Bab 11. Bekal Makan

1328 Kata
“Sentuh aku, Gama! Seperti kamu menyentuh istrimu itu!” Karin membimbing tangan Gama untuk menyentuhnya. Gama menolak, berkeras menarik tangannya. Ia tidak mungkin melakukan itu pada mantan istrinya! “Tidak, Karin. Belum saatnya. Aku tidak mungkin menyentuhmu!” Gama mengerahkan tenaganya, membalikan tubuh Karin hingga berbaring di atas kasur. Lelaki itu menatap mata wanitanya begitu dalam, dengan deruan napas yang membuatnya sedikit terengah. “Aku tidak bisa!” Karin memukul-mukul bahu Gama dengan kedua tangannya. Ia meraung, menarik kerah jas lelaki itu. “Kenapa?” Karin berteriak di depan wajah Gama. “Apa karena tubuhku tak lagi menarik dari tubuh wanita itu? Apa karena kau sudah tak benar-benar mencintaiku? Apa karena cintamu sudah berpaling pada–” “Karin!” Gama mengguncang bahu Karin, membuat ucapan wanita itu terhenti. “Aku tidak mau menyentuhmu, karena kita belum terikat pernikahan lagi. Bersabarlah! Begitu Hera melahirkan, aku akan menceraikannya dan menikahimu lagi. Nanti aku akan mengajakmu pindah ke luar negeri agar bisa hidup tenang meski tanpa restu orang tuaku.” Gama melepaskan cekalan tangannya di lengan Karin, lantas mendaratkan bibirnya singkat di kening mantan istrinya itu. “Ayo! Ku antar pulang ke rumahmu!” Gama bangkit dari tempatnya. Ia membenarkan lagi beberapa kancing kemejanya yang terlepas. “Tapi aku tidak mau pulang dengan baju ini!” Karin menunjukan baju yang sedang ia pakai pada Gama. “Bajunya bau,” lanjut Karin lagi. Ia memberengutkan bibirnya. Gama menghela napas. Ia tahu, bukan karena bajunya yang bau. Karin tidak ingin memakai baju itu karena Karin tahu, kalau baju yang sedang dipakainya saat ini adalah milik Hera. “Baiklah! Kita akan mampir ke butik dulu, sebelum ke rumahmu!” putus Gama akhirnya. *** “Kau bawa apa, Diar?” Hera bertanya saat Diar masuk dengan plastik putih kecil di tangannya. “Ini obat mual. Karena Nyonya Hera menolak untuk diperiksa. Jadi, saya pergi ke apotek dekat kompleks ini dulu sebentar. Nyonya makan dulu sebelum minum obat, yah! Tenang saja, Nyonya. Saya sudah tanyakan pada petugas apoteknya, katanya semua obat ini aman untuk ibu hail.” Diar menyerahkan plastik itu pada Hera, yang langsung diterima wanita itu dengan senang hati. “Diar, seharusnya kau jangan repot-repot. Tapi terimakasih. Nanti aku ganti uangnya.” Hera tersenyum lembut. Ia tersentuh dengan perhatian Diar. Meski hanya seorang pelayan, tapi perhatiannya sudah seperti seorang ibu bagi Hera. Diar bahkan bersikukuh agar uangnya tak perlu diganti. Tetapi yang namanya Hera. Ia paling sungkan untuk berhutang budi pada orang lain. Gama berjalan menuruni tangga, tangan Karin menggandengnya erat. Mereka melangkah beriringan. Ketika langkah Gama tiba di anak tangga terakhir, saat itu juga tubuhnya hampir bertabrakan dengan tubuh Hera yang hendak naik ke lantai atas. Sejenak, bola mata mereka bertemu. Mereka saling tatap beberapa saat, hingga guncangan tangan Karin di lengannya, menyadarkan Gama. Lelaki itu mengerjap, lantas menoleh pada Karin. “Ayo! Nanti kamu bisa terlambat ke kantor!” Karin mengingatkan. Gama mengangguk pelan. “Iya, ayo!” Gama hendak berjalan melewati Hera. Tapi wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya itu bersuara, hingga menghentikan gerak langkahnya. “Gama? Kamu tidak sarapan dulu?” Hera bertanya. Gama sedikit menoleh padanya. “Aku sarapan di luar, bersama Karin!” Gama menjawab. Hera tersenyum getir. Ia mengangguk samar. Sedangkan Karin? Dia terlihat mengangkat sebelah ujung bibirnya. Tersenyum miring meledek Hera. “Aku membuatkanmu semur ikan dan ayam lengkuas. Kuharap kamu tidak menolaknya, kalau kubekalkan untuk makan siang di kantor,” Hera menawarkan. Gama berbalik, hendak menolak. Tetapi, ia teringat saat melihat perut Hera yang masih datar. Suara detak jantung calon anaknya tempo hari masih terdengar rasanya hingga sekarang. Siapa sangka hal itu meluluhkan hati Gama untuk tak bersikap tega menolak tawaran Hera. Gama berdehem beberapa kali. Lalu mengangguk. “Baiklah, Bekalnya sudah disiapkan, kan?” Gama bertanya, sekadar basa-basi. Perkataan Gama tersebut tentunya membuat bola mata Karin terbelalak, tak menyangka sekaligus cemburu. Sementara Hera seketika menyunggingkan senyum tipisnya, mengangguk. “Sudah. Sebentar, kumasukan ke dalam papper bag kecil dulu.” Hera berbalik, beranjak menuju meja makan. Tangannya bergerak gesit, memasukan kotak makan berwarna