkan mata melihat Hera yang terengah. Nampak sekali kalau wanita itu sedang menahan rasa mualnya. “Hera mual terus, Tuan Gama,” Bik Marni melapor. Tangannya dengan lembut menepuk-nepuk punggung Hera. “Sepertinya masuk angin.” Sejak pertama kali Gama melarang semua pelayan memanggil Hera dengan sebutan Nyonya, maka dengan berat hati semua pelayan di rumah mewah itu hanya memanggil istri tuan mereka dengan ‘Hera’. Kecuali jika orang tua Gama sedang berkunjung. Hera hendak bicara, tetapi ia merasa perutnya kembali bergejolak. Lantas mendorong sesuatu yang begitu terasa tak nyaman melalui tenggorokannya. Gama terkejut. Melihat wajah Hera yang sudah pucat pasi, tangan Diar kembali aktif mengurut tengkuk majikan perempuannya. Gama tak tahan. Ia beranjak dari tempatnya, untuk melangkahkan kaki panjangnya menuju ke tempat dimana Hera tengah mengeluarkan rasa mual yang begitu menyiksa. Tapi, baru tiga langkah, Suara teriakan dari kamar atas membuat gerakannya terhenti. “Gama?” Itu sura Karin! Gama berbalik hendak menaiki tangga. Tak lupa ia berpesan terlebih dahulu pada Diar. “Diar, tolong buatkan roti panggang isi cokelat untuk Karin, dan bawa ke atas!” Gama berkata dengan tergesa. Tanpa melihat raut bingung di wajah Diar, lelaki itu langsung bergegas menaiki anak tangga rumahnya dengan gesit. Sedangkan Hera masih termuntah-muntah dengan matanya yang sudah basah. Ia menangis! Gama mengurut tengkuk Karin. Benar saja perkiraan Gama, kalau saat bangun tidur, gadis itu pasti akan langsung muntah-muntah. Maka dari itu, saat mendengar suara teriakan Karin yang memanggilnya, Gama langsung setengah berlari menghampiri gadis itu ke lantai atas. “Masih mual?” Gama bertanya saat Karin sudah membasahi mulutnya. Karin mengangguk. “Mau ku suruh Diar buatkan teh manis hangat?” Gama bertanya lagi. telapak tangannya masih mengurut pelan tengkuk gadis itu. “Kepalaku pusing, Gama,” Karin mengaduh. “Kamu habis minum berapa gelas, semalam? Lain kali aku tidak ingin melihatmu mabuk seberat ini. Ayo! Ku tuntun ke tempat tidur.” Gama menggandeng sebelah tangan Karin di pundaknya. Ia menuntun Karin keluar dari kamar mandi. Persis ketika Gama membaringkan Karin di atas tempat tidur, saat itu pula pintu kamar diketuk dari luar. “Masuk!” Gama sedikit berteriak, menyuruh seseorang yang ada di balik pintu untuk masuk. Nampaknya Gama sudah tahu kalau yang mengetuk pintu kamarnya pasti Diar. Selang beberapa detik, pintu berderit terbuka. Menampilkan sosok Diae yang tersenyum canggung sembari membawa segelas air hangat dan roti isi cokelat di atas nampan. “Ini roti isi cokelatnya, Tuan!” Diar memberitahu. Gama mengangguk, lalu menunjuk dengan dagunya ke arah meja yang terletak di samping kasur. “Taruh di sana saja!” Diar mengangguk samar, lantas beranjak menuju tempat yang Gama maksud. “Rotinya dipanggang ‘kan, honey?” Karin yang tengah berbaring, menoleh pada Gama yang duduk di sampingnya. Gama mengangguk, mengulurkan tangannya untuk menyelipkan rambut Karin ke belakang telinganya. “Iya, rotinya dipanggang. Pakai selai cokelat juga. Makan yah! Kamu harus sarapan dulu sebelum kuantar pulang.” Gama melirik Diar, selintas ia melihat pelayannya itu seperti tengah gelagapan. Gama mengerutkan keningnya. “Kenapa, Diar?” Diar menggeleng cepat-cepat. “Eh, tidak apa-apa, Tuan. Saya balik lagi ke bawah yah.” Gama hanya menjawab dengan anggukan. Diar pergi meninggalkan dua orang itu dengan gaya santunnya. Setelah ia menutup pintu kamar Gama dengan rapat, Diar langsung menghembuskan napas panjang. “Kenapa Tuan Gama masih berhubungan dengan Nyonya Karin?” Diar bergumam lirih. Matanya sedikit melirik ke belakang, ke arah pintu kamar Gama yang tertutup. Lantas ia menggelengkan kepalanya. “Kasihan Nyonya Hera.” Sebenarnya, Diar memang sudah tahu kalau Karin menginap di rumah Gama. Sebab semalam, lelaki itu datang tiba-tiba ke paviliun, menjemputnya agar mau membantu menggantikan pakaian Karin dengan pakaian tidur. Awalnya Diar tercenung. Ia kaget saat tahu kalau Gama membawa Karin ke kamarnya. Padahal, jelas-jelas majikannya itu sudah menikah lagi dan memiliki istri. Tetapi, ketika melihat baju Karin yang basah. Mungkin bekas minuman yang meleber ke bagian depan bajunya. Membuat Diar tak sampai hati membiarkan mantan istri Gama itu kedinginan. Yang Diar tak habis pikir adalah, Mengapa Karin masih memanggil Gama dengan sebutan sayang? Bukankah saat ini mereka hanyalah mantan suami istri? Semoga saja Hera bisa kuat menghadapi semua ini. *** “Kamu harus pulang, Karin! Tidak boleh menginap terlalu lama! Nanti orang tuaku tahu. Aku hanya takut mereka menyakitimu seperti dulu.” Gama bangkit berdiri, memakai jas kerjanya. Ini hari selasa. Dan ia harus berangkat ke kantor. Tapi sebelum itu, Gama ingin mengantar dulu Karin untuk pulang ke rumahnya. Wanita itu bangkit setengah berbaring, melipat kedua tangannya. Ia bersidekap dengan bibir yang mengerucut. “Kalau aku tidak mau?” Karin mengangkat dagunya. Menatap Gama dengan mata hazelnya. Gama menghembuskan napas pelan, lantas mengusap tengkuknya. “Hhh ... ayolah, Karin! Jangan seperti anak kecil. Aku akan mengantarmu hingga ke rumah.” Gama kembali menghampiri Karin, lantas mengulurkan tangannya. “Ayo!” Karin terdiam, menatap pada tangan Gama yang terulur padanya. Perlahan tangan Karin terangkat. menyambut telapak tangan Gama yang kekar. Sebelum akhirnya Karin menariknya kuat-kuat, hingga membuat tubuh Gama terhempas ke kasur. Wanita itu segera naik ke atas tubuh Gama, membuat Gama melebarkan matanya. “Karin, apa yang kau lakukan?” Gama bertanya kaget saat Karin menindihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN