Malam hari, Gama sudah pulang ke rumah. Namun, ia masih berkutat dengan pekerjaannya.
“Masuk!” perintahnya pada orang yang berada di balik pintu.
Tak lama, pintu berderit terbuka. Orang itu meletakan secangkir kopi di meja kerja Gama. Saat itulah Gama menoleh sejenak dan langsung melebarkan matanya.
“Kau?” Gama memekik pada si pengantar kopi yang ternyata adalah istrinya, Hera. “Kemana Diar? Perasaan tadi aku meminta kopi padanya?”
“Diar sedang keluar bersama Mama. Kau jangan takut aku racuni. Karena kopi itu Diar yang membuatnya. Aku hanya mengantarnya ke ruang kerjamu,” Hera menjawab.
Gama tak bisa berkutik. Akhirnya ia meraih cangkir kopinya, lantas meminumnya sedikit-sedikit.
Tentunya dengan mata yang sesekali melirik ke arah istrinya.
“Terimakasih.” Gama kembali meletakan cangkirnya di tempat semula, lantas mulai membuka lagi dokumen yang tadi sempat diabaikannya sebentar. “Kau boleh keluar sekarang.”
Hera mengangguk, memeluk nampan kecil, tubuhnya berbalik hendak meninggalkan ruang kerja Gama.
Sejenak, langkah Hera terhenti. Matanya terpaku pada sebuah foto berukuran besar yang terpampang manis di sebelah pintu.
“Ada apa?” Gama bertanya, membuyarkan pikiran Hera. “Kau mau berkomentar sesuatu?” tanya Gama.
Dan entah mengapa? Hera merasa ada nada mengejek di sana.
Kini Hera kembali membalikan tubuhnya. Ia menghadap suaminya yang ternyata sudah menyandarkan punggung di kursi kerjanya. Menatap Hera dengan dagu terangkat.
“Gama. Mengapa kau memajang fotomu bersama Karin di sana?” tanya Hera dengan tangan yang menunjuk ke arah yang ia maksud.
Gama menaikan sebelah alisnya. Tangannya terlipat di depan. “Kenapa? Kau cemburu?”
Hera terdiam. Tapi akhirnya ia menggeleng. “Tidak. Aku hanya takut. Kalau Mama dan Papa akan datang ke ruang kerjamu lantas ia terkejut melihat foto mesra kalian berdua.”
Gama berdecih. “Sungguh? Apa hanya itu yang sedang kau takutkan? Bukan karena kau benci melihat foto mantan istriku terpampang di sana?”
Hera mengangguk pelan. “Aku tidak habis pikir. Mengapa pikiranmu itu hanya dipenuhi oleh hal-hal yang buruk? Mengapa kau selalu picik dalam menilauku? Apa sebegitu tidak sukanya dirimu, saat aku menjadi menantu di keluarga ini?”
Gama sebelah sudut bibirnya. Ia tersenyum miring.
Mendorong kursi ke belakang, Gama berdiri dari duduknya. Kakinya sudah melangkah lebar ke arah Hera.
Dengan gerakan kasar. Gama menarik tangan gadis itu hingga menubruk tubuhnya. Hera meringis. Sebab Gama mencengkram kedua lengannya dengan sedikit kencang.
“Dengar, Hera! Nikmatilah peran ini sesukamu! Carilah muka sebanyak-banyaknya pada ibuku. Kau bisa menaklukannya. Tapi tak mudah menaklukanku!” Gama melepaskan cengkraman tangannya seketika.
Wanita itu terengah, menyentuh lengan atasnya yang sedikit ngilu.
Debaman suara pintu mengagetkannya. Gama sudah keluar meninggalkan ruang kerjanya.
Hera menghela napas panjang. Ia mendongkak, menatap pada foto Karin yang tengah melingkarkan kedua tangannya di leher Gama. Nampak senyum lebar terukir di bibir mereka.
Hera menggeleng perlahan. “Aku memang tak bisa menaklukan hatimu. Sebab hatimu itu terlalu dingin dan beku. Tapi kau melupakan sesuatu, Gama..” Hera menggerakan tangannya, menyentuh perutnya dengan sentuhan seringan bulu. “Kau lupa. Ada dia yang bisa menaklukan hatimu bahkan hanya dengan sekali menyentuhnya.”
***
Setelah selesai merampungkan pekerjaan, Gama akan tidur ke kamarnya.
Namun, dirinya yang sedang mabuk, malah salah masuk ke kamar Hera.
Sesampainya di depan pintu kamar, Gama memutar kenop, dan membentangkan pintu itu lebar-lebar.
Sejenak. Ia tertegun di tempatnya. Matanya melihat pada pemandangan yang terlihat di atas tempat tidur.
Gama meneguk ludahnya kasar.
Di sana, Hera tengah tertidur dengan daster yang selutut. Entah bagaimana ceritanya, daster yang digunakan wanita itu sudah terangkat hingga ke atas paha. Menampilkan kulit putih dan mulusnya di hadapan Gama.
Dengan sekali hentakan, Gama menggebrak pintu ke dinding, hingga membuat Hera yang tengah pulas terhenyak bangun setengah badan. Ia menatap Gama yang sudah melangkah maju dengan mata yang berkilat tajam.
“Tutupi tubuhmu itu!” Gama mengambil selimut yang teronggok di bawah kaki Hera dan melemparkannya pada wanita itu. “Jangan pernah mencoba untuk menggodaku!” tegas Gama sembari menegakan tubuhnya.
Hera hanya termangu. Menatap Gama dengan jemari yang meremas selimut.
“Karena aku tidak akan tergoda sama sekali..” Gama berbalik, meninggalkan Hera yang menatap punggungnya menghilang di pintu kamar.
Di luar kamar Hera, Gama mendengkus.
“Sialnya! Hera! Aku harus mandi air dingin malam ini,” kata Gama seraya mengibas-ngibaskan kerah kemejanya.
Ya! Ia terpaksa harus mengguyur tubuhnya dengan mandi air dingin. Sebab, semenjak matanya ternodai oleh pemandangan kulit mulus Hera, Gama merasa ada sesuatu yang langsung terbangun dalam dirinya.
***
“Ibu hamil perlu nutrisi, Gama! Mengapa kau tak menyiapkan segala kebutuhan Hera? Susunya, madu. Hera juga perlu mengonsumsi itu.” Jessi mengomeli Gama yang tengah duduk di ruang keluarga. Baru setengah jam yang lalu Gama sampai, dan ibunya sudah memberondongnya dengan pertanyaan dan perdebatan soal kehamilan.
“Oke, Ma. Oke. Aku akan membelikannya besok.” Gama mengambil remot tv. Ia mengulur waktu untuk tak menjawab ibunya. Gma ingin istirahat. Tapi tentu saja Jessi tak membiarkannya. Wanita tua itu marah saat tahu kalau Hera belum memiliki kebutuhan nutrisi untuk kehamilannya yang masih muda.
“Siapkan banyak buah yang segar di dalam kulkas. Beli baju hamil untuk persiapan saat perut istrimu membesar nanti. Mangga muda! Jangan lupa beli itu juga. Hera sering muntah di pagi hari. Sering-sering bawa dia chek up ke dokter kandungan.”
Gama tak menjawab. Ia menghempaskan punggungnya ke belakang. Bersandar pada sofa yang melingkar di depan TV. Jelas setiap tayangan yang ia lihat di sana, tak ada artinya sama sekali. Karena sebesar apapun ia membesarkan volume layar tipis itu. Nada bicara Jessi lebih besar dari volume TV.
“Oke, Ma. Aku akan membelikannya. Akan kubelikan semua yang dia mau dan butuhkan. Sudah, Ma. I’m sorry. Aku mau istirahat di kamar. Aku mengantuk.” Gama bangkit dari duduknya, ia berbalik menaiki tangga. Menyisakan Jessi yang terpekur dalam seribu pertanyaan yang muncul begitu saja dalam otaknya.
Mengapa sikap Gama berbeda pada Hera? Apakah Gama belum mencintai istrinya?
***
“Ini! Minumlah!” Gama menyerahkan segelas minuman berwarna putih pada Hera yang tengah duduk sendirian di depan TV.
Wanita itu mengerutkan dahi. Ia menerima gelas itu dengan tatapan penuh tanya pada Gama. “Apa ini?” tanyanya.
“s**u hamil!” jawab Gama. “Kemarin aku janji akan membelikannya, tapi aku sibuk. Dan, baru sempat ku belikan sekarang. Aku tidak tahu rasa apa yang kau suka. Tapi, kalau Karin sedang hamil, dia pasti akan memintaku untuk dibuatkan rasa vanilla.” lanjut Gama sembari membuka jas dan dua kancing kemejanya.
Hera termangu. Ia tidak tahu harus berterimakasih atau bagaimana? Perkataan Gama barusan terasa menyentil hatinya. Kalau memang lelaki itu tak tahu apa rasa kesukaan Hera? Setidaknya ia bisa menelpon atau bertanya lewat pesan.