biru ke dalam sebuah papper bag. Dan Gama memperhatikan itu. Hera kembali menghampiri Gama dan Karin. “Ini! Semoga kau menyukainya,” ucap Hera menyerahkan papper bag itu pada Gama, yang diterimanya dengan ucapan terimakasih yang nyaris tak terdengar. Karin memutar bola matanya jengah. Ia menghembuskan napas kasar. “Gama! Ayo! Aku juga bisa terlambat kalau hanya berdiri di sini terus. Lagipula semur ikan juga banyak di restoran mahal yang jelas lebih enak dan tidak menjijikan! Buat apa repot-repot bawa bekal?” Karin menarik lengan Gama. Lelaki itu melirik Hera sebentar, lantas beranjak menuju pintu keluar. Mata Hera berkilat. Ada sesuatu yang basah dan mengumpul di kelopak matanya. Saat Gama pergi meninggalkan rumah bersama Karin, Hera hanya bisa menatap punggung suaminya dengan menahan sesak di dadanya. Ingin sekali Hera mencegah Gama agar tidak pergi bersama Karin. Namun, sayangnya Hera tidak dapat melakukan itu. *** Gama nampak sibuk. Ia terus berkutat dengan setumpuk pekerjaan di kantornya. Sedari tadi jemari tangannya sibuk menari-nari di atas keyboard. Selintas, matanya melirik ke arah kotak makan berwarna biru yang teronggok di depannya. Ini sudah siang. Mungkin setengah jam lagi istirahat. Tetapi, perutnya sudah sedikit berbunyi. Jujur saja Gama lapar. Sedari tadi ia penasaran dengan isi kotak bekal itu. Perlahan, ia menutup berkas-berkasnya. Tangannya mendorong, menjauhkan tumpukan berkas itu. Lantas ia meraih kotak bekal yang diberikan oleh Hera. Tangan Gama membukanya. “Semur ikan?” Gama bergumam. Dilihat dari tampilannya. Sepertinya enak! Tangan Gama hendak menyendok semur ikan itu, saat suara ketukan menghentikan gerakannya. “Masuk!” Gama sedikit berteriak. Ia kembali menyimpan sendok, dan menutup kotak bekal yang tadi dibukanya. Tak berselang lama, seorang pria bertubuh kurus masuk ke dalam ruangan Gama, lantas berjalan sedikit tergesa-gesa. Dengan berkas yang berada di tangannya. “Maaf, Tuan Gama. Ini laporan yang Anda minta.” Pria yang bernama Radit itu menyodorkan berkas pada Gama, yang langsung diterima Gama dan dibukanya berkas itu di hadapan Radit. Gama manggut-manggut. “Hem … Ya. Terimkasih, Radit. Kau boleh keluar.” Gama menaruh berkas itu di mejanya. Radit mengangguk. “Sama-sama, Tuan. Saya permisi.” Baru saja Radit hendak berbalik dari hadapan Gama, tiba-tiba suara Gama menghentikan langkahnya. “Tunggu, Tunggu, Radit!” Radit membalikan tubuhnya. Kembali menghadap Gama. Dilihatnya bossnya itu tengah meraih sebuah kotak makan, lantas menyodorkannya ke depan Radit, hingga membuat Radit menatap bossnya bingung. “Ambil. Buat kamu makan siang! Isinya semur ikan dan ayam lengkuas. Saya sedang tak berselera memakan makanan berat dan berlemak.” kata Gama dengan nada tak mau ditolak. Radit menunjuk dirinya. “Buat saya, Tuan?” tanyanya masih tak percaya. Gama mengangguk sembari menggoyangkan kotak makan yang tengah ia sodorkan pada Radit. “Iya! Ambilah dan kembali ke meja kerjamu!” titah Gama. Radit mengulurkan tangannya, mengambil kotak bekal itu, lantas ia berterimakasih pada Gama. Yang hanya dibalas dengan deheman oleh lelaki itu. “Sekali lagi, saya permisi, Tuan Gama.” Radit berbalik, lantas pergi dari hadapan Gama. Tubuh kurus lelaki itu menghilang di balik pintu yang sudah berderit tertutup. Saat itulah, Gama mengangkat wajahnya. Mendongkak. Jemari tangannya memutar-mutar bolpoint. Ia mengangkat sebelah ujung bibirnya. Membentuk sebuah senyum kecut. “Hera ... jangan terlalu berharap menganggapku sebagai suami yang sesungguhnya. Karena cepat atau lambat, pernikahan kita pasti akan berakhir di meja hijau!” Gama menghempaskan punggungnya, bersandar di kursi. Ia membiarkan kursi itu berderit dan bergerak ke kiri dan ke kanan. Sebenarnya, Gama akui kalau aroma masakan yang tadi ia lihat di kotak bekal yang Hera siapkan untuknya itu sangatlah enak. Tetapi, Ia tak bisa memakannya. Bukankah ada istilah yang mengatakan kalau dari lidah turun ke hati? Gama tak ingin kalau saat ia semakin ketagihan dengan masakan yang Hera buat, lantas hatinya jadi tersentuh dengan wanita itu. Tidak! Ia harus membatasi diri. Meskipun Gama akui kalau mengabaikan Hera bukanlah hal yang mudah. Bagaimanapun ia adalah seorang Pria dewasa, bukan? Dan kecantikan Hera pantas untuk diperhitungkan. Namun sekali lagi, Gama tak ingin larut dalam semua hal itu. Dia masih menyelipkan rasa benci di hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN